
Malam ini Ara sedang duduk termenung di halaman depan rumahnya. Ia memikirkan tentang Axell yang tiba-tiba datang.
Ia berpikir, apakah sebaiknya dia katakan saja identitas dirinya yang sebenarnya yang sedang menyamar sebagai Shiena palsu. Bahwa selama ini dia terikat suatu perjanjian kontrak dan telah dibayar oleh Nyonya Myra untuk melakukan penyamaran tersebut.
Atau sebaiknya ia diam saja dan tetap melanjutkan penyamaran ini?
Sebenarnya ia tidak punya keberanian untuk mengatakan kebenaran ini pada pria itu. Apalagi dengan semua yang telah pria itu lakukan padanya akhir-akhir ini. Pria itu sudah seperti malaikat pelindung baginya yang selalu datang menolong saat ia dalam kesulitan. Sehingga ia takut kehilangan pria itu dan tidak mau diperlakukan kasar seperti dulu lagi.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa sadar, ayah sudah ada didekatnya. Ayah bertanya padanya, "Putriku, mengapa sudah larut malam tetapi kamu masih belum tidur juga?"
"Ayah..Ayah juga belum tidur?"
"Iya, ayah sedang menunggumu. Ada apa, nak? Sepertinya kamu sedang ada masalah, katakan pada ayah, mungkin ayah bisa membantumu."
"Maaf Yah, Ayah jadi belum tidur karena menungguku. Tidak Yah, aku hanya sedang menikmati udara malam hari yang sudah lama tidak kurasakan ini." Jawab Ara berbohong.
"Ayah tahu, kamu pasti sedang memikirkan mantan bosmu yang tiba-tiba datang tadi."
"Pasti Rey yang memberitahu ayah. Dasar wartawan dan tukang gosip, tidak bisa menutup mulutnya."
__ADS_1
"Jangan menuduh begitu, dia hanya bermaksud untuk memberi informasi pada ayah."
Lalu Ara terpikir untuk menanyakan sesuatu pada ayahnya.
"Ayah, ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa ayah masih ingat, berapa umurku saat aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku mengalami amnesia?
"Saat umurmu 8 tahun. Ada apa, Nak? Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini? Apa ada sesuatu hal yang mengganggumu?"
"Begini ayah, sejak kecil aku suka bermimpi melihat seorang anak kecil disebuah taman. Belakangan ini, mimpi itu semakin sering muncul. Dan baru-baru ini, aku pernah masuk ke sebuah taman yang sama persis dengan yang ada dalam mimpiku itu. Lokasi taman itu berada di dekat gedung kantor tempatku bekerja."
"Saat berada di dalam taman itu, tiba-tiba kepalaku terasa sakit lalu aku seperti melihat kilasan ingatan tentang seorang anak kecil yang sama seperti yang terjadi dalam mimpiku itu."
"Maafkan ayah, Nak. Ayah tidak tahu apa saja yang pernah terjadi pada hidupmu dulu kecil. M..mmaksud ayah.. ayah tidak ingat apa saja yang sudah terjadi denganmu waktu kecil." Ayah buru-buru mengoreksi ucapannya.
Ara tidak percaya dengan jawaban ayahnya itu. Sepertinya ada sesuatu yang ditutupi oleh ayahnya.
"Ayah, apakah ada sesuatu yang ayah rahasiakan dariku? Sebenarnya.. aku anak kandung kalian atau bukan?"
"Ara..! Mengapa kamu bisa bertanya seperti itu?! Apakah selama ini kamu meragukan kami sebagai orang tuamu?" Ayah terlihat marah dan juga terkejut. Ia tak menyangka anaknya menanyakan hal seperti itu padanya.
__ADS_1
"Entahlah ayah, aku bingung.. Aku merasa apa yang terjadi dalam mimpiku itu benar nyata kualami saat aku kecil. Selain itu, aku juga merasa ada yang hilang dalam hidupku karena aku tidak tahu dan tidak bisa mengingat masa kecilku. Aku hanya.."
"Nak, dengarkan ayah. Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Ayah tidak mau kamu menyakiti dirimu sendiri dengan pikiran-pikiran yang membebanimu itu. Jangan membuat hubungan keluarga kita jadi rusak karena keraguanmu itu pada kami. Atau kita semua akan tersakiti nantinya."
"Maaf ayah, aku tak bermaksud meragukan dan menyakiti hati kalian. Aku juga memiliki ketakutan. Aku takut kalau ternyata aku bukan anak kalian. Sehingga aku hanya ingin memastikannya, agar hatiku ini bisa merasa lebih tenang. Aku sangat sayang pada kalian, aku juga hanya mau menjadi anak kalian."
"Anakku, ayah paham. Ayah maklum dengan apa yang kamu takuti, Nak. Wajar kalau kamu bertanya seperti itu. Karena ingatan masa kecilmu yang hilang membuatmu bingung. Keluarga kita juga tidak memiliki foto untuk menyimpan kenangan-kenangan kecilmu. Tapi Nak, kamu harus yakin dan percaya bahwa ayah dan ibu sangat menyayangimu."
"Iya ayah, aku tahu. Aku bisa merasakan kasih sayang kalian yang begitu besar padaku."
"Ayah berharap kamu tidak lagi membicarakan atau menanyakan hal seperti ini. Terutama pada ibumu, ayah tidak mau ibumu jadi ikutan sedih karena ini. Baiklah, Nak. Sudah malam, ayo kita segera tidur." Ayah menepuk-nepuk jemari Ara dengan lembut
"Maafkan aku ayah. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah.
Ayah masuk ke dalam kamarnya dan melihat ibu sudah tertidur pulas. Lalu ayah membuka lemari bajunya dan mengambil sebuah kotak yang terletak agak tersembunyi dan dibungkus rapat dengan kain.
Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah liontin berbentuk bola seukuran kelereng yang dikelilingi bunga-bunga aster dari dalam kotak tersebut. Dia lalu membuka liontin itu dan terlihat ada 2 huruf tertulis didalamnya, yaitu huruf AF. Dia memandangi tulisan itu dan menyentuhnya dengan lembut.
__ADS_1
"Ara..maafkan aku, Nak.." isak ayah seperti menangisi apa yang telah ia perbuat pada anaknya. Ternyata ayah memiliki liontin yang dipakai Shiena kecil saat dia menghilang. Ayah seperti mengetahui suatu rahasia tentang identitas Ara yang sebenarnya dan menyimpan rahasia itu.