What is My Destiny

What is My Destiny
30 Pukulan Kemarahan


__ADS_3

Axell telah sampai di rumahnya. Ia lalu bersiap-siap mandi untuk pergi ke kantor. Tetapi kemudian ia menyadari hpnya tertinggal di kamar Ara. Dan ia pun berencana kembali ke sana untuk mengambil hpnya sebelum berangkat ke kantor.


Di rumah keluarga Ferician, terlihat Retha dan ibunya sedang sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, mereka akhirnya teringat dengan Ara yang mereka kurung di gudang bawah tanah kemarin sore.


Selama ini, Shiena kecil selalu ditolong dan dibebaskan oleh Axell yang membawa mamanya datang untuk membantunya.


Mereka berpikir, tapi kali ini tidak ada yang akan membantu Ara. Bahkan Axell sangat membencinya dan tidak mau mengakuinya sebagai Shiena.


Mereka lalu memerintahkan Pak Suryo untuk mengecek ke gudang bawah tanah dan membebaskan wanita itu. Mereka sudah merasa puas dengan mengurungnya selama semalaman di gudang yang gelap itu.


Pak Suryo pun pergi ke gudang bawah tanah. Tetapi ternyata Ara tidak ditemukan di dalam gudang itu.


Lalu Pak Suryo pun melaporkan bahwa Ara sudah dibebaskan Tuan Axell dari kemarin malam. Dia mengetahui hal ini dari seorang pelayan yang memberitahu hal itu padanya saat ia menyelidikinya.


Pak Suryo juga melaporkan bahwa Tuan Axell diberitahu oleh Bi Tina sehingga ia bisa datang ke sini untuk membantu membebaskan Ara.


Nyonya Myra pun merasa marah dan geram. Ia lalu berteriak memanggil Bi Tina dan menanyakan kebenarannya.


Bi Tina terpaksa mengakui perbuatannya yang menelepon Axell diam-diam saat mereka terkunci di dalam kamar.


Dengan kemarahannya, ia pun menugaskan Pak Suryo untuk memukuli Bu Tina dengan batang rotan agar Bu Tina merasa jera sehingga tidak berani ikut campur lagi dan membela nona kesayangannya itu.


Bi Tina pun berteriak meminta maaf dan mohon ampun. Ia berjanji tidak akan berani mengulangi kesalahannya lagi.


Tapi Nyonya Myra sungguh berhati jahat dan tidak berperasaan. Bi Tina telah meminta maaf dan memohon-mohon seperti itu tapi ia tetap tidak mengampuninya.


Bahkan Bi Tina memilik usia yang lebih senior dari dirinya. Seharusnya ia menghormati Bi Tina walaupun status Bi Tina hanya seorang pelayan di rumahnya. Apalagi selama ini Bi Tina sungguh setia, ia sudah bekerja di keluarga mereka sejak Tuan Arman masih kecil.


Ara mendengar keributan dan teriakan Bi Tina. Ia pun segera keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


Ia melihat Bi Tina sedang berlutut memohon-mohon kepada Nyonya Myra. Dan di sana juga ada Pak Suryo dengan tangan yang memegang sebuah batang rotan yang memiliki diameter sekitar 2cm.


Kemudian Pak Suryo sudah bersiap-siap akan memukul Bi Tina dengan rotan tersebut. Ara pun segera berlari mendekati mereka dan langsung memeluk tubuh Bi Tina.

__ADS_1


"Brakk.."


"Hentikan. Jangan pukul dia." Tubuh Ara pun terkena pukulan itu. Ia lalu mendorong rotan itu menjauh dari mereka.


Pak Suryo pun menghentikannya. Tetapi Nyonya Myra menyuruh Pak Suryo untuk meneruskan pukulan itu. Ia tidak peduli walaupun pukulan itu akan mengenai tubuh Ara yang sedang memeluk Bi Tina untuk melindungi tubuhnya dari pukulan itu.


"Pak Suryo. Teruskan pukulanmu. Jangan hiraukan wanita itu. Biarkan saja, jika itu memang mau nya untuk menerima pukulan ini menggantikan Bi Tina."


Pak Suryo pun kembali melanjutkan pukulan itu. Ara tetap tak bergeming walaupun ia merasa kesakitan. Ia juga  tidak berteriak sedikitpun.


Bi Tina terus menangis meminta nonanya untuk pergi dari situ. Tapi Ara tetap tidak mau pergi. Bi Tina juga memohon pada mereka untuk menghentikan pukulan itu.


Ara sudah menerima banyak pukulan, mungkin sudah hampir belasan kali. Di ujung bibirnya terlihat ada sedikit darah yang keluar. Wajahnya juga sudah pucat.


Axell datang kembali ke rumah keluarga Ferician untuk mengambil hpnya yang tertinggal. Tetapi saat ia masuk, ia melihat Ara sedang dipukuli.


"Hentikan. Mengapa kalian memukulinya."


Kondisi Ara terlihat dalam keadaan yang tidak baik. Beberapa luka pukulan yang ada dipunggung bawahnya mengeluarkan darah hingga memberikan goresan bercak darah di baju yang dipakainya.


"A..Axell.." panggil Retha terkejut melihat kedatangannya yang secara tiba-tiba. Nyonya Myra juga sedikit terkejut. Tetapi ia terlihat biasa saja dan tak peduli.


"Kamu ada perlu apa datang kemari pagi-pagi?" Tanya Retha padanya.


"Kalian sungguh kejam. Aku tak menyangka kamu sungguh tidak memiliki hati dan perasaan. Begitu tega melihat kakakmu dipukuli dan disiksa seperti ini. Bahkan menjadikannya seperti sebuah hiburan yang menyenangkan bagi kalian."


Axell lalu membantu Ara untuk bangun dan berjalan kembali ke kamarnya.


"Kak Axell tidak begitu. Aku bukan wanita jahat seperti yang kamu kira. Dengarkan dulu penjelasanku. Wanita ini lah yang berulah.."


"Sudah, aku tidak mau lagi mendengar ocehanmu." Axell menepis tangan Retha yang memegangi tubuhnya untuk menahannya agar tidak pergi dari situ.


Axell memapah tubuh Ara dengan perlahan. Ara terlihat berjalan merintih sambil menahan sakit.

__ADS_1


"Apakah kamu masih kuat untuk berjalan?"


Ara mengangguk pelan.


Axell memaksa untuk mengolesi obat pada luka di punggung Ara. Ara menolaknya, ia meminta agar Bi Tina saja yang mengolesinya. Tetapi Axell tetap memaksa mengolesinya.


"Percaya padaku. Aku akan mengolesi obat ini perlahan-lahan sehingga kamu tidak merasakan sakit."


Ara akhirnya diam dan membiarkan dia mengolesinya. Axell mengolesi obat itu dengan lembut dan sabar. Sebenarnya Ara masih merasakan sakit saat diolesi obat, tetapi ia menahannya dan diam saja. Ia bisa merasakan bahwa Axell sudah berusaha mengolesi obat dengan lembut dan perlahan agar ia tidak merasakan sakit.


Selesai diobati, Ara tetap harus tidur dengan posisi tubuh dengan punggung mengarah ke atas agar lukanya tidak tertimpa dan terkena gesekan.


Ara mengucapkan terima kasih pada Axell dan memintanya untuk pergi meninggalkannya. Ia tidak mau Retha dan ibunya melihat mereka berlama-lama berduaan di kamar ini.


Tetapi Axell tidak mau pergi. Ia juga tidak peduli pada mereka. Terserah mereka mau berpikir apa.


Axell tetap mau berada di sisi Ara untuk menjaga dan mengawasinya. Karena ia takut kalau luka itu mengalami infeksi.


Ara yang berkarakter keras, semakin mengusirnya dengan paksa.


"Pergilah..! Kumohon. Kalau tidak aku yang akan pergi dari kamar ini." Ara pun mengancamnya.


Akhirnya Axell terpaksa menuruti Ara dan keluar dari kamarnya.


Karena ia tidak bisa menjaga dan mengawasi Ara, maka ia memanggil dokter keluarga mereka agar datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Ara.


Kemudian Axell menemui Retha dan ibunya. Ia meminta mereka untuk tidak lagi menyiksa dan menyakiti Ara. Jika mereka masih melakukan hal-hal seperti ini lagi, maka Axell mengancam akan melaporkannya pada pihak yang berwenang dan juga pada paman Arman. Setelah itu Axell pergi dari rumah mereka menuju ke kantornya.


Saat dokter datang, tubuh Ara sudah demam tinggi. Hal ini disebabkan oleh infeksi yang terjadi akibat luka yang dialaminya.


Untung saja Axell sudah berinisiatif untuk memanggil dokter sehingga demam Ara dapat segera diatasi.


Bi Tina menemani Ara saat dokter memeriksanya. Lalu ia mengabari Axell tentang kondisi Ara setelah dokter selesai memeriksa.

__ADS_1


Kondisi Ara tidak terlalu parah, minum obat yang diresepkan dokter dan istirahat beberapa hari maka infeksinya akan segera sembuh. Hanya saja luka tersebut harus benar-benar diperhatikan. Karena luka itu lumayan banyak dan cukup dalam. Mereka harus menangani luka itu dengan steril dan teliti.


__ADS_2