
Ara hanya diam saja. Ia merasa kepalanya berdenyut kencang. Ia ingat dulu kecil dia juga pernah berlari dan bersembunyi dari kejaran mereka yang ingin menculiknya sama seperti sekarang ini.
Dia menatap ayahnya dengan tatapan sedih dan tidak percaya. Ayah yang selama ini dia kira adalah ayah kandungnya, ternyata adalah orang suruhan Nyonya Myra yang telah menyebabkan tragedi di hidupnya ini.
Nyonya Myra memerintahkan mereka untuk membawa Ara ke gudang lalu mengikatnya agar dia tidak bisa kabur.
Ayah Ara terpaksa melakukannya. Ia hanya bisa menangis meminta maaf pada anaknya itu setelah Pak Suryo dan Nyonya Myra pergi.
Ara tidak merespon ucapan ayahnya. Ia merasa kepalanya sangat sakit. Selain itu hatinya sungguh hancur. Mengapa hidupnya seperti ini.
Orang yang dicintainya telah pergi meninggalkannya karena ia sakiti. Keluarga yang selama ini ia pikir keluarga kandung dan sedarah dengannya ternyata hanya orang asing yang tidak memiliki hubungan darah. Dan sekarang dirinya terperangkap di dalam gudang yang sepi dan menakutkan. Tanpa ada yang bisa menolongnya..
Apalagi yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini? Apakah nasib yang akan dialaminya? Akankah hidupnya berakhir buruk setelah ini?
Lama-lama kesadarannya makin menghilang. Ia tidak lagi dapat mendengar dan merasakan apa-apa. Dan di dalam hatinya ia berharap agar selamanya ia bisa seperti ini. Tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Tidak merasakan sakit pada fisiknya maupun pada hatinya.
Pagi hari Ara masih juga belum sadarkan diri. Ayah nya, Pak Tono menjadi cemas. Ia berpikir mencari cara bagaimana agar bisa pergi keluar untuk mencari bantuan.
Pak Suryo datang membawakan makan untuk mereka dan dua penjaga yang sedang berjaga di depan. Lalu Pak Tono meminta ijin dengan Pak Suryo untuk pergi keluar sebentar. Ia menjamin Nyonya Myra tidak akan mengetahuinya.
Lagipula dia perlu untuk mengambil liontin yang Nyonya Myra minta karena liontin itu ada di rumah kontrakkan Ara. Akhirnya karena memandang hubungan dekat mereka waktu kecil, Pak Suryo pun mengijinkannya.
Ternyata Pak Tono pergi ke gedung Fernan untuk mencari Axell. Karena ia telah diusir kemarin, jadi sekarang dia hanya diam menunggu sampai pria itu datang.
Saat Axell akhirnya muncul, Pak Tono langsung mendatanginya.
"Nak, tolong anakku. Selamatkan dia."
Axell bingung, dia tidak kenal dengan Pak Tono. Karena selama ini Ara memang meminta ayahnya untuk bersembunyi darinya dan ayahnya hanya mengintip mereka dari kejauhan saja saat Axell datang menemui Ara di Jogja.
Pak Tono terus menarik tangannya sambil memohon-mohon padanya. Axell merasa sangat terganggu dengan bapak ini. Ia tidak suka orang sembarangan menyentuh dirinya.
Kevin lalu memerintahkan petugas untuk membawa bapak itu pergi.
"Petugas, tolong usir bapak ini."
__ADS_1
"Tuan tolong anakku.. Tuann..atau kamu akan menyesalinya. Karena hanya kamu yang dapat menolong Ara anakku..." Ayah terus berteriak memohon walaupun kedua petugas datang dan menyeretnya pergi.
Mendengar nama Ara, Axell menghentikan langkahnya. Lalu ia ingat hubungan mereka yang telah berakhir dan juga kebohongan wanita itu. Dia pun lanjut berjalan lagi dan tidak menghiraukan teriakan bapak itu.
Tetapi Kevin menghampiri bapak itu dan menanyakan apa yang terjadi dengan Ara. Pak Tono memberitahu bahwa Ara sekarang sedang dikurung di sebuah gudang dan dalam kondisi tak sadarkan diri. Dia takut kondisi Ara semakin parah jika didiamkan.
Setelah itu Kevin pergi meninggalkan Pak Tono dan menyusul bosnya.
Pak Tono pun pergi dari gedung itu dalam kebingungan. Ia tidak tahu apakah mereka mau menolongnya atau tidak. Tetapi ia tidak bisa berlama-lama disitu. Dia perlu mencari apotik untuk membeli beberapa obat dan kembali ke gudang itu lagi.
Kevin memberitahu pada Axell apa yang terjadi pada Ara. Tetapi Axell terlihat diam saja. Tatapan mata dan ekspresi mukanya tetap dingin seperti biasa.
Tetapi sebenarnya dalam hatinya ia sedang bergejolak. Haruskan ia mempercayai ini atau tidak usah mempedulikannya. Ia takut ini hanyalah tipuan yang direncanakan oleh wanita itu. Tetapi ia juga tahu Ara bukan seorang wanita yang seperti itu. Walaupun dia pernah berbohong dan menipunya, tetapi wanita itu memiliki harga diri yang tinggi. Tidak mungkin melakukan drama seperti ini untuk menipunya. Lagipula ia dapat merasakan perasaan bersalah dan hancurnya wanita itu saat kebohongannya terbongkar.
Axell pun menjadi bingung dan kepalanya pusing. Dia tidak bisa konsentrasi untuk melanjutkan pekerjaannya karena memikirkan hal tersebut.
Akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai bapak itu. Ia lalu mengecek keberadaan Ara lewat GPS yang ada di hpnya.
Axell segera pergi ke lokasi gudang itu berada. Saat dia hampir sampai, di kejauhan dia melihat ada dua penjaga yang sedang berjaga di luar. Dia lalu menghubungi Kevin dan memintanya menghubungi polisi untuk meminta mereka datang ke lokasi gudang itu.
Pak Tono yang baru tiba dari gudang melihat Axell sedang mengintip dari jendela samping. Ia lalu mengajak kedua penjaga itu mengobrol lalu memberi mereka minuman. Minuman itu sudah diberi obat tidur dengan dosis agak tinggi. Jadi saat mereka minum, mereka langsung tertidur.
Pak Tono lalu memberi isyarat pada Axell untuk masuk. Pak Tono menyuapi obat dan minuman pada Ara. Axell melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Ara. Lalu ia menempelkan aroma minyak lavender pada hidung Ara agar ia dapat menghirupnya dan mungkin bisa untuk membuatnya tenang dan juga terbangun.
Tetapi Ara tetap diam, tidak memberi reaksi apapun. Ia pun mencoba menggoyangkan badan Ara dan memanggil-manggil namanya.
"Ara..Ara.. bangun..Ara.."
Tetapi Ara tetap tidak bangun.
"Shiena..Nak Shiena.." Pak Tono mencoba memanggilnya dengan nama itu. Ia berpikir mungkin cara ini bisa membangunkan Ara.
Axell terkejut. Ia lalu bertanya pada Pak Tono, "Mengapa bapak memanggilnya Shiena? Apa maksud bapak? Dia.. apakah dia.."
"Ceritanya panjang. Aku akan menceritakannya nanti, yang terpenting sekarang membangunkannya dulu."
__ADS_1
"Oke. Shiena..Shienaa.." Axell memanggil nama itu dengan terisak.
Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak marah dari luar. Suara itu adalah suara Pak Suryo yang memarahi kedua penjaga yang sedang tertidur.
Mereka bertiga lalu bergegas ke dalam gudang. Axell sudah bersiap memegang potongan kayu yang ada di sana untuk melawan mereka.
Terjadi baku hantam antara Axell dengan kedua penjaga. Sedangkan Pak Tono menghadang Pak Suryo untuk memohon padanya untuk menahannya saja dan membiarkan mereka pergi.
Ara terbangun. Ara mendengar suara berisik seperti ada suara pukulan dan suara teriakan orang yang sedang berkelahi. Ia berusaha untuk bangun dan melihatnya. Tetapi tangan dan kakinya yang bekas diikat terasa sakit. Ia juga tidak kuat untuk berdiri karena terlalu lemas.
Axell yang jarang berkelahi kalah dengan mereka yang juga tidak imbang jumlahnya. Axellpun sudah terluka parah. Tetapi ia masih berusaha sekuat tenaga melawannya.
Ara merasa kenal dengan suara orang yang berteriak kesakitan itu. Ia lalu memaksa dirinya bangun lagi dengan bertopang pada salah satu kotak.
Ia melihat Axell sedang baku hantam dengan dua orang pria dan tubuhnya sudah penuh luka. Ara lalu berteriak memanggilnya.
"Axell.."
Walaupun suara Ara terdengar lemah dan agak pelan, tetapi Axell dapat mendengarnya. Melihat Ara sudah terbangun, ia langsung berlari menghampiri Ara.
"Ara, syukurlah kamu sudah sadar. Kamu tidak apa-apa kan?"
"Aku tidak apa-apa, tapi wajah dan tubuhmu.. Axelll awasss..! Aaagghh.."
Ara melihat salah seorang penjaga datang dan ingin memukul Axell. Ia segera mendorong tubuh Axell sekuatnya agar menjauh dan menutupi tubuh Axell dengan tubuhnya untuk menghalangi pukulan itu. Ia pun menerima pukulan yang kuat itu di bagian kepalanya dan terjatuh. Axell segera menangkap tubuh Ara sebelum jatuh ke lantai.
"Ax..xelll..." Sesaat setelah dipukul, ia melihat kilasan ingatan yang sangat banyak. Semua itu adalah ingatan tentang masa kecilnya yang ia lupakan. Lalu kepalanya terasa sakit yang teramat sangat hingga ia tak mampu menahannya dan akhirnya tak sadarkan diri.
Axell duduk dengan posisi berlutut dan mendekap tubuh Ara erat. Luka pukulan di kepala Ara mengeluarkan banyak darah. Ia pun menahan darah yang menetes dengan salah satu tangannya.
Penjaga berusaha ingin melepaskan Ara dari dekapan Axell. Mereka pun memukulinya. Tetapi Axell tetap bertahan sambil terus mendekap erat tubuh Ara dengan salah satu tangannya masih terus menahan darah yang menetes keluar dari kepala Ara.
Saat Axell sudah tak berdaya dan hampir tak sadarkan diri, Pak Tono membantunya. Ia menghalangi para penjaga itu memukuli Axell. Lalu, terdengar bunyi sirine mobil polisi. Tak lama kemudian polisi masuk ke dalam gudang untuk menangkap mereka.
Axell merasa lega karena melihat polisi telah datang. Ia melepaskan dekapannya dan membaringkan tubuh Ara ke lantai. Ia lalu jatuh berbaring ke samping tubuh Ara, tak sadarkan diri.
__ADS_1