
Axell tak dapat mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Ternyata tamu wanita itu adalah Ara.
Sedangkan Ara sangat terkejut dan ketakutan melihat bosnya juga ada di rumah itu. Apakah hubungannya dengan Shiena.
"Shienaa..anakkuu.." teriak Tuan Arman dan langsung memeluk tubuh Ara begitu ia melihatnya. Ia menangis haru karena merasa sedih sekaligus bahagia. Setelah sekian lama anaknya menghilang, kini mereka bisa bertemu lagi.
Ara kaget tiba-tiba dipeluk oleh seorang pria yang masih asing baginya, ia juga makin merasa takut saat pria itu menangis dalam pelukannya.
Benaknya dipenuhi pertanyaan dalam kebingungan. Apakah dia ayah Shiena? Tapi dia terlihat sangat sehat dan juga gagah. Bukankah sang ayah seharusnya dalam keadaan sakit keras?
Ia lalu melirik ke Ibu Myra meminta penjelasan. Tapi ibu itu malah melengos membuang muka darinya. Dan ia menyadari ada sesuatu yang salah disini. Sepertinya ia telah ditipu.
"Aku sungguh bodoh. Bisa-bisanya terperangkap seperti ini. Ada bosku yang angkuh itu pula di sini yang mengenaliku. Habislah aku." Kesahnya dalam hati.
"Sebaiknya kita duduk dulu. Biarkan tamu kita merasa nyaman. Lihat ia ketakutan." Nyonya Tamara yang terlihat keibuan menyadari akan ketakutan yang Ara rasakan.
Mereka pun masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Pelayan datang membawakan minuman untuk mereka. Nyonya Tamara mempersilakan tamu mereka untuk minum.
Ara mengambil minuman itu dan meminumnya perlahan.
"Retha, bisakah kamu memperkenalkan pada kami siapa saja tamu kita ini."
"Baik, tante. Bapak ini adalah Pak Tono, dialah bapak yang waktu itu kulihat mendekati tubuh Shiena kecil yang sedang pingsan."
"Dan wanita ini.."
"Aku kenal dengan wanita ini. Namanya Ara. Dia selama ini bekerja sebagai karyawan training di Ern&Do Collection." Timpal Axell menjelaskan, masih seperti biasa dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
Lalu Axell bertanya pada Ara,
"Katakan yang sejujurnya, siapa kamu? untuk apa kamu kemari? Kamu bukan datang untuk mengaku-ngaku sebagai Shiena kan?"
"Axell, apa-apaan kamu ini. Jangan tidak sopan begitu, lebih baik kita duduk diam dan mendengarkan saja." Nyonya Tamara menegur anaknya lembut.
__ADS_1
Retha dan ibunya senang karena Axell terlihat tidak percaya pada wanita ini.
"Pak Tono, bisakah kamu menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi waktu itu?" Tanya Tuan Arman pada tamu pria nya.
"Begini Tuan, di hari itu saya dan istri saya dalam perjalanan pulang, lalu kami melihat ada seorang anak kecil tergeletak di rerumputan dekat sebuah batu besar dengan kondisi kepala yang terluka parah dan mengeluarkan banyak darah. Anak ini juga dalam keadaan tak sadarkan diri."
"Lalu kami mencari orang sekitar untuk meminta bantuan tapi tidak ada siapapun di sana. Kami akhirnya memutuskan untuk segera membawa anak itu pergi untuk mengobatinya."
"Tetapi saat saya akan menggendong anak itu, tiba-tiba istri saya berteriak karena melihat ada api yang menyala kecil dari rokok yang kubuang. Kami pun mencari sesuatu untuk mematikan api itu. Lalu saya melihat sepatu yang dipakai anak itu terbuat dari kulit, saya pun menggunakan sepatu itu untuk memadamkan api. Namun api begitu cepat menyebar hingga kami memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat itu."
Dalam hati Shiena berpikir, "Wow hebat banget bapak ini. Ceritanya benar-benar terdengar seperti sungguhan. Ternyata bapak ini jago banget aktingnya. Seandainya aku tidak tahu tentang kebohongan ini, aku pasti akan percaya 100% dengan apa yang bapak ini ceritakan."
"Mengapa bapak tidak melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwenang dan meminta bantuan mereka?"
"Karena saat anak itu terbangun, dia ternyata mengalami amnesia dan tidak bisa mengingat apa-apa. Saya pun menjadi takut kalau melaporkannya nanti saya akan dituduh sebagai pelakunya. Lagipula istri saya yang menjaga dan merawatnya setiap hari mulai menyayangi anak ini. Jadi kami pun memutuskan untuk mengadopsi anak ini."
Kemudian Tuan Arman bertanya, " Apakah anak perempuan itu mengenakan sebuah kalung di lehernya?"
"Iya benar. Nak, perlihatkan kalungmu." Bapak itu berbicara pada Ara untuk memperlihatkan kalung yang dipakainya.
Shiena melepaskan kalung yang dipakai dilehernya. Pada kalung tersebut terdapat liontin berbentuk bola yang dikelilingi bunga aster.
"Apakah kalian memiliki bukti lain?
Retha menyerahkan sebuah amplop yang merupakan hasil Tes DNA.
"Maaf ayah, waktu itu aku diam-diam mengambil sampelmu untuk melakukan tes DNA ini. Kami tidak bermaksud untuk merahasiakannya, hanya saja aku tidak mau ayah kecewa lagi kalau ternyata kami salah orang."
Ayah mengambil amplop tersebut dan membukanya. Pada lembar hasil tes tersebut tertera nama Arman Ferician dan Ara dengan angka kemungkinan hubungan ayah dan anak 99,99997%.
Setelah melihat hasil tes DNA tersebut, Tuan Arman bertanya pada Ara.
"Nak, kudengar kamu mengalami amnesia akibat luka di kepalamu itu. Jadi apa benar kamu tidak ingat apa yang terjadi saat itu?"
"Iya Tuan, aku tidak ingat"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kami? Apakah kamu benar-benar tidak ingat dan tidak mengenali kami?"
Ara hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah.. Jadi selama ini namamu adalah Ara?"
Ara menggangguk mengiyakan.
"Mulai sekarang namamu kembali menjadi Arshiena Ferician, putri dari Arman Ferician. Kemarilah nak. Panggil aku Ayah."
Ara terlihat ragu-ragu dan merasa sulit untuk memanggil pria asing ini sebagai ayahnya. Tapi ia pun berusaha melakukannya.
"A..aa..ayah.."
Tuan Arman kembali menangis terharu mendengar panggilan ayah dari anak kesayangannya yang telah lama hilang. Lalu Tuan Arman memeluknya pelan dan penuh kasih sayang.
"Putri kecilku yang cantik, sekarang kamu sudah bertumbuh dan berubah menjadi seorang wanita dewasa. Maafkan aku putriku, begitu lama baru bisa menemukanmu."
Tanpa sadar, hati Ara bergetar saat dipeluk oleh Tuan Arman. Dalam hatinya ia juga merasakan kesedihan. Tapi ia juga merasa ada kebahagiaan. Seperti dirinya memang benar adalah putrinya. Arimata pun berjatuhan dipipinya. Airmata kesedihan tetapi juga airmata kebahagiaan.
Nyonya Myra dan Retha tersenyum senang. Rencana mereka berhasil. Tuan Arman mempercayai bahwa Ara adalah anaknya yang hilang.
Orang tua Axell juga terlihat bahagia melihat temannya akhirnya dapat bertemu dan berkumpul lagi dengan putrinya yang hilang.
Hanya Axell yang terlihat tidak senang. Ia tidak bisa menerima hal ini. Ia tidak mau mengakui wanita itu sebagai Shiena. Ia yakin mereka adalah penipu.
"Tidak..aku masih tidak percaya. Paman, bukti yang mereka berikan belum cukup kuat. Kita tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan begitu saja. Aku yakin mereka sedang menipu kita. Wanita itu pasti menyamar menjadi Shiena palsu."
"Axell..!! Jaga ucapan dan sikapmu!" Kali ini Nyonya Tamara tidak lagi menegurnya dengan lembut, melainkan dengan kemarahan atas sikap kasar anaknya itu.
"Axell, paman sudah mengecek dan memastikannya dengan baik. Paman yakin dan percaya bahwa dia adalah Shiena yang asli. Kuharap kamu juga mau nenerimanya. Jangan bersikap seperti itu karena hanya akan menyakiti Shiena." Tuan Arman terlihat begitu melindungi putrinya yang baru saja ditemukan, dia tidak mau lagi memperpanjang masalah ini.
Mendengar pernyataan pamannya itu, Axell tidak berani lagi menentangnya.
Kemudian ia diam-diam berencana untuk menyelidikinya lagi. Suatu saat dia pasti akan bisa membongkar kebohongan ini.
__ADS_1
Retha dan ibunya yakin Axell masih tidak percaya wanita ini adalah Shiena. Dia pasti telah membenci wanita ini sekarang.
*note: selanjutnya penulis tetap menggunakan nama Ara ya*