What is My Destiny

What is My Destiny
29 Malaikat Pelindung


__ADS_3

Saat kesadaran Ara perlahan-lahan seperti akan menghilang, ia lalu mendengar suara pintu yang dibuka. Lalu ada sorotan sinar cahaya dari hp menerangi ruangan itu.


Ia pun mendongakkan kepalanya dengan lemah dan perlahan. Dan ia melihat sesosok pria tampan berkemeja putih berdiri sambil memegang hp dengan lampu senter yang bersinar mengarah ke dirinya.


Cahaya terang yang bersinar mengelilingi disekitar wajah pria itu membuatnya terlihat bagaikan malaikat pelindung yang datang sebagai penyelamat dirinya.


Pria itu sungguh adalah penyelamat baginya yang bisa menolongnya keluar dari ketakutannya dan dari ruangan gelap yang mengerikan ini.


"Axell.." wanita itu memanggil nama pria itu dengan suara yang sangat lemah dan pelan.


Axell menghampirinya dan memeluk tubuhnya beberapa saat dalam diam seperti sedang memberinya pelukan hangat. Ia lalu merangkulnya keluar dari ruangan itu dan menuju ke kamarnya.


Dengan penuh kelembutan, Axell membantu Ara membaringkan dirinya ke atas kasur dan menyelimutinya.


Ia mengusap-usap lembut kepala Ara untuk menenangkannya. Ara pun merasa nyaman dan tertidur.


Axell memandangi wanita itu dengan lembut dan penuh kasih. Wajahnya yang biasa terlihat angkuh dan dingin tak berperasaan telah hilang.

__ADS_1


Ia merasa telah gagal menjalankan pesan yang diberikan Tuan Arman padanya untuk menjaga dan melindungi putrinya selama ia tidak ada.


Tuan Arman tahu bahwa Axell masih tidak bisa menerima dan mempercayai Ara adalah Shiena. Tapi ia berharap Axell mau membantunya dengan menjaga dan melindungi putrinya itu agar tidak terluka dan tersakiti seperti dulu saat Shiena masih kecil. Karena hanya dia orang terdekat dengan putrinya yang bisa diharapkan menjaga dan melindunginya.


Apalagi saat Axell menemukannya di ruang bawah tanah dengan kondisi yang menyedihkan itu. Tubuh yang gemetaran meringkuk memeluk erat dirinya sendiri dan sangat ketakutan.


Ia merasa hatinya perih seperti tertusuk. Ia tidak tahu kenapa ia merasa seperti itu. Apakah mungkin karena perasaan iba atau perasaan cinta yang sedikit demi sedikit mulai bersemi dalam hatinya tanpa disadarinya.


Axell memastikan Ara telah tertidur dan ia pun bangun berdiri untuk pergi.


Tapi Ara yang masih dalam keadaan tertidur menarik bajunya dan berkata "Jangan pergi. Kumohon, temani aku sebentar lagi.." Ara terdengar setengah memohon pada Axell untuk menemaninya. Tangannya pun menggenggam bajunya dengan sangat erat. Seperti takut pria itu akan meninggalkannya seorang diri.


Setelah itu Shiena kecil juga akan menggenggam erat bajunya agar ia tidak pergi meninggalkannya.


Axell pun menemani Ara hingga pagi. Ia tetap terjaga selama itu. Memandangi wajahnya yang tertidur pulas membuat hatinya senang dan damai. Ia seperti sedang melepas rasa rindu yang selama ini telah tersimpan lama dalam hatinya.


Akhirnya saat pagi tiba, Ara terbangun dari tidurnya dan sangat terkejut ketika melihat ada sesosok pria disampingnya sedang duduk di atas kasur yang sama dengannya dan sedang memandangi dirinya sambil tersenyum??

__ADS_1


Tersenyum.. Pria itu tersenyum! Pria yang selama ini selalu terlihat serius dan dingin tak berperasaan.


Saat ini pria itu sungguh tersenyum padanya. Pada dirinya. Ada apakah ini. Apakah ini mimpi. Ya mungkin dirinya sedang bermimpi. Akhirnya ia bisa bermimpi indah setelah selalu memiliki mimpi yang buruk sejak tinggal di rumah ini.


"Selamat pagi. Bagaimana keadaanmu? Kulihat tidurmu sangat nyenyak."


Duarrr.. Ara serasa tersambar petir dan menyadarkannya. Ini bukan mimpi. Ini nyata.


"Pa..pagii.." Ara menjawab dengan tergagap karena masih kaget. Ia pun menyadari bahwa tangannya sedang menggenggam baju pria itu. Ia lalu melepaskan genggamannya. Ia mencoba mengingat kembali. Mengapa pria ini bisa sampai berada di kamarnya.


Setelah ia ingat semuanya, ia merasa heran dan takjub dengan apa yang terjadi pada dirinya. Padahal ia kemarin mengalami penderitaan dan kejadian yang mengerikan. Tetapi pagi ini hatinya terasa ringan. Ia bahkan dapat tertidur lelap dan tidak terbangun dari tidurnya di tengah malam karena mimpi buruknya.


"Mm..apakah aku..aku.." Ara ingin bertanya apakah aku memegangi bajumu terus semalaman dan kamu menemaniku selama itu? Tapi ia malu untuk melanjutkan pertanyaannya itu.


Axell pun menatapnya tapi dengan tatapan yang lembut dan berkata, "Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan. Sudah jam 7 pagi. Kamu harus makan sarapanmu. Kudengar selama ini kamu jarang makan dan tidak mau sarapan. Jadi aku akan menunggumu memakan sarapanmu baru aku akan pulang."


Ara tadinya ingin tetap berkeras tidak mau sarapan dan tidak memedulikannya. Tapi akhirnya ia menggangguk mengiyakan karena ia menyadari wajah pria itu terlihat lelah. Mungkin dia tidak tidur semalaman saat menemani dirinya. Bahkan mungkin ia hanya duduk selama itu, tidak berbaring atau merebahkan tubuhnya sedikitpun.

__ADS_1


"Kamu juga makan sarapan bareng denganku ya." Ara pun mengajak pria itu untuk sarapan dengannya.


Selesai sarapan bersama di dalam kamar, Axell pun pulang ke rumahnya.


__ADS_2