
Hari berikutnya Saka dan Damar dibuat kaget dengan suara langkah kaki yang lumayan bersautan. Keduanya pun bangun dan mengerjapkan mata mereka.
Hari memang sudah pagi tapi langit masih tampak gelap. Di sisi sebelah wetan baru muncul semburat oranye sebagai tanda matahari tengah bersiap-siap akan naik.
Damar dan Saka saling pandang dan kemudian tersenyum. Rupanya para peserta pertandingan lain sudah mulai berdatangan. Namun baik Damar maupun Saka masih belum tenang karena ketiga temannya belum juga sampai di sana.
" Damar, apa kau yakin mereka akan sampai di sini?"
" Entahlah Ka, aku sendiri tidak bisa mengatakan apapun. Kau tahu sendiri beratnya hutan Larangan tersebut."
Saka mengangguk, Ia sendiri dalam menemukan token seperti menemukan sebuah keberuntungan. Keduanya menajamkan mata mereka saat melihat satu persatu orang yang datang ke atas bukit. Hingga sesaat kemudian keduanya melengkungkan senyuman di bibir mereka.
" Mar, Itu Panca," ucap Saka sambil menunjuk salah seorang diantara beberapa orang yang sampai di atas bukit.
Damar dan Saka kemudian memanggil temannya tersebut sambil melambaikan tangan sebagai tanda mereka ada di sana. Anak yang bernama Panca itu tentu saja senang dapat melihat teman seperguruannya. Ia berlari lebih cepat lalu menghambur memeluk Damar dan Saka
" Syukurlah kau bisa sampai di sini Panca."
Panca mengangguk. Ia pun bersyukur bisa melihat Damar dan Saka baik-baik saja. Panca mencoba melihat ke sekeliling, ia mencari dua temannya yang lain.
" Mereka belum kelihatan," ucap Damar.
" Aku harap mereka baik-baik saja," doa Panca tulus.
Mereka bertiga menunduk lesu. Rasanya masih ada yang kurang karena kedua temannya belum juga muncul. Padahal matahari mulai bergerak naik menandakan hari sudah semakin siang.
" Apa mereka gagal mendapatkan tokennya ya, huuuft sungguh tidak mudah untuk mendapatakan benda ini."
__ADS_1
Panca menibang-nimbang token yang berada di tangannya. Bocah itu mengingat kembali saat ia mengambil token di sebuah goa. Dimana goa tersebut rupanya merupakan tempat persembunyian babi hutan. Mau tidak mau Panca harus bergelut dengan babi hutan tersebut untuk mendapatka token yang sekarang ada di tangannya.
" Kalaupun mereka berdua tidak bisa mendapatkan token, aku harap mereka tidak terkena masalah apapun saat berada dalam hutan Larangan dan kembali dengan selamat." ucap Damar yang diangguki kepala oleh Saka dan Panca.
*
*
*
Di kadipaten Gendingan, Adipati Ranawijaya mengumpulkan para perwakilan padepokan di pendopo kadipaen. hari ini mereka semua akan bernagkat ke bukit Wono Ageng. Pelaksanaan pertandingan babk selanjutnya akan dilaksanakan besok.
Akan tetapi orang yang mengantar hanya boleh satu orang saja karena satu yang lainnya harus menunggu murid yang gagal mendapatkan token di pintu masuk hutan.
" Baiklah silahkan para guru berdiskusi dan memutuskan siapa yang akan tinggal dan siapa yang akan mendapingi murid-muridnya di bukit Wono Ageng untuk pertadingan besok."
Setelah dipersilahkan oleh sang adipati, mereka pun segera membahas siapa yang akan tetap berada di kadipaten.
" Kang, sebaiknya kakang Mahesa saja yang ke sana. Aku akan mengurus yang di sana. Mereka lebih butuh kakang ketimbang aku."
" Ngga, jangan bicara begitu. Kamu adalah guru mereka juga. Diantara kami kamu yang paling dekat dengan anak-anak karena kamu begitu penyayang."
" Sebenarnya itu salah satu alasan aku mau tetap di sini saja kakang. Aku sungguh tidak tega melihat mereka nanti saling bertarung."
Mahesa paham kekhawatiran Lingga. Jika mereka lolos maka akan ada saat mreka melawan teman sendiri. Hal tersebut tidak bisa dihindari karena memang seperti itu lah peraturannya.
" Baiklah rayi. Berarti aku yang ke bukit kau yang berjaga di sini?"
__ADS_1
" Iya kakang."
" Berhati-hatilah, Balaajaya berada di sini. Jangan sampai mengenali kalian. Jika urusan selesai segera kembali ke penginapan. Wardani dan Indira jangan boleh kemana-mana."
Kalimat teraakhir sengaja Mahesa bisikkan di telinga Lingga. Lingga pu mengangguk mengerti. Saat ini mereka benar-benar harus menghindari Balaajaya. Mereka tidak boleh membuat masalah karena saat ini mereka membawa nama padepokan. Baik Mahesa maupun Lingga tidak ingin membuat nama Padepokan Resik Jiwo yang baru saja dikenal itu menjadi buruk nantinya.
Di sisi lain, Balaajaya yang berusaha mencari orang tampak kesal karena tidak menemukan orang yang kemarin ia temui. Tentu saja begitu karena Wardani mengubah tampilan wajah Mahesa kali ini. Kemarin Mahesa bercerita kepada Wardani bahwa ia sempat berpapasan dengan Balaajaya, maka dari itu Wardani langsung mengubah riasan wajah Mahesa,
" Sial, dia tidak ada. Apa mungkin dia hanyalah seorang pengembara? haih persetan dengan semuanya."
Projo menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan Balaajaya yang mengomel sendiri itu.
" Den, mau tetap tinggal di sini apa mau ke bukit Wono Ageng?"
" Aku ikut."
Projo mengumpat dalam hati. Ia benar-benar tidak ingin pria itu ikut sebenarnya, namun beberapa pimpinan padepokan yang hadir mereka juga ikut ke atas bukit Wono Ageng.
Projo pun pasrah, dalam hati ia berdoa agar Balaajaya tidak membuat masalah nanti. Akhirnya Sangga lah yang akan mengurus di kadipaten Gedingan. Projo meminta Sangga untuk terus membesrkan hati para murid. Hal tersebut perlu dilakukan karena Balaajaya masih saja terus mengomel karena kekagagalan murid-muridnya itu.
Setelah semua disepakati. Akhirnya Adipati Ranawijaya mengajak semua pendping untuk menuju bukit wono Ageng. Mereka semua terkejut saat berada di depan pintu masuk hutan, Pasalnya mereka tidak akan masuk hutan untuk menju bukit. Ranawijaya merapalkan sebuah mantra hingga keluar sebuah jalan lurus. Jalan tersebut begitu terlihat rapi dengan bebatuan yang tersusun. di sisikanan dan kiri terdapat pohon-pohon yang menjulang. Tidak ada binatang yang tampak di sana. Semua orang sungguh takjub saat melintas.
Mereka baru kali ini melihat hal yang sedemikian. Terlebih Mahesa. Ia sungguh dibuat takjub, ia tidak menyangka ada jalan lain menuju bukit Wono Ageng selain melewati hutan Larangan. sungguh ini adalah rahasia hutan Larangan yang tidak diketahui oleh siapapun sebelumnya.
Ranawijaya sungguh puas melihat wajah-wajah terkejut mereka semua. Tidak ada yang bisa melakukan hal ini kecuali dia keturunan asli dari leluhur Gendingan. Dan, saaat ini Ranawijaya lah keturunan asli terseut.
Jika biasanya akan butuh waktu satu hari untuk sampai ke bukit WonoAgeng, kini mereka hanya butuh waktu beberpa saat. Bakan mereka kini sudah berada di ujung jalan. Di depan mereka tampak sebuah bukit tinggi menjulang.
__ADS_1
" Selamat datang di bukit Wono Ageng para guru dan pimpinan padepokan."
TBC