
Kevin masuk kembali ke dalam ruangan dengan membawa beberapa laporan ditangannya.
"Tuan, ini beberapa laporan yang anda minta." Ucap Kevin sambil menyerahkan beberapa laporan kepada Axell.
"Letakkan saja di situ." Axell melempar arah pandangnya ke sebelah kiri depan sudut meja kerjanya sebagai isyarat bagi Kevin untuk meletakkan laporan yang sedang ia pegang. Axell lalu memilah-milah laporan tersebut. Setelah itu dia mengambil sebuah laporan yang tertera label bertuliskan "Koleksi Desain Liontin Ern&Do Collection"
Dengan seksama ia melihat desain liontin yang ada di tiap-tiap halaman. Sampai halaman akhir, ia kembali membolak-balik lembar laporan itu dari awal. Sepertinya dia sedang mencari sesuatu.
Setelah beberapa kali membolak-balik laporan itu, ia tetap tidak menemukan yang dicarinya. Lalu ia memanggil Kevin dan bertanya, "Kevin, siapa yang membuat laporan ini? Panggil ia ke ruanganku sekarang."
Kevin lalu pergi untuk mencari karyawan yang membuat laporan tersebut. Ternyata Ara yang membuat laporan itu. Ara lalu masuk ke ruangan Axell dan memberitahukan bahwa semua desain liontin sudah terlampir dilaporan tersebut.
"Semua desain liontin sudah saya kumpulkan dan dilampirkan di dalam laporan itu, Tuan."
"Aku minta kamu untuk mencarinya lagi dan periksa kembali dengan teliti semua data yang ada di ruang penyimpanan dokumen. Sekarang juga!" Perintah Axell pada Ara.
"Tapi Tuan.." Ara ingin membantahnya, tetapi dia terdiam karena Axell menatapnya dengan tatapan marah. "Maaf Tuan, saya masih harus mengikuti pelatihan sampai selesai. Atau kalau tidak saya akan tertinggal materi yang diberikan oleh para pelatih." Ara memberanikan dirinya untuk kembali menjelaskan dengan ragu dan takut-takut.
Axell diam sejenak, lalu dia berucap, "Kalau begitu, kembali lagi kesini nanti setelah pelatihan selesai. Aku menunggumu." Ara pun pergi meninggalkan ruangan Axell dan menghela nafasnya ketika sudah berada di luar ruangan.
Hari sudah sore saat pelatihan selesai. Ara pun bergegas ke ruang kerja Axell. Para karyawan yang melihat Ara masuk ke ruang Axell setelah jam kantor langsung menggosipkannya. Mereka tidak tahu kalau Ara saja dengan enggan dan terpaksa masuk ke ruangan itu.
Kalau bukan karena urusan kerja dan perintah langsung dari bos yang dingin itu tentu Ara sudah pulang sekarang. Ia pasti lembur hari ini. Ara kembali menghela nafasnya selama perjalanan menuju ke sana dan berjalan dengan langkah yang berat.
Setibanya di ruang kerja direktur, si Bos langsung berkata "Ayo."
Ara bingung dengan ajakan Bos baru itu. Maksudnya ayo kemanakah?
__ADS_1
Axell melihat Ara diam saja dengan ekspresi muka bingung, ia lalu menambahkan "Ke ruang dokumentasi".
"Oo..ohh" jawab Ara sambil berjalan memimpin di depan. Axell mengikuti dari belakang.
Si bos menyuruhnya untuk mencari di seluruh rak penyimpanan yang ada. Setelah beberapa menit berlalu dan beberapa rak sudah selesai dicari, tanpa istirahat mereka masih terus saja mencari. Ara sudah merasa lelah, namun dia tidak berani untuk berhenti walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang sedang bosnya cari. Lalu, Ara memberanikan diri untuk bertanya pada bosnya, "Tuan, apakah bisa memberiku petunjuk seperti apa desain liontin yang sedang kita cari?"
Axell terdiam sebentar.
Benar juga aku daritadi belum memberi petunjuk, ucapnya dalam hati.
"Desain liontin itu berbentuk seperti bola dan disekelilingnya terdapat beberapa bunga aster." Axell menjawab dengan memberi penjelasan secara detail pada Ara.
Ara mengambil sebuah kertas kosong dan menggambar sketsa desain liontin seperti yang Axell deskripsikan.
"Apakah seperti ini?" tanyanya pada Axell sambil memperlihatkan gambar sketsa itu.
"Belum." Jawab Ara. Ara berjalan mengitari rak untuk mencari desain liontin itu di rak lainnya.
Axell masih fokus memperhatikan sketsa desain yang Ara buat tadi. Ia lalu bertanya dengan heran, "Tapi, mengapa sketsa yang kamu buat bisa sama persis seperti desain liontin yang sedang kucari?"
"Entahlah, saat kamu mendeskripsikan tadi dibenakku langsung terbayang sebuah liontin yang seperti ini. Jadi liontin yang sedang kamu cari sama persis dengan sketsa ini..?" tanya Ara takjub.
"Apa mungkin kamu pernah melihat liontin ini sebelumnya?" tanya Axell berharap Ara menjawab iya. Namun, Ara hanya menggelengkan kepalanya.
Axell merasa sedikit kecewa melihat Ara yang menggelengkan kepalanya yang berarti bahwa Ara tidak pernah melihatnya dan juga tidak mengetahui apapun tentang liontin itu.
"Lanjutkan mencari jika kamu mau cepat pulang." Axell berbicara dengan agak ketus dan sedikit mengancam untuk menutupi kekesalannya.
__ADS_1
"Tapi .." Tiba-tiba lampu di ruangan itu menjadi padam. Ruangan menjadi gelap. Padahal baru saja Ara ingin mengatakan kalau sebentar lagi lampu di ruangan ini akan dimatikan secara otomatis. Kini, ruangan itu hanya mendapat sedikit saja pantulan cahaya lampu dari luar ruangan. Seketika, rasa cemas menyerang Ara. Kepalanya mulai terasa pusing dan nafasnya sesak. Ia buru-buru berpegangan pada salah satu rak yang ada didekatnya agar tubuhnya bisa bertopang.
Axell melihat Ara yang berwajah pucat dan hampir jatuh. Dengan segera Axell memegangi lengan Ara dan membantu untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Axell bertanya, "Kamu punya Nyctophobia?" Namun Ara hanya diam saja dan tidak merespon pertanyaan dari Axell karena dia tidak menyadarinya. Dia bahkan tidak dapat merasakan apapun selain dirinya yang lemas dan jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang.
Lalu Axell membawa Ara keluar dari ruangan yang gelap itu. Axell tidak tahu bahwa ada beberapa ruangan di kantornya yang jarang digunakan akan dimatikan lampunya secara otomatis beberapa jam setelah melewati jam pulang kantor. Dan ruang penyimpanan dokumen termasuk salah satu ruangan yang jarang sekali digunakan bahkan jarang dikunjungi para karyawan di siang hari sekalipun.
Setelah berada di tempat yang terang, kondisi Ara mulai membaik secara perlahan. Bos pun mengajaknya pulang.
"Sebaiknya kita pulang saja."
"Lalu, bagaimana dengan pencariannya?" Ara bertanya dengan lemah.
Axell menjawab, "Hentikan saja. Aku masih ingat detail liontin yang sedang kucari dan aku akan mendesainnya ulang nanti berdasarkan ingatanku itu."
Ara menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Karena merasa khawatir dan juga karena kebetulan mereka tinggal di apartemen yang sama, maka Axell menyuruh Ara untuk ikut pulang bersamanya.
Kini, mereka telah tiba di lobi apartemen. Sebelum turun Axell berpesan pada asistennya, "Kevin, besok pagi aku ada urusan sehingga tidak ke kantor. Jemput Ara saja dan antarkan ia ke kantor."
"Baik Tuan."
Tanpa mereka sadari dalam perjalanan pulang menuju apartemen, ada sebuah mobil yang mengikuti mobil mereka diam-diam dari belakang sejak mobil mereka melaju keluar dari gedung kantor.
Saat Axell dan Ara turun dari mobil, orang yang mengikuti mereka mulai mengambil beberapa foto momen kebersamaan mereka yang terlihat berduaan dan bersama-sama melangkah masuk ke dalam apartemen yang sama sampai sosok mereka tak terlihat, menghilang karena mereka telah masuk ke dalam gedung apartemen.
***
__ADS_1