
Keramaian terjadi di kadipaten Gendingan. Bagaimana tidak, Adipati Ranawijaya memerintahkan para rakyatnya untuk menyediakan penginapan yang bagus dan nyaman untuk seluruh peserta pertandingan.
Kali ini akan ada yang berbeda dalam penyelenggaraan pertandingan akbar ini. Kadipaten Gendingan akan memberikan penginapan untuk masing masing padepokan secara cuma cuma.
Hal ini dilakukan untuk salah satu penebus akan kejadian yang terjadi belasan tahun silam.
Adipati Ranawijaya lah yang mengusulkan hal tersebut kepada Raja Astana. Dan betapa senangnya Ranawijaya saat Raja Astana yakni Raja Akilendra setuju dengan usulannya. Bahkan Baginda Raja memberikan dana lebih untuk mempersiapkan makanan yang baik mengingat yang mengikuti pertandingan adalah usia remaja cenderung ke anak anak. Mereka tidka ingin ada hal buruk yang terjadi pada anak anak yang mengikuti pertandingan. Meskipun ini adalah pertandingan dengan menggunakan ilmu kanuragan dan senjata, namun sebisa mungkin mereka tidak boleh terluka parah. Mungkin ini akan jadi bagian dari peraturan.
Menjelang perhelatan akbar 3 hari lagi, Adipati Kadipaten Gendingan tersebut mulai mempersiapkan penyambutan. Karena ia yakin besok pasti satu persatu utusan dari masing masing padepokan akan mulai berdatangan.
" Apakah semuanya sudah siap?"
" Sampun Adipati, semuanya sudah siap. Penginapan sudah di beri tanda untuk masing masing padepokan."
" Baiklah kalau begitu. Istirahatlah. Pekerjaan kita besok akan lebih banyak."
" Sendiko dawuh Kanjeng Adipati."
Ranawijaya tersenyum puas. Tangan kanannya yang bernama Wirya itu sungguh bIsa diandalkan. Dia langsung bisa mengerjakan semuanya begitu sempurna hanya dengan waktu kurang dari 7 hari.
Lagi lagi Ranawijaya tidak langsung memasuki kamarnya untuk beristirahat. Padahal dia sendiri yang memerintahkan orang orang nya untuk beristirahat karena besok keadaan kadipaten akan ramai.
Ranawijaya masih memikirkan tentang jalannya pertandingan yang akan digelar tiga hari lagi tersebut. peraturan peraturan yang telah ia siapkan haruslah tidak ada kekurangan sama sekali.
Ranawijaya seketika mengingat ucapan sang adik tempo hari. Dimana adiknya menanyakan bagaiman jika kejadian belasan tahun itu terulang? kali ini Ranawijaya harus benar benar memikirkan peraturan pertandingan dengan baik baik. Meskipun hal tersebut sebelumnya sudah dibicarakan oleh sang Baginda Raja Akhilendra.
" Bagaima kau akan membuat peraturan pertandingan besok Ranawijaya?"
__ADS_1
" Dalem Gusti, dalem akan membuat pertandingan menjadi~"
Rana wijaya kemudian menjelaskan secara rinci mengenai peraturan pertandingan yang akan sudah ada dalam pikirkannya. Yakni pertandingan akan dibagi menjadi tiga babak. Babak pertama yakni para peserta akan diuji dengan kemampuan mereka dalam menggunakan ilmu beladiri dengan cara bertarung satu sama lain tapi tidak boleh menggunakan senjata ataupun ilmu kanuragan, dan hal ini akan dinilai langsung oleh Ksatria medan perang milik kerajaan Astana yakni Ksatria Yasapati. Ksatria Yasapati berhak menentukan siapayang akan masuk ke babak selanjutnya.
Babak kedua yakni adalah mengambil token di hutan larangan. Babak kedua ini mirip dengan babak pertama di pertandingan belasan tahun silam. Namun ada yang membedakan yakni, jika ada murid yang tidak mendapatkan token maka peserta tersebut dinyatakan gagal. Dia harus segera keluar dari Hutan Larangan karena dipastikan dia gagal untuk maju ke babak selanjutnya. Adipati Ranawijaya juga akan menegaskan bahwa mereka tidak boleh merebut token lawan. JIka ada yang ketahuan melakukan hal tersebut, maka seluruh padepokan nya haus keluar dari pertandingan dan dinyatakan gagal.
Babak ketig ialah babak rahasia, dimana mereka akan berada dia atas bukit Wono Ageng. Babak ketiga ini adalah mereka akan memperlihatkan semua kemampuan yang dimiliki dengan melawan lawan. Tapi mereka tidak boleh membuat lawan kalah hingga jatuh tak berdaya. Jika itu terjadi maka peserta terdebut malah akan dianggap gagal.
" Pripun Gusti Akhilendra? Apakahsekiranya sudah sesuai, atau ada yang kurang?'
" Cukup ranawijaya. hal itu sungguh menarik."
Ranawijaya sengaja membuat peraturan tersebut agar pertandingan tersebut berjalan sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan. Ia memng ingin para peserta tersebut dapat mengendalikan dirinya agar tidak berlaku yang melewati batas. Ranawijaya ingin peprtandingan ini benar benar dimenangi seorang ksatrian yang memiliki jiwa yang bersih.
Di Lembah Palarang tepatnya di Padepokan Resik Jiwo seorang gadis tengah membujuk sanga yah agar diizinkan ikut bersama kakang nya prgi ke Kadipaten Gendingan. Gadis itu terus meyakinkan romonya bahwa ia akan menjaga dirinya dengan baik.
" Indira tahu romo, maka dari itu indira ingin ikut. boleh ya, Indira meskipun tidak bertanding tapi kan bisa ikut menjaga barang barang yang dibawa sama kakang Damar."
Haaah
Ki Prama menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sungguh tahu jika Indira ingi ikut karena terlalu mengkhawatirkan Damar. Hal itu terbaca jelas dari wajah Indira. Namun Ki Prama tidak bisa mengirimkan Indira bersama mereka, terlebih Indira adalah wanita.
Di sini permasahannya bukan karena jenis kelamin pria atau wanita. sebenarnya larangan Ki Prama tersebut karena ia sungguh khawatir kepada sang putri. Karena menurut dari mata mata yang ia kirimkan murid yang ikut dalam pertandingan besar itu adalah semuanya laki laki.
" Romo, boleh ya. Indira mohon."
Indira memperlihatkan senyum terbaiknya dan wajah termanisnya agar diizinkan untu ikut. Di sisi lain Nyi sambi hanya diam dan melihat tingkah laku sang putri. Indira akan keras kepala jika ia memiliki keinginan. meskipun itu tidak selalu, namun keinginan keinginan tertentu seperti saat inilah yang membuat gadis itu kukuh pada pendiriannya.
__ADS_1
Ki Prama masih terdiam, ia kembali menimbang permintaan Indira. Hingga ia tersenyum dan mengangguk, tanda ia memperbolehkan Indira ikut.
Indira juga bukan gadis lemah. Ilmu kanuragan gadis itu sudah berada di tingkat 6 akhir. Jadi Ki Prama yakin Indira akan bisa menjaga diri sendiri.
" Apakah benar romo setuju?" tanya Indira dengan penuh semangat.
" Iya romo setuju sayang, asalkan berjanjilah tidak akan sembarangan bertindak. Selalu patuhi paman dan bibi guru mu," jawab Ki Prama sambil mengusap lembut kepala Indira.
Indira mengangguk, ia kemudian memeluk romo nya dengan rasa sayang yang ia salurkan.
" Terimakasih romo."
" Sudah larut, bersiaplah!"
" Hehehe Indira sudah mempersiapkan barang barang Indira dari kemarin."
Ki Prama menggeleng pelan, itu tentu saja terjadi mengingat betapa ingin gadis kecil itu ikut.
" Ya sudah nduk istirahat sana."
" Injih ibu."
indira melenggang pergi meninggalkan romo dan ibu nya kembali ke bilik dengan perasaan yang begitu senang. Akhirnya ia bisa ikut ke Kadipaten Gendingan. Indira tentu saja begitu bersemangat. Ini kali pertama ia akan pergi keluar dari Padepokan Resik Jiwo ke tempat yang jauh.
" Aku sungguh tidak sabar menanti besok. Terimakasih Romo, terimakasih sudah mengizinkanku."
TBC
__ADS_1