What is My Destiny

What is My Destiny
38 Berpisah


__ADS_3

Ara keluar dari kamar mandi. Wajahnya sedikit pucat. Dia habis menangis di kamar mandi. Dia juga terlalu cemas memikirkan ancaman yang Nyonya Myra berikan tadi. Ia sangat takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Ia belum siap pergi jauh meninggalkan pria yang dicintainya dan kehilangannya.


Wajahnya menjadi semakin pucat saat melihat Axell sedang duduk di sisi pinggir kasur dan menatapnya dengan tatapan yang bercampur aduk. Marah, kecewa, sedih dan tatapan seperti orang yang sedang terluka hatinya..


"Aa..Axell.." Ara menyadari apa yang sedang Axell pegang. Axell pasti telah mengetahui semuanya. Segalanya sudah berakhir. Berakhir dengan sangat menyakitkan. Baginya. Bagi orang yang disayanginya. Dan saat ini ada di depannya memandangnya dengan tatapan yang membuat hatinya terasa sakit sekali seperti tersayat pisau tajam.


"Maaf..maafkan aku.." Ara hanya bisa mengucapkan kata-kata maaf sambil terduduk lemas. Ia tidak berani memandang pria itu. Juga tidak berani menyentuhnya apalagi memohon-mohon padanya.


Axell terdiam sejenak lalu dia berbicara dengan suara yang awalnya pelan dan semakin meninggi.


"Maaf..hanya maaf?! Tidak adakah kata-kata lain yang harus kau ucapkan? Tidak ada penjelasan apapun..? Aku tahu semua ini sudah jelas. Apa yang ada di sini sudah sangat jelas. Tapi kupikir kamu.. " Axell merasa sangat kecewa dengan reaksi yang Ara berikan.


"Tahukah kamu, kata maaf-mu itu sungguh membuatku hancur. Aku berharap setidaknya kamu akan membela diri dengan menyangkalnya, memohon-mohon padaku untuk tidak mempercayainya. Bahwa semua ini jebakan, bahwa kamu telap ditipu."

__ADS_1


"Tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Ternyata semua ini benar dan nyata. Kebohonganmu. Kepalsuanmu. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Apakah aku harus mengikuti kata hatiku untuk tetap mempercayaimu dan menerimamu walau apapun yang telah kamu lakukan. Atau mengikuti pikiranku yang sangat marah dan membencimu. Aku serasa ingin segera mengusirmu pergi jauh dariku. Aku hanya tahu, saat ini hatiku sungguh terasa perih bagaikan ditikam ribuan pisau saat melihatmu.."


"Iya Axell..Semua itu memang benar. Itulah kenyataannya. Aku pembohong. Aku telah menipumu. Aku tidak berhak untuk membela diriku. Hanya kata maaf yang pantas kuucapkan. Maafkan aku telah melukai hatimu. Kamu berhak untuk membenci dan mengusirku. Aku akan pergi.. Aku akan pergi jauh darimu sekarang juga.."


Kata-katanya tertahan karena air matanya yang seperti akan tumpah membanjiri dirinya. Ia lalu berusaha untuk bangun dan pergi dari sana. Ia memaksakan tubuhnya yang sedang lemas untuk berdiri. Namun tubuhnya tak dapat diajak kompromi, tubuhnya limbung dan hampir terjatuh.


Axell segera menopang tubuh Ara. Lalu memapahnya ke atas kasur. Sesaat, ia merasa sangat berat untuk melepaskan pegangannya dari tubuh Ara. Melihat wajah pucat dan tubuh lemah itu membuatnya ingin memeluk dan mendekapnya. Namun ia ingat dengan apa yang telah diperbuatnya dan ia kembali merasakan kepedihan dihatinya. Ia pun melepaskan tangannya.


Tangisan Ara akhirnya meledak setelah Axell pergi. Ia tak mampu untuk menahannya lagi. Axell yang ada di luar berdiri terdiam sejenak sambil bersandar pada pintu apartemennya. Ia mendengar tangisan Ara yang langsung pecah dan tak kuat mendengarnya. Hatinya terasa pilu dan sakit. Dan ia pun segera pergi dari situ.


Axell pergi ke bar dan minum-minum di sana hingga mabuk. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menenangkan emosi dan pikirannya itu. Juga untuk sejenak menghilangkan rasa sakit yang sedang dirasakannya ini.


Ara tidak tidur semalaman. Ia terus menangis tanpa berhenti. Ia tak mampu untuk mengatasi kesedihan dan rasa sakit di hatinya. Kehilangan orang yang dicintainya bahkan dengan menyakiti hatinya.

__ADS_1


Pagi harinya, Ara membereskan barang-barangnya dan pergi dari apartemen itu. Walaupun pria itu tidak mengusirnya, tetapi dia juga tidak mungkin untuk tetap tinggal di apartemen itu lagi.


Ia memutuskan untuk tetap di Jakarta dan mencari rumah kontrakan. Dia tidak mau pulang ke rumah orangtua nya di Jogja dengan keadaan patah hati seperti ini. Dia juga membutuhkan privasi untuk menghadapi dan menyembuhkan hatinya yang sedang terluka.


Sebulan telah berlalu. Sejak itu mereka berdua tidak saling berhubungan sama sekali. Axell tidak mencari Ara bahkan ketika Ara pergi dari apartemennya.


Setiap malam Ara selalu menangis. Karena terlalu berat baginya untuk mengalami kehilangan orang yang sangat dicintainya itu. Apalagi dialah yang menyebabkan kandasnya hubungan itu. Dan telah membuat orang yang dicintainya itu tersakiti karena kebohongan yang telah diperbuatnya.


Sebenarnya Axell merasakan kesedihan yang lebih mendalam. Hatinya sungguh terluka. Karena ia telah mencintai orang yang salah. Wanita yang selama ini dicintainya bukanlah Shiena-nya yang telah dia rindukan bertahun-tahun. Bahkan, wanita itu telah menipunya dengan mencuri identitas dan menyamar sebagai Shiena-nya.


Betapa sakit dan hancur hatinya. Sinar cerah diwajahnya dan kehangatan di dalam hatinya telah hilang kembali. Kini hatinya semakin tertutup. Dirinya menjadi lebih pemarah dan lebih dingin. Karena pengkhianatan dari orang yang dicintainya itu.


Hidupnya semakin kacau dan berantakan. Dia tidak peduli pada hal apapun lagi. Dirinya setiap malam bekerja hingga larut. Setelah itu dia akan pulang ke apartemennya dan minum-minum hingga mabuk dan tak sadarkan diri. Kalau tidak seperti itu maka pikirannya akan memaksanya terus mengingat wanita itu dan membuat luka dihatinya semakin terasa.

__ADS_1


__ADS_2