
Seminggu lebih tidak melihat sang kakang membuat Indira tampak murung. Gadis yang biasa ceria itu tampak menekuk wajahnya. Ia sungguh merindukan kakang nya.
" Hei, kenapa cantik. Jelek amat wajahnya ditekuk gitu."
Indira mendesahhkan nafasnya dengan kasar. Ia sungguh merindukan Damar.
" Paman Mahesa, berapa lama Kang Damar akan berlatih di hutan bersama romo?"
Mahesa kini tahu apa yang membuat gadis kecilnya itu tampak murung. Ia pun duduk disebelah Indira dan mengusap kepala Indira.
" Sabar, kakang mu sedang membuat dirinya semakin kuat untuk ikut pertandingan nanti."
" Apakah harus begitu?"
" Iya, tentu saja. Apa kamu mau kalau Kang Damar mu itu nanti kalah dan terluka di medan pertandingan?"
Indira dengan cepat menggelengkan kepalanya. Kata kata Paman Mahesa hampir sama dengan ucapan ibu dan bibi Wardani.
" Sebaiknya Indira juga berlatih agar kuat seperti Kang Damar nanti."
Indira mengangguk mengerti dengan maksud Mahesa. Dia pun tidak boleh jadi wanita lemah yang nantinya hanya akan menjadi beban untuk sang kakang. Ia harus menjadi kuat agar Damar juga bangga terhadapnya.
" Baiklah paman, Indira akan berlatih lebih giat lagi agar Kakang Damar bangga terhadap Indira."
" Nah begitu baru gadisnya paman."
" Oh iya paman, bolehkan nanti aku ikut ke Kadipaten Gendingan?"
Mahesa menaikan satu alisnya mendengar pertanyaan yang lebih mirip seperti permintaan dari Indira tersebut. Untuk apa gadis kecil ini ikut, pasalnya jumlah murid yang dikirim sudah pas yakni lima orang. Empat orang yang ia dan Lingga latih dan satu orang adalah Damar.
" Paman, aku hanya ingin ikut menemani saja, bukan untuk ikut bertanding."
Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh paman gurunya, Indira langsung mengungkapkan maksudnya.
" Oooh begitu, untuk itu paman tidak bisa memutuskan. Tunggu bopo, beliaulah yang bisa memutuskannya."
__ADS_1
Indira mendengus, meminta ikut ke Kadipaten Gendingan kepada sang romo pasti akan menguap begitu saja. Kemungkinan besar keinginannya itu akan ditolak oleh romo nya.
" Jangan bermuka masam begitu, kan belum dicoba. Tanyakan nanti saat bopo dan Damar pulang. Paman yakin pasti diizinkan."
" Apakah begitu?"
" Tentu saja?"
" Kalau tidak bagaimana?"
" Kalau tidak makan menunggu lah di rumah dan berdoa agar kami semuanya bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun."
Mendengar ucapan terakhir Mahesa membuat gadis cantik itu kembali merenung. Tampaknya ia sangat begitu egois jika memaksa untuk ikut. Mereka pergi ke kadipaten Gendingan bukanlah untuk main main. Mereka di sana untuk bertanding mengadu kemampuan bela diri. Terlihat picik sekali bila ia hanya ketakutan terhadap kekhawatirannya sendiri yang tidak beralasan.
Indira tersenyum, setelah sekian lama berkutat pada kekhawatirannya terhadap sang kakak, kini ia sudah mengerti akan sesuatu hal.
" Terimakasih paman. Indira kini paham."
Gadis itu beranjak dari duduknya, namun sebelumnya ia memeluk Mahesa sekilas. Indira pun berlalu menuju ke dalam rumah dengan wajah yang ceria.
" Haaah, anak itu benar benar. Bagaimana bisa mereka besar begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menimang Indira, sekarang anak itu sudah tumbuh jadi gadis yang cantik. Aku jadi sedikit was was jika benar benar dia ikut ke Kadipaten Gedingan. Rasanya kan tidak rela jika melihatnya nanti dilirik oleh pemuda pemuda dari padepokan lain."
Hingga saat ini belun juga diberi keturunan, baik Mahesa dan Wardani sangat menyayangi Damar dan Indira seperti anak anak mereka sendiri. Sebenarnya saat Indira mengkhawatirkan Damar, ia juga merasakan hal tersebut. Bahkan saat ia memiliki sebuah pemikiran bahwa Damar ini yang begitu mirip dengan gurunya di padepokan dulu membuat Mahesa sungguh menjadi was was.
" Kenapa kakang, ada yang mengganggu pikiranmu?"
Mahesa kini tengah duduk di dipan yang berada di bilik kamarnya. Ia sejenak merenung mengenai Damar. Pertanyaan Wardani pun sedikit tak fi dengar olehnya hingga Wardani menyentuh lengan pria itu dengan lembut.
" Kakang!"
" Maaf dinda, maaf. A-aku sedikit terpikirkan sesuatu."
Wardani menaikkan satu alisnya. Suaminya tidak pernah se gelisah ini sebelumnya. Bahkan saat ini raut wajah Mahesa tampak gugup seperti tengah menghadapi sesuatu yang bahaya.
" Kang, ada apa. Mengapa wajahmu begitu gusar?"
__ADS_1
" Dinda, apa kamu tidak merasa sesuatu saat melihat wajah Damar. Maksudku, apa kamu tidak merasa jika wajah Damar itu tidak seperti bopo?"
Kini Wardani mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh sang suami. Ia membuang nafas nya dengan sedikit berat.
" Kakang, apa yang kau pikirkan itu sama dengan apa yang ku pikirkan. Aku melihat wajah Ki Wira ada di wajah Damar. Bahkan aku sempat beranggapan Damar adalah putra dari Ki Wira dan Nyi Gayatri."
" Sependapat."
Keduanya sama sama saling menganggukkan kepala. Ternyata apa yang dipikirkan sepasang suami istri itu sama. Kini wajah keduanya malah nampak sendu. Bukan tanpa alasan, jika mereka saja beranggapan begitu berarti nanti pasti mereka yang melihat Damar akan mengenalinya juga. Bukanlah itu akan menjadi sebuah masalah?
Keselamatan Damar mungkin akan terancam. Terlebih jika Duraanjaya pemimpin padepokan pedang sakti tahu, Damar bisa saja dicelakai.
" Terus kita harus bagaimana kakang?'
" Entahlah dinda. Kita tidak bisa memutuskan apapun hingga bopo kembali. Aku yakin bopo sudah tahu akan hal ini dan beliau sudah memiliki jalan keluarnya."
" Betul kakang, tidak mungkin bopo membiarkan Damar ikut tanpa persiapan apapun."
Wardani dan Mahesa meyakini hal tersebut, meyakini bahwa Ki Prama pasti punya solusi. Keduanya akhirnya merebahkan tubuh untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
πΏπΏπΏ
Hari demi hari berjalan dengan Damar semakin lancar menguasai tarian pedangnya. Ya, jurus pedang yang Ki Prama sampaikan kepada Damar adalah sebuah seni tari pedang yang begitu indah saat dimainkan.
" Sini le, berhentilah. Kau sudah sangat menguasainya. Padahal ini baru 4 hari, kamu lebih cepat dari yang ku targetkan."
Damar menurut, ia kini duduk bersila di depan sang romo. Tempak Ki Prama memejamkan matanya dan merapal kan sebuah mantra. Lalu entah dari mana sebilah pedang kini berada di depan mereka. Damar sedikit terkejut, bahkan ia sampai memundurkan tubuhnya.
" Romo i-itu pe-pedang dari mana?"
Ki Prama tersenyum mendengar keterkejutan dari Damar. Bukannya menjawab Ki Prama malah meminta Damar membuka pedang tersebut. Pria paruh baya itu meminta Damar untuk menarik bilah pedang itu dari sarungnya. Bukan tanpa alasan, ia akan melihat reaksi dari pedang pusaka tersebut terhadap tubuh Damar.
Dengan ragu ragu Damar menyentuh pedang tersebut. Pedang yang begitu luar biasa indah yang belum pernah Damar lihat sebelumnya. Ukiran pada pegangannya membuat Damar berdecak kagum.
Tenang tapi pasti, Damar meraih pedang pusaka tersebut dengan kedua tangannya. Remaja 14 tahun tersebut langsung menarik pedang pusaka dari sarungnya.
__ADS_1
Ki Prama membelalakkan matanya saat melihat apa yang terjadi di hadapannya.
TBC