Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Bayuteja dan Peluit


__ADS_3

Suara pedang pitu milik Damar beradu dengan senjata senjata milik kelompok perampok tersebut. Terlihat Mahesa dan Lingga juga ikut menarik pedang mereka dan mulai menghadapi para kawanan perampok tersebut.


Tadi sebelum memutuskan keluar kereta Damar sudah memberi peringatan agar Wardani dan yang ada di dalam kereta tidak perlu keluar. Bukannya mau sok jagoan, akan tetapi akan lebih cepat menghadapi mereka.


Kedua kelompok masih saling beradu. Damar yang merasa ini terlalu lama kemudian merapalkan mantra dan mengeluarkan wujud lain dari pedang pitu. Awalnya kawanan perampok itu tidak menyadarinya, namun saat mereka merasa ada getaran hebat yang menelusup dalam pori pori tubuh mereka membuat beberapa dari mereka menarik mundur tubuhnya.


" Kenapa mundur?? Serang!!"


Terakan ketua mereka nyatanya tidak membuat anak buah itu kembali menyerang. Bahkan beberapa diantaranya sudah berlari tunggang langgang.


" Maaf bocah, kami tidak akan menyerang mu lagi," ucap salah seorang dari mereka. Tentu saja hal tersebut membuat pimpinan perampok marah. Ia pun yang sedari tadi hanya berdiri melihat dari sisi jalan langsung menyentakkan gada besarnya di tanah. Sebuah getaran tanah bak gempa begitu terasa membuat kuda kuda itu kembali meringik.


Damar menarik sudut bibir nya, ia merasa pedang pitu sungguh senang melihat lawan di depannya itu.


"Menarik."


Satu kata lolos dari mulut pemuda itu dan pimpinan perampok mulai mengayunkan gada nya untuk menyerang Damar.


" Le hati hati!" ucap Mahesa dan Lingga bersamaan. Wardani dan Indira serta keempat murid lainnya hanya bisa menyaksikan pertarungan Damar dari dalam kereta. Indira hendak turun namun tangannya langsung dicekal oleh Wardani. Wanita itu menggelengkam kepalanya sebagai tanda ia melarang apa yang akan dilakukan Indira.


" Kenapa?"


" Kamu hanya akan memecah fokus kakangmu. Diam dan saksikan saja kehebatan kakang mu. Indira belum pernah lihat kan bagaimana Damar menggunakan pedang itu?"


Indira menggeleng cepat dan Wardani melanjutkan ucapannya," Maka lihat saja sekarang."


Pun begitu juga dengan para murid yang lain. Mereka menjadi fokus dengan apa yang dilakukan oleh Damar. Serangan demi serangan yang dilakukan bersama pedang pitu terlihat lebih seperti tarian. Sungguh semua murid itu takjub tidak terkecuali Indira. Gadis itu pun kembali duduk dengan tenang dan menyaksikan jalannya pertarungan Damar.


Apa yang dikatakan Bibi Wardani benar. Hampir 30 hari berlatih bersama romo, kakang Damar menjadi semakin hebat.


Kembali pada pertarungan Damar dan pimpinan perampok. Damar tampak melompat ke atas dan mengarahkan pedang pitu ke arah lawan. Sejenak lawan Damar tampak terpesona dengan keindahan pendaran cahaya yang dimiliki oleh pedang pitu. Tanpa pria besar itu sadari pendaran cahaya yang ia lihat berwarna warni itu adalah wujud lain dari pedang yang Damar miliki. Pria besar itu sungguh terkejut saat pedang milik Damar mendekat kearahnya. Pedang yang berjarak hanya satu depa dari wajahnya itu berhasil ia tahan dengan gada miliknya. Meskipun begitu tubuh pria besar itu berhasil terpelanting ke belakang dan berguling guling hingga ia berhenti saat tubuh besarnya terbentur oleh sebuah pohon besar.

__ADS_1


Uhuk ... Uhuk ...


Darah segar keluar dari mulutnya. Pimpinan perampok itu meringis kesakitan sembari memegang perutnya. Damar kembali merapal kan mantra agar wujud pedang pitu kembali seperti semula.


Syuuuut


Damar mengarahkan pedang miliknya tepat di depan wajah pria itu. Pria tersebut reflek memejamkan matanya. ia sudah pasrah nyawanya akan melayang ditangan bocah ingusan yang ada di depannya.


Pedang yang hanya berjarak satu kilan itu sungguh membuat pimpinan perampok merasa gemetar.


" Aku sungguh terlalu meremehkanmu bocah. Silahkan kau ambil nyawamu jika itu yang kau nginkan."


" Siapa namamu?"


" Bayuteja."


" Bayuteja, kali ini aku akan melepaskanmu. Tapi dengan satu syarat."


" Uhuk ... apa syarat yang kau ajukan tuan?"


" Berhentilah menjadi perampok dan hiduplah dengan baik. Aku lihat di sepanjang jalan ini terdapat banyak lahan persawahan dan perkebunan. Carilah harta yang baik jangan lagi merampok."


Bayuteja tentu saja tekejut dengan syarat yang diajukan Damar. Jika orang lain pasti akan memintanya menjadi pengikut setia atau budak tapi pemuda ini sungguh berbeda. Terselip rasa kagum dan segan dari dalam diri Bayuteja terhadap pemuda di depannya itu.


" Baik aku bersumpah atas nama langit aku akan memenuhi syarat mu itu."


Damar tersenyum, ia pun memanggil Wardani untuk mengobati Bayuteja dengan tenaga dalam.


Sesaat kemudian Bayuteja sudah tidak merasakan begitu sakit di tubuhnya.


" Baiklah kalau begitu, kami mohon pamit."

__ADS_1


" Tunggu, tuan siapa namamu?"


" Namaku Damar. Damar Pawitra."


" Terimakasih untuk welas asihmu. Jika tuan menginginkan bantuanku tuan cukup meniup peluit ini. Dimanapun Tuan berada bantuan dariku akan langsung ada."


Bayuteja menyerahkan sebuah peluit bambu. Sesaat peluit itu hanyalah peluit biasa namun ternyata itu adalah sebuah benda pusaka yang pemiliknya bisa memanggil seseorang meskipun ia berada jauh dari orang tersebut.


" Aku tidak bisa menerima benda berharga ini."


" Terimalah tuan, ini merupakan salah satu cara untukku berterimakasih."


Dengan terpaksa Damar menerima peluit pemberian Bayuteja. Ia dengan segera kembali ke kereta. Mereka harus bergegas menuju ke Kadipaten Gendingan agar tidak terhambat karena waktu yang sempat tertahan dalam menghadapi kawanan perampok Bayuteja.


Mahesa dan juga Lingga tentu bangga dengan apa yang diperbuat oleh Damar. Wibawa anak itu sungguh terlihat. Aura kepemimpinan begitu melekat dalam diri Damar.


" Aku berjanji akan berhenti menjadi perampok dan aku akan mengabdikan diri ku kepada mu Tuan damar Pawitra."


Bayuteja berbicara sendiri saat rombongan Damar pergi meninggalkannya. Tak berselang lam para pengikutnya datang dan berlutut memohon maaf karena lari dari perkelahian.


" Maafkan kami pimpinan."


" Sudah, kalian lekas bantu aku untuk bangun. Mulai hari ini kita akan berhenti merampok. Ayo kita bangun Singgi Luhur ini menjadi daerah yang makmur. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencari harta yang baik selain dari merampok orang."


" Baik pimpinan."


Meskipun sedikit heran dan terkejut, namun para pengikut Bayuteja manut dengan keputusan pimpinan mereka untuk berhenti menjadi rampok. Sebenarnya ada bebrapa diantara mereka yang sungguh senang mendengar hal tersebut karena mereka sudah lelah terus berlaku sebagai penjahat yang meresahkan.


Sedangkan di dalam kereta semua memuji apa yang dilakukan Damar. Indira yang tadinya sempat was was kini benar benar bernafas lega. Gadis itu yakin bahwa kakang nya pasti akan bisa menjalani pertandingan lusa dengan sangat baik.


Kakang, kau kini benar benar menjadi semakin hebat dan kuat. Aku harap kamu akan terus sepeti ini. jangan pernah berubah. Selalu rendah hati dan banyaklah tersenyum terhadap semua orang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2