What is My Destiny

What is My Destiny
16 Terkejut


__ADS_3

Setibanya di apartemen, Ara masih saja memikirkan kejadian tadi siang. Bertemu dengan seorang ibu yang memintanya berpura-pura menjadi anaknya yang hilang.


Ia merasa kasihan dengan ibu yang bernasib malang itu. Belum lagi suaminya sedang sakit keras. Ia ingin membantunya. Tapi ia juga takut. Apakah ini termasuk perbuatan yang melanggar hukum?


Hmm sebenarnya ini bukan hanya sebuah bantuan. Tapi juga termasuk sebuah tawaran untuk melakukan perjanjian kontrak. Karena ibu itu menjanjikan akan memberinya sejumlah uang dengan jumlah besar jika ia mau membantunya.


Ara cukup tergiur dengan tawaran itu. Apalagi saat ini kondisi keuangannya sedang dalam kesusahan. Keluarganya di kampung juga membutuhkan banyak uang.


Uang itu bisa sangat membantu masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Membiayai berobat ayahnya yang sedang sakit keras dan juga kebutuhan hidup mereka.


Jika ia menyetujuinya maka ini akan saling menguntungkan bagi kedua pihak. Ia bisa membantu ibu yang malang itu, dan juga bisa membantu keuangan keluarganya.


Tapi itu juga melanggar hati nuraninya. Berpura-pura menyamar menjadi seseorang. Itu termasuk penipuan juga kan.


Ara terlihat bimbang. Ia bingung memutuskan apa yang sebaiknya ia lakukan.


Setelah berhari-hari berpikir dengan penuh kebimbangan, ia akhirnya membuat sebuah keputusan. Ia pun menghubungi sebuah nomor hp yang ada pada kertas yang daritadi dipegangnya.


"Selamat siang apakah ini dengan.."


"Nak Ara. Ini dengan saya, Ibu Myra. Aku senang sekali kamu meneleponku. Ini berarti kamu ingin memberikan sebuah kabar baik untukku."


"Benar, Bu. Setelah memikirkan dan mmepertimbangkannya baik-baik, aku bersedia menerima tawaran itu"


"Terima kasih Ara. Kamu adalah anak yang baik. Kamu telah menjadi malaikat penolong keluarga kami. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Sekarang aku perlu menyiapkan beberapa dokumen dan surat perjanjian untuk kamu lihat dan setujui. Aku akan menjelaskannya secara detail apa yang perlu kamu lakukan nanti."


Setelah percakapan di telepon selesai, Ara menghela napasnya. Ia berharap semoga yang dia lakukan tidak merugikan dan membahayakan siapapun. Terutama bagi dirinya.

__ADS_1


Di sisi lain, ibu yang tadi berbicara dengan Ara di telepon, terlihat tersenyum puas. Rencananya berhasil. Sungguh gampang sekali untuk menipu anak bodoh itu.


Dengan begini, anak itu telah masuk dalam perangkapnya dan akan berada dalam kendalinya. Sungguh sebuah rencana yang luar biasa hebat dan sangat menguntungkan.


"Bagaimana Bu? Rencana kita berhasil? Dia mengiyakannya?" tanya seorang wanita muda bertubi-tubi padanya.


Ibu itu mengangguk mengiyakan. Mereka berdua terlihat bersorak dan sangat bahagia.


"Setelah ini, kita perlu mengumpulkan barang bukti. Liontin, hasil tes DNA, dan seorang ayah palsu.


"Kita harus bergerak cepat. Waktu kita sudah mepet. Sebelum ayahmu kembali ke Paris akhir bulan ini, masalah ini harus segera diselesaikan.


Keesokan paginya, selesai sarapan, Retha mengajak ayahnya untuk membicarakan suatu hal penting yang berkaitan dengan Shiena.


Mendengar nama Shiena disebut, ayah langsung penasaran. Ada hal penting apakah.


"Begini ayah. Ayah ingat aku pernah mengatakan bahwa aku melihat seorang pria dewasa mendekati tubuh Shiena yang tergeletak tak sadarkan diri seblum dia menghilang?"


"Iya ayah ingat. Lalu?"


"Beberapa hari yang lalu aku seperti melihat pria itu. Lalu ibu segera mengutus seseorang untuk mencari dan menyelidikinya."


"Berdasarkan hasil penyelidikan, ternyata benar itu dia. Ia memiliki seorang anak perempuan berusia 23 tahun."


"Kami menduga anak perempuan itu adalah kak Shiena. Dan setelah memastikannya, ternyata kami benar."


"Benarkah? Jadi Shiena telah ditemukan? Dimana ia sekarang? Ayo kita segera pergi menemuinya.."

__ADS_1


"Sabar dulu ayah. Dengarkan penjelasanku sampai selesai."


"Tapi sepertinya kak Shiena mengalami amnesia. Karena saat aku dan ibu menemuinya dan mengenalkan diri kami padanya, ia seperti tidak mengingat kami. Ia malahan terlihat bingung dan menjadi takut pada kami."


"Pada awalnya kak Shiena tak mau mempercayai cerita dan penjelasan yang kami berikan. Tapi akhirnya kami berhasil membuatnya percaya."


"Dan kami berencana untuk membawa kak Shiena ke rumah pada akhir pekan ini."


"Bagus..ini sungguh berita yang luar biasa. Akhirnya kamu berhasil menemukan kakakmu. Ayah sangat senang dan bangga padamu Retha. Kamu telah melakukan hal yang heroin bagi ayah dan keluarga ini. Ayah sungguh tak sabar menanti akhir pekan agar bisa segera bertemu kakakmu."


"Kalau begitu ayah harus segera memberitahu kabar gembira ini pada Axell dan keluarganya."


Setelah ayahnya berkata akan memberikan kabar gembira itu pada Axell dan keluarganya, Retha terlihat memaksakan senyumnya di depan ayahnya.


Kabar gembira. Tentu saja ini merupakan hal menggembirakan. Rencana ia dengan ibunya sungguh berhasil.


Akhir pekan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tuan Arman dan Axell duduk gelisah di ruang tamu. Mereka sudah tidak sabar menunggu kedatangan tamu mereka. Di sana juga hadir orang tua Axell.


Sedangkan Nyonya Myra dan Retha terlihat duduk santai dan sesekali mereka saling melirik dan tersenyum senang. Rencana mereka tinggal selangkah lagi.


Terdengar suara pintu terbuka dan seorang pria paruh baya masuk bersama seorang wanita muda.


Wanita itu dan Axell saling bertatap muka. Lalu mereka sama-sama terkejut dan saling menyebut nama masing-masing secara spontan dan berbarengan.


"Ara..!!???"


"Ttu..Tu..Tuann..Axell.."

__ADS_1


__ADS_2