
Suara burung saling sahut-menyahut menandakan pagi menjelang. Sinar matahari mulai nampak menyinari bumi, membuat tubuh sedikit terasa hangat. Damar mengerjapkan matanya. Dilihatnya kembali ke sekeliling atas bukit Wono Ageng. Tapi tidak ada satupun terdapat manusia disana.
Damar membuang nafasnya kasar. Semalam tadi ia sudah berselimutkan malam sepi dan dingin. Dan pagi ini ia harus menatap atas bukit yang kosong tidak ada satupun makhluk hidup di sana.
" Kapan mereka akan sampainya? Teman-teman, aku harap kalian bisa segera datang dengan selamat."
Damar berdoa dalam hati. Ia kembali membuka bekal makanan yang diberikan bibi dan adiknya. Damar memakan perlahan. Setelah itu ia kembali merapikan bekalnya sambil menunggu para temannya datang.
Tak ... Tak ... Tak ...
Terdengat langkah kaki begitu cepat mendekat ke arah nya. Damar langsung memegang pedang pitu miliknya untuk berjaga-jaga.
" Hosh ... Hosh ... Hosh ..."
Suara nafas tersengal terdengar sangat lantang di telinga Damar. Damar mencermati siapa yang sampai di bukit itu dengan hati-hati. Dalam benaknya ia berharap itu adalah salah satu temannya
" Haaah, akhirnya sampai juga."
Orang itu langsung menjatuhkan dirinya di tanah. Tampak dia sangat kelelahan. Damar pun mendekat memastikan siapa orang tersebut.
" Mastursuwun Gusti, Ka ... Saka, kamu baik-baik saja to?"
Ternyata orang itu adalah Saka saudara seperguruan Damar. Saka pun berusaha unyuk bangun. Ia kemudian memeluk Damar dengan erat.
" Syukurlah Mar, syukurlah kau baik-baik saja. Aku baik. Aku dapat token itu."
" Apa kau tidak bertemu dengan yang lainnya?"
Mereka berdua kemudian mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan beristirahat. Saka kemudian menceritakan apa yang dia alami selama di hutan. Dia juga tidak bertemu dengan teman-teman yang lain. Baik dari satu perguruan maupun dari padepokan yang lain.
" Aku sedikit merasa aneh. Mengapa aku sama sekali tidak bertemu sesama manusia di hutan Larangan?"
" Sama, aku pun begitu Ka. Apa mungkin semua sudah diatur sedemikian rupa sehingga kita tidak bersinggungan dengan sesama peserta pertandingan?"
__ADS_1
" Bisa jadi seperti itu."
Keduanya mencoba berpikir yang masuk akal. Secara logika, mau seluas apapun hutan Larangan ini masa iya mereka tidka saling bertemu. Terlebih peserta pertandingan ini bukanlah hanya 5 atau 10 orang. Meskipun begitu, keduanya tidak mau berpikir banyak. Damar dan Saka cukup bersyukur mereka ada di tempat itu sekarang. Selebihnya mereka berdoa agar teman-teman yang lain segera menyusul mereka di atas bukit Wono Ageng.
Matahari mulai merangkak ke atas kepala. Namun belum ada lagi yang datang ke atas bukit. Keduanya tampak lesu. Mereka seperti hilang semangat. Apakah token itu sangat sulit dicari? Pertanyaan yang mereka tahu persis jawabannya.
Bagaimana tidak, baik Damar maupun Saka sama-sama menemukan token tersebut di sebuah tempat yang tak terduga. Walaupun mereka mendapatkan token tersebut sama-sama di sebuah pohon.
Pandangan Damar dan Saka menatap lurus ke depan, berharap akan ada lagi murid padepokan yang datang dnegan membawa Token yang mereka dapatkan. Masih ada satu hari besok, waktu terakhir batas pencarian token di hutan Larangan.
πΏπΏπΏ
Lain di hutan lain pula di kadipaten Gendingan. Kertawijaya yang sedari pagi tadi berada di penginapan tempat Indira berada tak kunjung pulang juga. Mahesa agak sedikit kesal, pasalnya Kertawijaya terlihat sekali mendekati Indira.
Pria berusia 35 tahun itu sedari tadi mondar mandir tidak jelas dari pintu ke ruang tengah penginapan. Sesekali Mahesa mengintip Indira dan Kertawijaya yang sedang berbincang. Terdengar helaan nafas yang begitu berat dari Mahesa. Wardani hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sang suami.
" Duduklah kakang, kau membuatku pusing."
" Haish, kalau bukan adik dari Adipati Ranawijaya sudah aku usir pemuda itu."
" Paman, bibi, Kang Kertawijaya ingin pamit pulang."
Terdengar hembusan nafas kelegaan dari Mahesa. Pria itu langsung bangkit dan menuju keluar penginapan bersama dengan Indira.
" Paman, saya mohon pamit," ucap Kertawijaya sopan.
" Baiklah, aah tunggu biar kau ikut pergi bersama mu."
Kertawijaya sedikit heran, mengapa Mahesa malah ikut dengannya. Sepanjang perjalanan menuju pendopo kadipaten, keduanya hanya diam tanpa bicara apapun hingga Mahesa secara tidak sengaja menabrak seseorang yang tengah bejalan belawanan arah.
" Maaf kisanak. maafkan saya."
" Kalau jalan itu pakai mata."
__ADS_1
Deg
Mahesa sungguh terkejut mndengar suara orang yang ia tabrak itu. Ia tentu tahu siapa pemilik suara tersebut. Beruntung ia tetap menggunakan penyamarannya. Mahesa yakin ia tidak akan mudah dikenali. mahesa mengatur debaran jantung dan nafasnya agar tidak terlalu gugup saat menghadapi orang itu.
" Sekali lagi maaf kisanak. Saya kurang berhati-hati."
" Tck dasar. Tunggu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
" Maaf sepertinya belum, saya baru pertama kali ini datang ke Kadipaten Gendingan dan saya belum pernah bertemu dengan kisanak."
Orang tersebut sedikit mengerutkan alisnya dan kemudian melenggang pergi dari tempat itu. Mahesa sungguh sangat lega. Sesaat tadi jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya. Bagaimanapun jika ia berhadapan langsung dengan Balaajaya ia masih belum percaya diri. Terlebih lagi dia juga tidak mau memancing keributan saat proses pertandingan masih berjalan.
" Paman, apa paman mengenal orang tadi. Bukankah itu tadi pemimpin Padepokan Pedang Sakti?"
" Apakah benar begitu? Aku malah baru tahu karena kau yang mengatakan."
" Tahu tidak paman, pria itu sungguh tega. aku dengan dari kakang Ranawijaya bahwa pemimpin Padepokan Pedang Sakti itu tega mengusir muridnya yang gagal sat babak pertama. Sungguh keterlaluan."
Tentu saja Mahesa tidak terkejut akan cerita Kertawijaya tersebut. Dia cukup tahu perangai Balaajaya seperti apa. Bahkan boleh dibilang murid itu beruntung hanya diusir bukannya di lukai.
Tak ingin terkesan penasaran dengan Balajaya, Mahesa acuh dengan apa yang diceritakan Kertawijaya sepanjang jalan itu. Sebenarnya jika dilihat lebih dalam Kertawijaya merupakan pemuda yang baik dan mudah untuk bersosialisasi. Tapi tetap saja Mahesa merasa belum terima jika Indira berdekatan dengan pria lain di luar Padepokan Resik Jiwo.
Disisi lain Balaajaya masih mengingat-ingat wajah pria yang menabraknya tadi di jalan. saat ini Balaajaya tengah duduk di teras penginapannya. ia merasa yakin sangat familiar dengan wajah orang tadi. Akan tetapi siapa dan pernah bertemu dimana, Balaajaya sendiri tidak yakin.
" Aku sungguh yakin pernah melihat orang itu tadi."
"Ada apa den?"
" Oh kau Jo. Tadi aku melihjat seseorang yang aku yakin pernah melihatnya tapi dimana aku lupa. aah sudahlah aku ingin tidur saja."
Projo begitu terkejut mendengar ucapan balaajaya, namun sebisa mungkin dia menutupi keterkejutannya agar pria arogan itu tidak curiga.
Apa Balaajaya bertemu salah satu dari kalian? Aku harap kalian berhati-hati. Bagaimanapun pria gila ini adalah ancaman bagi kalian semua.
__ADS_1
TBC