What is My Destiny

What is My Destiny
35 Ciuman lembut


__ADS_3

Semalam, Axell menginap di rumah penginapan yang bernama Anthoro. Dia akan tinggal disitu selama beberapa hari berada di perkebunan.


Setelah bangun di pagi harinya, Axell keluar dari kamar untuk makan sarapan yang telah disediakan dari hotel. Lalu selesai sarapan, ia berencana akan pergi mencari Ara.


Axell tidak tahu dimana Ara tinggal dan apa yang Ara lakukan hari ini. Ia tidak menanyakannnya pada Ara kemarin sore karena ia langsung pergi meninggalkan Ara begitu ia mengalami kekalahan saat balapan.


Saat melewati meja resepsionis, dari luar terdengar suara deru motor yang sangat kencang. Suara itu berasal dari depan rumah yang ada di sebrang rumah penginapan tempat ia menginap.


Axell melihat ke arah rumah tersebut. Terlihat sebuah motor gede (moge) yang sedang di gas dengan kencang oleh pengendaranya. Pengendara moge itu adalah pria yang mengalahkannya saat balapan. Lalu pria itu melaju kencang pergi dengan moge nya.


Axell lalu bertanya pada resepsionis siapakah pria itu. Resepsionis memberitahu bahwa pria muda itu adalah anak dari pemilik rumah penginapan ini. Namanya Reynaldi Anthoro.


Keluarga Anthoro merupakan keluarga yang sangat terpandang. Mereka adalah orang terkaya di kampung ini. Selain memiliki banyak rumah penginapan, mereka juga memiliki beberapa mobil jeep untuk disewakan bagi para wisatawan.


Rey adalah anak lelaki satu-satunya di keluarga Anthoro dan juga anak paling bungsu. Kedua kakaknya sudah menikah dan tinggal di kota bersama suami dan anak-anak mereka. Jadi dia lah yang mengurus dan mengawasi segala usaha milik keluarganya ini.


Di kota, keluarga mereka juga memiliki beberapa rumah penginapan. Tetapi Rey lebih senang tinggal di perkebunan, jadi dia sering bolak balik ke kota untuk mengurus bisnis keluarganya itu.


Hubungan Rey dan Ara sungguh dekat. Mereka selalu bermain bersama dari dulu kecil hingga sekarang. Rey selalu mendekati Ara dan secara terang-terangan menyukai Ara. Tapi Ara hanya menganggapnya sebagai adiknya saja. Karena usia Rey lebih muda dua tahun dari Ara.


Keluarga Rey juga sangat baik dan suka membantu keluarga Ara. Mereka menjadi pelanggan tetap yang memperbaiki mobil-mobil mereka di bengkel milik ayah Ara.


Axell masih mencari Ara. Tempat ini masih asing baginya jadi agak sulit untuk mencari Ara. Apalagi ia tidak tahu dimana wanita itu kira-kira berada saat ini. Untung saat ia melewati area kebun teh, dia melihat ada Ara di situ. Wanita itu menggendong sebuah keranjang di punggungnya. Sepertinya dia sedang memetik daun teh.


Axell berjalan menghampirinya. Setelah berada didekatnya, Axell melepaskan keranjang yang ada dalam gendongan Ara dan menggendongnya.


Lalu ia meminta Ara untuk mengajarkannya cara memetik daun-daun teh itu. Ara merasa bingung dan tak percaya. Seorang bos yang dingin dan angkuh seperti dia mau berpanas-panasan untuk memetik daun-daun teh ini bersamanya.


Ara pun melarang dan menyuruhnya pergi.


"Jangan, biar aku saja. Pekerjaan ini terlalu berat bagi seorang pekerja kantoran sepertimu yang terbiasa dengan ruangan ber-Ac serta laptop. Di sini juga sangat panas, kamu sebaiknya kembali saja ke hotelmu.


"Apakah kamu melarangku karena kamu tidak mau berdekatan denganku atau.. karena kamu sangat perhatian dan peduli padaku?" Seperti biasa, wajahnya sangat datar walaupun ia seperti sedang menggoda Ara.


"Mm..Tidak keduanya. Baiklah terserah apa mau mu saja." Ara menjawab sambil menahan kekesalannya. Pria ini selalu bisa membuatku jengkel, batinnya.


Ara mengambilkan sebuah caping dan celemek untuk Axell. Lalu ia mengajarinya bagaimana cara memetik daun teh dengan baik.


Karena melihat wajah Axell yang sangat diam dan serius saat memetik daun teh, keisengannya pun muncul. Ia berniat untuk menggoda pria itu. Ia lalu menemukan sebuah daun dengan seekor ulat berukuran besar menempel di daun itu dan memetiknya. Lalu ia menyodorkan daun itu di depan muka Axell secara tiba-tiba untuk mengagetkannya.


Axell yang adalah orang kota dan tidak terbiasa dengan ulat, terkejut dan langsung memelototi Ara.


"Jauhkan ulat itu dariku."

__ADS_1


Ara bukannya menjauhi ulat itu malah makin mendekatinya. Sehingga Axell berjalan mundur ke belakang untuk menjauh dari ulat itu.


"Aarrggghhh.. " teriak Ara kaget karena tiba-tiba tubuhnya menabrak tubuh Axell yang berhenti mendadak. Ulat di daun yang ia pegang pun terjatuh dan menghilang.


Lalu Axell menangkap tubuh Ara yang menempel padanya dan mendekati wajahnya seperti ingin menyiumnya.


Ara ketakutan dan berusaha menghindar. Axell pun tersenyum melihat ekspresi ketakutan wanita itu.


"Ternyata kamu bisa senyum juga. Kupikir selama ini kamu tidak pernah tersenyum karena kamu tidak tahu bagaimana caranya untuk tersenyum." Ucap Ara masih berani menyindirnya.


Axell kesal dibilang begitu, ia melepaskan dan mendorong wanita itu menjauh darinya. Ia lalu pergi melanjutkan memetik daun teh.


Ara pun tersenyum senang karena ia merasa telah menang.


Setelah selesai memetik daun teh, mereka makan siang bersama dan beristirahat di salah satu pondokan.


Kemudian, Ara mengajak Axell untuk berjalan-jalan dan berkeliling di sekitar perkebunan.


Mereka berjalan dalam diam dan terasa hening. Ara tidak tahu apa yang perlu dibicarakan. Dia sudah tidak mau peduli dan tidak mau berurusan dengan orang-orang yang berkaitan dengan kehidupannya saat menjadi Shiena. Dan dia juga masih belum berani mengungkap kebenarannya pada pria itu.


Sedangkan Axell diam saja karena ia menunggu Ara untuk memulai pembicaraan dan mengharapkan sebuah penjelasan darinya.


Karena sudah berjalan lama tetapi Ara masih juga tidak berbicara apapun, Axell lalu menghentikan langkahnya dan menatapnya seperti menuntut sebuah penjelasan darinya.


Akhirnya Axell pun berkata, "Kamu tidak ingin mengatakan atau menjelaskan sesuatu padaku?"


"Mengenai?"


"Mengenai?? Banyak hal. Seperti.. mengapa kamu pergi dari rumah secara diam-diam dan tidak memberitahuku dulu sebelumnya. Lalu apa hubunganmu dengan pria muda yang selalu menempel padamu itu. Mengapa kalian berdua terlihat sangat akrab." Axell berbicara dengan penuh ekspresi kemarahan dan juga kecemburuan.


Si pria dingin ini bisa juga memiliki ekspresi di wajahnya, batin Ara.


"Oke. Pertama. Aku tidak pergi diam-diam. Ada beberapa orang yang tahu tentang kepergianku. Kedua. Kita tidak ada hubungan apa-apa, jadi aku tidak perlu memberitahumu. Dan mengenai hubunganku dengan pria muda itu sama seperti jawaban kedua. Aku bukanlah siapa-siapa bagimu. Aku hanya mantan karyawanmu yang telah kamu pecat. Jadi, apapun yang kulakukan bukan urusanmu."


"Jadi selama ini, kamu hanya menganggapku sebagai mantan bos saja? Apakah dengan semua yang telah kulakukan padamu belakangan ini, aku masih tidak pernah ada dalam hatimu?"


"Lalu bagaimana denganku? Apakah aku ada di dalam hatimu?"


Axell hanya diam. Ingin sekali ia berteriak menjawab "Tentu saja. Kamu ada dalam hatiku. Itulah mengapa aku datang kesini mencari dan menyusulmu."


Tapi dia malu dan gengsi untuk mengatakannya. Ia belum tahu bagaimana perasaan Ara terhadapnya. Apalagi Ara baru saja mengatakan bahwa baginya ia hanya seorang mantan bos yang telah memecatnya. Ia juga tidak tahu bagaimana hubungan Ara dengan Rey karena mereka terlihat sangat akrab.


Bagaimana kalau dia mengutarakan perasaannya tetapi Ara tidak memiliki perasaan yang sama lalu menolaknya. Tentu saja harga dirinya yang tinggi belum bisa menerima penolakan seperti itu.

__ADS_1


Tiba-tiba hujan turun. Ara pun berlari mencari tempat untuk berteduh. Axell menyusul mengikutinya.


Mereka berteduh di sebuah pondokan yang ada disekitar situ dan mengeringkan sebagian tubuh mereka yang basah.


Saat Ara sedang sibuk mengeringkan rambutnya, Axell mendekati Ara dan memeluk tubuhnya dari belakang. Ia berbicara dengan berbisik ke telinga Ara.


"Apakah kamu tahu, kamu telah mencairkan es dalam hatiku. Selama ini aku selalu bersikap dingin dan tak peduli pada orang-orang disekitarku. Tapi kamu membuatku kembali memiliki rasa dalam hatiku."


Ara lalu memutar tubuhnya menghadap ke sisi Axell.


Ara menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, "Mengapa? Bukankah selama ini kamu membenciku bahkan menuduhku telah mencuri dan memalsukan liontin untuk menipu kalian dengan mengaku-ngaku sebagai Shiena?"


"Maafkan aku karena telah menuduhmu dan bersikap kasar padamu. Aku menyadari kesalahanku dan sekarang, aku bisa merasakannya bahwa kamu memang Shiena. Sikapmu, kebiasaanmu, dan sifatmu yang keras kepala. Itu semua masih sama seperti kamu kecil, tidak berubah."


"Bagaimana kalau kenyataannya aku memang menipu kalian? Bahwa aku hanyalah Shiena palsu yang sedang menyamar? Dan semua ini memang kurencanakan dari awal dengan segala bukti yang adalah palsu."


"Tidak aku yakin bahwa kamu Arshiena. Aku bisa merasakannya di sini. Di dalam hatiku. Aku sudah mempercayaimu sekarang."


"Jangan percaya padaku. Lebih baik kamu jauh-jauh dariku. Kembalilah ke Jakarta dan jangan mencariku lagi. Aku tidak mau lagi menjadi Shiena dan berurusan dengan kalian. Pergilah!"


Ara mendorong tubuh Axell menjauh darinya.


"Tidak Shiena, jangan begitu. Kumohon, ikut denganku. Kembalilah pada keluargamu." Axell sekarang mulai memanggilnya dengan nama Shiena. Ia lalu berusaha untuk memeluknya kembali.


Tapi Ara pun meronta melepaskan diri dan berlari keluar pondokan. Tubuhnya pun menjadi basah terkena hujan. Axell lalu mengejarnya.


Axell berhasil menangkapnya dan langsung memeluknya erat.


"Kumohon, jangan pergi menjauh dariku lagi dan jangan usir aku. Aku akan menunjukkan padamu perasaan yang kurasakan di dalam hatiku terhadapmu."


Axell mendekatkan wajahnya ke wajah Ara dan dengan lembut bibirnya menyentuh bibir Ara. Lalu Axell menciumnya perlahan-lahan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Ara terkejut dengan ciuman itu. Namun ia merasakan ada desiran mengalir masuk ke dalam hatinya. Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya terasa panas dan pipinya merona merah. Ia merasa ada sensasi perasaan senang dan seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya.


Tetesan air yang jatuh dari hujan gerimis itu lalu menyadarkannya. Ini adalah suatu kesalahan ia tidak boleh terlena dengan ciuman ini. Semuanya harus diakhiri sekarang. Kebohongannya, penyamarannya.


Ia pun meronta berusaha melepaskan ciuman itu. Tetapi Axell semakin memeluknya dengan erat dan menahannya dengan ciuman yang makin dalam dan intens sehingga dirinya membara dan bergelora.


Ara pun tidak bisa menahan desiran hasrat yang mengalir di dalam dirinya. Ia akhirnya tak dapat menahan diri lagi untuk tidak membalas ciuman itu. Ia lalu memejamkan matanya dan membalas ciuman tersebut dengan lembut.


Bagaikan sepasang kekasih. Mereka berciuman mesra di bawah hujan gerimis yang membasahi wajah dan baju mereka. Namun membuat mereka saling memberi kehangatan. Sungguh terasa romantis.


Hujan akhirnya reda. Saat hari sudah mulai gelap dan matahari mulai turun, mereka berdua masih berada disitu dan saling berpelukan dalam diam. Menikmati pemandangan sunset yang indah di kala senja.

__ADS_1


__ADS_2