Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Token Pertama


__ADS_3

Wardani berdiri tepat di depan macan putih bertanduk. Tidak ada sedikitpun rasa takut dalam diri gadis itu. Ia terus berjalan mendekat. Namun setiap kali Wardani mendekat macan putih juga mengerang.


Rrrrrr


Mata merahnya seketika menyala. Tubuhnya yang outih memendarkan cahaya.


" Tutup mata kalian!"


Wardani meminta ke empat rekannya untuk menutup mata mereka. Pendaran cahaya putih itu sangat menyilaukan. Bahkan bisa membuat kornea mata pecah. Namun tidak dengan Wardani. Gadis itu menangkup kan kedua tangannya lalu merapalkan mantra. Ia meniup tangannya lalu mengusapkannya ke kedua mata miliknya. Ya, hal itu membuat Wardani tetap bisa melihat sang macan dengan matanya langsung.


" Bagaimana, apakah aku bisa mengambil token itu?"


" Rrrrrrr, jangan harap kau akan mendapatkannya dengan mudah."


Wardani mengangkat sebelah sudut bibirnya. Ia meneriaki keempat saudara seperguruannya agar tetap menutup mata sampai ia mengatakan boleh membukanya.


" Hati hati dinda!" teriak Mahesa.


" Terimakasih kakang," Sahut Wardani yang mulai bersiap menghadapi binatang mistis tersebut.


Saaaat


Syuuuut


Wardani mengeluarkan pedangnya dari dalam sarung. Kaki kanannya di depan dan kaki kiri nya berada sedikit ke belakang. Tangan kanannya mengangkat pedangnya dan tangan kiri mengepal sempurna.


" Kuda kuda ku cukup baik gadis kecil. Tapi jangan harap kau bisa mengalahkan kau. Rrrrr ... "


Srak srak


Hiaaat


Prang prang prang


Suara pedang Wardani bergesekan dengan kuku kuku runcing milik macan putih bertanduk. Wardani melompat ke sana ke mari untuk bisa menyerang titik lemah binatang itu.

__ADS_1


Hiaaat


Hap


Rrrrr


Wardani terbang ke atas dan mendarat sempurna di atas tubuh macan putih bertanduk. Macan itu mengerang saat pedang Wardani menggores kulit nya.


" Rrrr, dasar bocah tengik berani berani nya kau melukai. Arghhhh!!!"


Macan putih mengibas ibas kan tubuhnya, ia berusaha menjatuhkan Wardani dari atas punggungnya. Macan putih itu pun bahkan menabrakkan tubuhnya ke pohon agar Wardani jatuh namun rupanya Wardani bisa merangkak ke depan dan mencengkeram erat tanduk miliknya.


" Lepaskan tangan mu dari tandukku keparat!"


Sang macan tidak terima tanduk berharganya di pegang oleh oang lain. Ia menggeleng gelengkan kepalanya dengan sangat kuat. Namun bukannya terlepas Wardani malah semakin kuat mencengkeram.


" Menyerah lah wahai kau macan putih bertanduk. Serahkan token itu jika tidak maka tanduk kesayanganmu ini akan ku jadikan sebagai pegangan pedangku."


" Manusia keparat, arrrrrrrrhhgg!!"


Melihat binatang mistis tersebut tidak juga mau menyerah, mau tidak mau Wardani menggunakan ilmu tersembunyi nya untuk melumpuhkan sang binatang. Ia mengangkat kedua jarinya di depan mulut lalu merapal kan mantra, kemudian sebuah cahaya kuning keluar dari kedua jarinya tersebut lalu ia menyapukan ke seluruh pedangnya.


Hiaaaaaat


Syuuuut


Kletak


Argggghhhhh!!!!


Macan putih tersebut mengerang, ia merasakan sebuah kasakitan yang luar biasa saat ujung tanduknya berhasil dipotong oleh pedang Wadani. Ia jatuh ke tanah, tubuhnya menggelepar. Cahaya putih yang menyelubungi tubuhnya redup. Mata merahnya kini berubah menjadi warna hitam seperti mata normal.


" Kau gadis kecil sialan. Berani nya kau melakukan ini padaku!"


Macan putih bertanduk berucap pelan. Tenaganya terasa begitu banyak terkuras. Ia kini tidak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


Hah ... Hah ... Hah ...


Nafasnya terngah engah, ia sungguh merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Sebuah token pun keluar dar kepala sang macan putih. Wardani tersenyum lalu mengambil token tersebut.


" Asli!" ucap Wardani sambil mengembangkan senyumnya.


Gadis itu pun mendekat ke arah wajah sang macam. Ia berjongkok di sana lalu mengusap wajah macan itu.


" Aku bisa mengembalikan tanduk mu. Tapi ada satu syarat."


Macan itu memicingkan matanya. Ia seakan tak percaya apa yang di ucapkan sang gadis kecil. Wardani yang paham arti tatapan itu pun seketika membuang nafasnya dengan kasar.


" Aku mengatakannya dengan betul."


" Apa syaratnya?"


" Jadilah peliharaan ku."


Macan putih bertanduk berpikir sejenak. Selama ini binatang mistis tidak pernah patuh terhadap manusi manapun. Namun hidupnya kali ini juga terancam. Akhirnya ia pun menyetujui permintaan Wardani. Wardani tersenyum, kedatangannya ke hutan Larangan tidak lah sia sia.


" Baiklah semuanya kalian bisa membuka mata kalian kembali!"


Keempat pria itu membuka mata mereka. Semuanya terkejut saat tidak mendapati binatang mistis yang tadi ada di hadapan mereka.


" Dinda, dimana binatang mistisnya?" tanya Karendra.


Wardani tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil memperlihatkan token yang ia dapatkan.


" Waah kau hebat dinda, simpanlah," ucap Braja.


" Tidak kakang. Kalian akan menyimpannya. Sekarang aku serahkan kepada kalian siapa yang akan menyimpannya pertama kali," jawab Wardani.


Braja, Mahesa, Karendra, dan Lingga saling pandang. Hingga Lingga mengatakan bahwa kakak tertua saja yang menyimpannya, dan semua setuju. Mahesa sedikit terkejut, ia sendiri sebenarnya tidak terobsesi ingin menjadi pemenang. Namun kata adik adik seperguruannya, Mahesa lah yang pantas untuk menyimpan token itu saat ini. Seandainya mereka tidak lagi menemukan token, mereka berharap bahwa Mahesa mampu untuk menuju ke puncak dan memenangkan pertandingan.


Mahesa akhirnya pun pasrah menerima token tersebut ia akan menyimpannya dengan hati-hati. Namun rupanya keempat kakak seperguruan Wardani masih penasaran ke mana perginya Macan Putih Bertanduk tersebut. Lagi-lagi Wardani hanya tersenyum. Binatang mistis tersebut langsung menghilang saat dia mengakui tuannya. Namun mereka bisa berkomunikasi melalui telepati atau pikiran mereka.

__ADS_1


Tadi sebelum Macan Putih bertanduk menghilang Wardani benar-benar mengembalikan tanduknya yang sudah patah. Binatang mistis tersebut pun langsung membuat perjanjian antara tuan dan pengikutnya dengan menggabungkan darah mereka dan dioleskan di kening sang macan.


TBC


__ADS_2