
"Maafkan karyawanku yang sedang mabuk.. Ohh Axell.. itu kamu.." Darren kaget dan bingung karena pria itu menarik tangan Ara seperti menahannya. Setelah itu barulah dia melihat wajah pria itu, dan terkejut!
Darren tak menyangka karyawannya Ara, mabuk hingga tak sadarkan diri dan terjatuh ke pangkuan Axell, seorang pengusaha muda yang sangat sukses dan terkenal sebagai orang yang berhati dingin dan memiliki sikap yang kasar.
Mereka selama ini memiliki hubungan yang kurang baik. Karena bisa dibilang mereka adalah saingan di dunia bisnis. Sebenarnya, Darren memiliki usia yang 3 tahun lebih tua dari Axell. Usianya sudah 28 tahun. Dia juga lebih senior di dunia bisnis perhiasan.
Tetapi, tetap saja dengan reputasi Axell dan juga apa yang diperbuat Ara padanya adalah suatu hal yang buruk. Mabuk hingga tak sadarkan diri di pangkuannya. Belum lagi ia dengar dari orang-orang yang ada disitu, Ara sempat merebut minuman dari tangan pria itu dan menghabiskannya sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya untuk meminta maaf dan membawa Ara pergi darinya tanpa membuatnya marah ataupun tersinggung. Bagaimanapun Ara adalah karyawannya sehingga ia harus membantu dan bertanggung jawab atas perbuatan karyawannya itu.
"Sekali lagi aku mohon maaf atas kelancangan yang telah diperbuat oleh karyawanku. Saat ini dia sedang mabuk berat, biarkan aku membawanya pergi dulu untuk merawatnya. Besok pagi, saat dia sudah sadar, aku akan menyuruhnya menemuimu untuk meminta maaf secara personal denganmu."
Axell berpikir. Pria ini yang adalah bosnya Ara. Mengapa mereka bisa berada di bar di malam hari dan sepertinya hanya berdua saja. Selain itu Ara juga sudah dalam keadaan mabuk. Dan sekarang pria ini mau membawanya pergi untuk merawatnya? Apa maksud dengan perkataannya itu. Dia tahu Ara hanya tinggal sendiri, dan pria ini juga masih single, belum berkeluarga. Kemanakah dia akan membawa Ara untuk dirawat saat kondisi mabuk begini?
"Tidak perlu, biar aku yang menanganinya." Axell menjawabnya dengan dingin.
__ADS_1
"Apa..? Aku sudah minta maaf padamu, dia juga tak bermaksud dan tanpa sadar melakukan perbuatan itu padamu. Mengapa hatimu begitu dingin dan sempit hingga sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain."
"Aku..Aku tegaskan padamu. Aku tidak ada maksud buruk padanya. Aku hanya ingin merawat dirinya yang sedang mabuk. Aku juga tidak mau memperburuk hubungan kita yang memang kurang baik ini. Jadi sebaiknya kamu berikan dia padaku sekarang."
"Kamu.."
"Pak Darren..Axell.. aww, kepalaku sakit dan aku.." Ara memuntahkan isi perutnya tanpa peringatan apapun dan hampir mengenai baju Axell, untung Pak Darren dengan cekatan segera menariknya menjauh dan Ara pun muntah di lantai.
Dengan lunglai, tubuh Ara terjatuh lagi di tubuh Axell dan dia tidak sadar kembali. Axell segera memapahnya.
Dia berpikir untung saja Alice dan suaminya sudah pulang dulu karena ada urusan lain. Kalau tidak, reputasi Ara dan perusahannya akan terlihat buruk. Ia lalu pergi dari bar itu dan pulang ke rumahnya.
Axell membawa Ara pulang ke rumah kontrakannya. Ia tahu dari aplikasi GPS Ara yang telah diatur saat mereka masih bersama untuk selalu terkoneksi dengannya. Ara tidak menyadari hal ini.
Axell menggantikan baju luarannya yang basah karena kena muntahannya. Walaupun saat melihat tubuh Ara yang hanya mengenakan pakaian dalam ia merasa hasrat lelakinya tergoda, tetapi ia tetap bisa menahannya.
__ADS_1
Hanya ia tidak bisa menahan hasrat untuk merasakan bibir manis dan indah milik wanita itu yang sudah sangat dirindukannya. Setelah menggantikan pakaiannya, ia pun menciumnya dengan lembut. Dan Ara pun bereaksi memberi balasan atas ciuman itu walaupun masih dalam keadaan tertidur.
Sungguh ia merindukan wanita ini dan perasaan cintanya yang meluap-luap akhirnya dapat disampaikannya pada ciuman hangat ini. Ara juga merasakan hal yang sama. Di dalam tidurnya ia seperti bermimpi. Melihat pria yang dicintainya yang sangat dirindukannya. Pria itu memberinya ciuman hangat yang sangat lembut. Ia pun membalas ciuman itu. Dan sudut matanya mengeluarkan air mata kepedihan. Karena ia tahu ini hanya mimpi yang sekejap saja akan segera berakhir.
Axell mengusap airmata itu. Lalu mengecup keningnya dan meninggalkannya sendirian di rumah itu masih dalam keadaan tertidur.
Keesokannya, Darren sudah berniat untuk memecat Ara karena perbuatannya kemarin. Walaupun ia menyadari bakat dan kemampuan Ara, tetapi apa yang Ara perbuat tidak bisa ditolerir. Belum lagi masalah ini berkaitan dengan Axell, si pengusaha yang dingin dan tak berperasaan itu. Ia takut kalau reputasi perusahaannya akan rusak karena masalah ini.
Ia sudah berpesan pada sekretarisnya kalau Ara datang suruh ia segera menemuinya di ruangannya.
Tidak lama kemudian, telepon kantor yang ada di ruangannya berdering. Itu adalah panggilan dari Axell untuknya.
"Halo Darren. Ini aku Axell. Maaf aku mengganggumu pagi-pagi begini. Aku meminta waktumu sebentar untuk membicarakan soal kemarin malam. Mengenai Ara yang mabuk dan pingsan dipangkuanku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tetapi aku harap kamu mau menyimpan hal ini sebagai rahasia. Jangan katakan pada siapapun, terutama pada Ara. Beritahu saja kalau kamu membayar salah satu pelayan wanita di sana untuk membantunya pulang dan merawatnya yang pingsan karena mabuk."
"Aku tahu Ara tidak bersalah dan tidak sengaja dengan apa yang telah diperbuatnya kemarin. Ia menjadi mabuk seperti itu karena ia menghargai pelanggan spesialmu, Alice. Kuharap, Ara bisa terus bekerja sebagai karyawanmu dan kamu bisa menghargai serta memperlakukannya dengan baik selama bekerja di perusahaanmu."
__ADS_1