What is My Destiny

What is My Destiny
25 Hasil Evaluasi


__ADS_3

Senin pagi semua karyawan training yang berjumlah 10 orang berkumpul di ruang rapat utama yang berukuran besar. Hasil desain yang mereka buat sedang dievaluasi.


Terdapat 5 juri yang merupakan atasan di kantor Ern&Do Collection. Salah satu juri itu adalah Axell Ernando.


Para karyawan berdiri berhadapan dengan para juri. Secara tidak sengaja, pandangan mata Ara berpapasan dengan Axell. Lalu Axell mengalihkan pandangannya dari Ara, menghindar.


Ini pertama kalinya mereka bertemu kembali sejak kejadian di taman waktu itu.


Setelah para juri selesai memberi nilai pada desain hasil karya karyawan training, seorang petugas membagikan hasil tersebut kepada masing-masing karyawan.


Ara melihat hasilnya. Ia sangat kaget, ternyata ia tidak lulus. Padahal 4 dari 5 juri menyatakan lulus.


Ia pun bertanya mengapa ia tidak lulus padahal ada 4 juri telah meluluskannya. Petugas yang membagikan tadi menjawab bahwa satu juri yang menggagalkannya adalah Pak Axell. Jadi walaupun hanya satu juri, tapi sudah dapat menggagalkannya.


Gagalnya hasil evaluasi ini sama saja berarti ia telah dipecat dari perusahaan ini.


Ara pun melihat ke Axell dengan tatapan marah dan kesal. Ia berpikir pasti ia sengaja menggagalkannya.


Ia tahu selama ini Axell selalu membencinya dan mengganggap dirinya sebagai pencuri dan penipu. Tapi ia tidak menyangka pria ini begitu tidak tahan untuk sering bertemu dan berada didekatnya hingga memecatnya dari perusahaannya.


Retha dan ibunya sungguh hebat. Mereka berhasil membuat diri dan karirnya hancur seperti ini.


Tanpa sadar airmata mengalir keluar dari matanya. Ia segera berlari keluar ruangan.


Ia lalu membereskan barang-barangnya yang tidak terlalu banyak. Hanya satu buah tas perlengkapan untuk menggambar dan barang-barang kecil lainnya yang muat dimasukkan ke tas tersebut.


Selesai membereskan barangnya, ia buru-buru pergi dari kantor sehingga lupa berpamitan pada teman-temannya.


Karena belum jam pulang kerja, supir Ara belum datang menjemput. Ia malas untuk meminta jemput karena harus menunggu lagi. Jadi ia pergi naik bis umum.


Ara tidak langsung pulang ke rumahnya. Tapi ia juga tidak punya tujuan lain. Dia tidak punya banyak teman di jakarta. Tidak ada sanak saudara. Juga tidak ada tempat lain yang biasa ia datangi selain kantor dan tempat tinggalnya.


Bis yang ia tumpangi melewati sebuah taman. Ia pun turun disitu. Lalu ia duduk sambil mengeluarkan peralatan gambarnya dan asik menggambar.

__ADS_1


Seseorang mendatanginya dan bertanya apakah ia bisa melukis potret wajah dan memintanya melukisnya.


Setelah selesai digambar, orang itu melihat hasil karya Ara dan menyukainya. Ia pun memberi Ara uang 100ribu. Awalnya Ara menolaknya, tapi orang itu memaksanya.


Lalu banyak pengunjung taman yang datang minta dilukis juga.


Hingga hari sudah gelap dan pengunjung mulai sepi, Ara baru sadar bahwa sudah waktunya pulang. Tetapi ia tidak tahu ini dimana. Ia juga lupa dengan nomor bis yang tadi ia tumpangi.


Ia lalu mengambil Hp dikantongnya, tapi ternyata Hp nya mati karena habis baterai. Ia pun memanggil taksi yang kebetulan lewat.


Setibanya di rumah, ia melihat ada Axell di rumahnya. Axell sedang duduk bersama Retha di ruang depan seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


Ara masuk ke dalam rumahnya tanpa menghiraukan mereka.


"Darimana saja kamu.." Axell bertanya pada Ara saat ia melewatinya.


Ara diam saja karena malas menjawabnya.


"Jawab aku." Axell memegang tangan Ara dengan kencang dengan tatapam mata yang tajam dan menakutkan.


Axell dan Ara saling bertatapan dalam diam.


Lalu terdengar bunyi suara kelaparan dari perut Ara. Axell yang mendengar itu melepaskan genggamannya dari tangan Ara.


Ara merasa tangannya kesakitan, namun ia diam saja dan berjalan pergi.


Walaupun ia merasa lapar, tapi ia tidak punya nafsu untuk makan. Jadi ia langsung masuk ke kamarnya dan tidak makan apapun.


Ia lalu mandi. Saat mandi, air matanya sudah tak tertahan lagi. Ia menangis di sana. Ia tidak tahu mengapa dirinya terasa serapuh ini.


Ara berbicara sendiri dengan dirinya "Aku hanya dipecat. Tapi hatiku terasa sakit. Aku bahkan tidak bisa menghentikan tangisanku. Mengapa aku jadi cengeng begini."


Axell masih belum pulang ke rumahnya. Ia sedang berdiri di depan kamar Ara. Lalu Bi Tina keluar dari kamar.

__ADS_1


"Bagaimana Bi? Apa ia sudah makan?"


"Belum, Tuan. Saat saya masuk, nona masih di dalam kamar mandi. Tapi yang terdengar hanya suara keran air yang dibuka kencang. Saya takut terjadi apa-apa padanya."


"Apa aku perlu masuk dan mendobarak pintu kamar mandinya?"


"Ehh..jangan Tuan. Nanti nona ngamuk bagaimana. Sebaiknya kita tunggu saja beberapa menit lagi. Kalau nona belum juga keluar, baru kita dobrak."


Bi Tina mencoba masuk ke kamar Ara lagi. Ara sudah berada di atas kasurnya bersiap untuk tidur. Ia berkata pada Bi Tina kalau ia tidak mau makan dan sudah mau tidur.


Axell pun pulang setelah itu. Di dalam kamarnya, Axell termenung tidak bisa tidur.


Hatinya terasa kacau dan sedih. Mengingat tatapan Ara padanya tadi. Melihat airmata yang keluar dari matanya. Mengapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dan menyakitkan hatinya.


Ia tidak pernah memiliki perasaan seperti ini. Sudah lama hatinya beku seperti es. Sejak Shiena kecil menghilang.


Saat mengetahui Ara tidak langsung pulang ke rumahnya setelah pulang dari kantor tadi siang, ia sudah merasa panik dan cemas.


Tidak ada yang tahu keberadaan wanita itu. Hpnya juga mati dan tidak bisa dihubungi. Ia pun hanya bisa menunggu wanita itu di rumahnya dengan cemas. Hatinya bergejolak dan juga penuh amarah.


Hingga akhirnya saat larut malam ia baru pulang, amarah nya pun meledak.


Saat pertanyaannya tidak dijawab, ia semakin bertambah marah hingga melampiaskannya dengan menggenggam erat tangan wanita itu dan menatapnya tajam.


Tapi wanita itu bukannya meronta kesakitan dan memelas padanya untuk dilepaskan seperti yang biasa ia lakukan, melainkan menjawabnya dengan dingin bahkan membalas menatapnya tajam.


Hatinya pun jadi melemah. Es didalam hatinya serasa mencair. Ia ingin memeluk erat wanita itu dan memberinya kehangatan. Tapi ia tidak punya keberanian untuk melakukan itu.


Sepertinya ia banyak memberi penderitaan pada wanita itu. Ia telah sangat menyakitinya dengan membuatnya gagal.


Padahal itu bukan kemauannya. Tuan Arman lah yang memintanya untuk menggagalkan hasil evaluasi miliknya.


Tuan Arman ingin putrinya bekerja di salah satu perusahaan miliknya. Tapi ia tahu bahwa putrinya itu tidak akan mau. Ia juga tidak bisa memaksa putrinya yang keras itu. Jadi ia pun menggunakan cara ini.

__ADS_1


Dengan begitu, ia pikir putrinya akan menangis mengadu padanya dan memohon padanya untuk membantunya. Tetapi ternyata ia salah. Dan inilah yang terjadi.


__ADS_2