
Ksatria Yasa pati mulai menilai satu demi satu seni bela diri murid padepokan. Ia benar benar melihat dengan begitu jeli mana mereka yang menggunakan tenaga dalam dan mana yang tidak. Mungkin sedikit aneh, tapi memang itu lah yang diinginkan. Ada maksud tersembunyi dalam penggunaan aturan tersebut.
Kali ini Padepokan Pedang Sakti yang dipanggil untuk menampilakan seni bela diri yang mereka miliki. Kelima anak tersebut memberi hormat kepada Yasapati. dalam hitungan ketiga mereka mulai menampilkan seni bel diri yang mereka kuasai.
Hiaaat
Hiyaaa
Syuuut
Semua terlihat begitu sempurna. Mereka yang menatap sangat takjub dengan kemampuan para anak murid dari Padepokan Pedang Sakti tersebut.
" Memang tidak salah rumor yang beredar bahwa Padepokan Pedang Sakti masih memiliki taring di dunia persilatan," Ucapan salah seorang penonton yang menyaksikan jalannya pertandingan.
" Kau benar. Dari masa ke masa mereka masih hebat. Aku sungguh sangat salut. Meskipun mereka tak lagi jadi pemimpin di dunia persilatan," sahut seseorang yang lain.
Akan tetapi penilaian orang-orang tersebut tidak sama dengan penilaian Yasapati. Sepanjang gerakan dimulai, Yasapati melihat begitu berambisi nya anak-anak ini. Namun tiga diantaranya masih bisa bersikap tenang, sedangkan dua yang begitu berambisi tanpa mereka sadari mereka mengeluarkan tenaga dalam mereka sehingga saat dua anak itu melompat ke atas dan mendarat di tanah terdapat bekas jejak kaki yang sangat dalam. Jika bukan mengeluarkan tenaga dalam kedua anak tersebut tidak mungkin bisa melompat lebih tinggi dari pada tiga anak yang lainnya.
" 1,2, 3 kalian lolos ke babak selanjutnya dan kalian berdua maaf kalian tidak bisa mengikuti babak selanjutnya."
Projo dan Sangga tentu saja terkejut. Namun apapun keputusan penilai tidak bisa diganggu gugat. Projo langsung menghampiri anak muridnya dan membesarkan hati dua anak yang dinyatakan gagal melaju ke babak selanjutnya.
" Kalian sudah berusaha keras. kalian semua hebat. kita akan coba di pertandingan berikutnya," ucap Projo lembut.
Setelah beberapa padepokan dipanggil untuk maju. Sekarang tibalah padepokan Resik Jiwo yang di panggil. Semua sedikit heran pasalnya mereka masih sangat asing dengan nama padepokan tersebut. Bahkan ada beberpa yang sama sekali belum pernah mendengar.
__ADS_1
" Kayaknya padepokan baru."
" Iya, coba kita lihat sehebat mana mereka ini."
Damar bersama keempat rekannya langsung berdiri di depan Yasapati. Sesaat Yasapati terperangah saat melihat tubuh Damar yang mengeluarkan aura seorang pendekar sakti. Yasapati juga bisa melihat ada sesuatu yang bersarang di tubuh anak itu.
" Bukankah itu ~'
Ucapan Yasapati menggantung. Ia kemudian akan melihat terlebih dulu apa yang ditampilkan oleh anak itu dan keempat temannya. Mereka berlima mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. Sebuah gerakan tangan yang mengayun ke kanan dan ke kiri diikuti kuda kuda yang terlihat kokoh. Tangan mereka yang semula terbuka menjadi mengepal dan memperlihatkan gerakan tinjuan namun tetap terlihat indah. Gerakan mereka sungguh berirama dan selaras. Bahkan saat melompat kelimanya bisa bersamaan dan mendarat bersama pula.
Semua orang yang melihat sungguh takjub. Diantara semua padepokan yang tampil, padepokan Resik Jiwo lah yang benar benar terlihat sangat indah gerakannya. Suara tepuk tangan semua orang begitu menggema saat kelima anak tersebut selesai dengan tampilannya. Bahkan Yasapati sampai berdiri saat bertepuk tangan.
" Sungguh kalian sangat luar biasa. kalian berlima lolos ke babak selanjutnya."
" Aku semakin yakin Ki Manggala merupakan guru mereka. Hanya beliau yang bisa mengajarkan hal tersebut kepada anak muridnya."
Projo tersenyum dan bergumam dalam hati. Dugaannya pun semakin kuat bahwa Damar merupakan bayi yang ia larung di sungai, puta dari Wiradarma dan Gayatri. Meskipun Damar tengah menyamar namun aura milik yang ditinggalkan Wiradarma masih ada dalam tubuh Damar.
πΏπΏπΏ
Balaajaya sungguh kesal saat mengetahui kedua muridnya tidak berhasil lolos dalam babak pertama ini. Hampir saja ia membuat dua anak itu terluka. Beruntung Projo menghalangi.
" Bedebah! Bodoh! dasar bodoh, begitu saja kalian tidak becus. Aku sungguh salah memilih kalian. Mulai hari ini kalian bukan lagi murid dari Padepkan Pedang sakti. Setelah kembali ke padepokan segera kemasi barang barang kalian dan pulanglah ke keluarga kalian. Aku tidak peduli meskipun orang tua kaliaan kaya sekalipun. Cuih ... sungguh tidak beguna!"
Balaajaya melenggang pegi ke biliknya. Hanya itu tempat yang bisa ia datangi, ia sungguh enggan untuk pergi keluar. Ia malas jika harus berhadaan dengan pimpinan padepokan lain karena gagalnya ia menjadi pemimpin padepokan terkuat.
__ADS_1
Sepeninggalnya Balaajaya, kedua anak itu pun menangis. Bagaimanapun rumor dulu yang menyebutkan bahwa jika sudah keluar dari Padepokan Pedanag Sakti maka tidak akan bisa diterima di padepokan manapun membuat mereka takut.
" Guru ... bagaimana sekarang hu hu hu."
" Kami diusir oleh guru besar guru, Terus kami harus kemana. Bagaimana nasib kami stelah ini?"
Kedua anak itu menangis tersedu. Projo membuang nafasnya kasar, Balaajaya sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya ia berbicara begitu kepada mereka yang masih anak-anak.
" Kalian tenang saja dulu. Sekarang beristirahatlah, kalian pasti lelah. Berhentilah menangis."
Kedua anak tersebut menganggk, mereka pun kembali ke bilik mereka. tidak banyak yang mereka bisa lakukan untuk saat ini.
Di teras penginapan Projo duduk sambil melihat gelapnya malam kadipaten Gendingan. Namun cukup indah karena dihiasi sentir yang dinyalakan di beberpa tempat sebagai penerang jalan. Pria itu berkali kali membuang nafasnya dengan begitu berat. Ia juga memijat kepalanya yang berdenyut. Sungguh jika bisa ia akan menghabisi Balaajaya saat ini juga. Sebenarnya ia sendiri sudah tidak tahan dengan sikap Balaajaya yang semena-mena. Tapi mau dikata apa, kemampuannya untuk melawan Balaajaya tentu saja tidak sebanding. Bahkan bisa dikatakan jauh.
" Apa sebaiknya aku racuni saja ya orang itu?" gumam Projo dalam hati. Tentu saja ia hanya berani membatin, jika ia mengeluarkan suara maka dikhawatirkan Balajaya akan mendengar dan urusannya pasti tiak akan mudah.
Projo sangat kesal dengan Balaajaya yang hadir ke kadipaten ini. Jika dia menepati ucapannya sendiri untuk tidak datang maka hal-hal seperti ini pasti tidak akan terjadi.
Kini Projo sungguh sangat bingung memikirkan jalan keluar dari apa yang dihadapai. Hingga sebuah nama tiba-tiba berkelebat dipikirannya.
" Mahesa."
Ya, tiba-tiba Projo teringat dengan Mahesa. Ia pun memiliki sebuah gagasan. Mahesa pasti akan mau membawa kedua muridnya untuk ikut bersama. Akan tetapi Projo juga harus menanyakan kepada muridnya terlebih dahulu. Ia tidak akan mengambil keputusan secara sepihak. Dan lagi, ia tidak akan mengatakan hal itu sekarag. Projo khawatir Balaajaya akan mengetahui keberadaaan mahesa dan yang lainnya.
TBC
__ADS_1