
Sejak Tuan Arman memastikan bahwa Ara adalah putrinya, maka saat itu juga kehidupan Ara berubah. Ia akan memiliki identitas baru sebagai Arshiena Ferician.
Saat ini ia sedang berada di salah satu kamar yang ada di rumah keluarga Ferician. Ia melihat sekeliling kamar yang selanjutnya akan ditempati olehnya. Sungguh mewah dan besar sekali. Seandainya ia memang Shiena asli, ia pasti akan merasa senang sekali sekarang.
Tapi kenyataannya tidak demikian. Ia hanyalah seorang Shiena palsu yang dibayar untuk menyamar. Tapi lumayan juga, selama periode 6 bulan ini ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya kehidupan dia sebagai putri seorang pengusaha kaya raya dan hidup mewah seperti ini.
Lalu Ia teringat dengan Ibu Myra. Jadi, dia memiliki satu anak perempuan lagi. Tapi mengapa sikapnya tadi biasa saja saat menemukan anaknya yang lama hilang telah kembali, tidak memeluknya apalagi menangis haru seperti Tuan Arman.
Ya, dia memang tahu tentang penyamaran ini. Tetapi setidaknya ia harus berpura-pura di depan anggota keluarganya yang tidak tahu akan hal ini. Akan aneh jadinya kalau ia terlihat biasa-biasa saja.
Hmm sepertinya ada sesuatu yang janggal. Ara berpikir jangan-jangan dia adalah ibu tiri Shiena. Kalau memang benar begitu, ia harus berhati-hati terhadapnya.
"Tok..tok..tok" Terdengar pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Iya silakan masuk."
Seorang ibu masuk ke dalam kamarnya.
"Selamat sore nona Shiena. Perkenalkan nama saya Tina. Saya adalah kepala pelayan di sini."
"Ya, Bu Tina."
"Nona panggil saya Bi Tina saja. Dulu kecil nona juga memanggilku dengan sebutan itu."
"Baik Bi Tina."
"Ini. Retha memerintahkan untuk membawakan pakaian-pakaian ini padamu. Ia bilang kamu ke sini tanpa persiapan sehingga tidak membawa baju."
"Terima kasih, Bi. Ternyata dia sungguh berhati baik. Ia perhatian dan peduli padaku."
Bi Tina terlihat kaget mendengar pujian darinya untuk Retha seperti itu. Lalu ia berucap, "Ehmm..ini sebenarnya baju-baju lama dan bekas miliknya yang sudah tidak ia inginkan."
"Ohh begitu." Ara merasa malu.
"Apa benar nona Shiena sudah tidak ingat sama sekali tentang masa kecil nona?" Tanya Bi Tina sambil membantu Ara menyusun baju-baju itu di lemarinya.
"Iya aku sudah tidak ingat."
"Semoga non Retha sudah berubah dan tidak bersikap seperti dulu lagi pada nona."
"Memang dulu sikapnya seperti apa, Bi?"
"Tidak, tidak apa-apa. Maaf aku tadi cuma asal ngomong." Bi Tina terlihat takut karena keceplosan berbicara yang tidak seharusnya dibicarakan.
"Bi, aku mau bertanya sesuatu. Apakah aku dengan Retha saudara kandung?"
"Iya benar, dia adik kandungmu. Hanya saja ibu kalian berbeda."
__ADS_1
"Lalu, Nyonya Myra itu siapa? Ibu kandungku atau Retha?"
"Nyonya Myra ibu kandung Retha."
"Bagaimana dengan ibu kandungku?"
"Ibu kandung nona telah lama meninggal, sejak nona masih bayi."
"Maaf non, baju-baju ini telah selesai disusun. Nona silakan berbenah diri dan setelah itu ke ruang makan untuk makan malam yang akan dimulai pada pukul 7 malam nanti. Saya mohon diri dulu."
Bibi Tina pamit untuk pergi dari ruang kamar Ara.
Ara lalu mandi dan bersiap-siap. Ia melihat baju-baju milik Retha yang telah disusun di lemarinya dan memilih sebuah baju terusan berlengan panjang. Baju itu terlihat pas di badannya.
Dia lalu pergi menuju ruang makan. Tetapi rumah ini begitu besar. Ia baru pertama kali berada di rumah ini, sehingga ia tidak tahu dimana ruang makannya. Saat sedang bingung mencari, ia bertemu dengan bosnya, Axell.
"Mm..hai.."
Axell melihat ia dengan tatapan aneh dan berpikir sedang apa wanita ini di ruang gym. Padahal kalau mau ke ruang makan, dari kamar tidurnya tinggal belok ke kanan saja. Lalu Axell tersenyum sinis dan berjalan meninggalkan dia.
Ara berpikir dia pasti mau ke ruang makan. Hingga dia pun segera berlari kecil mengikutinya.
Tapi ternyata Axell menuju ke kamar kecil. Axell masuk ke dalam ruangan itu dan sebelum menutup pintunya ia berkata, "Jika kamu mau ke ruang makan, dari sini hanya perlu belok kiri." Lalu langsung menutup pintunya.
Akhirnya Ara menemukan juga ruang makannya. Ketika ia masuk, semua pandangan mata tertuju padanya. Mereka lalu memandangi baju yang dipakainya. Retha terlihat menertawakannya. Baju yang dipakai itu adalah baju lama Retha yang sudah tidak muat dipakainya.
Tuan Arman memanggilnya untuk duduk di kursi yang ada di sebelah kanan sisinya.
"Baik ayah." Jawab Retha.
"Axell, duduk sini." Retha memanggil Axell yang baru tiba di ruang makan untuk duduk di kursi sebelahnya.
"Besok kamu ikut pergi juga ya." Axell yang tidak tahu kemana Retha mengajaknya pergi, langsung menjawab, "Tidak bisa, besok aku ada urusan."
"Tidak apa-apa, aku bisa pergi berbelanja sendiri. Kalian tidak perlu menemaniku." Ara segera menimpali omongan Axell.
"Baiklah, kalau kamu mau berbelanja sendiri. Tapi kamu harus tetap diantar supir." Ucap ayah.
Saat mulai makan, Ara terlihat canggung. Melihat makanan yang disajikan begitu banyak, membuatnya bingung hidangan mana dulu yang dimakan. Karena sepengetahuannya, orang kaya memiliki tata cara makan. Tidak sembarangan.
Ia pun memperhatikan orang-orang yang ada di meja makan. Cara makan mereka. Cara mereka menyajikan makanan di piring mereka.
Selama makan mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan tidak ada suara dari sendok dan piring yang saling bertemu.
Makan malam selesai. Mereka lalu menunggu pelayan menyiapkan hidangan penutup.
Nyonya Tamara dengan ramah membuka pembicaraan, "Malam ini saya merasa senang kita bisa berkumpul dan makan malam bersama dengan Shiena. Aku jadi teringat masa lalu, dulu kecil kamu dan Axell suka rebutan mau disuapi makan duluan. Kalian beradu untuk duluan menghabiskan makanan karena pemenangnya akan dapat permen lolipop."
__ADS_1
"Mm..maaf Ibu aku sudah tidak ingat lagi."
"Ibu..?? Sejak kapan ibuku jadi ibumu." Axell menertawakan dengan sinis.
"Ohh iya aku lupa kalau Shiena hilang ingatan sehingga sudah tidak ingat pada kalian."
Lalu Tuan Arman memperkenalkan mereka satu persatu.
"Yang duduk di sebelah kananmu adalah adikmu, Retha. Lalu disebelah Retha adalah Axell, dulu kecil kalian sangat dekat seperti saudara kembar."
"Kemudian, yang disebelah kiri ayah adalah ibumu. Yang duduk di sebelah ibumu adalah orangtua Axell. Paman Revan dan Tante Tamara. Rumah mereka bersebelahan dengan rumah kita."
"Waktu kamu kecil, Tante Tamara sering membantu ayah menjaga dan merawatmu. Kamu juga lebih senang bermain di rumah mereka. Bahkan sering tertidur di sana."
"Ohh begitu. Bagaimana dengan ibuku? Mengapa bukan dia yang merawatku? Apakah kamu ibu tiriku?" Ara bertanya sambil mengalihkan tatapannya ke Nyonya Myra.
Nyonya Myra tak menyangka anak itu berani bertanya seperti itu. Ia hanya diam dan memandangnya dengan dengan tatapan tajam. Tuan Arman lah yang menjawabnya.
"Ibumu kerepotan karena harus menjaga adikmu yang masih kecil. Selain itu, kamu dan adikmu suka berantem kalau berdekatan.
"Ternyata aku dan adikku suka berantem dan tidak akur ya. Lalu siapa yang biasanya akan menang? Kurasa adikku, karena ada ibu yang membelanya."
Nyonya Myra pun terlihat marah mendengar omongan itu. Ia mengumpat dalam hatinya. "Kurang ajar. Lancang sekali ucapannya. Besar juga nyali anak ini. Sepertinya akan susah untuk menghadapinya."
"Mulutnya pedas juga. Belum apa-apa dia sudah berani menyinggung mereka. Tapi dia pintar juga bisa tahu keadaan Shiena dulu kecil yang selalu kalah dengan adiknya." Ucap Axell dalam hati menilai.
Ayah yang bingung mau menjawab apa, hanya bisa mengalihkan ke topik pembicaraan lain.
"Ayah berencana akan mengadakan sebuah acara pesta untuk merayakan kepulanganmu dan sekaligus mengumumkan kabar gembira karena dirimu telah ditemukan. Bagaimana kalau kita selenggarakan minggu depan? Karena akhir bulan ini ayah harus kembali ke Paris."
"Jangan ayah, tidak perlu. Aku tidak suka pesta dan tidak suka menjadi perhatian banyak orang. Lagipula aku belum terbiasa dengan identitas baruku ini."
"Tapi kamu adalah putri sulung keluarga Ferician. Banyak orang yang peduli dan memperhatikanmu sejak mendengar berita kehilanganmu. Tentu kita harus mengumumkan dan merayakan kabar gembira ini."
"Maaf ayah, tapi aku belum siap. Jika ayah tetap ingin mengadakan pesta, aku tidak akan menghadirinya."
Sebenarnya Ara bukannya tidak suka pesta, apalagi selama ini orang tua nya tidak pernah mengadakan sebuah pesta untuknya. Dia tentunya sangat senang jika bisa merayakan sebuah pesta dengan gaun mewah dan riasan yang cantik untuknya.
Tetapi ia takut dan merasa tidak pantas atas pesta ini karena dia bukanlah putri dari Tuan Arman yang sesungguhnya.
"Baiklah Shiena, kalau itu mau mu. Ayah tidak akan mengadakan pesta. Maafkan ayah terlalu memaksamu. Asalkan kamu telah kembali bersama kami, itu sudah cukup bagi ayah."
"Lihat Shiena, Ayahmu terlihat sedih. Sebenarnya ia ingin mengadakan pesta itu untuk membuatmu bahagia. Ia ingin merayakan kepulangan dirimu dengan penuh rasa bahagia bersama banyak orang." Tuan Revan ikut membantu Tuan Arman menjelaskan.
"Maafkan aku ayah, aku tidak bermaksud kasar dan tidak sopan dengan menolakmu seperti itu. Aku juga tidak berniat membuat ayah bersedih."
"Hanya saja aku merasa belum siap dan tidak terbiasa dengan semua ini. Aku takut malah akan membuat malu dan mengacaukan pesta itu."
__ADS_1
Nyonya Myra ikut menambahkan, "Iya kita harus memaklumi Shiena. Sikap dan perilakunya berbeda dengan kita. Selama ini kita tidak tahu bagaimana kehidupan yang ia jalani. Apakah ia sekolah dengan benar, bagaimana didikannya.." Sepertinya Nyonya Myra sedang menumpakahkan minyak ke dalam api dengan ucapannya itu.
"Sudah-sudah. Lebih baik sekarang kita menikmati hidangan penutup ini." Nyonya Tamara buru-buru menghentikan ucapan Nyonya Myra sebelum api makin membesar.