
Belakangan ini Axell sudah jarang mencari dan mengganggu Ara. Mungkin dia sedang sibuk menyelidiki dan mencari bukti-bukti kebohongan Ara.
Walaupun begitu, hari-hari yang dijalani Ara sebagai Shiena tetap terasa berat. Ia harus menghadapi perlakuan buruk Retha dan ibunya di belakang ayahnya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kehidupannya setelah Tuan Arman kembali ke Paris.
Namun Ara tidak mau terlalu memikirkan nasibnya yang telah terjebak dalam perjanjian kontrak dengan mereka.
Ia hanya ingin fokus dengan pekerjaannya. Apalagi masa trainingnya di kantor akan segera berakhir. Sehingga mereka memiliki tugas membuat rancangan 1 set perhiasan sebagai evaluasi.
Ara dan teman-temannya diberikan waktu selama 10 hari untuk menyelesaikan tugas itu. Mereka boleh mencari inspirasi di luar kantor.
Ara teringat dengan taman private milik keluarga Fernan. Taman itu terkenal sangat indah. Karena sekarang ia termasuk keluarga Ferician, berarti ia dapat masuk ke taman ini. Jadi ia pun memutuskan untuk mencari inspirasi di sana.
Ia pun pergi ke taman itu pagi-pagi karena saat pagi otak masih segar dan lebih mudah mendapat inspirasi.
Karena masih pagi, penjaga taman belum ada yang datang untuk bertugas. Ia pun masuk ke dalam dan melihat papan nama yang menggantung. Papan nama itu bertuliskan Taman Arshiena. Ia baru menyadari nama taman itu adalah Taman Arshiena. Atau mungkin ia tidak mengingatnya karena nama itu dulu asing baginya.
Taman itu sungguh luas dan asri. Di dalam terdapat jalan setapak untuk dilewati pengunjung. Bau aroma hijau dari rerumputan dan pepohonan rindang membuat udara di pagi hari makin terasa sejuk.
Taman itu memiliki berbagai jenis tanaman bunga dengan bunga aster terlihat mendominasi taman itu. Di taman itu juga terdapat satu area permainan untuk anak-anak bermain.
Ada satu bagian area yang menarik perhatian Ara. Ia merasa seperti tidak asing dan sering melihat pemandangan di area tersebut. Di area itu terdapat 1 set meja besar dengan 8 buah kursi taman.
Ia berjalan mendekati area itu, dan melihat sebuah batu marmer berukuran lumayan besar. Pada batu marmer tersebut terdapat tulisan Taman Arshiena dan juga sebuah tanggal.
Ia ingat. Tempat ini adalah tempat yang sering muncul dalam mimpinya akhir-akhir ini. Bedanya di dalam mimpi ia melihat sebuah batu besar biasa bukan batu marmer.
Tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar dan kepalanya berdenyut. Ia seperti melihat sekelibat ingatan. Dan kepalanya terasa sakit sekali hingga membuatnya serasa akan jatuh.
__ADS_1
Ia pun harus berpegangan pada batu marmer yang ada didekatnya itu agar tidak jatuh.
"Sedang apa kamu disini?" Ara mendengar suara teriakan dari seseorang yang dia kenal. Suara Axell.
Bosnya itu berjalan mendekatinya. Ekspresi mukanya terlihat tidak senang dan sangat marah.
"Lepaskan tanganmu dan jauhi batu itu." Axell berteriak sambil menepis tangan Ara yang berada di atas batu marmer.
Ara yang sedang lemas, kehilangan kendali akan tubuhnya dan terjatuh karena tangannya ditepis dan tidak ada pegangan untuk tubuhnya bersandar.
Setelah jatuh terduduk di rerumputan, ia kembali melihat kilasan ingatan dalam benaknya. Kilasan itu tentang seorang anak kecil yang didorong hingga terjatuh. Lokasi anak kecil itu jatuh sama dengan tempat ini.
Ia berusaha mengingat lebih jelas lagi kilasan itu. Tapi kepalanya malah makin sakit dan berdenyut kencang seperti ada sesuatu yang memaksa keluar dan akan meledak di dalam kepalanya.
Axell melihat kondisi Ara yang memegangi kepala kesakitan, bukannya iba malah ingin mengusirnya dari taman itu.
Axell membantu menarik tubuh Ara agar dapat berdiri.
Tapi tubuh Ara terlalu lemah. Ia tidak kuat dan tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. Ia pun tak sadarkan diri di pelukan Axell.
Axell mencoba memanggil-mangil namanya untuk membangunkannya. Tapi Ara tidak juga sadar, ia pun panik dan segera membawanya ke rumah sakit.
Di dalam mobil, Axell merasa tubuh Ara sangat panas. Ia lalu memegang dahi Ara, panas sekali. Ara pun terlihat menggeliat gelisah dalam tidurnya.
Axell memberikan aroma lavender oil ke hidung Ara dan mengolesinya ke dahi dan pelipis Ara. Ara pun terlihat agak tenang setelahnya.
Jalanan saat pagi hari sangat padat dan tersendat, sehingga ia menyuruh Kevin untuk memperkencang kecepatan mobilnya agar bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit.
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Dokter memeriksa Ara. Setelah itu ia menanyakan apa yang terjadi pada pasien sebelum pingsan. Axell pun memberitahu kronologinya.
Lalu dokter bertanya, "Apa pasien memiliki riwayat seperti trauma atau luka di bagian kepalanya?"
Axell menjawab ragu-ragu, "Aku kurang tahu. Tapi sepertinya ia pernah mengalami luka parah di kepala dan juga memiliki amnesia."
Dokter mendiagnosa bahwa pasien mengalami trauma otak. Biasanya hal ini bisa terjadi karena adanya ingatan lama yang tiba-tiba muncul dan menyebabkan pasien merasa shock berat.
Setelah mendengar penjelasan dokter, Axell merasa bersalah pada Ara karena perbuatan kasarnya bahkan ia telah menuduhnya berpura-pura sakit.
Axell memindahkan Ara ke ruang VIP pasien dan membereskan administrasinya. Ia menugaskan Kevin untuk menemani dan menunggui Ara.
Ia pergi meninggalkan Ara di rumah sakit. Ia merasa bersalah padanya, tapi tidak tahu harus melakukan apa untuk menebus kesalahannya. Sehingga ia hanya bisa menghindarinya.
Selama ini, ia memiliki kepribadian yang angkuh dan harga dirinya juga terlalu tinggi. Hingga ia tidak pernah mengucapkan maaf pada siapapun.
Jadi, walaupun ia menyadari kesalahannya, tetap sulit baginya untuk meminta maaf.
Axell memikirkan kembali penjelasan dokter yang mengatakan bahwa pasien mengalami trauma otak karena muncul ingatan lama.
Apakah benar dia memiliki amnesia? Apakah ingatan lama yang muncul itu berkaitan dengan sesuatu yang ada di taman?
Dia juga ingat Ryon pernah memberitahunya bahwa Ara memiliki alergi susu sama seperti Shiena.
"Mungkin benarkah wanita itu memang Arshiena Ferician?" batinnya.
Sepertinya Axell mulai sedikit ada rasa percaya bahwa Ara adalah Shiena.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang dari rumah sakit ia terus memikirkan wanita itu. Hingga tangannya yang ruam kemerahan dan gatal tidak begitu dirasakannya.