What is My Destiny

What is My Destiny
10 Makan Bersama


__ADS_3

Keesokan paginya, Ara sedang berada di lobby bawa apartemen untuk menunggu kedatangan Kevin menjemputnya. Lalu, Ara mendengar ada suara seseorang yang berteriak memanggil namanya.


"Araa..!"


Ara menengok ke arah suara, ternyata orang yang memanggil namanya adalah Ryon, seorang pria yang pernah Ara tolong untuk memasang ban mobilnya yang sedang kempes di pinggir jalan dekat gedung kantor Ara.


"Wah Ara..! Senang sekali aku bisa bertemu lagi denganmu. Ternyata kamu tinggal disini?" Wajah Ryon terlihat sumringah karena rasa bahagianya bisa secara kebetulan bertemu dengan wanita yang ia cari selama ini. Ryon bahkan merasa sangat surprise karena bertemunya di apartemen tempat teman karibnya tinggal.


"Hai Ryon. Iya, aku tinggal di apartemen ini. Apakah kamu juga tinggal disini?" tanya Ara dengan sedikit canggung melihat kegembiraan yang tampak diwajah Ryon.


"Tidakk, aku sedang mengunjungi temanku yang tinggal disini. Oh iya, tunggu sebentar." Ryon mengeluarkan hp dari saku celananya dan mengetik suatu pesan untuk temannya, Axell.


Axell, cepat turun. Aku tidak jadi ke atas. Aku tunggu kamu di lobby saja ya.


Selesai mengetik pesan, Ryon memasukkan hp nya kembali ke saku celananya. Lalu dia kembali mengalihkan perhatiannya pada Ara dan bertanya padanya, "Kamu mau pergi ke kerja ya? Dimana kantormu?"


"Iya, kantorku di gedung Fernan."


"Gedung Fernan?!" Ryon kembali merasa surprise karena Ara yang selama ini ia cari-cari, ternyata bekerja di gedung milik teman karibnya itu. "Di perusahaan apa?" tanyanya lagi.


"Mmm perusahaan perhiasan..." 


"Pantas saja kamu tidak mau menjemputku ke atas dan lebih memilih untuk menungguku disini. Ternyata kamu sedang asik mengobrol dengan seorang wanita. Padahal aku sampai terburu-buru turun karena tidak ingin membuatmu menungguku terlalu lama." Belum selesai Ara berbicara, Axell tiba-tiba muncul disamping Ryon dan menangkap basah dirinya yang sedang asik berbicara dengan Ara. "


Ryon yang tertangkap basah menjadi salah tingkah. "Haha..Axell..Cepat sekali kamu sudah turun kemari. Dia.." Ryon tersenyum malu-malu pada Axell. "Ayo berkenalan dulu dengan temanku, namanya Ara. Dia adalah wanita yang waktu itu membantuku.."


"Iya aku tahu." jawab Axell dengan singkat dan dingin.


"Kamu tahu..? Apakah kamu kenal dengannya?" Ryon tampak menyipitkan matanya, lalu dia menoleh ke arah Ara dan Axell secara bergantian. Dia kembali teringat akan ucapan Ara yang mengatakan bahwa dia bekerja di gedung Fernan dan di perusahaan perhiasan. Sambil menjentikkan jemari tangannya, Ryon berseru, "Ooh.. oo Aku tahu, kalian pasti bekerja di perusahaan yang sama, kan."


Kemudian dengan setengah berbisik Ryon berkata, "Axell, saat itu kamu sempat melihatnya, kan? Berarti sebenarnya saat itu kamu sudah tahu dia, lalu kenapa kamu tidak memberitahuku kalau dia adalah karyawan yang bekerja di perusahaanmu? Aku selama ini mencari-cari dia loh."


"Karena itu bukan urusanku. Ayo, kita jalan." Axell terlihat cuek dan tidak mempedulikan keluhan sahabatnya. Dan berjalan dengan santai menuju keluar apartemen. Ryon pun kesal dengan sikapnya yang cuek dan dingin itu. Dia membalas sikap Axell dengan tidak merespon ajakannya tersebut. Melainkan dia kembali berbicara pada Ara untuk mengajaknya sarapan bareng.


"Ara, ayo sarapan bareng dulu dengan kami. Kebetulan kami akan sarapan di dekat Gedung Fernan."


Axell menghentikan langkahnya dan berbalik arah untuk memelototi temannya itu. Karena selain mereka tidak ingin pergi sarapan, mereka juga tidak sedang menuju ke daerah sekitar situ.


"Tidak.. tidak perlu.. aku sudah sarapan. Lain kali saja. Hmm, mobil jemputanku sudah datang. Aku.. pergi dulu ya." Tadinya Ara bingung bagaimana cara menolak ajakan Ryon dengan halus, tapi untung saja dirinya terselamatkan dengan Kevin yang telah tiba di lobby apartemen untuk menjemputnya.


"Kalau begitu, nanti malam ya kita makan bersama. Aku yang akan mentraktirmu.." teriak Ryon pada Ara yang sudah berjalan pergi. Sepertinya Ara tidak sepenuhnya mendengar teriakan Ryon karena dia sudah masuk ke dalam mobil.


Setelah duduk dalam mobil, Ara berbicara sendiri dalam hatinya, Sarapan bareng? Dengan bos yang sombong dan dingin itu juga? Matanya saja sampai melotot seperti itu saat mendengar ajakan Ryon padaku. Hiii..seram..

__ADS_1


Ara bergidik.


***


Setelah urusan mereka selesai, Ryon memaksa Axell untuk pergi ke kantor Ara karena dia sudah tidak sabar untuk dapat bertemu dengannya. Selain itu, tadi pagi Ryon juga mengajak Ara untuk makan malam bersama malam ini. Tetapi Axell menolaknya karena saat ini mereka sedang berada di Bogor.


"Tidak aku capek. Kamu pergi saja sendiri ke sana."


"Baiklah kalau gitu. Aku akan memesankan sebuah taksi untuk mengantarmu pulang." jawab Ryon sambil mengeluarkan hpnya untuk memesan taksi.


Axell pun memasang muka kesal padanya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya dan berkata dengan sedikit marah kepada Ryon, "Jadi, kamu akan meninggalkanku dan membiarkanku pulang naik taksi? Untuk urusan siapa kita berada disini sekarang? Siapa yang merajuk dan memaksaku untuk menemaninya ke Bogor dan berjanji akan mentraktirku makan setelah itu? Dan sekarang aku ditinggalkan begitu saja.."


"Iya.. iya.. maaf. Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Setelah itu aku baru pergi menemui Ara di kantornya. Untuk janji mentraktirmu makan, lain waktu lagi ya."


"Mengapa tidak kamu dan dia saja yang pergi di lain waktu?"


"Karena awalnya aku berpikir untuk mengajakmu dan Ara makan malam bersama. Aku tidak tahu kalau kamu akan menolaknya. Lagipula aku kan sudah kembali ke New York besok. Kalau bukan hari ini, aku tidak tahu bagaimana menghubunginya lagi nanti. Kecuali kamu mau memberi kontaknya untukku." ujar Ryon sambil mendelikkan matanya dan tersenyum lebar menggoda Axell. Ia tahu Axell tidak akan mau bersusah payah mencari kontak Ara dan memberikan padanya.


Axell memelototinya dan melengos pergi.


"Please..ya..please please..!" Ryon mengejarnya dan memohon-mohon sambil memasang wajah memelas.


"Tidak mau..!"


***


Mereka bertiga makan malam di sebuah restoran mewah yang ada di sekitar daerah Jakarta Selatan. Selama makan, Ara merasa sangat canggung. Seumur hidupnya, dia mungkin tidak pernah pergi atau makan di restoran semewah itu. Apalagi dia juga jarang makan daging steak, sehingga dia tidak tahu bagaimana cara makan steak dengan baik dan benar. Suasana makan malam ini pun terasa sangat hening karena mereka makan dalam diam. Hanya Ryon seoranglah yang banyak berbicara untuk memecah keheningan tersebut.


Di tengah menyantap makanannya, tiba-tiba Ara merasa kepalanya sedikit pusing. Ia lalu permisi untuk pergi ke toilet. Setibanya di sana, Ara merasa sakit kepalanya semakin bertambah sehingga ia harus segera meminum obat yang memang selalu siap sedia di dalam tasnya untuk dibawa pergi kemana-mana.


Sejak kecil, Ara memang sering mengalami serangan sakit kepala yang mendadak muncul. Hal itu dikarenakan dulu kecil Ara pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan kepalanya terluka parah. Untuk meredakan sakit kepalanya tersebut Ara harus meminum obat yang telah dokter resepkan padanya.


Setelah sakit kepalanya agak berkurang, Ara kembali ke meja makan. Tetapi selera makannya telah hilang. Jadi Ara hanya diam dan tidak melanjutkan memakan makanannya lagi.


"Ada apa? Mengapa tidak makan lagi? Kamu tidak suka ya dengan makanannya? tanya Ryon pada Ara.


"Engga..bukan begitu. Makanannya enak, aku suka. Hanya saja aku sudah kenyang." jawab Ara sedikit berbohong.


Setelah Axell dan Ryon menghabiskan makanan mereka, Ryon beranjak ke kasir untuk membayar makan malam tersebut.


"Wajahmu terlihat pucat. Ini, lavender oil. Menghirup aromanya bisa membantumu merasa lebih relax." Axell memberikan sebotol kecil yang berisi essential oil pada Ara.


"Terima kasih." jawab Ara sambil mengambil botol oil itu dengan ragu-ragu. Tak disangka, Axell perhatian juga padanya. Ara lalu menghirup aroma minyak lavender tersebut. Rasa tak nyaman yang ia rasakan sedikit berkurang dan tergantikan dengan rasa relax yang menenangkannya.

__ADS_1


Selesai membayar di kasir, Ryon kembali ke meja mereka dan kemudian mereka bertiga berjalan keluar dari restoran menuju ke tempat mobil Ryon terparkir.


Dalam perjalanan pulang, jalanan yang mereka lalui tersendat macet sehingga mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai. Padahal letak restoran dengan apartemen tempat mereka tinggal tidak begitu jauh.


Selama dalam perjalanan, Ara tertidur karena efek dari obat sakit kepala yang diminumnya sedang bekerja. Sedangkan Ryon dan Axell sibuk berbicara mengenai rencana pembuatan iklan yang ingin Axell gunakan untuk mencari sahabat kecilnya. Kebetulan keluarga Ryon memiliki usaha di bidang periklanan, sehingga dia akan membantu Axell dalam proses pembuatan iklan tersebut.


"Rancangan liontin Shiena hilang. Jadi aku berencana akan mendesainnya ulang. Untung aku masih ingat secara detail liontin itu." Axell memberitahu Ryon mengenai hilangnya rancangan liontin yang akan dia gunakan untuk membuat iklan pencarian tersebut.


"Bagus jika begitu. Jadi kamu bisa membuat sebuah rancangan baru yang tidak terlalu detail. Hilangkan hal spesial yang menjadi ciri khas pada liontin Shiena. Sehingga nanti kita bisa mengidentifikasi yang asli."


"Hal yang spesial?" Axell bertanya bingung.


"Iya, liontin milik Shiena pasti adalah special edition yang memiliki suatu perbedaan dengan liontin yang diluncurkan dipasaran saat itu."


"Hmm..kamu benar." Kemudian Axell nampak terdiam sejenak untuk mengingat ada hal spesial apa yang bisa dia hilangkan pada rancangan baru yang akan dibuatnya nanti. "Ahh..aku ingat." teriak Axell.


"Ssttt" Ryon menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya sebagai isyarat untuk diam, lalu dia menunjuk ke arah Ara yang sedang tidur di kursi belakang. "Pelankan suaramu."


Teriakan Axell itu membuat Ara terbangun. Tetapi Ara bermaksud untuk tetap terlihat masih tertidur dengan berpura-pura tidur. Ara tidak mau kalau Ryon dan bosnya itu bertengkar karena dirinya yang bukan siapa-siapa terbangun akibat ulah bosnya yang tadi berteriak.


Axell melanjutkan perkataannya dengan suara pelan, "Apa kamu tahu, liontin Shiena itu berbentuk bola. Bola liontin itu bisa dibuka dan didalamnya terdapat huruf AF yang merupakan inisial namanya. Kurasa sebaiknya aku hilangkan saja kedua huruf tersebut pada rancangan baruku nanti."


"Terdengar bagus." puji Ryon.


"Terima kasih atas saranmu yang sangat hebat dan brilian. Kamu memang sahabatku yang terbaik." Axell membalas memuji sahabatnya itu.


"Tak perlu sungkan. Kita ini sahabat sejati yang akan selalu saling membantu dan saling mengandalkan satu sama lain." balas Ryon sambil mengedipkan matanya.


Ara yang sedang berpura-pura tidur, di dalam hatinya terasa senang dan teduh mendengar percakapan mereka terutama dengan perkataan yang Ryon ucapkan. Ara merasa bos nya yang dingin dan sombong itu sangat beruntung dapat memiliki sahabat yang baik seperti Ryon.


Mereka akhirnya tiba di apartemen tempat Ara dan Axell tinggal. Sebelum turun, Ara mengucapkan terima kasih serta salam perpisahan pada Ryon.


Kini, tinggallah Ara berdua saja dengan bosnya di lobby lift untuk menunggu pintu lift terbuka. Sambil menunggu Axell bertanya pada Ara, "Bagaimana kondisimu? Dalam perjalanan pulang tadi kulihat kamu tidur dengan nyenyak sekali."


"Sudah lumayan membaik." jawab Ara dengan wajah yang memerah tersipu malu karena menyadari bahwa tadi ia telah tertidur pulas di mobil Ryon dan di depan 2 pria ganteng pula.


Ara teringat akan minyak lavender yang bosnya berikan padanya tadi dan bermaksud ingin mengembalikannya. Ia lalu mengeluarkan botol minyak lavender itu dari dalam tasnya.


"Ohh iya ini minyak lavendermu. Terima kasih." ucapnya sambil mengulurkan tangannya yang sedang memegang botol tersebut pada bosnya.


"Ambil saja. Aku tidak suka barang bekas yang sudah dipakai orang." jawab Axell dengan segera memalingkan wajahnya dari Ara.


Ugh..Sungguh sombong sekali dia.

__ADS_1


Ara bergumam pelan untuk mengumpat kesombongan bosnya itu. Ia merasa malu dan kesal dijawab oleh bosnya seperti itu


__ADS_2