
Retha marah dengan apa yang pria itu perbuat. Dia menepis tangan pria itu untuk menghentikan perbuatannya.
"Heru apa-apaan kamu. Apakah kamu lupa dengan perjanjian kita. Hanya berpura-pura dan tidak boleh menyentuh sembarangan."
Pria itu menghempaskan tangannya marah dan menjauh dari tubuh Shiena. Ia lalu berdiri dan mengenakan kembali baju dan jaketnya. Kemudian ia berjalan mendekati Retha.
"Hmm..benar aku dan kamu memiliki perjanjian seperti itu terhadap tubuh kakakmu. Tetapi, tidak untukmu. Kamu tahu, aroma tubuh kakakmu sangat menggodaku. Tetapi aku tidak boleh melampiaskannya pada kakakmu."
Bagaimana kalau denganmu saja. Kurasa kamu seorang wanita yang sangat menggoda dan punya pengalaman yang lebih banyak daripada kakakmu yang polos itu." Pria itu mulai mendekati wajahnya lagi dan menciumi aroma tubuh Retha. Tangannya mulai membelai leher Retha lalu menarik tubuhnya kencang ke arahnya hendak menciumnya.
Retha berusaha keras melepaskan dirinya dari pria itu. Tetapi pria itu tentu saja sangat kuat. Ia menghempas tubuh Retha ke kasur.
Shiena yang merasa ada guncangan kuat pada kasur yang sedang ia tiduri, menjadi terbangun dari tidurnya dan merasa kepalanya sangat sakit seperti saat ia mabuk waktu itu.
Ia lalu mendongak ke samping kirinya dan sangat kaget saat melihat ada seorang pria berotot dengan tubuh setengah **** tubuh adiknya dan masih berusaha untuk bisa menguasai tubuh itu sepenuhnya.
Dengan seluruh tenaga yang ada, ia segera mendorong tubuh pria itu sekencang-kencangnya. Pria itu tidak menyadari Shiena sudah terbangun dan akan mendorongnya dengan begitu kencang sehingga tidak sigap dan terhempas jatuh ke bawah.
Melihat kesempatan ini, Retha segera mengambil sebuah lampu tidur yang ada di sampingnya dan menghantamnya ke kepala pria itu.
Kepala pria itu berdarah terkena pecahan kaca lampu. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit dengan telapak tangannya lalu merasakan ada darah di tangannya itu. Lalu dia merasa sangat marah pada Retha karena telah memukulnya dan membuat kepalanya berdarah. Ia bangkit berdiri dengan mata membelalak ke arahnya.
__ADS_1
Pria itu lalu menoleh mencari sesuatu. Dilihatnya ada sebuah pisau buah didekatnya dan mengambilnya. Ia mengarahkan pisau itu ke tubuh Retha dan menusukkan pisau itu dengan cepat dan kuat untuk memuaskan emosi dan dendamnya. Satu kali. Dua kali.
"Argghh.." teriak Retha histeris.
"Aghh..agghhh" terdengar suara teriakan lain yang lebih lemah. Suara teriakan kesakitan.
Retha dengan sigap menangkap tubuh kakaknya yang akan terjatuh dipangkuannya. Tubuh itu sudah berlumuran darah di bagian perutnya.
"Brakk.." terdengar suara pintu kamar hotel dibuka oleh seseoarang.
20 menit sebelumnya. Di dalam sebuah kamar. Terlihat Axell yang masih tertidur, tiba-tiba terbangun karena mendengar bunyi pesan di hpnya. Dengan malas ia mengambil hp itu untuk membuka pesannya. Pesan dari seorang pengirim yang tak dikenalnya. Matanya yang masih malas untuk membuka langsung terbelalak membesar saat membuka pesan tersebut. Pesan itu berupa gambar yang membuatnya sangat terkejut.
Gambar itu memperlihatkan calon istrinya, Shiena, sedang dalam keadaan berbaring dengan mata terpejam. Bahunya yang membuka dan memperlihatkan belahan dadanya, dengan setengah bagian tubuhnya yang bagian bawah tertutupi oleh sebuah selimut berwarna putih. Di sebelahnya ada seorang lelaki tanpa pakaian di tubuh atasnya dan juga dalam keadaan tertidur dengan posisi lengan di atas tubuh calon istrinya dan seperti sedang memeluknya mesra dari samping. Sepertinya mereka berada di sebuah hotel dan habis melakukan hubungan intim.
Axell merasa sangat marah. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia yakin ini pasti sebuah jebakan. Dan ia berpikir, Retha pasti dalangnya. Karena ia tahu kalau kemarin sore Shiena pergi bersama Retha. Pantas saja Shiena tidak bisa dihubungi hpnya dari kemarin malam.
Dia lalu bergegas mencuci muka dan memakai kaos serta celana jinsnya untuk segera pergi ke hotel tersebut dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jalanan sangat sepi karena saat ini masih subuh. Lokasi hotel juga tidak terlalu jauh dari rumahnya. Tetapi Axell membawa mobil dengan kecepatan sangat tinggi agar bisa segera sampai.
Setelah sampai, ia menanyakan pada petugas hotel tentang tamu mereka yang baru saja melakukan check-in di malam tadi. Tamu itu wanita dan pria, dan dengan kemungkinan yang wanita dalam keadaan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Karena hotel itu hanya bintang 3 dan tidak terlalu memiliki banyak kamar, jadi petugas itu seharusnya bisa mengingat tamu-tamu mereka.
"Tidak ada tamu yang bapak cari. Tetapi, tadi ada dua tamu wanita datang dan melakukan check-in sekitar 2 jam yang lalu. Salah satu tamu wanita sedang dalam keadaan mabuk berat dan tertidur sehingga kami harus membantu memapah tamu wanita itu menuju kamarnya."
Axell lalu memaksa para petugas untuk menunjukkan padanya kamar mereka dan mengamuk karena mereka tidak mau memberikan. Akhirnya mereka mengantarnya dan membukakan pintu kamar tersebut. Karena ternyata Axell kenal dengan pemilik hotelnya.
Axell masuk ke dalam kamar hotel dengan emosi yang meletup-letup dan sudah hampir meledakkannya. Tetapi apa yang dilihatnya membuat dirinya tercengang. Ia mengalami keterkejutan yang luar biasa. Jantungnya serasa meloncat keluar hingga membuat tubuhnya lemas.
Wanita yang sangat dicintainya itu saat ini tergeletak di atas pangkuan Retha dalam keadaan perut yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Kejadian yang ada di depannya saat ini sangat berbeda dengan apa yang dia pikirkan dan bayangkan selama di perjalanan menuju ke sini.
Heru, pria yang menusuk tubuh Shiena terkejut. Ia tidak menyangka perempuan itu akan menghadang dan menggantikan tubuh adiknya. Ia segera melemparkan pisau buah yang berlumuran darah dari pegangannya. Sekarang ia merasa ketakutan bahwa dirinya tidak dapat lolos dari jeratan hukum karena telah melukai orang yang tidak bersalah.
Ketika Axell membuka pintu kamar hotel itu, Heru segera mengambil peluang ini untuk melarikan diri. Axell terlalu terkejut hingga tidak memperhatikannya. Tubuhnya bahkan terduduk lemas setelah melihat apa yang sedang terjadi. Tetapi di depan petugas sudah menghubungi sekuriti untuk menahan dan menangkap Heru yang berusaha kabur.
Shiena meringis karena sakit yang ia rasakan. Ia berusaha menggapai tangan Retha dengan tangan satunya memegangi perutnya yang terluka untuk menahan sakit.
"Re..re.. jangan takut..Kakak.. tidak.. apa-apa." Wajah dan tubuhnya sudah basah oleh keringat dingin. Dan ia masih berusaha menenangkan adiknya yang menangis ketakutan dengan sedikit tenaganya yang tersisa.
".. Aku sangat.. menya..ya..ngi..mu.." Suara Shiena makin melemah dan menghilang. Ia lalu tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Shienaa...!" Axell segera menghempas tubuh Retha menjauh dari tubuh Shiena dan menggendongnya untuk membawanya ke rumah sakit.