
"Kadangga warayudha ngalad alad paramasuteja."
Damar merapal kan mantra, dan seketika pedang pitu memperlihatkan wujudnya yang lain. Tentu saja hal tersebut membuat Mahesa dan kawan kawan terhenyak. Mereka begitu kagum melihat apa yang anak 14 tahun itu perlihatkan.
Menakjubkan, sebuah kata yang mewakili apa yang mereka rasakan saat ini. Wardani bahkan menggelengkan kepalanya. Wanita itu seakan tidak percaya dengan apa yang Damar lakukan. Bagi Wardani, Damar seakan tengah melakukan sebuah tarian pedang. Sungguh bisa menghipnotis matanya, ada sebuah energi yang menarik Wardani saat melihat ayunan demi ayunan pedang yang dilakukan Damar.
Tidak hanya Wardani, Braja , Lingga, dan Karendra pun merasakan hal yang sama. Bahkan kali ini keempat orang tersebut sudah mulai melangkahkan kaki mereka ke depan.
" Fokuskan pikiran kalian, jangan terlena. Dengan tipuan mata!"
Teriakan yang sebenarnya adalah peringatan dari Ki Prama berhasil menyadarkan mereka kembali.
" Astaga, mau apa aku ini," ucap Wardani.
" Waah bahaya, bisa langsung mati kalau beneran melangkah maju dengan tangan kosong," imbuh Karendra.
Damar terus melatih menyalurkan tenaga dalamnya ke pedang pitu. Bahkan kali ini dia sudah membawa ketujuh pedang tersebut ada di dua tangannya.
Mahesa sungguh takjup dengan Damar yang begitu mudahnya mengendalikan aliran tenaga pedang pusaka tersebut.
" Le, apa kau siap beradu."
" Baik romo."
Ki Prama mengeluarkan pedang telu miliknya. Hal tersebut menambah keterkejutan Mahesa dan kawan kawan.
" Sungguh luar biasa," gumam Mahesa.
Menggunakan dua tangannya, Dmaar bisa mengimbangi permainan pedang sang Romo. Benturan demi benturan pedang sungguh terdengar begitu nyaring.
Trang
Trang
__ADS_1
Syuuuut
Trang
Wuuuuus ... Blaaaaam
Baik Ki Prama maupun Damar, menghentakkan pedang mereka ke arah langit. Terlihat percikan cahaya warna warni di atas langit tersebut, membuat semuanya yang melihat begitu kagum.
Ki Prama tersenyum lebar, ia sungguh puas dengan hasil latihan Damar. Anak itu benar benar memiliki bakat yang jarang ditemui pada diri anak anak lain.
Trang
Trang
Wuuuussss
Damar melompat dan terbang ke atas lalu kembali dengan mengarahkan pedangnya ke bawah dan badannya berputar. Ki Prama tersenyum, ia kemudian mengarahkan pedangnya ke atas hingga pedang pitu dan pedang telu bertemu dan mengeluarkan sebuah energi yang berhasil menggetarkan tanah tempat mereka berpijak. Bahkan Mahesa dan kawan kawan sempat terhuyung. Jika mereka tidak segera melakukan kuda kuda, mungkin mereka bisa langsung terjerembab ke tanah.
" Tingkat 8 dan 9," gumam Braja pelan.
" Apa kakang tidak melihat, Ki Prama memiliki ilmu kanuragan tingkat 9 dan yang menakjubkan Damar berada ditingkat 8," jelas Braja.
Semua yang mendengar ucapan Braja langsung menatap kedua pria beda usia itu. Mulut mereka terbuka lebar karena saking terkejutnya.
" Astaga anak itu sungguh luar biasa. Tingkatan 8? Bahkan kita butuh waktu bertahun tahun untuk mendapatkannya. Meskipun Damar masih ada di tingkat 8 awal, itu sungguh hal yang luar biasa dan jarang ditemui diusianya yang masih sangat muda," ucap Lingga dengan rasa bangga nya.
Setelah beberapa saat, Ki Prama pun menyudahi latihan mereka tersebut. Tampak di wajah pria paruh baya itu gurat kelelahan. Se kuat kuatnya dia, tetap tidak bisa mengimbangi tenaga muda milik Damar.
Wardani yang tahu bahwa bopo nya kelelahan segera berlari menuju dapur dan mengambil ramuan obat untuk mengembalikan tenaga. Wardani memang belajar obat obatan, sehingga dia di Padepokan Resik Jiwo juga merupakan seorang tabib.
" Diminum dulu bopo."
" Terimakasih nduk, haish ternyata usia tidak bohong. Semakin banyak tenaga yang dialirkan maka semakin banyak terkuras juga yang ada di tubuh."
__ADS_1
Glek glek glek
Ki Prama menenggak habis ramuan yang diberikan oleh Wardani. Kemudian pria itu duduk bersila dan mulia mengatur aliran energinya sehingga bisa normal kembali.
" Apakah romo tidak apa apa?"
Damar merasa bersalah karena membuat romo nya kelelahan. Bagaimana tidak, wajah Ki Prama benar benar seperti orang yang baru saja melakukan pekerjaan seharian penuh. Ki Prama menggeleng pelan. Ia tahu hati Damar memnag begitu lembut. Anak itu selalu tidak tega melihat orang orang terdekatnya kesusahan.
" Romo tidak apa apa le, maklum tubuh tua. Itu lah salah satu kelebihan pedang pitu. Jika dia menemukan lawan yang sepadan maka ia akan berusaha membuat lawannya kehabisan tenaga. Secara tidak langsung itu merupakan tehnik nya untuk memperdaya lawan. Terlebih lagi jika lawan bernafsuu untuk mengalahkannya, maka ia akan semakin senang mempermainkan lawannya itu."
Jika Damar mengangguk mengerti maka Mahesa dan kawan kawannya menggeleng takjub. Sehebat itu pedang pitu bahkan ia seperti memiliki jiwa yang hidup.
" Baiklah le, istirahatlah. Kau pun harus memulihkan tenaga mu. Dari semenjak di dalam hutan hingga sekarang kau belum istirahat sama sekali. Dua hari besok kau tidak perlu berlatih. Kutang dari 3 hari kalian akan berangkat ke Kadipaten Gendingan. Bersiaplah."
" Baik romo, mohon pamit. Paman, bibi, Damar kembali ke bilik dulu."
Semua orang di sana mengangguk dan tersenyum ke arah Damar. Anak itu memang membutuhkan istirahat agar bisa kembali segar nanti saat bertanding.
" Romo, bagaimana jika besok banyak yang mengincar Damar. Dengan pedang pitu ditangannya apakah tidak sama saja dengan memancing para kesatria untuk merebutnya. Ditambah wajah Damar yang semakin terlihat seperti Ki Guru Wiradarma."
Perkataan panjang Lingga tentu saja langsung masuk ke rulung hati dan pikiran Ki Prama. Karena apa yang diucapkan Lingga sungguh benar adanya. Namun ia tidak bisa mengirim kelima anak muridnya sekaligus. Padepokan akan kewalahan jika ditinggal mereka berlima.
" Kita harus membagi tugas le, nduk. Seperti rencana semula saja. Mahesa tetap akan pergi tapi ditambah Lingga dan Wardani. Braja dan Karendra tetap tinggal di padepokan. Meskipun ada guru yang lain tapi kalian lah selama ini yang jadi wakilku memimpin padepokan."
Semuanya mrngangguk paham. Jika Wardani memang harus ikut karena ia mengerti mengenai obat obatan. Dan tentu saja itu sangat dibutuhkan. Tidak ada protes pada pembagian tugas tersebut. Semuanya mengangguk setuju.
Mulai besok mereka akan mempersiapkan segala kebutuhan yang akan digunakan untuk menuju kadipaten Gendingan.
" Bopo jika pertandingannya 3hari lagi bukannya kita besok harus sudah berangkat. Mengingat jarak dari Lembah Larangan menuju Gendingan sedikit memakan waktu. Kita bisa sehari semalam di perjalanan, dan itu jika kita memilih jalan yang tercepat."
" Kau benar Mahesa. Paling lambat besok malam kalian berangkat. Baiklah atur saja bagaimana baiknya. Pakailah kereta kuda agar anak anak tidak lelah. Jika mereka menunggang kuda sendiri, aku takut mereka akan kelelahan di jalan."
Mereka semua mengangguk patuh, rupanya mulai hari ini mereka sudah harus mempersiapkan keberangkatan menuju Gendingan.
__ADS_1
TBC