
Kembali ke padepokan membuat Damar begitu gembira. Ia sungguh sudah merindukan semua orang yang berada di Padepokan terutama ibu dan adik perempuannya. 25 hari ia berada di tengah hutan, tepatnya di atas sebuah bukit untuk berlatih membuatnya rindu dengan aktifitas normal orang orang d sekitarnya.
Indira yang tengah memberi makan kuda kuda milik mereka di samping rumah begitu terkejut mendengar suara seseorang yang ia sangat ia rindukan.
"Dinda Indira!"
" Kakang!"
Gadis itu seketika melempar rumput rumput yang tadi ia pegang dan berlari menghampiri Damar. Ia memeluk erat kakak lelakinya itu. Bahkan kini ia sudah menangis.
" Hei, kenapa menangis hmmm?"
Indira tidak menjawab. Ia masih ingin meluapkan kerinduannya kepada sang kakak. Damar pun membiarkan hal tersebut. Nyi Sambi hanya menggeleng pelan melihat kelakuan putrinya.
" Hanya sama kakang saja rindu nya. Sama romo tidak?"
Indira mengurai pelukannya terhadap Damar dan beralih memeluk Ki Prama.
" Rindu romo juga."
Ki Prama tergelak mendengar penuturan gadis kecilnya itu. Ia sungguh tidak menyangka waktu bergulir begitu cepat. Bayi bayi yang dulu berada di gendongannya kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan gadis yang cantik. Ki Prama pun menarik tangan Damar lalu memeluk keduanya bersamaan. Ia mencium pucuk kepala keduanya bergantian.
" Sudah sudah, ayo masuk. Le, kamu pasti lapar. Ayo masuk dan makan dulu."
Senyum Damar mengembang. Ia sungguh rindu dengan masakan sang ibu. Bagaimana pun juga berada di tengah hutan pasti tidak akan mendapatkan makanan enak seperti di rumah.
Mereka makan dengan lahap, terlebih Damar dan Ki Prama. Keduanya benar benar merasakan menikmati makanan kali ini. Nyi Sambi dan Indira sampai heran dengan ulah kedua pria beda usia tersebut.
" Kang, le, pelan pelan makannya. Kalau masih kurang nanti aku masak kan lagi."
" Kang Damar pelan. Nanti kakang keselek lho."
__ADS_1
Damar acuh dengan peringatan Indira. Sungguh ia ingin makan dengan banyak. Tenaganya seperti habis terkuras, dia ingin memilihkannya sakarang. Terlebih dia masih harus berlatih lagi menyatukan dirinya dengan senjata pusaka miliknya.
Seketika Ki Prama menepuk keningnya dengan pelan. Ia melupakan suatu hal yang penting. Hal tersebut tentu saja menimbulkan tanya dari ketiga orang yang duduk bersamanya.
" Ada apa Romo?" tanya Damar dan Indira bersamaan.
" Tidak ada apa apa. Nanti saja romo jelaskan sekarang kalian makanlah dulu."
Keduanya mengangguk patuh atas apa yang diucapkan oleh sang romo. Namun Damar masih menyimpan tanya pada romo nya. Ia merasa romo nya menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Peristiwa saat dia bersemedi atau lebih tepatnya bayangan dua orang suami istri saat ia tengah bersemedi pun Ki Prama belum menjelaskannya.
" Sepertinya aku harus tanya kepada romo tentang peristiwa bayangan saat aku semedi waktu itu. Bayangan tersebut sedikit mengganggu ku."
Damar bergumam dalam hati. Tapi lebih dulu ia harus menyelesaikan makannya. Ia benar benar harus mengembalikan tenaganya seperti sedia kala.
Latihan dengan pedang pitu ternyata membuat tenaganya lumayan terkuras. Sepertinya Damar harus mencari solusi agar tenaganya tidak cepat terkuras saat menggunakan pedang pitu.
πΏπΏπΏ
Wardani begitu terlihat bersemangat saat melihat bopo nya itu. Hal tersebut tentu tidak lain dan tidak bukan karena Damar. Ya, Wardani ingin menanyakan mengenai latihan Damar. Tapi ternyata bukan hanya Wardani saja yang penasaran, tapi semua paman guru bocah remaja itu pun penasaran.
Mahesa bahkan mengistirahatkan keempat murid yang sedang dilatihnya untuk mendengarkan cerita sang bopo.
" Bagaimana latihan Damar, bopo?"
Wardani yang sudah tidak sabar membawa Ki Prama untuk duduk di pendopo. Bahkan dengan sigap, Wardani mengambilkan ramuan herbal untuk Ki Prama.
" Waah ngasih upeti sebelum cerita. Pintar kamu nduk."
Wardani tersenyum, Ki Prama menyukai minuman hangat buatannya. Sedangkan Ki Prama nampak siap untuk menceritakan peningkatan kemampuan Damar.
" Apa kalian masih ingat pedang yang waktu itu aku tunjukkan?"
__ADS_1
Semua yang ada di sana mengangguk, kecuali Wardani. Karena saat Ki Prama menunjukkan pedang pitu kepada keempat muridnya, Wardani memang tidak ada di sana.
" Damar sudah bisa menguasainya. Dan yang membuat aku begitu terkejut, dia bisa melihat masa lalu nya."
Semua orang saling pandang dengan ucapan Ki Prama. Terlebih Wardani dan Mahesa. Sepasang suami istri itu mengangguk pelan.
" Bopo, apakah benar Damar putra dari Ki Wira dan Nyi Gayatri?"
Pertanyaan Mahesa tentu saja membuat Karendra, Lingga dan Braja begitu terkejut. Sedangkan Ki Prama hanya menjawab dengan anggukan. Wardani dan Mahesa menunduk. Keduanya meneteskan air mata mereka. Ada rasa syukur dalam hati karena praduga mereka selama ini adalah benar. Namun mereka juga diliputi kekhawatiran, bagaimana jika Balaajaya tahu kalau keturunan Ki Wira masih hidup. Pasti ia akan mengejar Damar.
Kini mereka saling berbisik mengenali hal tersebut. Karendra yang masih terdiam seketika mengangkat tangannya.
" Bopo, biarkan kami semua ikut ke Kadipaten Gendingan."
Apa yang terlontar dari bibir Karendra tentu saja disetujui oleh Lingga dan Braja. Mereka merasa memiliki kewajiban melindungi Damar. Jika waktu itu mereka belum bisa melindungi guru besar mereka, paling tidak saat ini mereka harus melindungi anak guru besar mereka.
Ki Prama masih terdiam. Ia sendiri juga tidak mungkin membiarkan Damar tanpa pengawalan sama sekali. Jika hanya Mahesa tentu kasian juga. Terlebih Mahesa harus mengurus segala hal yang ada di sana sebelum pertandingan di mulai.
" Itu akan ku pikirkan nanti. Sekarang mari ikut aku untuk melihat latihan Damar."
Semuanya mengangguk patuh. Kelima orang tersebut mengekor Ki Prama menuju halaman belakang padepokan. Tampak di sana Damar tengah berlatih sendirian. Mengetahui kedatangan para paman guru dan bibi Wardani, Damar mengehentikan latihannya dan langsung menghambur memeluk mereka satu per satu. Mereka juga membalas pelukan Damar. Ada sesuatu yang mereka rasakan saat memeluk remaja 14 tahun tersebut setelah mereka mengetahui siapa Damar sesungguhnya .
" Baiklah, mari kita lanjut latihan. Oh iya le, ada hal yang romo lupa katakan padamu."
" Njih romo, apa itu."
" Pedang pitu, pedang pitu adalah salah satu benda pusaka yang banyak diincar oleh para pendekar. Mungkin akan sedikit membuat mu kerepotan nanti jika bertemu mereka. Jadi le, kau harus hati hati. Senantiasa selalu waspada, jangan sampai pedang itu jatuh ke tangan orang lain. Jaga apa yang sudah jadi milikmu."
Damar mengangguk, meski awalnya ia sedikit terkejut mengetahui fakta dari Pedang Pitu. Namun, entah mengapa ia mempunyai keyakinan diri bahwa pedang pitu hanya akan jadi miliknya .
Kau benar anak muda, aku hanya akan menjadi milikmu hingga nyawamu tak lagi ada di dalam jasad mu.
__ADS_1
TBC