
Pagi-pagi saat sarapan, Retha meminta Shiena untuk menemaninya pergi berbelanja sore nanti.
"Kak, apakah sore ini kakak sibuk atau ada janji dengan kak Axell? Karena kulihat kamu selalu sibuk dan selalu bersamanya. Entah menemaninya cek rutin ke rumah sakit atau selalu berada di rumahnya untuk membahas rencana pernikahan kalian."
"Sore ini..? Hmm..sepertinya tidak ada. Kenapa Retha, kamu ada perlu denganku?" Sebenarnya Shiena tidak pernah janjian dulu saat menemui Axell. Ia hanya sudah terbiasa setiap hari datang ke rumah Axell untuk menemaninya yang masih dalam tahap penyembuhan. Juga terkadang membahas rencana pernikahan mereka. Sekarang, cidera Axell sudah membaik dan bisa dibilang sudah pulih. Sehingga ia pikir tidak apa kalau hari ini ia tidak datang mengunjunginya dan pergi menemani Retha saja.
"Iya kak, aku mau minta kamu menemaniku berbelanja. Aku merasa sedih dan butuh penghiburan. Hanya belanjalah yang bisa menghilangkan pikiran burukku dan membuatku senang karena itu hobiku. Biasanya ibu yang menemaniku berbelanja karena aku tidak suka pergi sendiri. Tapi kini, hanya kakak yang bisa aku andalkan untuk menemaniku."
Shiena merasa sangat senang karena Retha mau memintanya menemani berbelanja. Ia sebenarnya dari kecil selalu menyayangi adiknya dan ingin bisa bermain-main bersama.
Tetapi adiknya itu selalu dimanja sehingga sikapnya jadi buruk dan suka bertengkar dengannya juga berebut barang apapun dengannya.
Dia berharap suatu saat mereka bisa dekat dan pergi bersama-sama seperti kakak adik pada umumnya. Yang sering melakukan hobinya bersama-sama sambil bercerita dan membahas hal apapun. Dan, sekarang harapannya akhirnya bisa terwujud.
"Baiklah, kakak akan menemanimu sore ini. Bagaimana kalau malamnya kita ajak Axell untuk menyusul dan makan malam di luar bersama kita?"
"Jangan kak, aku hanya mau pergi berdua saja denganmu. Bukankah ini adalah pertama kalinya kita bisa pergi bersama? Aku ingin kita bisa menjadi lebih dekat setelah ini. Lagipula, aku tidak mau nanti menjadi nyamuk pengganggu diantara kalian. Tetapi kalau kakak ternyata sudah ada janji dengan Axell maka.."
"Tidak Rere, tidak ada. Aku hanya berpikir untuk mengajaknya supaya kita bisa saling mengobrol bersama dan menjadi lebih dekat lagi denganmu. Jangan khawatir, aku tidak akan mengajaknya kalau kamu tidak mau."
Retha lalu meminta ijin pada ayahnya untuk menyetir mobilnya sendiri tanpa supir karena ia hanya mau pergi berdua saja dengan kakaknya agar mereka bisa jadi lebih dekat.
__ADS_1
Selesai berbelanja, Retha mengajak Shiena untuk pergi makan malam dulu di sebuah resto kesukaannya.
Restoran tersebut ternyata restoran yang dulu ia kunjungi untuk makan malam bersama Alice dan membuatnya mabuk.
Retha memesan dua gelas cocktail rasa strawberry. Dia mengatakan pada Shiena bahwa minuman cocktail hanya mengandung sedikit alkohol dan tidak membuat mabuk. Sehingga tidak masalah jika mereka meminumnya. Shiena tahu, karena ia pernah meminumnya dan menyukai minuman itu.
Makanan mereka akhirnya datang. Sebelum mulai makan, Retha memastikan dulu pada pelayan bahwa saus steak yang disajikan di depan kakaknya adalah yang tidak menggunakan susu karena dia tahu kakaknya alergi susu.
Shiena merasa sedikit terharu. Ternyata adiknya ini kini benar-benar telah berubah dan menjadi sangat perhatian pada kakaknya ini.
"Rere, kamu sudah berubah sekarang, telah peduli dan perhatian padaku. Terima kasih ya, aku senang sekali hari ini." Shiena menggenggam tangan Retha.
"Iya kak, karena aku bisa merasa kakak juga sangat peduli dan sayang padaku. Sekarang setelah ibu pergi dari rumah, hanya kakaklah keluarga terdekatku."
Shiena mengambil minumannya, ia sekilas mencium aroma alkohol yang lumayan pekat. Tetapi ia tidak terlalu menghiraukannya dan langsung meminumnya karena ia merasa itu wajar.
"Hmm minuman ini sangat manis dan segar sekali. Sangat cocok dengan.." Shiena tiba-tiba merasa kepalanya sangat pusing dan juga mengantuk. Ia lalu tertidur dengan kepala yang terjatuh di atas meja makan. Ternyata Retha tadi pergi untuk meminta pelayan menambahkan campuran vodka ke dalam minumannya. Ia juga diam-diam menambahkan obat tidur ke dalam minuman itu.
Retha memanggil pelayan untuk membayar makanan yang telah dipesan dan meminta dua orang pelayan memapah kakaknya yang tertidur ke dalam mobilnya.
Ia membawa kakaknya ke sebuah kamar hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Dia meminta beberapa petugas hotel untuk membantunya dan membaringkan tubuh kakaknya yang sedang tertidur ke atas kasur dan membuka sedikit baju atasan kakaknya. Dia menurunkannya hingga terlihat belahan dadanya. Kemudian ia menyelimuti tubuh bawah kakaknya yang masih mengenakan pakaian dengan selimut.
__ADS_1
Setelah itu, dia membuka pintu kamar hotelnya dan keluar dari kamar itu untuk mencari seseorang.
Tak jauh dari kamar mereka, terlihat sosok pria berdiri dengan tangan melipat di depan dada seperti sedang menunggu.
Pria itu memiliki wajah yang tampan dan bersih seperti habis bercukur. Rambutnya memiliki potongan pendek yang tak disisir sehingga berkesan acak-acakan dan diolesi gel rambut. Postur tubuhnya tinggi tegap dengan dada yang bidang dan berotot. Dan dengan jaket kulit yang dikenakannya, membuatnya semakin terlihat maskulin.
Retha celingak celinguk melihat keadaan sekitarnya. Setelah merasa aman dan yakin itulah pria yang sedang dicarinya, dia lalu melambaikan tangannya pada pria itu. Pria itu pun berjalan menghampiri Retha yang memanggilnya.
"Wow penampilanmu sungguh terlihat berbeda dari kemarin. Ternyata kamu tampan dan sungguh maskulin. Cukup menggoda. Aku tidak salah menyewamu untuk ini."
"Heh..tentu saja, apakah kamu mulai tergoda denganku?"jawab pria itu mendekatkan wajahnya pada Retha sambil memegang lehernya seperti menggodanya.
"Lepaskan tanganmu. Ayo masuk. Sebaiknya kita segera melakukan aksi itu. Aku takut efek obat tidurnya cepat menghilang."
Pria itu membuka jaket kulit dan baju atas yang dikenakannya. Sehingga bagian tubuh atasnya terlihat semua. Dengan tubuh yang penuh tato hingga ke bagian lengannya.
Saat melihat Shiena dengan posisi tertidur dan bagian atasnya terbuka hingga belahan dadanya terlihat, ia merasa ada sengatan panas menyerang dirinya. Ia sedikit mengerang karena hasratnya yang timbul.
Ia setengah melompat naik ke atas kasur tanpa Retha perintahkan dan memasukkan dirinya ke bawah selimut. Lalu merengkuh tubuh Shiena, ia menaikkan kepala Shiena di atas lengannya dengan sebelah lengannya berada di atas tubuh Shiena seperti sedang memeluknya dari samping. Pria itu lalu memejamkan matanya. Mereka berdua terlihat seperti sedang tidur bersama.
Retha sangat puas melihat pose mereka berdua yang terlihat sangat dekat dan mesra. Pose itu terlihat sangat meyakinkan seperti mereka habis tidur bersama. Ia segera mengambil beberapa foto mereka berdua dengan beberapa sisi yang berbeda. Setelah selesai dan merasa puas dengan hasil jepretannya, Retha pun memilih beberapa foto dan mengirimnya kepada seseorang. Kemudian ia menyuruh pria itu untuk segera bangun lalu berpakaian dan segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Pria itu tentunya punya keinginan yang lebih. Dia mulai menyentuh tubuh Shiena. Di mulai dari bagian pipi hingga ke bahunya dan seperti ingin menikmati tubuh wanita yang sedang tertidur disampingnya yang terlihat sangat menggodanya.