What is My Destiny

What is My Destiny
45 Mulai Merasakan


__ADS_3

"Aku lapar. Aku mau minum segelas susu coklat hangat." Rengek Shiena pada suatu malam saat mau tidur.


Suster perawat yang selalu berjaga di kamarnya lalu pergi ke dapur untuk membuatkan segelas susu coklat hangat untuknya.


Shiena lalu mengikutinya ke dapur. Suster berusaha membawanya kembali ke kamar, tetapi Shiena merengek tidak mau kembali karena ia takut sendirian di kamarnya.


Shiena langsung meminum susu coklat hangatnya di dapur setelah selesai dibuat. Baru minum beberapa teguk, dia jatuh pingsan. Dan beberapa detik kemudian dia sadar kembali tetapi dengan tangan yang memegangi lehernya seperti mengalami sesak napas dan leher yang tercekat.


"Nona Shiena..nona anda kenapa.." suster memanggil-manggil Shiena dengan panik.


Axell yang mendengar teriakan itu bergegas mendatangi mereka. Dia melihat susu coklat yang tumpah di dekat tubuh Shiena. Ia lalu mengambil obat alergi untuk Shiena minum.


Untung saja susu coklat yang dibuat hanya mengandung sedikit susu. Sehingga kondisi Shiena tidak begitu parah dan bisa segera membaik.


Axell tahu saat ini pribadi Ara yang sedang muncul. Karena biasanya saat terjadi hal-hal yang tak mengenakkan, pribadi Shiena kecil akan menghilang dan sosok Ara akan muncul menggantikannya.


Axell lalu menggendong Ara ke kamar dan menyuruh suster untuk meninggalkan mereka berdua.


Axell membaringkan Ara ke atas kasur. Ia lalu mengecup keningnya dengan lembut dan mengusap kepalanya untuk menenangkannya. Ara seperti merasa ada suatu kehangatan dalam hatinya. Ia lalu memejamkan matanya dan tertidur.

__ADS_1


Axell menemani Ara dan tertidur di sampingnya. Paginya, Shiena terbangun masih dengan pribadi Ara. Biasanya setiap pagi saat bangun tidur, Shiena kecil yang akan muncul.


"Pagi Ara.. kamu sudah bangun." Axell menyapa Ara yang terlihat seperti sedang melamun.


Ara hanya mengangguk tetapi tatapan matanya terlihat sedikit melembut padanya. Axell berpikir sepertinya hari ini Ara sudah agak bisa memberikan respon.


Dalam batinnya, mungkin Ara sudah mulai merasakan kehangatan yang aku berikan.


Axell lalu membelai rambutnya.


"Ara, aku sangat merindukanmu." Ara menatapnya kemudian matanya menitikan airmata dan ia mulai terisak dalam diam.


Axell lalu mengantarnya pergi terapi sekaligus berkonsultansi dengan terapisnya.


Axell menanyakan mengapa pribadi Shiena saat kembali menjadi Ara menjadi seperti itu, tidak seperti Ara yang biasanya. Terapis mengatakan bahwa sosok Ara mengalami luka hati yang membuatnya merasa ketakutan dan traumatik akibat hal buruk yang terjadi padanya. Axell tahu hal buruk itu berkaitan dengan dirinya. Terapis menyarankan pada Axell untuk terus melakukan hal-hal kecil yang disukainya agar membuatnya senang dan menyadari keberadaan Axell yang sangat peduli dan menyayanginya.


Setelah selesai, Axell meminta suster membawa Ara ke lobby depan rumah sakit untuk menunggunya di sana karena ia mau melakukan pembayaran dulu.


Ara yang duduk di ruang tunggu, terus memandangi Axell yang sedang melakukan pembayaran di kasir. Pandangannya terlihat penuh kerinduan dan kepedihan.

__ADS_1


Saat Axell berjalan menuju ke arahnya dengan memegang sebuah amplop coklat di tangannya, Ara tersentak kaget. Ia merasa cemas dan ketakutan. Dia lalu mengucap pelan kata "Maafkan aku.." dan berlari pergi dari ruangan itu.


Axell dari kejauhan melihatnya dan segera berlari mengejarnya. Ara sudah berlari hampir ke jalan raya. Dia berusaha menggapai Ara dan memeluknya.


Namun Ara memberontak dan mendorong tubuhnya menjauh. Sambil menangis dia berkata, "Aku memang seorang pembohong dan penipu. Maafkan aku. Kamu berhak marah dan mengusirku. Aku akan pergi sekarang.."


"Tidak Ara, kumohon sadarlah. Itu sudah berlalu. Aku yang salah karena tidak mempercayaimu. Kumohon.. sadarlah..."


"Tidak. Lepaskan aku. Aku tidak pantas dimaafkan. Aku tidak mau menyakitimu lagi. Biarkan aku pergi.." Ara meronta melepaskan diri dan berlari meninggalkan Axell.


Namun tanpa disadarinya, ada sebuah mobil melintas di dekatnya dengan sangat cepat.


Axell segera berlari mengejarnya dan memeluk tubuhnya dengan erat untuk melindungi dirinya.


"Brakk..." Ara merasakan tubuhnya terlempar dan terjatuh ke lantai bersama dengan seorang pria yang sedang memeluknya dengan erat. Ia merasa ada benturan keras pada tubuh dan kepalanya namun ia tidak begitu merasakan sakit.


"Ara..." Mendengar suara lemah dan parau memanggil namanya, Ara mendongak ke atas, ke arah wajah Axell yang memanggilnya. Ia melihat mata Axell menatapnya lembut, lalu Axell mengernyit kesakitan dan perlahan matanya meredup dan terpejam. Ara merasakan pelukan erat ditubuhnya makin melemah. Pakaiannya mulai basah oleh darah yang mengalir dari tubuh pria itu.


"Tidaakkk...Axelll..." Ara sangat terkejut dan ketakutan, lalu ia juga pingsan.

__ADS_1


__ADS_2