
Elang berbulu emas yang bernama Wulung itu sungguh takjub dengan pemuda yang ia anggap masih bocah di depannya itu. Bagaimana bocah itu bisa mengendalikan benda pusaka tersebut, begitu lah arti tatapan mata tajam sang Wulung.
" Bocah, maukah kau menandatangani kontrak dengan ku."
" Maksud mu Seperti Simo yang selalu mengikuti Bibi Wardani?"
" Simo, kau mengenalnya? Macan putih bertanduk itu?"
Damar mengangguk. Akhirnya Damar dan Wulung terlibat banyak pembicaraan salah satunya mengenai Simo, binatang mistis milik Bibi Wardani.
" Aku setuju, tapi kau bukanlah budak ku. Jadilah temanku, bagaimana?"
" Baik, mari berteman. Teteskan lah sedikit darahmu di kepalaku dan kau bisa memanggilku kapan saja kau mau."
Damar lalu melakukan apa yang diminta oleh Wulung. Ia sedikit menggores jarinya agar darah keluar dari sana. Setetes darah tesebut sudah cukup menjadikan elang berbulu emas itu menjadi pengikut Damar.
" Baiklah sekarang apa yang kau inginkan?"
" Aku perlu menuju ke bukit Bukit Wono Ageng. Aku harus segera sampai di sana sebelum malam tiba."
" Naiklah ke punggung ku."
Damar kemudian melompat ke ats tubuh Wulung. Ia berpegangan erat pad bulu yang berada di leher Elang tesebut dan wussss, elang ema itu melesat naik ke atas menerobos pepohonan. Kini Damar berada di atas hutan Larangan. Dari posisinya saat ini dia bisa melihat letak bukit Wono Ageng yang berada di tengah hutan. Bukit tersebut sungguh terlihat mencolok. Tebing-tebing tinggi yang mengitarinya membuat bukit itu seolah-oleh sebuah panggung besar. Damar sesaat terkesiap melihat indahnya hamparan pepohonan dari atas .
" Apa yang kau pikirkan bocah?"
" Aaah, tidak ada apa-apa. Aku hanya heran, kau ini binatang mistis tapi mengapa kau membutuhkan sarang sebagai rumah mu."
" Huft, selama ini aku menyamar sebagai burung elang biasa. Aku enggan keberadaan ku diketahui oleh orang. Seperti yang kau lakukan saat ini, menyamar untuk menghindari orang-orang tertentu. Mereka hanya mengincar ku untuk dijadikan budak mereka.meskipun tidak semua orang bisa melihat keberadaan ku. Tapi pendekar sakti pastilah bisa melihat diriku"
__ADS_1
" Kau tahu aku sedang menyamar."
" Tentu saja, itu terlihat sangat jelas."
" Aktanya kau tidak mau menjadi budak manusia? Tapi mengapa kau membuat perjanjian tuan dan majikan kepadaku?"
" Entahlah."
Wulung sendiri tidak tahu mengapa dia melakukan hal tersebut. Selama ini padahal ia begitu enggan berhubungan dengan makhluk yang namanya manusia. Tapi dengan bocah yang saat ini berada di atas tubuhnya ini membuat elang emas tersebut merasa begitu nyaman.
" Mengapa kau menyamar bocah?"
" Oh ini. Kata paman dan bibi guru wajahku katanya mirip dengan salah satu pendekar sakti yang sudah meninggal. Khawatir aku juga akan diincar oleh si musuh dari pendekar tersebut. dikiranya aku ada hubungan dengan pendekar itu."
Wulung sejenak terpikirkan sesuatu. Wajah Damar memanglah mirip terhadap seseorang di masa lalu. Namun Wulung sungguh lupa siapa itu.
Setelah beberapa saat terbang di langit yang begitu luas tesebut, Wulung sampai juga di atas bukit Wono Ageng. Damar lalu segera turun dari tubuh Wulung. Namun saat ia memegang bulu Wulung, pemuda tersebut melihat sebuah bayangan yang melintas di depan matanya. Ia melihat wulung yang kala itu dikeroyok oleh banyak orang. Bahkan tubuh Wulung sudah diikat oleh orang-orang tersebut. Saat seseorang akan meneteskan darahnya ke kepala Wulung, muncul seorang pria yang menolong Wulung. Betapa terkejutnya Damar saat sepintas melhat pria tersebut yang begitu mirip dengan dirinya.
" Apa kau tidak apa-apa? Apa yang kau pikirkan hingga jatuh begitu."
buuuuufff
Wulung berubah dari sebuah elang emas yang besar menjadi burung elang biasa. Wulung pun hinggap di tangan Damar. burung elang itu menatap Damar dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.
" Ada apa bocah? Kau seperti melihat memedi (hantu) saja."
" Namaku Damar, jangan panggil bocah terus."
" Ya baiklah."
__ADS_1
" LAlu apa yang kau lihat? Mengapa wajahmu begitu?"
" Aku melihat Kau saat di kepung oleh banyak orang. Mereka seperti memaksamu untuk dijadikan budak salah seorang dari mereka yang aku tebak adalah pemimpin mereka. lalu ada seorang pria datang menyelamatkanmu, Yang membuat aku terkejut, pria itu sungguh mirip denganku."
Wulung sungguh terkejut dengan cerita yang Damar sampaikan. bagaimana tidak terkejut, dia belum bercerita apa-apa tentang kejadian puluhan tahun silam itu akan tetapi Damar sudah mengetahuinya.
" Damar, apa kau bisa melihat kejadian masa lalu?'
" Entahlah wulung, aku tidak tahu pasti. Tapi saat aku berlatih bersama romo ku aku juga bisa melihat bayangan. Tapi aku belum mendapat penjelasan dari romo ku. Apakah apa yang aku katakan itu benar?"
Wulung mengangguk. ia pun menceritakan peristiwa tersebut. Peristiwa yang membuatnya harus menyamar menjadi burung elang biasa karena sebuah keserakahan manusia yang ingin memanfaatkan kekuatannya. waktu itu ia memang dalam kondisi yang sangat lemah sehingga ia mudah sekali tertangkap. Beruntung seseorang menolongnya. wulung baru ingat, wajah Damar ini sungguh mirip dengan orang itu. orang yang menolongnya dan menolaknya saat ia hendak mengikuti orang tersebut.
Apa hubungannya anak ini dengan orang tersebut? mengapa keduanya sangat mirip? Apa Damar merupakan putra orang itu? Tapi tadi dia menyebut romo. Berarti dia bukan anak pria itu, tapi mengapa bisa sangat mirip.
Wulung menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. Ia sendiri pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Meskipun Damar saat ini wajahnya seperti itu, Wulung tetaplah bisa mengetahui wajah asli Damar. Disisi lain Damar sudah tidak memikirkan bayangan yang ia lihat tadi. Sesekali Damar menoleh dan melihat ke bawah. Ia berharap akan ada murid-murid, lebih tepatnya saudara seperguruannya yang datang ke atas bukit ini. Rupanya ia adalah orang pertama yang sampai di atas bukit Wono Ageng.
" Apa yang kau tunggu?"
" Teman-teman ku Wulung, mereka belun juga terlihat."
" Haaaah, Damar. Berada di hutan Larangan itu bukan perkara yang mudah. Kau mungkin beruntung mendapatkan token itu dengan cepat. Tapi belu. Tentu dnegan teman-teman mu. Hutan Larangan yang tampak luasnya tidak seberapa ini sesungguhnya sangat luas. Pasti pihak kadipaten memberi waktu lebih untuk mencari token itu bukan?"
Damar mengangguk, apa yang dikatakan Wulung memang benar. Bahkan dia butuh waktu setenang hari baru bisa mendapatkan Token tersebut. Mungkin saat ini mereka semua yang ikut pertandingan masih berusaha mencari. Pantas saja paman gurunya mengatakan mereka harus berpencar saat mencari token-token tersebut.
Damar pun meminta Wulung untuk turun dari lengannya. Ia ingin sejenak merebahkan dirinya dan puuuuf, Wulung berubah menjadi bentuk aslinya. Ia meminta Damar untuk tidur bersandar di tubuhnya.
" Apa tidak apa-apa begini? Jika ada yang datang dan melihat bagaimana?"
" Tenang saja, tidak ada yang bisa melihatku selain orang yang memiliki mata batin. Mungkin dulu ia aku mudah ditemui tapi tidak untuk sekarang. Kemampuanku semakin bertambahnya tahun semakin baik jadi aku bisa tidak tertampak di mata orang awam. Bukankah kau juga begitu."
__ADS_1
Damar lagi-lagi mengangguk karena apa yang diucapkan oleh Wulung memang benar adanya. Ia juga kesulitan menemukan Wulung saat pertama kalinya.
TBC