
Krasaak
Krasaak
Suara dedaunan kering begitu terdengar saat beradu dengan telapak kaki yang menekannya. Damar berjalan dengan mata yang tak lepas memandang ke seluruh penjuru hutan. Sudah lumayan lama ia berjalan namun belum juga melihat token yang dimaksud.
Meski hutan begitu rimbun, namun ia bisa mengetahui bahwa hari sudah siang. Matahari tepat berada di atas kepalanya. Damar menyimpulkan bahwa dia sudah berjalan selama setengah hari di dalam hutan Larangan ini. Damar sedikit merasa lesu.
Pemuda itu kemudian mencari tempat untuk beristirahat sesaat. Mungkin dia perlu istirahat sambil memikirkan kira-kira dimana token itu.
" Haish, apa aku harus menginap di dalam hutan malam ini? Semoga tidak deh. Hutan ini benar benar sangat sepi. Padahal ada puluhan murid yang memasuki hutan Larangan tapi mengapa aku tidak menemukan satupun diantara mereka."
Damar akhirnya memutuskan untuk duduk di sebuah batang pohon yang tumbang. Ia merebahkan tubuhnya di sana sambil melihat ke atas. Ia melihat ranting-ranting pohon tinggi di atasnya. Mata Damar terkunci pada sebuah dahan di sebuah pohon besar. Ia pun segera bangkit dari posisi tidurnya.
" Itu token, itu token yang diperlihatkan tadi. Tapi bukankah itu sebuah sarang? Burung apa yang memiliki sarang sebesar itu?"
Damar sungguh penasaran, tapi yang pertama harus dia lakukan adalah mengambil token yang berada di atas sana.
" Baiklah, ayo ambil token itu dulu."
Damar mengangkat kedua tangannya ke atas lalu menangkupkannya di depan dada. Ia merapal kan mantra lalu muncullah sebuah cahaya putih dari kedua tangan pemuda tersebut itu tersenyum.
Damar oun mulai memanjat pohon tinggi besar yang ada didepannya itu. Damar sungguh cepat saat memanjat. Tentu saja ia melakukannya dengan ilmu kanuragan, bukan memanjat secara manual.
Wush ... Wush ... Wush
Hao
Damar sudah berada di sarang tersebut. Ia pun kemudian mengambil token yang terletak di samping sarang. Damar mengambilnya dengan perlahan agar tidak merusak sarang. Pasalnya token tersebut sepertinya digunakan untuk membangun sarang.
Sleeep sraaaak krataaaak
Ternyata dugaan Damar meleset. Saat ia mengambil token tersebut ternyata sarang yang ia pijak mendadak berbunyi dan Damar terjatuh dari atas pohon. Ia pun kemudian memanggil pedang pitu. Pedang pitu muncul ditangannya. Saat terjun ke bawah, Damar berusaha mengayun dan menancapkan pedangnya di pohon.
__ADS_1
Sraaaak
Bukannya menancap, pedang pitu malah membelah pohon besar itu. Damar mendengus pelan, ia kemudian melompat sambil mencabut pedangnya.
Hiaaaat
Taap
Damar akhirnya bisa mendarat dnegan tangan kiri memegang token dan tangan kanan memegang pedang pitu. Damar menghembuskan nafasnya lega karena dia bisa mendarat sempurna di tanah. Ia kemudian menyimpan token tersebut di dalam bajunya.
Bruuuk
Damar terkejut, rupanya pohon yang terbelah tadi akhirnya tumbang. Damar menatap pias saat melihat sarang tadi hancur berantakan.
" Sepertinya aku menghancurkan rumah burung itu."
Damar sungguh merasa bersalah. Tapi ia tidak bisa meminta maaf kepada siapapun karena dia tidak melihat seekor burung atau binatang pun di sana. Dengan berat hati Damar segera meninggalkan tempat itu menuju bukit Wono Ageng. Ia harus bisa berhasil sampai bukit agar tidak bermalam di dalam hutan. Damar pun menggunakan tenaga dalamnya untuk berlari dan melompat dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain agar ia bisa segera sampai ke atas bukit.
Namun ada hal yang tak terduga. Ketika Damar melompat ada sebuah kekuatan yang membuatnya terlempar ke tanah.
"Auchhhh ... "
Damar mengaduh kesakitan. Tubuhnya tergeletak di tanah. Pemuda itu melihat kesana kemari mencoba mencari siapa yang melakukan hal tersebut kepadanya. Tapi ia tidak melihat siapapun di sana. Di tempatnya berdiri saat ini sungguh sangat hening dan tidak ada satu makhluk hidup yang bernafas di sana kecuali dirinya.
" Siapa kau, tunjukkan dirimu!"
Damar berteriak sekeras mungkin, namun tidak ada sahutan. Ia pun mencoba sekali lagi, tapi tetap tidak ada yang menjawab apa yang ia tanyakan.
Damar merasa sedikit kesal. Ia pun kembali berlari namun lagi-lagi sebuah kekuatan menghantamnya sehingga membuat tubuh Damar terpental dan menghantam sebuah pohon.
" Uhuk ... Uhuk ..."
Darah segar keluar dari mulut pemuda itu. Kini ia mencoba memejamkan matanya dan melihat dengan mata batin yang dimiliki. Damar mulai melihat ke segala penjuru mencari keberadaan orang yang menyerangnya. Tapi ternyata sama saja. Ia tidak menemukan siapapun. Damar kembali mengulang lagi apa yang ia lakukan. Kali ini Damar benar benar memfokuskan mata batinnya. Ia tidak hanya mencari di bawah tapi juga di atas. Matanya terus menelisik dnegan jeli hingga ia menemukan sebuah gerakan yang memang sangat cepat. Mata awam tidak akan bisa melihat gerakan yang begitu cepat.
__ADS_1
" Dapat!"
Damar menyeringai, ia kembali memfokuskan dan menajamkan mata batinnya. Ia mengayunkan pedang pitu ke arah benda bergerak itu. Sebuah kilatan cahaya warna biru keluar saat pedang pitu disabetkan.
" Arghhhh!!!!"
Sebuah suara teriakan kesakitan keluar dari arah depan. Seekor burung elang berwarna emas dengan ujung putih di setiap bulunya tergeletak di tanah. Damar pun langsung berlari menghampiri elang tersebut. Ukuran Elang itu e kali lebih besar dari elang biasa. Pendar cahaya emas tersebut sungguh indah dipandang mata namun ada aura yang bisa membuat orang hanyut dalam halusinasi.
" Apakah kau binatang mistis wahai Elang Emas."
" Ssshhh siapa kau, mengapa kau beisa melihatku dan bahkan melukaiku. Kau juga telah menghancurkan rumahku."
Damar terdiam dan mencoba mengingat apa yang baru saja dikatakan elang tersebut. Pemuda itu pun ingat bahwa dia baru saja merusak sebuah sarang.
" Astaga, maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja. Tadi aku menunggu pemilik sarang itu tapi tak kunjung datang jadi kau pergi. Maaf elang, aku sungguh-sungguh minta maaf."
Elang berbulu emas itu menajamkan matanya melihat bocah yabg berada di depannya itu. Damar yang merasa di perhatikan balas menatap si elang.
" Panggil aku Wulung."
Wulung, si elang emas itu mencoba mengobati dirinya dari sabetan pedang milik Damar. Tapi ternyata ia tidak bisa. Bahkan kini tenaganya hampir terkuras.
" Maaf sekali lagi, biarkan aku mengobati mu."
Damar kemudian menarik pedang pitu dari sarungnya ia merapal kan sebuah mantra hingga sebuah cahaya hijau keluar. Damar pun menempelkan pedang pitu kepada luka pada elang tersebut. Dan ajaib, luka di tubuh bagian sayap Wulung kembali seperti semula. Wulung mencoba mengibaskan sayapnya. Elnag tersebut pun sungguh takjub.
" Kau sungguh luar biasa bocah."
" Bukan aku, tapi pedangku."
Rupanya pednag pitu bisa menyembuhkan luka yang diperbuatnya sendiri. Bukan hanya Wulung yang takjub, tapi Damar yang memegang pedang pitu pun takjub dengan kemampuan pedang pitu yang belun ia ketahui semuanya.
Kejutan apa lagi yang akan kau perlihatkan kepadaku wahai pedangku?
__ADS_1
TBC