
Ki Prama memijit keningnya yang terasa begitu berdenyut. Ternyata Damar mendengar pembicaraannya tadi dan tiba tiba muncul untuk mengatakan akan pergi mengikuti pertandingan.
Kini Ki Prama sungguh dibuat pusing dengan permintaan sang putra. Ya, Damar dan Indira menjadi anak anak Ki Prama dan Nyi Sambi. Namun keduanya tidak menambah momongan hingga sekarang.
" Kenapa kakang, apa yang kau pikirkan?"
" Putramu, dia ingin ikut di acara pertandingan antar murid padepokan yang akan diadakan sebulan lagi."
" Lalu apa masalahnya, bukan kah Damar sudah cukup mumpuni ilmu kanuragan dan ilmu pedangnya. Bahkan putra kita itu bisa menggunakan senjata lain seperti panah dan tombak dengan begitu baik."
Ki Prama terdiam mendengar ucapan sang istri. Apa yang dikatakan istrinya itu sepenuhnya memang benar. Diusianya yang baru 14 tahun, Damar memang sangat berbakat. Bahkan diam diam Ki Prama mengajarkan sedikit sedikit jurus dari buku rahasia. Namun wajah nya yang mirip Wiradharma tidak bisa disembunyikan lagi. Semakin besar Darma sungguh semakin mirip dengan mendiang sang ayah. Hal itulah yang menjadi ketakutan tersendiri bagi Ki Prama.
" Nyi, kamu tahu kan mengapa aku begitu khawatir."
Nyi Sambi terdiam. Ia baru mengerti apa yang menjadi pikiran suaminya. Nyi Sambi sesaat terdiam. Mencoba memikirkan solusi yang tepat. Damar pasti akan sangat kecewa jika tidak diizinkan mengikuti pertandingan, namun dengan membiarkan ikut maka secara tidak langsung akan membahayakan nyawanya.
" Kakang, memangnya apa yang terjadi jika mereka mengenali Damar sebagai putra dari Wira dan Gayatri?"
" Seperti yang pernah kuceritakan kepada mu Nyi, bisa saja Damar akan dibunuh. Duranjaya atau sekarang orang menyebutnya Balaajaya tahu bahwa padepokan Pedang Sakti adalah milik dari Damar, karena Damar adalah keturunan yang sah untuk mewarisinya."
" Tapi kakang, aku mendengar kabar bahwa sekarang Padepokan Pedang Sakti tidak lagi seperti dulu."
Ki Prama terdiam, ia mendengar dari anak buahnya juga begitu. Laporan yang ia terima terakhir, padepokan pedang sakti hanya memiliki segelintir orang di dalamnya. Dimana mereka saat ini malah mempelajari beberapa ilmu hitam. Sebenarnya itu juga merupakan salah satu kekhawatiran Ki Prama jika membiarkan Damar ikut. Meskipun ia sendiri belum tahu pasti itu benar atau tidak.
" Aku tidak sepenuhnya yakin akan hal itu Nyi. Mereka pun tidak bisa ditebak seperti apa. Sudahlah Nyi tidurlah, besok aku kan melatihnya. Dalam sebulan aku yakin Damar pasti sudah bisa mempelajari jurus pedang baru. Jika saatnya tiba dia harus berhadapan dengan mereka maka biarlah itu terjadi."
Kini Nyi Sambi yang menjadi sedikit takut. Bagaimanapun damar adalah putranya, bayi yang ia rawat hingga saat ini. Ia tidak ingin terjadi apa apa kepada sang putra.
Damar yang berada di kamarnya sedikit termenung mengingat ekspresi sang ayah. Sepertinya ayah nya itu tidak akan mengizinkan dirinya ikut dalam pertandingan di Kadipaten Gendingan.
__ADS_1
" Kalau Romo tidak mengizinkanku bagaimana ya? Tidak, aku harus ikut pertandingan kali ini. entah mengapa aku sungguh ingin ikut."
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke biliknya, Damar pun langsung merebahkan tubuhnya dan berpura pura tidur.
Ngeeek
Pintu bilik nya di buka perlahan, namun Damar tidak tahu siapa itu. Dia tidak mungkin membuka matanya karena saat ini dia sedang pura pura tidur.
" Bangunlah kakang, jangan terus berpura-pura. aku tahu kau belum tidur."
Damar bangkit dari posisi berbaring nya lalu duduk di tepian tempat tidurnya.
" Rupanya kau dinda Indira, ada apa."
Indira melangkah maju lalu duduk di sebelah sang kakak. ia menatap kakak lelakinya itu dengan lekat. Ada rasa sendu menghiasi wajah Indira.
" Ada apa,mengapa wajahmu ditekuk begitu?"
" Entahlah dinda, aku sungguh ingin. Tapi sepertinya romo tidak memberikan izin. Tapi itukan masih sebulan lagi, jika romo tidak menyetujuinya maka aku akan berusaha membujuk romo?'
Indira tertunduk lesu, ia sungguh tidak ingin Damar pergi ke kadipaten Gendingan itu. ada rasa khawatir dan takut yang menyelimuti dirinya. terlebih tadi tidak sengaja ia mendengar pembicaraan para paman gurunya mengenai hutan Larangan yang berada di sana.
" Kenapa dinda, apa yang kamu pikirkan?"
" Jangan pergi kakang, aku takut terjadi apa apa padamu. kata paman guru Braja di hutan Larangan banyak binatang mistis."
Damar tersenyum, rupanya hal ini lah yang membuat sang adik begitu khawatir, Damar pun langung memeluk Indira. Ia mengusap kepala adik yang paling ia sayangi itu dengan lembut. Meskipun bukan lahir dari rahim yang sama, tapi mereka meminum air susu dari satu ibu. Keduanya pun persis seperti saudara kembar. Jika yang satu merasa sakit maka yang satunya akan merasa juga.
" Jangan sedih begitu. Masih ada waktu sebulan lagi. Apa kau lupa? Bibi Wardani kan juga punya Simo. Kita sering bermain dengan nya, bukankah dia juga binatang mistis?"
__ADS_1
Indira mengangguk. ia tentu tahu jika Simo adalah binatang mistis karena saat mereka kecil Wardani mengenalkan kepada mereka. Namun tetap saja Indira khawatir kepada kakaknya itu.
" Sudah larut, kembalilah. Nanti ibu kebingungan mencari mu jika tahu kamu tidak ada di bilik mu."
Damar kemudian mengantarkan Indira kembali ke biliknya untuk tidur. Ia tahu Indira begitu khawatir dan tak ingin dia pergi, namun tekatnya sudah bulat untuk ikut pertandingan tersebut.
Setelah mengantar Indira, Damar tidak kembali ke kamarnya. Ia memilih untuk berlatih di halaman belakang padepokan.
Ia membuka kakinya selebar setengah depa. kaki kirinya berada di depan dan kaki kananya sedikit kebelakang.
Hiyaaaa
Syuuuut syuuuuut
Damar mengayunkan pedangnya ke depan, lalu ia menendangkan kakinya. Damar lalu melompat sambil berbalik dan menebaskan pedangnya ke depan.
Tap
Lompatan tersebut mendarat begitu mulus. Kini Damar melompat ke atap lalu terjun kebawah dengan pedang ya ia arahkan lurus kebawah agar menusuk tanah. Ia membiarkan posisi tubuhnya masih berada diatas dengan hanya menggunakan tumpuan pedang. lalu ia kembali melompat dan meninggalkan pedangnya.
Damar kemudian mendarat, namun tidak di tanah. Ia mendarat di atas gagang pedang yang tertancap. Sungguh ilmu meringankan tubuh yang luar biasa untuk anak seusia nya.
Ternyata apa yang dilakukan Damar tidak lepas dari penglihatan Ki Prama. Pria paruh baya itu semakin yakin untuk mengajarkan ilmu Pedang Pitu kepada sang putra.
" Lihatlah rayi Wiradarma dan Gayatri. Putra kalian sungguh luar biasa. Rupanya sebagian ajian mu yang kau masukkan ke tubuh Damar sungguh membantunya dalam belajar. Tapi tanpa itu pun aku tahu Damar akan menjadi pendekar yang hebat. Dia adalah anak yang pintar yang mampu menerima ilmu dengan baik."
Ki Prama meninggalkan tempat itu lalu masuk ke dalam bilik khusus miliknya. Ia kembali mengeluarkan pedang dan buku rahasia yang ia simpan. Ki Prama mengeluarkan pedang tersebut dari sarungnya.
" Rupanya kau akan segera menemukan tuan mu yang sesungguhnya."
__ADS_1
TBC