
Ara akhirnya sadar. Ia merasa asing dengan keadaan sekitarnya lalu ia bertanya, "Dimana ini?"
Seorang suster memberi tahu kalau ia ada di ruang VIP pasien di rumah sakit.
Kevin yang menunggui Ara di luar kamar masuk ke dalam saat mendengar suara mereka.
"Nona Shiena, kamu sudah bangun?"
"Pak Kevin, anda daritadi menemaniku di sini?"
"Jangan panggil aku Pak, panggil saja namaku. Kamu juga kan termasuk atasanku."
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa memanggilmu dengan sebutan itu. Oh ya, kamu tetap merahasiakan identitasku ini kan pada teman-teman kantor?"
"Iya, Tuan Axell sudah berpesan padaku untuk merahasiakannya dari orang-orang kantor."
Mendengar nama Axell disebut, Ara teringat padanya dan pada kejadian di taman tadi.
"Mm..kamu..menungguiku disini sendirian? Apa kamu yang membawaku kemari?"
"Iya aku sendirian. Iya aku tadi yang mengantarmu kemari."
"Mm.. tidak ada orang lain yang menemanimu mengantarku ke sini?"
"Maksudmu Tuan Axell? Dia yang menggendongmu saat masuk ke dalam rumah sakit."
Ara merasa malu mengetahui bosnya itu yang menggendongnya.
"Lalu, dimana dia sekarang?"
"Tuan Axell ada urusan. Jadi ia sudah balik. Dan ia menugaskanku orang yang sangat dipercayanya untuk menemanimu."
"Begitu. Aku sudah merasa baikan, aku mau pulang sekarang." Ara berusaha melepaskan selang infus yang dipasang di lengannya.
"Ehh jangan..kata dokter kamu belum boleh pulang. Dokter ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan hasil pemeriksaan dirimu."
Ara masuk ke ruangan dokter yang memeriksanya. Kevin menunggu di luar karena Ara yang menyuruhnya.
Dokter bertanya apakah dia datang sendiri dan menyuruhnya menghubungi keluarga atau orang terdekatnya datang untuk ikut mendengarkan penjelasan yang akan dia berikan. Ara menjawab dia hanya sendiri dan keluarganya berada jauh di luar kota.
Dokter memperlihatkan hasil scan kepalanya. Dokter mengatakan bahwa di sekitar otaknya terdapat seperti gumpalan darah berukuran sebesar kelereng yang mengganggu sebagian sarafnya.
"Apakah kamu pernah mengalami kecelakaan atau cedera pada bagian kepalamu?"
Ara menjawab, "Aku juga tidak terlalu ingat. Ayahku pernah mengatakan dulu kecil aku pernah mengalami kecelakaan dan terluka parah dibagian kepalaku."
__ADS_1
"Kapan kecelakaan itu terjadi?"
"Mungkin sekitar belasan tahun yang lalu. Aku tidak terlalu ingat."
"Apakah kamu sering mengalami sakit kepala selama ini? Dan apakah sakit kepala itu menyebabkan dirimu pingsan seperti yang terjadi padamu pagi ini?"
"Iya dok, saya sering merasa sakit kepala. Saya bahkan memiliki obat pereda sakit yang selalu saya minum saat sakitnya kambuh."
"Tapi biasanya sakit kepala yang kualami tidak begitu parah. Tidak seperti kejadian tadi pagi."
"Jelaskan padaku lebih detail apa yang kamu rasakan tadi."
"Saya seperti melihat ada gambaran suatu ingatan masa lalu di benakku. Tapi aku tidak jelas melihatnya juga tidak ingat pernah mengalami peristiwa yang kulihat itu. Lalu kepalaku terasa berdenyut."
"Setelah itu saya melihat lagi gambaran ingatan yang lebih jelas seperti kejadian yang baru saja terjadi padaku. Lalu ingatan itu seperti memaksaku untuk mengeluarkannya sehingga kepalaku terasa sangat sakit seperti mau pecah. Lalu aku merasa semuanya terlihat hitam dan gelap dan tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya."
"Nak, dengarkan aku. Kondisimu ini terlihat cukup serius. Selama ini sakit kepalamu tidak terlalu mengganggumu. Tapi belakangan mungkin kamu sering mengalami suatu peristiwa atau kejadian yang dulu pernah kamu alami sebelum amnesia."
"Memori itu bermunculan di otakmu. Tetapi kamu tidak siap dan mungkin tidak kamu inginkan untuk mengingatnya."
"Kamu harus dioperasi untuk mengangkat gumpalan di kepalamu itu. Sebaiknya kamu segera menghubungi keluargamu agar kita bisa secepatnya melakukan operasi ini."
"Baik dokter." Ara mengiyakan dokter itu tapi dalam hatinya ia berpikir ia tidak bisa memberitahu mereka akan hal ini.
Hal itu dikarenakan keluarganya yang saat ini berada didekatnya bukanlah keluarga yang sesungguhnya.
Ia keluar ruangan dengan wajah kusut yang penuh pikiran. Kevin melihat raut wajahnya yang seperti itu bertanya dengan khawatir, "Bagaimana kondisimu nona Shiena? Apakah ada sesuatu yang serius? Apa aku perlu untuk mengabari orangtuamu agar mereka segera datang kemari?"
"Tidak. Jangan beritahu mereka. Aku tidak apa-apa. Aku dalam keadaan baik-baik saja."
"Lalu kenapa raut wajahmu terlihat seperti itu? Seperti habis mendengar sesuatu yang tidak baik."
"Ini..ini karena aku memikirkan biaya rumah sakit, apalagi aku dirawat di ruang VIP. Pasti mahal."
"Ohh mengenai bayaran nona tenang saja. Tuan Axell sudah mengurusnya. Lagipula nona kan anak pengusaha kaya. Bayaran mahal tidak akan jadi masalah."
"Ohh iya aku lupa, aku masih mengingat identitas diriku yang dulu."
"Haha..ahahaha..nona ternyata lucu sekali."
Ara tidak marah ataupun malu ditertawakan Kevin. Karena jawaban itu memang sengaja dikarang untuk berbohong padanya.
"Kata dokter kalau urusan administrasi telah selesai, aku sudah boleh pulang. Ayo kita kembali ke kantor. Ohh iya apakah keluargaku tahu kalau aku ada di rumah sakit?"
"Tidak, Tuan Axell berpesan padaku jangan mengabari keluargamu kecuali mendapat ijin darimu. Ia bilang kamu tidak suka merepotkan orang dan tidak suka orang ikut campur urusanmu."
__ADS_1
"Selain itu ia juga bilang kalau kamu keras kepala dan tidak suka dipaksa. Jadi kalau kamu mau pulang, aku hanya harus mengantarmu. Tidak boleh mencegah atau melarangmu."
"Bos kesayanganmu sungguh perhatian dan pengamat yang baik. Sampai ia bisa tahu dengan detail seperti apa aku dan apa yang aku mau."
"Haha.. Itu karena Tuan Axell sangat perhatian dan peduli pada nona."
Lalu mereka keluar dari rumah sakit dan kembali ke kantor.
"Nona Shiena yakin tidak mau ke rumah saja untuk beristirahat dulu?" Tanya Kevin untuk yang ke sekian kalinya saat dalam perjalanan.
Ara pun mulai merasa kesal. Lalu ia menjawab, "Apa kamu lupa pesan dari bos kesayanganmu? Jangan banyak tanya, turuti saja kemauanku."
"Iya-iya nona."
"Apa bosmu itu ada di kantor sekarang?"
"Sepertinya tidak. Tadi ia bilang akan balik ke rumah untuk mandi karena badannya mengalami ruam dan gatal-gatal."
"Mengapa bisa seperti itu?"
"Mm..mm.."
"Kenapa? Apakah karena aku? Cepat katakan padaku."
"Tuan Axell sebenarnya alergi bunga lavender, dia tidak bisa terkena minyak lavender. Tapi dia mengolesimu minyak itu saat kamu pingsan agar kamu bisa merasa lebih tenang dan tidak gelisah."
"Kalau dia alergi, kenapa dia memiliki minyak itu?"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin untuk diberikan padamu."
"Sebelumnya ia pernah memberiku satu botol minyak itu. Bukan memberi sih, tapi ia meminjamkannya. Hanya saat aku kembalikan ia menolaknya dengan mengatakan tidak mau menggunakan barang bekas dipakai."
"Sudah kubilang Tuan Axell perhatian dan peduli padamu. Hanya mungkin dengan cara yang kasar. Karena memang begitu temperamen dan karakternya. Tapi sebenarnya ia memiliki hati yang baik dan lemah."
"Aku setuju kalau ia bertemperamen kasar. Tapi hatinya tidak baik dan lemah, melainkan hatinya beku seperti es dan tak berperasaan.
Bayangkan, saat aku kesakitan sikapnya masih saja kasar bahkan ia menepis tanganku saat memegang batu marmer itu untuk bersandar dan mengusirku."
"Itu karena ia sangat menjaga taman itu. Ia tidak suka sembarang orang masuk. Apalagi batu marmer itu. Ia sudah memperlakukan dan menganggapnya seperti teman kecilnya, nona Shiena."
Ara hanya diam saja. Lalu Kevin tersadar ada ucapan yang salah. Ia buru-buru menambahkan.
"Mm..Walaupun Tuan Axell masih tidak mau mengakui nona, tapi ia tetap peduli padamu. Biasanya ia selalu terlihat tenang dan tanpa ekspresi walau apapun yang terjadi."
"Tapi tadi pagi wajahnya sangat cemas dan mengkhawatirkanmu. Saat di rumah sakit, raut wajahnya terlihat sedih dan menyesal karena berbuat kasar padamu."
__ADS_1
Ara terlihat termenung memikirkan perkataan Kevin.