
Tuan Arman pagi ini berangkat ke Paris. Nyonya Myra ikut menemaninya ke sana selama beberapa hari.
Walaupun Shiena sudah ditemukan, tetapi Ayahnya tetap kembali tinggal di luar negri. Karena ia tidak bisa meninggalkan bisnis real estate yang sudah lama dikelolanya di sana.
Belum sehari ayahnya pergi, Retha sudah berbuat ulah walaupun tidak ada Nyonya Myra yang selalu melindungi dan membantunya.
Ia masuk ke kamar Ara saat orangnya sedang tidak ada. Lalu ia membongkar dan mengacak barang-barang Ara.
Dia melihat ada sebuah jam tangan cantik yang masih baru. Ia pun mengambilnya dan memasang jam itu di tangannya.
"Hmm terlihat cantik dan cocok juga di tanganku."
Ara masuk ke kamarnya dan melihat Retha ada di sana. Ara sudah sering melihat Retha masuk ke kamarnya seperti itu tanpa ijin.
Banyak barang-barang miliknya yang jatuh berserakan di lantai. Ia pun memunguti barang-barang tersebut dan merapihkannya.
Lalu ia melihat Retha tersenyum senang sambil memandangi tangannya berkali-kali.
"Itu kan.." Ara lalu mempercepat langkahnya dan menggapai tangan Retha untuk melepas jam tangan yang melingkar di tangannya itu.
"Lepaskan jam tangan ini. Kamu tidak boleh mengambilnya."
Retha menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Ara.
"Tidak mau. Aku suka jam ini dan jam ini adalah milikku sekarang."
"Ku bilang lepaskan." Ara kembali mencoba melepasnya.
"Arrgghh.." Ara terjatuh karena dihempas tubuhnya. Namun ia kembali bangkit dan berusaha lagi melepaskannya.
Ia terus berusaha merebut jam tangan itu. Selama ini ia tidak mempermasalahkan barang-barang yang diambilnya. Tapi jam tangan ini oleh-oleh dari Ryon. Tentu dia harus menyimpan dan menjaganya dengan baik.
Akhirnya Ara memberi tawaran barter dengan memberikan Retha seluruh kartu kredit yang diberikan ayah padanya.
Retha tentu mau karena ayahnya sudah sering memarahinya terlalu boros dan mengancam akan memblokir kartu kreditnya jika masih tidak mengurangi hobi belanjanya.
Ara menghela napas setelah Retha keluar dari kamarnya. Untung dia masih mempunyai uang simpanan dari milik pribadinya dulu. Ia juga jarang menggunakan kartu-kartu tersebut karena ia jarang berbelanja.
"Sepertinya aku harus mencari tempat yang aman untuk menyimpan barang-barangku yang berharga." Ucap Ara sambil berpikir.
__ADS_1
Akhirnya Ara menemukannya.
"Aku tahu. Tante Tamara sangat baik padaku, dia pasti tidak masalah jika aku menitipkan barang-barang berhargaku padanya. Rumah kami juga berdekatan, jadi tidak terlalu merepotkan."
Ia pun memasukkan barang-barang yang sangat penting dan berharga miliknya ke dalam sebuah tas dan pergi ke rumah Tante Tamara yang terletak di sebelah rumahnya.
"Shiena, kebetulan sekali kamu datang. Aku baru mau meneleponmu untuk mengundangmu datang ke acara ulang tahun paman Revan 2 minggu lagi. Kami merayakan ultah ini secara sederhana saja, tidak ada banyak tamu yang hadir. Hanya teman-teman dekat saja. Jadi kamu datang ya."
"Baik tante."
"Ohh iya apa itu yang sedang kamu pegang?"
"Begini tante, aku bermaksud untuk menitipkan tas ini di rumah tante. Ini barang-barang penting dan berharga milikku."
"Tante tahu pasti karena adikmu ya. Kamu harus tetap sabar dan kuat menghadapi dia. Karena dia memang anak yang manja."
Tante Tamara terus asik berbicara dengan Ara sambil berjalan masuk ke ruang penyimpanan.
"Tapi tante senang karena kamu sekarang sudah dewasa jadi lebih kuat dan tegar. Tante yakin kamu bisa menghadapi kelakuan adikmu."
"Iya tante. Terima kasih tante. Kalau begitu aku pulang dulu ya." Ara mohon pamit setelah mereka menyimpan barang titipan Ara di tempat yang aman.
"Maaf Tante, aku sedang buru-buru karena mau pergi. Terima kasih ya tante. Bye, aku jalan pulang dulu."
Ara terburu-buru pulang karena takut Axell sampai di rumahnya dan akan bertemu dengannya. Dia pasti tidak suka kalau tahu ia ke sini untuk menitip barang dan akan mengatakan bahwa rumahnya bukan tempat penitipan barang dengan ekspresi wajahnya yang dingin itu.
Selain itu dia juga ada janji dengan Ryon untuk pergi nonton dan makan bersama sore ini.
Ryon menjemput Ara di di rumahnya. Mereka akan pergi ke mall Highlight yang merupakan mall milik keluarga Ferician.
Ryon sudah membeli tiket menonton, sehingga saat mereka tiba di mall mereka langsung menuju bioskop. Setelah selesai nonton, mereka makan di restoran sushi.
Lalu Ryon mengajak Ara keliling di sekitar mall untuk melihat-lihat dulu sebelum pulang. Karena ia masih ingin berlama-lama dengan Ara.
Saat berjalan-jalan, Ara melihat ada sebuah gaun pesta berwarna hitam. Ia merasa walaupun gaun itu memiliki desain yang sederhana tapi terlihat mewah dan berkelas.
Ia pun berhenti sejenak dan memandangi gaun itu. Sayang dia sudah tidak punya kartu kredit lagi untuk membayarnya. Ia membayangkan memakai gaun itu saat ke acara ulang tahun Paman Revan.
Ryon melihat Ara memandangi gaun tersebut, lalu menariknya masuk ke dalam butik untuk mencoba gaun itu.
__ADS_1
Ara terlihat sangat cantik dalam balutan gaun tersebut. Sebenarnya Ara memiliki wajah yang menawan. Hanya saja penampilannya sederhana dan ia terlalu cuek jadi terkesan agak tomboy. Kecantikannya pun tertutupi.
Ara keluar dari ruang fitting, Ryon melihatnya dengan terkagum-kagum.
"Wow. Kamu cantik banget. Melihatmu memakai gaun seperti ini sungguh keberuntungan yang luar biasa bagiku. Biasanya kamu hanya memakai kemeja kerja dengan celana panjang atau jeans."
Ara merasa malu ditatap Ryon seperti itu. Ia pun segera mengganti bajunya.
"Aku ganti bajuku dulu."
"Bagaimana? Kamu pasti suka dengan gaun itu. Ayo kita ke kasir."
"Aku kurang suka dengan gaunnya karena agak sedikit terbuka. Aku merasa tidak terbiasa dan tidak cocok dengan gayaku. Ayo kita keluar saja dari butik ini."
"Tapi gaun itu sangat cocok ditubuhmu. Kamu terlihat cantik dan berkelas. Aku akan membelikannya untukmu sebagai hadiah."
"Tidak, aku tidak mau. Ayo jalan. Tidak enak dengan penjaga tokonya."
"Baiklah." Ryon sudah tahu kalau Ara pasti tidak mau ia membelikan gaun itu untuknya. Ia pun sudah berpesan pada kasir toko untuk menyimpan gaun itu. Ia besok akan datang lagi untuk membelinya.
Keesokan harinya, ada kiriman paket untuk Ara di rumahnya. Paket itu adalah sebuah paper bag dengan tulisan nama butik yang kemarin ia datangi dan sebuah buket bunga. Walupun tidak ada nama pengirimnya, tapi Ara tau itu dari siapa.
"Dasar Ryon. Sungguh pintar, jika ia mengirimnya kesini aku pasti akan menerimanya."
Retha melihat paket itu. Ia langsung mengambilnya dan mencari-cari nama pengirimnya, tapi tidak ada.
"Dari siapa ini?" Tanyanya sambil membuka isi paper bag tersebut. Ternyata sebuah gaun hitam polos yang sederhana tapi mewah.
Ara tidak menjawabnya dan merebutnya kembali. Tapi tidak berhasil.
"Kembalikan padaku."
"Katakan dulu dari siapa. Atau kamu sendiri yang membelinya untuk dirimu dan membuat seolah-olah ada seseorang yang memberikannya padamu."
"Bukan urusanmu. Cepat kembalikan padaku."
"Ini. Ambil saja buket bunganya. Dan gaun ini untukku. Kebetulan paman Revan akan berulang tahun Sabtu depan. Aku bisa memakai gaun ini nanti."
Retha pergi meninggalkan Ara begitu saja.
__ADS_1
Ara sungguh kesal melihatnya tapi ia tidak bisa melawannya.