What is My Destiny

What is My Destiny
48 Melupakan dan Memaafkan


__ADS_3

Tanpa memikirkannya terlalu lama, Shiena akhirnya memutuskan bahwa dia tidak mau mengajukan gugatan atau menuntut ibu tirinya dan pak Tono atas dua kasus penculikan terhadap dirinya.


Dia tidak mau banyak orang terluka karena dirinya. Retha, istri Pak Tono yang adalah seorang ibu yang telah membesarkannya dan anggota keluarga Pak Tono lainnya yang juga sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri. Dia hanya ingin melupakan masalah ini dan memaafkan perbuatan mereka.


"Apakah ibu tahu, mengapa aku mau memaafkanmu? Karena aku masih ingat kasih sayang yang pernah ibu berikan padaku saat ibu baru menikah dengan ayahku dan menjadi ibu baruku."


"Setiap malam ibu selalu menghiburku dan mendongeng untukku yang menangis karena merindukan ibu kandungku."


"Ibu juga begitu perhatian menjaga makananku karena aku alergi dengan susu. Aku paham saat Rere lahir ibu berubah karena seorang ibu pasti akan lebih menyayangi anak kandungnya sendiri. Rere juga menjadi seperti itu karena terlalu dimanja oleh ibu."


Tetapi Tuan Arman tidak berpikir seperti itu. Ia akhirnya mengetahui apa yang telah terjadi pada putrinya, dari temannya Revan Ernando yang memberitahunya.


Sebenarnya saat itu, ayah Axell menelepon Tuan Arman untuk membahas mengenai pernikahan Axell dan Shiena. Tuan Revan tidak tahu kalau selama ini temannya itu belum mendengar dan diberitahu tentang apa yang terjadi selama ini. Hingga saat Tuan Revan menceritakannya, Tuan Arman sangat terkejut. Ia serasa seperti orang bodoh selama ini karena tidak mengetahui hal yang begitu besar yang terjadi pada putri kesayangannya itu. Ia langsung segera pulang ke Indonesia. Dia sangat marah dengan apa yang telah istrinya perbuat pada putrinya.


"Aku tidak bisa menerima apa yang telah kamu lakukan pada Shiena. Selama ini aku tidak bisa menjaga dan merawatnya dengan baik karena kesibukanku. Aku menikahimu karena aku ingin mencarikan seorang ibu yang baik dan menyayangi Shienaku."


"Tetapi apa yang kamu lakukan bukan hanya tidak menyayanginya melainkan membuat anakku menderita di luar sana. Bahkan hidup jauh dari keluarganya dan hidup tanpa mengetahui kebenaran tentang identitas dirinya sendiri."


"Aku telah meminta pengacara untuk mengurus perceraian kita." Tuan Arman  memberikan surat perceraian padanya.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi dan tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Ferician. Silahkan angkat kakimu dari sini karena aku tidak mau melihat keberadaanmu di rumah ini lagi. Kecuali baju yang menempel padamu dan pakaianmu yang lainnya, semua harta dan benda termasuk perhiasan yang sedang kamu pakai dan seluruh isi dompetmu yang adalah milik keluarga Ferician tidak boleh kamu bawa pergi. Dan juga Retha, yang adalah anggota keluarga Ferician, tidak boleh ikut bersamamu." Tuan Arman sangat marah hingga mengusir istrinya dengan tidak boleh membawa satupun harta bendanya dan hidup sendiri. Dia ingin istrinya itu mengalami penderitaan yang Shiena alami saat dulu kecil. Menderita hidup sendiri tanpa satupun keluarganya.


Shiena merasa sedih dengan apa yang terjadi pada ibunya. Tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya. Karena ia tahu ayahnya melakukan ini untuknya, untuk menebus rasa bersalah ayahnya kepada dirinya.


"Ayah, jangan usir ibu. Kumohon ayah, biarkan aku ikut dengan ibu." Retha menangis memohon-mohon pada ayahnya.


"Tidak. Retha, dengarkan perintahku! Kamu harus tetap tinggal disini bersama kami dan kamu juga tidak boleh menemuinya bahkan sekalipun. Kalau kamu berani pergi menemuinya sekali saja dan ketahuan olehku, maka aku akan mengusirmu juga dan tidak akan menerimamu kembali sebagai bagian dari keluarga ini."


Shiena berjalan mendekat pada ayahnya, dan sekarang ia berada di samping ayahnya yang sedang duduk di sisi paling kiri sofa. Lalu, sambil masih berdiri ia merangkul bahu ayahnya. Dan memberi sedikit pijatan lembut di bahunya.


"Ayah, walau bagaimana pun ibu adalah ibu kandung Retha. Retha pasti sangat menyayanginya dan ingin bisa bertemu dengannya sesekali. Lagipula, selama ini ibu tinggal berjauhan dengan kerabatnya, pasti sulit baginya untuk hidup sendiri. Belum lagi selama ini ibu adalah seorang ibu rumah tangga. Pasti sulit baginya untuk mencari pekerjaan dan menghasilkan uang untuk membiayai hidupnya sendiri. Kebetulan ada seorang temanku di kampungku sedang mencari seorang kenalan yang bisa dipercaya untuk membantunya menjaga dan merawat villa miliknya. Dia juga menawarkan penghasilan yang lumayan besar. Bagaimana kalau ayah mengijinkan ibu untuk membantu temanku itu? Kurasa pekerjaan ini tidak sulit dan cocok untuk ibu yang belum terbiasa bekerja." Ayah menarik Shiena untuk duduk di sofa di sebelah kanannya.


"Ayah.. kumohon padamu. Aku tidak mau membuat seseorang apalagi orang terdekatku merasakan penderitaan yang pernah kualami. Cukup sudah, biar aku seorang saja yang mengalaminya.." Shiena menitikkan airmatanya, merasakan perih akan pengalaman pahit dihidupnya yang pernah ia rasakan.


"Shiena putri tercintaku." Tuan Arman memeluk Shiena dan mengusap-usap kepalanya, menenangkannya.


"Baiklah. Terserah padamu saja.. Tetapi ayah peringatkan sekali lagi, tidak ada satupun dari kalian yang boleh menemuinya. Tidak terkecuali itu Retha bahkan juga kamu. Aku tidak segan-segan untuk memberi sanksi kepada kalian jika melanggar.


Retha pun menangis sejadi-jadinya. Ia lalu menghampiri ibunya dan masih berusaha menahannya untuk tidak pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Ibunya hanya diam dengan isak nangis yang tertahan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia lalu memeluknya sebentar dan segera pergi bersama penjaga yang sudah menunggunya untuk membawanya pergi.


Tetapi Retha masih tidak bisa menerima hal ini. Ibunya harus pergi meninggalkannya. Selain itu pria yang selama ini dia cintai dan dia harapkan kelak menjadi suaminya telah direbut.


Ia tidak peduli walaupun kakaknya telah membantu ibunya tadi. Ia tetap merasakan penderitaan dan itu semua karena kembalinya wanita itu dihidupnya.


Sehingga ia sangat marah kepada kakaknya dan tidak akan mau mengganggap dan memperlakukan wanitu itu sebagai kakaknya. Wanita yang selalu membuatnya menjadi nomor dua dan selalu membuat dirinya tidak mendapatkan apapun yang dia mau. Bahkan dia akan segera menikah dengan pria yang harusnya menjadi miliknya.


Ia sangat membenci kakaknya itu dan dalam pikirannya ia hendak merencanakan sesuatu yang buruk padanya.


Setelah beberapa hari berlalu, sejak ibunya pergi meninggalkan dirinya sendiri dan hidup dalam kesepian dengan kepedihan hati setiap hari melihat pria yang dicintainya semakin dekat dengan kakaknya. Retha akhirnya memutuskan untuk segera bertindak. Ia menemui seseorang di sebuah gang kecil yang terletak di daerah pemukiman kumuh secara sembunyi-sembunyi. Dia terlihat seperti


memberikan orang itu sejumlah uang.


"Ingat. Kamu hanya perlu berpura-pura seperti habis tidur dengannya. Tidak lebih. Tidak boleh memandanginya apalagi menyentuhnya sembarangan. Aku hanya perlu beberapa foto dengan pose yang terlihat meyakinkan bahwa kalian baru melakukan hubungan intim."


"Tenang saja, aku tahu apa yang harus kulakukan." Pria itu lalu berjalan pergi meninggalkan Retha sambil melempar puntung rokok sembarangan. Dia menghitung sejumlah uang yang Retha berikan dengan senyuman yang lebih terlihat seperti sebuah seringai yang menakutkan.


Pria itu memiliki wajah yang tampan hanya saja tampangnya terlihat urakan dengan kumis yang jarang dicukur dan rambut yang berantakan. Selain itu tangannya yang bertato dan berotot memperlihatkan bahwa dia adalah seorang berandalan.

__ADS_1


__ADS_2