
Shiena merawat Axell dengan sabar dan penuh perhatian. Ia menyuapinya makan dan membantunya membersihkan badannya. Terkadang Axell merasakan sakit, tetapi dia tidak pernah menunjukkannya di depan Shiena. Dia menyadari sampai sekarang Shiena masih menyimpan rasa bersalah yang dalam terhadapnya.
Kondisi Axell sudah membaik. Dia juga sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Shiena ikut pulang dan tinggal di apartemen Axell untuk membantu dan merawatnya.
"Shiena, aku sangat merindukanmu. Benar-benar rindu." Shiena sedang membantu Axell membaringkan tubuhnya ke atas kasur di kamar apartemennya.
"Apakah kamu hanya merindukan Shiena? Bagaimana dengan Ara?" Shiena menjawabnya dengan sebuah pertanyaan dengan posisi masih berdiri dan menatapnya penasaran.
"Aku merindukan kalian berdua. Lagipula, Ara juga adalah dirimu, tentu saja aku merindukannya."
"Bagaimana kalau Ara dan Shiena tidak sama? Siapa yang akan kamu pilih?"
"Shiena.. please..jangan mempertanyakan hal seperti ini.."
"Jawab aku Axell. Aku hanya ingin tahu apa yang ada dalam hatimu."
"Aku mencintaimu, dirimu yang kukenal saat kecil maupun dirimu yang sebagai Ara karena di dalam hatiku aku tahu dan bisa merasakannya bahwa kalian adalah satu. Bahkan, itu bisa dikatakan kalau aku telah jatuh cinta padamu dua kali. Apakah kamu ingin aku membuktikannya lagi padamu?" Tanpa mempedulikan rasa sakit yang dirasakannya, Axell memaksakan diri untuk bangkit berdiri dan menciumnya.
Ciuman lembut yang dulu pernah ia berikan pada Ara. Ciuman yang membuktikan apa yang dia rasakan di dalam hatinya.
Namun, hanya beberapa detik saja dia sudah tidak kuat menahan sakitnya dan terjatuh ke kasurnya sambil meringis kesakitan.
"Axell.." Shiena membantu Axell membetulkan posisi nya agar bisa berbaring dengan nyaman.
"Maafkan aku Axell. Aku terlalu egois, aku hanya merasa takut memikirkan bagaimana kalau seandainya aku bukanlah Shiena. Atau bagaimana kalau Ara itu adalah sosok orang lain yang hadir di dalam hatimu selama kepergianku. Belum lagi mengingat kesalahan yang pernah kuperbuat saat aku menjadi Ara. Aku takut kamu masih membenciku dan sulit untuk percaya padaku lagi."
"Tidak Shiena, kemarilah." Axell menepuk sisi kasur didepannya sebagai isyarat bagi Shiena untuk duduk disitu. Axell lalu membelai lembut rambutnya.
"Kau tahu, mengapa aku jatuh cinta pada dirimu saat menjadi Ara? Karena dalam hati kecilku, aku selalu yakin dan percaya bahwa kamu adalah Shiena kecilku yang menghilang. Aku memang pernah ingin membencimu. Tetapi aku tidak bisa. Aku berpikir bahwa aku benar-benar membencimu, tetapi saat aku bertemu denganmu lagi setelah perpisahan kita, ternyata aku salah. Hatiku makin tersiksa karena perasaan cintaku yang semakin dalam terhadapmu."
"Tunggu dulu..apa maksudmu bertemu denganku lagi setelah perpisahan kita? Kapan itu terjadi? Sepertinya aku tidak ingat akan hal itu.."
"Hmm..mmm.. itu.." Sepertinya Axell tidak bisa mengelak dan menutupi rahasianya lagi.
"Begini, kamu ingat kamu pernah pergi ke kafe yang ada bar nya bersama bosmu Darren?"
__ADS_1
"Ya..Ohh ya ampun, yang waktu aku mabuk itu? Aku ingat, saat di bar itu, aku memang seperti melihatmu."
"Ya..itu..dan apa kau juga ingat apa yang kamu lakukan padaku? Kamu tiba-tiba datang padaku lalu merebut gelasku yang berisi bir dari tanganku dan meminumnya sampai habis. Padahal itu tegukan bir terakhirku malam itu."
"Ahmm..ya..." Shiena tersipu malu mengingat kejadian itu.
"Lalu..?"
"Lalu..apakah kamu bisa kuat untuk mendengar kelanjutannya? Kulihat mukamu seperti memerah saat ini." Axell mulai menggodanya. Ia sungguh senang dan merasa lucu bisa menggoda Shiena nya itu.
"Ayolah jangan bercanda. Ayo lanjutkan. Aku tahu aku tidak melakukan hal yang memalukan saat aku mabuk."
"Benarkah..?"
Shiena memelototi Axell dan menatapnya kesal.
"Baiklah..baiklah..Lalu, setelah meminum habis bir yang ada digelasku kamu terjatuh dipangkuanku dan tak sadarkan diri karena terlalu mabuk. Betapa terkejut dan kagetnya aku saat tahu itu kamu. Apalagi dengan kondisi seperti itu. Rasa benciku yang selama ini kupendam dan seolah ingin melumatmu jika bertemu lagi denganmu semuanya sirna seketika."
Axell mengarahkan Shiena untuk duduk semakin mendekat padanya. Lalu dia menggenggam jemari Shiena dan meletakkannya dipangkuannya.
Dengan menatap mata Shiena, ia melanjutkan ceritanya lagi.
"Dan kamu membiarkan aku pergi begitu saja dibawa oleh bosku." Axell melihat ada nada kecewa pada ucapan Shiena. Sehingga ia memutuskan untuk menceritakan semuanya. Toh, tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi tentang hal itu sekarang. Yang terpenting, dia ingin Shiena mengetahui betapa dirinya ini sangat peduli dan menyayanginya bahkan ketika mereka sudah berpisah.
"Tidak.."
"Tidakk? Lalu..?"
Shiena membelalakkan matanya penasaran.
"Aku merasa marah dan tidak rela dia membawamu pergi begitu saja. Sehingga aku menarik tanganmu untuk menahanmu. Kupikir kalian hanya berdua saja di bar itu dan keadaanmu yang sedang mabuk mengkhawatirkanku. Dan ya, terjadi kesalahpahaman sedikit antara kami saat itu."
"Anyway, singkat cerita dia membiarkan aku membawamu pergi. Lalu aku mengantarmu pulang ke rumah kontrakanmu."
"Bagaimana dengan pakaianku? Karena saat aku bangun, kulihat pakaianku sudah diganti dengan pakaian tidurku."
__ADS_1
"Hmm ya itu aku yang menggantikan pakaianmu."
Shiena membesarkan matanya dan langsung menutupi tubuhnya rapat-rapat.
"Jangan salah paham, aku hanya menggantikan luarannya saja karena pakaianmu basah terkena muntah. Aku takut kamu jadi masuk angin lagipula itu akan meninggalkan aroma yang tidak enak bukan."
Shiena menyipitkan matanya seolah tak percaya.
"Mmm sebenarnya aku juga memberimu sebuah ciuman di bibirmu karena aku sungguh tidak tahan untuk tidak melakukan itu. Aku sungguh merindukanmu dan merindukan kelembutan bibirmu itu."
"Astaga..Kupikir, karena aku terlalu mabuk hingga membuatku bermimpi melihatmu dan merasa kamu menciumku. Ternyata.." Shiena tersipu malu lagi. Mukanya memerah dan terasa panas.
"Aku tahu, bahkan dalam mimpimu, kamu juga merindukanku dan sentuhan lembut bibirku."
"Shiena, aku sangat takut saat melihatmu terbaring koma selama beberapa hari di rumah sakit akibat pukulan yang kamu terima menggantikanku itu. Saat itu, aku berjanji selama sisa hidupku, aku akan dan harus melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Tidak peduli walau aku harus mengorbankan diriku untukmu. Aku juga tidak akan pernah lagi meninggalkanmu walau apapun yang terjadi."
"Iya Axell aku tahu itu. Aku juga bisa merasakannya saat kamu memelukku erat untuk melindungiku dari tabrakan yang hampir menghantam tubuhku. Aku juga takut dan tidak mau kehilanganmu lagi Axell."
"Aku sungguh mencintaimu dan tak bisa jauh darimu. Shiena, menikahlah denganku agar aku bisa selalu berada disisimu, menjaga dan melindungimu."
"Axell, aku juga sangat mencintaimu. Iya..aku mau menikah denganmu.." Shiena merasa sangat senang, bahagia sekaligus terharu karena pria yang dicintainya melamarnya walaupun tidak dalam suasana yang romantis. Tetapi dia dapat merasakan kesungguhannya dan itu membuatnya merasakan perasaan aman dan damai karena malaikat pelindungnya ini akan selalu melindungi dan menjaganya.
Terima kasih Shiena..."
Axell mendekatkan wajahnya pada Shiena, menempelkan bibirnya dan mereka mulai berciuman.
Selesai berciuman, Axell kembali berbicara lagi.
"Maafkan aku yang terlalu bodoh. Aku lebih percaya pada bukti-bukti palsu yang sengaja dibuat oleh tante Myra untuk menakutimu dan mengusirmu pergi. Seharusnya aku menyelidiki dulu semuanya. Setelah mengetahui kebenarannya barulah aku bertindak."
"Apakah hasil tes dna yang dia berikan padaku saat di apartemen adalah palsu? Berarti sebenarnya dia sudah tahu dari sebelumnya bahwa aku memang Shiena? Dan kontrak tentang penyamaran itu hanya untuk mengancurkan reputasiku sehingga aku terlihat seperti seorang penipu?"
"Sepertinya tidak seperti itu. Dia melakukan tes dna dirimu setelah kamu kembali ke Jogja. Pada saat kalian melakukan kontrak perjanjian itu, dia belum tahu kebenaran ini. Karena tes dna yang dia gunakan saat membawamu pertama kali adalah hasil tes dna antara Retha dengan paman Arman. Dan desain liontin itu, dia yang mengambilnya untuk membuat liontin yang palsu."
Shiena hanya diam saja. Lalu Axell bertanya,
__ADS_1
"Jadi, bagaimana tindakanmu selanjutnya pada mereka? Tante Myra dan Retha serta Pak Tono?"
"Entahlah. Aku belum memikirkannya."