What is My Destiny

What is My Destiny
15 Berpura-pura Menjadi Anakku


__ADS_3

Hari Minggu pagi, teman-teman yang tinggal bersama dengan Ara sedang sarapan bersama. Setelah itu mereka berencana akan pergi. Tetapi Ara tidak ikut bergabung dengan mereka.


Sebenarnya apartemen itu disediakan oleh perusahaan untuk para karyawan senior yang sudah memiliki jabatan. Namun karena Ara merupakan karyawan terpilih yang pernah mendapatkan beasiswa, ia pun mendapatkan fasilitas ini.


Karena beda usia dan jabatan di kantor, Ara sering merasa canggung saat mengobrol dan berada diantara mereka. Sehingga ia jarang berkumpul bersama mereka.


Biasanya dia hanya akan pergi sendirian saat siang hari untuk makan di mall yang ada di sebelah apartemennya.


Setelah teman-temannya pergi, ia turun ke bawah untuk mengecek kotak surat.


Saat menunggu lift, ia teringat dengan bosnya yang dingin dan sombong itu. Dalam hatinya, ia berharap bisa bertemu dengannya lagi di sini. Ia pun kaget dan sadar bahwa pikirannya sedang ngawur dan aneh. Bisa-bisa nya ia berharap seperti itu.


Setelah tiba di lantai bawah, ia menuju ke bagian kotak surat. Ia menemukan ada sebuah surat dari ibunya. Ara senang sekali melihat surat itu karena ia sangat merindukan mereka dan sudah lama tidak mendengar kabar mereka.


Ia membaca surat itu. Ternyata ibunya memberi kabar bahwa ayahnya sedang sakit keras. Namun ayahnya tidak mau pergi ke dokter. Ia juga meminta ibu untuk merahasiakannya. Ayah tidak mau Ara mengkhawatirkan dirinya yang jauh di sana.


Ayah selalu mengatakan kalau ini hanya sakit biasa. Istirahat beberapa hari maka akan sembuh. Tapi sudah hampir seminggu, sakit ayah tidak juga membaik.


Ibu merasa khawatir tetapi ibu tidak bisa memaksa ayah ke dokter karena mereka juga sedang ada masalah keuangan.


Sakit beberapa hari membuat ayah tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang. Tetapi persediaan uang mereka makin menipis karena digunakan untuk keperluan hidup mereka sehari-hari.

__ADS_1


Ara merasa sedih setelah membaca surat itu. Ia mengetahui kondisi keluarga nya sedang dalam kesusahan. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka di saat seperti ini.


Ia pun pergi ke atm dan mengambil sebagian besar uang yang ada di rekeningnya. Ia lalu mengirim uang itu untuk ibunya lewat wesel pos. Uang yang dimilikinya juga tidak banyak, mungkin hanya bisa digunakan untuk berobat. Tapi tidak bisa membantu biaya hidup keluarganya.


Belum lagi ia juga perlu untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Ia pun harus berhemat.


Siang ini ia memilih hanya makan semangkuk baso dengan segelas teh tawar di food court mall.


Saat sedang makan sambil melamun memikirkan keluarganya, tiba-tiba datang seorang ibu menghampiri mejanya sambil membawa baki yang berisi minuman jus.


Ibu itu bertanya, "Permisi, apakah saya boleh duduk disini? Karena meja yang lain sudah pada penuh."


Ara menjawabnya dengan ramah, "Iya boleh, silahkan."


Penampilan dan gaya ibu tersebut tidak terlihat biasa, ia terlihat seperti orang kaya dan berkelas. Bisa dibilang penampilannya sangat terlihat mencolok di foodcourt ini. Tetapi Ara tidak menyadarinya karena ia sedang pusing memikirkan ayahnya yang sakit. 


Banyak orang yang menatap ibu itu dengan tatapan aneh. Tetapi ibu itu tetap cuek dan tidak memedulikan mereka.


Kemudian ibu itu membuka percakapan dengan bertanya sesuatu pada Ara, "Berapa usiamu, nak? Sepertinya sekitar 20an ya."


"Benar, Bu, umurku 23 tahun."

__ADS_1


"Wah usiamu sama dengan anakku. Tapi sayang aku tidak tahu bagaimana keadaan anakku sekarang ini."


"Ehmm memang kenapa dengan anak ibu?"


"Sewaktu kecil ia menghilang, dan sudah 15 tahun lebih kami belum juga menemukannya."


"Kasihan sekali anak ibu. Ibu pasti sedih sekali."


"Saat ini bahkan suamiku sampai sakit keras. Ia selalu merindukan anak kami dan berharap ia segera kembali. Setiap hari melihat kondisi suamiku itu membuat hatiku bagai tersayat-sayat pisau."


"Ibu yang sabar ya. Aku mendoakan semoga kalian bisa segera menemukan anak kalian yang hilang dan semoga suami Ibu cepat pulih dari sakitnya."


"Terima kasih nak. Kamu sangat baik. Aku jadi merasa senang bisa mengobrol denganmu seakrab ini. Kamu tahu tidak, aku merasa kamu seperti anakku saja."


"Mmm..Nak, apakah kamu mau membantuku?"


Ibu itu tiba-tiba menggenggam kedua tangan Ara seperti merangkulnya.


"I..ii..iya..tentu saja. Aku akan merasa senang sekali kalau bisa membantu Ibu." Jawab Ara sedikit kaget saat tiba-tiba tangannya dirangkul.


"Berpura-pura menjadi anakku."

__ADS_1


"Haa..aa.." Ara hanya bisa terdiam bengong dengan mulut sedikit menganga terbuka mendengar perkataan Ibu itu.


__ADS_2