Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Menghadapi Dengan Ketenangan


__ADS_3

Di sebuah goa yang berada di sekitaran air terjun kini Damar berada. Meskipun ia belum sepenuhnya tersadar dari ilmu sirep milik Balaajaya namun ia tentu bisa merasakan keadaan sekitar. suara air yang sangat jelas terdengar, udara yang lembab dan angin yang bertiup sedikit mengandung air. Damar juga yakin ini bukan berada di hutan Larangan.


" Huft, Sepertinya aku harus memberitahu romo dimana aku berada saat ini."


Damar berussaha untuk duduk dengan tegap, lalu ia pun menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya dan memustkan pikirannya mencoba melakukan jurus misah sukmo yang belum terlalu ia kuasai.


Percobaan pertama gagal. Damar kembali lagi mengulang caranya. Paling tidak jika dia tidak berhasil mendatangi romonya ia berharap bisa menyampaikan melalui transmisi suara.


" Romo, aku di sini. Aku baik-baik saja."


Kali kedua ia mencobanya ternyata berhasil meskipun itu hanya suara yang ia bisa salurkan. Namun Damar juga tidak bisa mengandalkan bantuan. Ia harus bisa melindungi dirinya sendiri saat ini.


Damar mencoba mengembalikan semua kesadarannya terlebih dahulu. Bagaimanapun ia tidak boleh menghadapai Balaajaya dengan setengah kesadarannya. Ia khawatir akan di manipulasi oleh orang tersebut.


" Heh, ku sudah sadar bocah? Kalau begitu berarti ini akan mudah. Berikan pedang pitu itu kepadaku maka kau akan kulepaskan sekarang juga."


Hening, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Damar saat ini. Ia hanya mengamati gerak gerik pria paruh baya di depannya. Kemudian Damar mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia tersenyum tipis saat mengetahui dirinya sudah kembali sadar sepenuhnya.


" Haish pak tua, mau apa kau dengan pedang itu? Lagian ini milikku untuk apa aku harus memberikannya kepadamu? Apa kau tidak malu membawa pergi bocah sepertiku hanya ingin mengambil sesuatu yang bahkan bukan milikmu?"


Damar berucap begitu tenang, tidak ada ketakutan sedikitpun yang ia rasakan saat matanya beradu dengan Balaajaya. Hal tersebut tentu saja membuat Balajaya murka. Pasalnya di padepokan saja para guru-guru yang memiliki tingkat kanuragan dilevel 7 akhir dan 8 awal tidak ada yang bernai menatap dirinya secara terang-terangan. Lah ini bocah kecil yang ia kira baru berusdia belasan tahun berani-beraninya berkata demikian kepadanya.


" Heh, apa kau tidak tahu siapa aku?'


" Tidak, aaah kita kan belum berkenalan. Bagaimana bisa aku tahu siapa kau." Damar menunduk, ia mengusap wajahnya menggunakan kain bagian dari pakaiannya lalu kembali menengadah untuk menatap wajah pria tua yang ada dihadapannya. " Perkenalkan namaku Damar, Damar Pawitra."


Bruk


Balaajaya begitu terkejut saat melihat wajah Damar sat ini. Saking terkejutnya bahkan ia sampai terjengkang dan berakhir duduk di tanah.


" K-kau Si-siapa! si-siapa kau sebenarnya!"

__ADS_1


Balaajaya gusar. Wajahnya pucat pasi saat melihat Damar. Bagaimana tidak, ia seperti melihat saudara tirinya yang berhasil ia lenyapkan belasan tahun silam di wajah Damar.


" Aku damar, apa kau sudah tuli pak tua!"


Damar hendak mendekat namun isyarat tangan Balaajaya mengatakan bahwa dirinya tidak boleh mendekat.


" Haish pak tua, mengapa wajahmu pucat begitu? Oh iya apa kau mengenalku, Pak Tua?"


Balaajaya brusaha mengiasai dirinya agar tetap tenang. Dia kemudian menggeleng mengatakan bahwa dia tidak mengenal Damar. Tentu saja dia tidak mengenal Damar tapi dia pasti mengenal orang yang wajahnya begitu mirip dengan Damar tersebut.


" Kau tidak mengealku? sama aku juga tidak mengenalmu tapi aku tahu apa yang sudah kau lakukan kepada kedua orang tuaku."


" Heh, jangan asal bicara kau bocah tengik. Sepetinya kau harus diajari sopan santun terhadap orang tua."


Damar terkekeh geli mendengar ucapan Balaajaya. Ia sungguh tidak habis pikir dengan pria tua yang berada di depannya itu. Kabar mengatakan bahwa Balaajaya adalah pemimpin yang ditakuti di padepokan. Tapi melihatnya seperti sekarang sungguh Damar tidak percaya. Bagi Damar, Balaajaya tak ubahnya seorang pria yang serakah.


" Aku sudah selalu diajari dengan baik oleh romoku, jadi aku bisa tahu mana orang yang harus ku hormati mana yang tidak. Dan sepertinya kau termasuk golongan yang kedua."


" Heeh bocah tengik, kau memang hrus dibinasakan seperti kedua orang tuanmu."


Deg


Seketika hati Damar terasa begitu sakit dengan ucapan Balaajaya. Bayangan yang ia lihat berarti sungguh benar adanaya. Pria yang ada di depannya itu adalah orang yang membunuh kedua orang tuanya.


Tangan Damar mengepal sempurna. ingin sekali ia segera menebaskan pedang pitu ke tubuh Balaajaya. Namun dia masih bisa berpikir jernih. Dia belum tahu seperti apa kemampuan Balaajaya itu.


Damar kembali memusatkan pikirannya mencoba menelaah ilmu kanuragan yang dimiliki Balaajaya. Ia sedikit terkejut karena ada beberapa bayangan hitam yang berada di aliran meredian Balaajaya. Bahkan saat ini bagian dada Balaajaya juga mulai Menghitam.


" Iblis!"


*

__ADS_1


*


*


Di penginaan, Prama yang mendapat pesan suara melalui mata batinnya langsung berdiri dan segera pergi. tentu semuanya bertanya-tanya ada apa gerangan.


" Damar memberitahuku. Dia sekarang berada di sebuah goa yang di dekatnya terdapat air terjun. Siapa diantara kalian yang tahu tempat ini?"


Semuanya terdiam, masing-masing mereka mencoba mengingat-ingat dimana tempat yang disebutkan Prama tesebut. Dimana yang jelas tempat itu tidak ada di kadipaten Gendingan.


" Aku tahu dimana tempat itu!"


suara Kertawijayamembua semuanya melihat ke arahnya. Adik dari adipati Gendingan itu kemudian langsung menunjukkan temapt yang dimaksud oleh Pramadana.


Setelah semua paham Pramadana dan Mahesa sgera menuju tempat yang dituju. Mereka pergi dengan menggunakan kuda. Tadinya Projo dan Ranawijaya hendak ikut, namun Pramadana mencegahnya. Projo memiliki tanggung jawab kepada murid-muridnya sedangkan Ranawijaya dia adalah Adipati. Dia lebih dibutuhkan untuk tetap berada di kadipaten.


Hiyaaaaa


Pramadana dan Mahesa memacu kuda nya untuk segera berlari membelah jalanan agar segera sampai di tempat Damar. Sebenarnya Pramadana juga sudah memberi kabar kepada anak buahnya agar menuju ke tempat Damar berada.


" Bopo maafkan saya."


" Sudah tidak perlu minta maaf. Sebenarnya hal ini sudah ku perkirakan. Adanaya Balajaya di kadipaten ini sudah merupakan takdir Gusti Moho Agung. Kita hanya bisa menerima dan mneghadapinya dengan baik. Berdoa saja semoga saat ini Damar tidak kenapa-napa dan Balaajaya belum berulah. Sepertinya ini adalah babak akhir hidup Balaajaya. Kali ini aku pun tidak akan melepaskan orang itu."


Hiyaaaa


Pramadana semakin kencang memacu kuda miliknya diikuti oleh Mahesa. Apa yang dikatakan Pramadana tentu saja benar. Bagaimana pun ini semua takdir yang harus diterima dan dihadapi.


" Aku juga akan ikut melawan bagaimanapun nanti hasilnya. Orang itu benar-bnear tidak bisa dibiarkan untuk terus hidup. Jika dia masih seperti sekarang maka bisa dipastikan banyak generasi muda yang akan tumbuh menjadi seorang yang bengis dan tidak berperasaan."


TBC

__ADS_1


__ADS_2