
Hari ini Ara pulang kantor lebih telat dari biasanya. Dia pulang saat hari sudah larut malam. Itu dikarenakan dia mendapat tugas dadakan yang harus diselesaikan hari ini juga. Tugas itu adalah mencari dan mengumpulkan data-data tentang semua desain liontin yang pernah diluncurkan oleh Ern&Do Collection dari 20 tahun yang lalu hingga 5 tahun ke belakang.
Karena hari sudah larut malam, lobby lift apartemen tempatnya tinggal terlihat sangat sepi. Hanya ada dirinya seorang yang sedang menunggu lift. Bahkan petugas lift yang biasanya ada di tiap lift juga sudah tak bertugas. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Memikirkan berada di dalam lift sendirian membuatnya takut. Bagaimana kalau tiba-tiba lampu lift mati dan lift akan menjadi gelap. Ara memang sangat takut akan gelap.
Tapi ia menepis pikiran itu dan mencoba menenangkan dirinya dengan berbicara pada dirinya sendiri. "Jangan bodoh Ara, saat ini kamu sedang berada di sebuah apartemen yang cukup mewah dan berkelas. Tidak mungkin liftnya rusak atau lampunya mendadak mati." Setelah selesai berbicara dengan dirinya sendiri, dia kembali berbicara dengan berkomat-kamit. "Semoga ada seseorang yang datang.. semoga ada seseorang yang datang.." dia terus mengulang kata-kata itu dengan penuh harap ada seseorang yang akan datang menemaninya saat menunggu lift.
Sampai lift terbuka, harapannya tak terkabul. Tidak ada satu orang pun yang datang. Terpaksa ia masuk ke dalam lift. Saat lift telah sedikit menutup, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang "Tunggu..!".
Perasaan senang dan lega segera mendera dirinya. Dengan segera dia menjulurkan tangannya untuk menekan tombol buka, tetapi ternyata pria yang ada didepan lift itu adalah tuan muda sombong yang waktu itu berebut roti goreng dengannya di kedai roti Sweet Hut. Ara menjadi kesal melihatnya. Dia berubah pikiran dan menekan tombol tutup.
Tuan muda itu ternyata adalah Axell Ernando. Axell melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam lift karena dia berpikir bahwa wanita itu akan membukakan pintu lift untuknya. Namun, pintu lift itu bukannya membuka melainkan menutup, membuatnya melonjak mundur karena kaget.
Axell terus menatap wanita itu dengan tajam hingga wanita itu menghilang dari pandangannya karena tertutup oleh pintu lift yang telah menutup sepenuhnya. Selama ditatapnya, Ara tidak merasa takut. Melainkan dia ikut membalas menatap pria itu dengan senyuman penuh kemenangan yang menghiasi wajahnya. Namun, belum sedetik pintu lift menutup, ketakutan Ara sudah muncul kembali.
Bagaimana kalau tiba-tiba liftnya berhenti di tengah lantai atau lampunya rusak dan lift menjadi gelap. Lebih baik satu lift dengannya daripada sendirian!
Akhirnya, dengan segera Ara menekan kembali tombol yang ada di lift untuk membuka pintu dari lift yang sedang ditumpanginya tersebut.
"Hhaaii.." Ara melambaikan tangannya kepada Axell seketika pintu lift terbuka. "Si..silahkan.." ucapnya lagi untuk mempersilahkan dia masuk dengan memasang senyum yang sangat lebar yang terkesan sangat dipaksakan. Sambil menatapnya dengan kesal, pria itu masuk ke dalam lift. Dia berjalan menuju salah satu sudut belakang lift dan berdiri sambil bersandar di sana dengan kedua tangannya yang terlipat didepan dadanya.
Setelah beberapa lantai telah dilewati, pria itu tetap diam saja tanpa menekan nomor lantai yang ingin dituju. Ara merasa bingung dan curiga padanya.
Anehh mengapa dia tidak memencet nomor lantai yang akan dituju.
__ADS_1
Ara menolehkan wajahnya ke belakang dan meliriknya dengan tatapan curiga. Ia lalu bertanya padanya, "Ehm.. Kamu belum menekan tombol angka lantainya..Kamu mau ke lantai berapa?"
Namun Axell diam saja, tidak menghiraukannya. Bahkan, memandang kearahnya saja tidak ia lakukan.
Huh! Sombong sekali tidak menjawabku. Baiklah, biarkan saja. Mungkin dia akan turun di lantai yang sama denganku, ocehnya dalam hati.
Ara tidak menyangka ternyata dia tinggal satu apartemen yang sama bahkan selantai pula dengan pria sombong sepertinya yang terlihat sangat kaya raya.
Dengan suasana hening seperti ini, Ara merasa tiap lantai yang dilewati oleh lift ini terasa begitu lama. Ara lalu melihat ke kanan kirinya untuk mencari kesibukan. Kemudian, Ara melihat wajah pria itu yang nampak pada kaca dinding lift. Ara memandanginya dan merasa terpesona melihat ketampanan wajah pria itu. Kulit wajahnya putih bersih. Postur tubuhnya tinggi tegap dan ramping. Ditambah dengan gaya berpakaiannya yang rapih karena dia mengenakan setelan kemeja berlengan panjang, dia sungguh terlihat keren dan mempesona.
Baru kali ini Ara melihat seseorang dengan penampilan menawan seperti pria itu. Karena selama ini dia tinggal di kampung dan dikawasan perkebunan. Lelaki di sana kebanyakan adalah pekebun yang selalu mengenakan pakaian sederhana yang kadang terlihat dekil dan penuh keringat. Kulit mereka juga berwarna gelap karena sering terpapar terik matahari.
Satu-satunya pria tampan yang ada di kampungnya adalah sahabat dekatnya yang bernama Reynaldi. Tetapi sahabatnya itu lebih sering mengenakan pakaian yang casual yang dilapisi dengan jaket kulit atau denim. Jadi lebih berkesan agak urakan. Tidak terlihat mapan dan dewasa seperti yang nampak pada pria yang sedang Ara amati bayangannya dari kaca cermin didepannya.
Setelah lama mengamati wajah pria itu, Ara menyadari bahwa saat ini sorot matanya terasa lelah dan sedih. Tatapan arogan dan penuh percaya diri tak nampak di sana.
Saat Ara bertanya padanya tadi, Axell mendengarnya. Tetapi ia malas menjawabnya. Walaupun Axell masih ingat dengan wanita yang sedang satu lift dengannya ini, ia memilih untuk bersikap acuh dan tak mempedulikannya.
Sebenarnya pada saat pertama kali Axell melihatnya, dia sempat menduga bahwa wanita itu adalah teman masa kecilnya yang hilang itu. Karena Axell melihat Ara melakukan kebiasaan kecil yang suka Shiena lakukan dulu kecil. Kebiasaan itu adalah makan permen lolipop dengan memutar-mutarnya dalam mulut. Dulu saat masih kecil, Shiena juga senang memainkan permen lolipop yang sedang dimakannya dengan cara seperti itu.
Bahkan pertemuan mereka di kedai roti itu memang disengaja. Karena Axell mengikutinya sejak melihat Ara keluar dari mini market sambil memakan permen lolipopnya. Axell ingin melihatnya lebih dekat dan memastikannya apakah dia benar temannya atau bukan. Ketika Axell mendengar perkataan dan umpatan kasar yang perempuan itu lontarkan padanya, dia menjadi sangat yakin bahwa wanita itu bukanlah Shiena. Sikapnya yang kasar itu berlawanan dengan sikap Shiena yang lembut dan terdidik untuk selalu bertutur kata yang sopan.
Kemudian, Axell merasa aneh dengan dirinya sendiri. Mengapa dirinya bisa sempat berpikir dan mengira wanita kasar itu sebagai Shiena. Axell pun menjadi kesal dan sebal dengan perempuan itu. Karena rasa kesalnya itu, Axell berebut roti goreng dengannya saat di kedai Sweet Hut. Ia tidak suka dan tidak rela roti goreng kesukaan Shiena dimakan olehnya.
__ADS_1
Kini, Axell merasa risih. Sudah sejak tadi Axell menyadari kalau wanita itu tengah memperhatikannya. Setelah begitu lama diperhatikan, tentu saja ia merasa risih. Dengan sengaja, Axell mengarahkan pandangan matanya tertuju ke bayangan perempuan itu yang terlihat pada cermin kaca. Dia bermaksud ingin membalasnya dengan memandanginya. Ara kaget ketika tatapan mata mereka saling bertemu. Dia merasa malu dan menjadi canggung dan dengan segera dia mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
Untung saja tak lama kemudian terdengar bunyi lift yang menandakan mereka telah tiba di lantai tujuan. Ketika pintu lift terbuka, Ara segera keluar dari lift dan berjalan dengan cepat menuju ruangannya.
Karena malu, Ara berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya sehingga menabrak sesuatu. Ternyata Ara menabrak tubuh belakang Axell. Karena dari lift menuju ke unit ruangan apartemennya cukup jauh dan melalui lorong yang berliku. Sehingga Axell yang mengambil jalan lainnya dapat bertemu kembali dengannya. Apalagi langkah kaki Axell yang besar dapat mengalahkan langkah kakinya yang imut walaupun dia sudah berjalan dengan sangat cepat.
"Aaaaa..!!" Ara berteriak kencang sekali karena ketakutan. Ara memang sangat penakut. Belum melihat jelas apa yang ditabraknya, ia sudah langsung ketakutan. Axell hanya bisa menghela napas menahan kekesalan. Tapi ia juga merasa kasihan melihat ekspresi Ara yang sedang sangat ketakutan itu. Karena pada malam hari suasana di apartemen ini begitu sepi dan sedikit remang dengan cahaya lampu seadanya. Ara juga harus melalui lorong yang panjang untuk sampai ke unit ruangannya. Keadaan ini cukup mencekam bagi seorang penakut sepertinya. Axell pun menemani Ara berjalan hingga ke tempatnya. Kebetulan juga arah yang mereka tuju sama.
Axell menduga Ara adalah salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan milik keluarganya. Karena apartemen ini merupakan properti milik perusahaan Fernan. Sehingga kebanyakan penghuni di apartemen ini adalah karyawan yang bekerja di perusahaan yang termasuk dalam grup perusahaan Fernan.
"Apa kamu tinggal sendirian di apartemen ini?" tanya Axell ingin tahu apakah benar dugaannya itu.
Tetapi bukannya bersikap ramah dengan menjawab pertanyaannya, malahan Ara menatapnya dengan tatapan curiga dan tak suka.
Ditatap curiga seperti itu Axell buru-buru menjelaskan, "Tenang saja, aku tidak berniat ataupun tertarik untuk berbuat yang aneh-aneh padamu. Aku hanya penasaran, wanita penakut sepertimu apakah hanya tinggal sendirian di apartemen ini."
"Ehmm.. tidakk.. aku tinggal bersama 3 orang teman kantorku. Kami mendapat fasilitas dari kantor untuk tinggal di sini." akhirnya Ara mau menjawab dan menjelaskannya.
Suasana kembali hening dan terasa canggung karena mereka berjalan dalam diam.
"Aku sudah sampai di ruanganku. Terima kasihh.." belum selesai kata-katanya terucap, pria itu telah pergi menghilang dari tatapannya karena ia telah berbelok ke lorong disebelah kanan. Ara pun segera masuk ke dalam.
Pria yang aneh, ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Tetapi walaupun ia bersikap angkuh dan sombong sebelumnya, ternyata hatinya cukup baik juga, lanjutnya.
Ara tersenyum senang membayangkan wajah tampan Axell yang dia pandangi tadi pada kaca lift.