
Pagi hari suasana atas Bukit Wono Ageng menjadi begitu riuh. Pasalnya mereka tidak menemukan dimana Damar berada. Wajah Mahesa bahkan sudah begitu panik. Si mata-mata yang merangkap sebagai pengawal kiriman Ki Prama pun terkejut saat menemukan dirinya tertidur bersandar di sebuah pohon.
Ia pun dengan ajian misah sukmo langsung menemui Ki Prama dan melaporkan apa yang terjadi. Sungguh dia amat sangat merasa bersalah. Bahkan ia sudah meminta hukuman dari Ki Prama. Namun Ki Prama tidak memberikan hukuman, dia hanya memerintahkan mata-mata tersbeut untuk mencari Damar.
Sedangkan Mahesa benar-benar jatuh terduduk dengan lunglai. Seakan tulang-tulangnya lolos dari tubuhnya. Mahesa bahkan sudah mennagis saat ini. Projo mendekat dan membisikkan sesuatu.
" Balaajaya tidak ada disini. Bisa dipastikan dia yang membawa Damar pergi."
" Tapi untuk apa Ki, bahkan dia tidak mengenali wjaah Damar."
" Pedang pitu. Pasti bedebah itu menginginkan pedang pitu milik Damar ."
Mahesa mengepalkan tangannya dengan erat hibgga buku-buku jarinya memutih. Ranawijaya pun menghampiri dan mengucapkan sesal yang begitu dalam dengan kejadian ini. Ranawijaya sungguh tidak menyangka kejadian belasan tahun silam terulang kembali meski dengan konteks yang berbeda.
" Baiklah saudaraku sekalian. Pertandingan ini untuk sementara akan aku hentikan. Semua bisa kembali ke penginapan. Sungguh kejadian kali ini tidak ada yang bisa menebaknya. Aku sebagai Adipati Gendingan mohon maaf sebesar-besarnya untuk ketidaknyamanan kalian."
Semua murid dan guru serta pendamping kembali menuju penginaoan di kadipaten. Namun Mahesa dan kedua muridnya belum bernajkan dari sana. Pun dengan Projo, Yasapati, dan Ranawijaya.
" Aku sungguh-sungguh menyesal Mahesa. Tidak seharusnya aku membiarkan Balaajaya ikut."
" Bukan salah aki. Semua ini sudah terjadi. Aku yang lalai."
" Bukan kamu yang lalai. Tapi Balaajaya menggunakan ajian sirep kelas atas untuk melumpuhkan kita semua. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari dimana pria tua itu membawa Damar. Mahesa, aku ingin bertanya, siapa Damar sebenarnya."
Mahesa sejenak terdiam mendengar pertanyaan Ranawijaya. Sepertinya dia memang tidak bisa menyembunyikan lebih lama lagi identitas Damar.
" Damar putra dari Ki Wiradarma dan Nyi Gayatri yang diselamatkan oleh bopo guru."
Projo langsung terduduk di tanah. Dugaannya benar. Pemuda itu adalah bayi yang ia larung di sungai. Sednagkan Ranawijaya membuang nafasnya kasar. Kini semuanya pasti tidak akan mudah. Jika Balaajaya menyadari hal tersebut maka nyawa Damar benar-benar dalam bahaya.
" Sekarang aku sungguh khawatir, Balaajaya akan menghabisi nyawa Damar jika dia mengenalinya. Damar akan dinaggap sebagai ancaman untuk posisi kepemimpinan padepokan pedang sakti."
Projo dan Ranawijaya tentu tahu kalau padepokan pedang sakti adalah milik Damar karena dia merupkaan keturunan langsung dan sah. Hal tersebitlah yang membuat Balajaya menginginkan Damar untuk dilenyapkan saat masih bayi.
" Sekarang kita pikirkan, kira-kira kemana Damar dibawa pergi oleh Balaajaya."
__ADS_1
πΏπΏπΏ
Kasak kusuk mengenai hilangnya Damar tentu saja sampai di telinga Indira. Pasalnya gadis itu tang berjalan-jalan bersama Kertawijaya di sekitaran kadipaten. Indira pun langsung berlari menuju ke penginapan dan meninggalkan Kertawijaya sendirian di jalan.
Braaak !!!
" Bi, Bibi Wardani, Paman Lingga apa benar Kang Damar hilang. Jawab bi!"
Indira kalap, dia berteriak histeris bahkan kini gadis itu sudah menangis. Namun rupanya bukan hanya Indira yang menangis, Wardani pun tampaknya juga baru saja menangis karena matanya terlihat merah.
" Sayang, nduk, kita tunggu dulu ya kabar dari Paman Mahesa. Paman mu belum kembali dari bukit Wono Ageng pun dengan Adipati. Kita berdoa sama Gusti Pangeran semoga kakang mu baik-baik saja."
Indira memeluk Wardani dan kembali menangis tersedu. Sungguh ia merasa ada yang hilang dari hatinya mendengar kabar yang beredar tersebut.
" Hiks, kakang. Semoga kakang baik-baik saja. Hiks."
Wardani mengusap lembut kepala Indira. Ia juga tidak menyangka akan ada kejadian seperti sekarang ini.
" Paman, mana kakang Damar?"
Indira langsung bangkit dan melepas pelukannya terhadap Wardani saat mengetahui kedatangan Mahesa. Namun ekspresi Mahesa yang diam dan menunduk sudah bisa menjawab semua pertanyaan Indira.
Mahesa memeluk Indira dengan erat. Ia bisa merasakan betapa kehilangannya Indira. Mahesa terus mengatakan kata maaf kepada anak gadis tersebut. Ia membiarkan beberpa saat Indra untuk meluapkan kesedihannya. setelah itu Mahesa menyuruh Wardani untuk membawa semua anak muridnya kembali ke bilik untuk beristirahat dan menenangkan Diri.
Sekarang di ruang tengah penginapan tersebut tinggal Mahesa, Lingga, projo, dan Ranawijaya.
" Kira-kira kemana Balaajaya akan membawa Damar? Apakah kembali ke padepokan Pedang Sakti?" tanya Ranawijaya.
" Tidak gusti adipati. Dia tidak akan membawa Damar kesana. Dia pasti sudah punya ancang-ancang, akan ketahuan dengan cepat kalau dia membawa Damar ke sana," jawab Projo.
Tiba-tiba Mahesa berdiri dan hendak keluar. Ia tidak boleh cuma duduk saja, Mahesa berpikir dia harus segera pergi untuk mencari Damar.
" Mau kemana Mahesa?'
" Aku harus mencari Damar, aku tidak boleh diam saja. Aku sungguh takut Damar kenapa-napa Ki Projo."
__ADS_1
" Kau meu mencarinya kemana, kita bahkan tidak tahu Balaajaya membawa Damar kemana."
" Trus kita hanya diam dan duduk saja begitu?"
Ranawijaya bangkit dari duduknya dan memegang kedua bahu Mahesa. Ia membimbing Mahesa untuk kembali duduk.
" Tenanglah Mahesa. Ksatria Yasapati saat ini sudah megerahkan prajuritnya untuk membantu menemukan Damar. Tadi beliau langsung menuju Astina untuk meminta izin kepada Gusti Prabu Akilendara demi meminta izin memakai beberapa prajurit melakukan pencarian."
Mahesa kembali tergugu. Sungguh ia merasa gagal menjadi seorang guru dan paman sekaligus untu Damar.
" tapi aku harus tetap mecari Damar."
" Jangan gegabah Mahesa."
" Bopo?"
Semua oarang tentu terkejut mendengar suara tersbut. Terlebih Projo dan Ranawijaya. Keduanya langsung berdir dan berelutut memberi hormat kepada orang tersebut.
" Ki Manggala!"
" Paman Manggala!"
Projo dan Ranawijaya berucap bersamaan. Ya, baru saja yang datang adalah Pramadana alias Manggala. Prama pun meminta keduanya untuk bangkit. Ranawijaya dan Projo bahkan langsung memeluk Prama bergantian.
" Sebaiknya kita tenang dulu. Aku yakin tidak lama Damar akan memberi petunuk dimana dia berada."
Semua yang mendengar ucapan Ki Prama mngeutkan kedua alisnya. Dalam benak mereka tentu saja bertanya bagaimana bisa Damar memberi petunjuk akan keberadaan dirinya.
" Kalian tidak usah terlalu panik. Meskipun usianya baru 14 thaun, anak itu memiliki kemampuan berpikir yang sangat baik. Ia tidak akan grusah-grusuh menghadapi Balaajaya. dan aku yakin dia menemukan sebuah kebenaran saat ini."
" Maksud bopo?"
" Damar memiliki kemampuan melihat gambaran masa lalu jika dia bersentuhan dengan seseorang. Dan aku saat ini yakin dia mengetahui siapa Balaajaya sebnannya."
Bukannya tenang baik Mahesa, Lingg dan Projo malah semakin cemas. jika Damar benar-benar memiliki kemampuan tersebut maka dia akan tahu bahwa Balaajaya adalah pembunuh kedua orang tuanya. Apakah itu bukannya malah berbahaya, begitulah kira-kira isi dari pikiran mereka.
__ADS_1
Mengetahui wajah-wajah pucat penuh kecemasan, Pramadana menegaskan kembali bahwa Damar tidak akan melakukan hal-hal gegabah. Ia pasti akan memperimbangkan apa yang harus dilakukan. Ki Prama meyakini bahwa Damar bahakan akan menuggu dirinya saat akan bertindak.
TBC