
Jam 2 pagi, Ara terbangun dari tidurnya. Seperti biasa ia mengalami mimpi buruk lagi. Ia lalu merenungi mimpi itu.
"Sosok anak itu muncul lagi dalam mimpiku. Siapakah dia. Rasa rindu, sedih, senang dan takut memenuhi hatiku. Ingin sekali bertemu dengannya. Tapi juga takut untuk bertemu dengannya. Siapakah anak perempuan itu."
"Dia terasa sangat dekat dan seperti telah lama kukenal. Tapi aku tidak ingat dengan jelas wajahnya. Melihat apa yang di alaminya di dalam mimpi, aku merasa kasihan dengannya. Ingin aku mendekap dan melindunginya."
"Tapi aku merasa aku juga tidak mampu untuk melindunginya. Aku merasa diriku sangat lemah. Apalagi belakangan ini gampang sekali airmataku keluar. Mengapa hatiku begitu rapuh belakangan ini."
Sejak kejadian di acara ultah paman Revan, Ara makin mengurung dirinya. Ia suka terdiam dan merenung. Ia juga malas untuk keluar dari kamarnya dan selalu berusaha menghindari Retha.
Ia tahu bahwa adik palsunya itu pasti akan selalu mencari masalah dengannya. Jadi lebih baik dia menghindarinya saja.
Sore hari nya terdengar teriakan dari arah ruang tengah yang berdekatan dengan kamar Ara.
"Segera panggil ia kemari atau aku yang akan menyeretnya keluar!"
Ara mendengar teriakan itu. Ia tahu itu pasti suara Nyonya Retha yang telah pulang dari menemani ayahnya ke Paris. Pasti Retha telah menceritakan semua yang terjadi pada dirinya selama ibunya pergi.
Walaupun anaknya itu salah, tetap saja ibunya itu akan selalu membela anaknya. Itulah yang menyebabkan Retha selama ini memiliki sikap yang buruk.
__ADS_1
Teriakan itu pasti ditujukan untuknya. Benar saja, tak lama kemudian pintu kamarnya dibuka. Bi Tina masuk dan mengatakan padanya bahwa Nyonya Myra memanggilnya. Bi Tina terlihat khawatir dan ketakutan. Ia takut nona nya itu disakiti mereka.
Namun Ara tidak mau menanggapinya. Ia berkata "Biarkan saja Bi. Aku tidak takut dengan mereka karena aku tahu aku tidak berbuat salah."
Nyonya Myra yang tidak sabar, akhirnya masuk ke dalam kamarnya.
"Sebaiknya kamu keluar dulu. Aku dan Retha ada urusan dengan wanita ini." Nyonya Myra menyuruh Bi Tina untuk keluar meninggalkan mereka bertiga saja di kamar Shiena.
Bi Tina dan para pelayan lainnya terlihat cemas. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada nona Shiena mereka itu.
"Sungguh lancang sekali kamu. Apa kamu sudah lupa dengan identitas dirimu yang sebenarnya. Kamu pikir kalau suamiku sudah percaya dan mengira kamu anak kandungnya, jadi kamu bisa seenak-enaknya mempermalukan dan menyakiti Retha?
"Tidak, aku sadar siapa diriku. Aku juga tidak pernah mempermalukan dan menyakiti Retha." Ara menjawab dengan lantang dan penuh keberanian. Karena memang selama ini dia tidak pernah mempermalukan dan menyakiti anaknya itu. Anaknya sendirilah yang berulah.
"Itu salahnya sendiri. Dia yang mengambil gaunku dengan paksa dan memakainya ke acara itu. Mengapa aku yang disalahkan?"
"Lancang. Aku benar-benar harus menghukummu."
Lalu Nyonya Myra dan Retha memegangi tangan Ara untuk menyeretnya ke suatu tempat.
__ADS_1
"Lepaskan aku. Kalian mau membawa aku kemana. Lepaskan."
"Tentu saja memberimu hukuman yang biasa kami lakukan pada Shiena waktu kecil. Mengurungmu ke dalam gudang bawah tanah. Biar kamu merenungi kesalahanmu baik-baik disana."
Ara yang takut dengan gelap, berusaha sekuat tenaga untuk melawan mereka. Ternyata tenaganya cukup kuat juga. Mereka jatuh terhempas dan tubuh Ara pun terbebas dari genggaman mereka.
Ia lalu berlari keluar kamar dan mengunci mereka dari luar.
Bi Tina dan pelayan lain datang membantu Ara dengan menenangkannya dan memberinya minum. Lalu Bi Tina menelepon Tuan Axell diam-diam untuk segera datang membantu mereka. Axell sedang berada di kantor. Jadi ia tidak bisa langsung tiba di sana.
Ternyata Nyonya Myra dari dalam kamarnya menelepon pak Suryo untuk masuk ke dalam rumah dengan membawa 2 orang penjaga dan membantunya.
Pak Suryo membuka kunci kamar sehingga Nyonya Myra dan Retha dapat keluar. Lalu Nyonya Myra memerintahkan kepada 2 penjaga itu untuk menangkap Ara dan menyeretnya ke gudang bawah tanah.
Mereka terlihat ragu untuk melakukannya. Tapi Pak Suryo memarahi mereka dan menyuruh mereka melaksanakan perintah tersebut.
Mereka pun menarik tangan Ara yang meronta-ronta minta dilepaskan. Tapi tenaga 2 pria tentunya sangat besar dibanding 2 wanita tadi. Ara pun tidak berhasil lepas dari mereka.
Saat tiba di ruang bawah tanah Ara sudah mulai merasa ketakutan. Kepalanya terasa pusing. Jantungnya berdebar sangat kencang. Keringat dingin mulai bermunculan.
__ADS_1
Ia lalu mendengar suara pintu yang ditutup dengan kencang. Ia pun melonjak kaget. Ia lalu duduk dengan lutut ditekuk dan lengannya menyelimuti tubuh dan lututnya. Ia membenamkan kepalanya dalam-dalam.
Tubuhnya gemetaran dan ia merasa sangat dingin. Ia terlihat sangat ketakutan.