
"Axell..Axell..Axelll..! Shiena mengigau memanggil-manggil nama Axell yang semakin lama semakin kencang seperti berteriak. Lalu ia membuka matanya.
Kevin yang ada di dekat Shiena, menenangkannya.
Saat sudah agak tenang, ia mengingat apa yang sedang terjadi.
Axell mengejarnya yang berlari, lalu tubuhnya dipeluk dengan erat olehnya seperti sedang melindunginya dari sesuatu. Kemudian tubuh mereka terlempar dengan sangat kencang dan jauh..Tubuhnya lalu terasa dingin dan basah..Itu adalah Darah Axell yang menetes mengenai tubuhnya..Darah.. Axell..
Itulah yang membuatnya tersadar dan seperti membangunkannya dari mimpi buruknya yang sangat panjang.
Sekarang, dia dapat mengingat apa saja yang telah terjadi padanya selama ini. Gangguan yang dialaminya dan semua ingatannya semasa kecil yang pernah terlupakan. Ia sudah tahu bahwa dirinya adalah Arshiena Ferician.
Shiena kembali teringat akan Axell yang terluka karena melindunginya dari mobil yang akan menabraknya.
"Kevin..Kevin..Bagaimana kondisi Axell? Dimana dia sekarang?" Shiena berusaha bangun, ingin segera pergi menemui Axell.
Kevin kembali menenangkannya dan memberitahu kalau Axell saat ini sedang di ruang operasi. Dia harus menjalani beberapa operasi akibat tabrakan yang terjadi.
"Apakah lukanya parah?" Tanya Shiena cemas dan penuh kekhawatiran.
"Semua ini salahku, seandainya saja aku tidak terus berada dalam kebingunganku dan pikiranku yang tidak normal itu. Hal buruk ini tidak akan terjadi padanya." Shiena melanjutkan saat Kevin hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Nona Shiena, jangan begitu. Jangan menyalahkan diri anda. Tuan Axell juga tidak mau melihat nona yang seperti ini. Dia akan menjadi sedih jika tahu nona seperti ini. Sebaiknya sekarang kita menenangkan diri dan mendoakan Tuan Axell. Semoga Tuan Axell dapat kuat bertahan dan operasinya berjalan dengan baik."
"Iya, kamu benar. Aku harus menenangkan diri dan berdoa untuk kesembuhannya."
Setelah itu, mereka keluar ruangan untuk menunggu di depan ruang tempat Axell sedang dioperasi.
Shiena bertemu dengan orangtua Axell di sana. Dia lalu meminta maaf pada mereka karena dialah yang menyebabkan Axell mengalami kecelakaan ini.
__ADS_1
"Maafkan aku paman dan tante. Aku yang menyebabkan Axell seperti ini. Seharusnya akulah yang sekarang berbaring di sana, bukan dia. Selama ini aku terperangkap dalam kebingunganku sehingga membuat diriku bersikap tidak normal dan menyebabkan Axell terluka.."
"Shiena..Jangan berpikir seperti itu, Nak. Axell sangat menyayangimu, dia tentu akan lebih sedih kalau kamu yang terluka dan terbaring di ruang operasi itu. Tante lebih sedih jika melihatnya yang seperti itu "
"Benar, Nak. Berhenti menyalahkan dirimu. Semua hal ini terjadi tanpa kesengajaan. Lagipula, kami memahami kondisimu saat itu. Sekarang, apakah.. ingatan dan kesadaranmu sudah kembali..?" Tanya paman pada Shiena ragu-ragu.
"Iya benar, paman. Aku sudah kembali normal. Aku sudah ingat dengan kalian dan dengan kenangan masa kecilku. Paman dan tante, aku sangat merindukan kalian." Shiena lalu memeluk ayah dan ibu Axell.
"Shiena.., benarkah kamu sudah kembali? Kamu sudah mengenali kami dan mengingat semuanya? Ohh syukurlah..Terima kasih Tuhan, telah memberkati kami. Axell pasti akan sangat senang saat dia sadar dan mengetahui hal ini." Tante sangat gembira menyambut Shiena yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri akhirnya telah ingat dan sadar kembali.
"Iya, paman yakin Axell pasti akan kuat bertahan di dalam sana. Dia akan melewati operasi ini dengan baik demi untuk dapat bertemu dan berkumpul lagi denganmu, orang yang sangat dicintainya." Paman mulai menitikkan air mata. Disusul dengan tante dan Ara yang juga meneteskan air mata dengan perasaan cemas, haru dan gembira.
Akhirnya setelah sekitar 6 jam, operasi yang dilakukan telah selesai. Dokter mengatakan tidak ada luka dalam yang serius. Hanya Axell sempat kekurangan darah dan mengalami retak dan patah tulang di beberapa tempat. Tetapi tubuh Axell sangat kuat sehingga kondisinya saat ini sudah tidak berbahaya. Setelah efek dari obat bius hilang, dia akan segera sadar.
Mereka masuk ke ruangan Axell bergantian. Karena ruang itu masih harus steril. Jadi tidak boleh terlalu banyak pasien di dalam.
Shiena meminta orangtua Axell untuk pulang karena hari sudah larut malam sehingga mereka harus tidur dan beristirahat. Dia yang akan menemani dan menunggui Axell di kamarnya. Orangtua Axell pun menyetujuinya.
Mereka pulang dan menitipkan Axell pada Shiena untuk dijaga olehnya.
Shiena lalu masuk ke ruangan Axell lagi. Tangannya hanya memegangi tangan Axell dalam keheningan.
Pagi harinya, Axell terbangun. Dia melihat ada Shiena yang sedang duduk menemani dan tertidur di sampingnya.
Dia lalu merasa senang. Hingga dia tidak merasakan sakit ditubuhnya. Dia lalu berusaha menggerakkan tangannya untuk menggapai kepala Shiena dan ingin mengusapnya. Tetapi ia merasakan serangan rasa sakit di pungungnya.
"Aaghh.." Axell secara reflek berteriak kesakitan.
"Axell..dimana kamu merasakan sakit?" Shiena yang mendengar itu pun terbangun dari tidurnya dan bertanya dengan khawatir.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Jawabnya berbohong sambil menampilkan senyum di wajahnya.
Shiena lalu mengambilkan secangkir air putih dan membantu Axell meminumnya. Axell kembali merasakan sakit tetapi menahannya.
Dokter datang memeriksa kondisi Axell. Shiena ijin keluar untuk menelepon orangtua Axell memberi kabar tentang keadaannya.
Axell bertanya mengapa saat dia bergerak tubuhnya terasa sangat sakit. Dokter menjelaskan kalau dia mengalami retak dan patah tulang pada bagian punggungnya dan saat ini masih dalam proses penyembuhan. Sehingga ia masih harus beristirahat di rumah sakit selama beberapa hari untuk melakukan perawatan pada tulang punggungnya yang baru dioperasi. Dia juga tidak boleh banyak bergerak apalagi untuk bangun atau berdiri.
Shiena masuk dan mendengar pesan dokter yang mengatakan Axell tidak boleh banyak bergerak dan harus berbaring.
Axell menyadari bahwa Ara sudah kembali normal dan menjadi dirinya yang dulu.
Axell sebenarnya ingin segera memeluk dan menciumnya. Karena ia sudah sangat merindukannya sekian lama ini. Namun apadaya tubuhnya tidak bisa sembarangan bergerak karena akan terasa sakit. Jadi ia hanya mememandanginya untuk melepas rasa rindunya pada wanita itu dengan perasaan senang.
"Maafkan aku, Axell. Aku telah melukai hatimu dan sekarang mencelakaimu hingga membuatmu berbaring di rumah sakit dalam keadaan yang parah seperti ini."
"Tidak Shiena..Hmm, Ara.."
"Tidak apa Axell, kamu bisa panggil aku Shiena.. Aku sudah ingat siapa aku sekarang."
"Jadi, kamu benar-benar sudah sadar sepenuhnya? Maksudku, apakah kamu tidak akan menghilang dan menjadi anak.."
"Iya Axell, aku tidak akan mengilang lagi. Seperti yang waktu itu kamu bilang padaku saat aku terbaring koma. Bahwa aku adalah Shiena dan juga Ara. Kami adalah satu. Aku dan Shiena kecilku sudah menyatu."
"Shiena..aww.." Axell meringis kesakitan. Ia lupa akan cidera pada punggungnya sehingga ia ingin bangun untuk memeluk Shiena.
"Axell..Dokter sudah berpesan kamu tidak boleh sembarangan bergerak."
"Ya.. itu karena aku terlalu senang, ingin segera memelukmu dan lupa akan punggungku.." Axell tersenyum dengan malu-malu.
__ADS_1
Shiena mendekatkan dirinya pada Axell. Ia tahu apa yang Axell butuhkan. Mulanya ia mengecup kening Axell, lalu melanjutkan mencium bibirnya. Axell pun menyambut ciuman itu dengan bahagia.