
Retha turun dari sebuah bis umum di salah satu pasar yang ada di Jogja. Ini pertama kalinya dia berpergian seorang diri dengan menggunakan kereta dan bis umum ke tempat tujuan yang masih asing pula baginya.
Dia benar-benar sudah bertekad dengan mengumpulkan keberaniannya selama menjalani hukuman dari ayahnya yang mengurungnya di dalam kamar selama sebulan. Dia berniat kabur dari kurungan itu dan melakukan perjalanan ke Jogja, mencari ibunya.
Perasaan bersalah dan ketakutan yang terus menghantuinya juga yang membuatnya terpaksa kabur dari rumah dan dari hukuman ayahnya. Dia takut untuk bertemu dan menghadapi kakaknya yang telah ia jahati hinnga terluka dan sedang dirawat di rumah sakit.
Ia tidak memiliki banyak uang tersisa di dompetnya karena ia terbiasa menggunakan kartu kredit. Jadi ia terpaksa naik kereta ke Jogja dan naik bis umum. Ia merasa kebingungan dan tidak tahu bagaimana caranya melanjutkan perjalanannya menuju ke perkebunan tempat ibunya tinggal saat ini. Ia bertanya pada seorang pedagang di sebuah kedai makanan bagaimana cara pergi ke perkebunan teh yang ada di desa Pagerharjo.
Di sana, ada seorang pria sedang duduk sambil memakan jajanannya di kedai itu. Dia memperhatikan wanita itu sejak turun dari bis. Wanita kota yang manja dan kaya raya mengapa naik bis umum. Wajahnya yang putih terawat dan pakaiannya yang branded, tidak takut apa akan mengotorinya dan membuat dirinya jelek.
Selain itu, wanita ini terlihat sangat cantik dengan bentuk tubuh yang seksi dan menggoda. Dengan wajahnya yang terlihat kebingungan dan penuh ketakutan. Tentu akan menjadi incaran empuk para lelaki buas yang sedang kelaparan.
Pria itu berjalan mendekati Retha dan menahannya saat dia akan pergi.
"Hey, kamu mau ke perkebunan yang ada di desa Pagerharjo? Kebetulan aku tinggal di sana. Ayo, ikut saja denganku.."
Retha menatapnya curiga dan pikirannya langsung dipenuhi rasa takut. Ia hanya diam saja dan membuang muka serta berusaha pergi menjauh dari pria itu.
Pria itu kesal karena dia hanya diam saja dan tidak menghiraukannya. Dasar wanita kota yang sombong, keluhnya dalam hati. Tetapi hatinya tidak tega meninggalkannya sendirian. Ada banyak bahaya yang mengincarnya. Sehingga ia kembali berusaha berbaik hati untuk menawarinya tumpangan lagi. Lagipula tujuan mereka sama.
"Jangan takut dan curiga padaku. Aku tidak bermaksud jahat. Tadi aku mendengar pertanyaanmu pada bapak penjual itu. Karena tujuan kita sama, jadi aku hanya ingin berbuat baik membantumu."
"Tenang saja, ketiga kakakku adalah wanita dan aku sangat menyayangi mereka. Aku tidak mau mereka mengalami hal buruk. Jadi aku juga tidak akan melakukan hal yang buruk pada seorang wanita. Selain itu, akan sangat berbahaya bagi seorang wanita lugu sepertimu di tempat asing seperti ini sendirian."
Retha berpikir apa yang dikatakan pria ini ada benarnya. Daritadi ia juga merasakan tatapan para lelaki yang ada di sekitarnya dan membuatnya takut. Mereka seperti mencari kesempatan untuk mengincar dirinya yang terlihat seperti sebuah mangsa yang terasa sangat nikmat.
Retha melihat dan merasakan ada ketulusan di mata pria itu. Selain itu, pria di depannya ini juga memiliki penampilan yang cukup menarik. Wajahnya tampan dengan mengenakan jaket kulit yang keren dan terlihat seperti orang kaya. Tidak terlihat seperti preman atau orang jahat.
Akhirnya Retha mempercayainya dan mau menerima tumpangan yang ditawarkan padanya. Pria itu mengendarai motor gede. Ia lalu naik dan duduk dibelakangnya.
Ternyata perjalanan itu sangat panjang sehingga cukup lama bagi mereka untuk sampai. Retha merasa jalanan semakin menanjak dan angin yang bertiup semakin kencang. Membuat dirinya sangat kedinginan. Posisi tubuhnya juga tidak nyaman. Tubuhnya terasa pegal karena tidak terbiasa naik motor gede. Selain itu, sepanjang perjalanan dia berusaha berpegangan erat pada pegangan yang ada di belakang motor dan menjaga jarak jauh dengan tubuh pria itu agar tubuhnya tidak menyentuhnya.
"Heyyy..peganganlah pada diriku."
Pria itu seperti bisa merasakan apa yang Retha rasakan.
"Lingkarkan lenganmu di pinggangku. Kalau tidak kamu akan jatuh karena tiupan angin yang sangat kencang. Lagipula tubuhmu pasti sudah sangat kedinginan saat ini dengan bajumu yang tipis dan agak sedikit terbuka." Pria itu berteriak agar Retha bisa mendengarnya karena saat ini angin bertiup sangat kencang.
Retha menurutinya. Dia seperti memeluk pria itu dengan kencang dari belakang. Saat Retha melingkarkan lengannya di pinggangnya, pria itu merasa ada sedikit tarikan debaran dihatinya. Begitu juga dengan Retha. Ia merasa ada kehangatan menjalar pada tubuhnya dan terasa sangat nyaman.
Setelah jalanan agak rata, pria itu menghentikan motornya untuk turun dan berisitirahat sebentar meregangkan otot tangan dan kaki mereka. Ia lalu melepaskan jaket kulitnya dan memakaikannya ke tubuh Retha.
"Jangan..aku tidak perlu itu. Kamu lebih memerlukannya karena kamu duduk didepan sehingga tubuhmu akan menerjang angin." Retha melepaskan jaket kulit itu dan mengembalikannya pada pria itu.
"Tidak apa, aku mengenakan kemeja jeans dan dua kaos tebal di dalamnya." Pria itu kembali memakaikan jaket itu ke tubuhnya.
"Sepertinya kita belum berkenalan. Mmm, namaku Retha." Retha menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Reynaldi. Kamu boleh memanggilku Rey saja."
"Baiklah, hai Rey. Salam kenal. Terima kasih sudah berbaik hati memberiku tumpangan. Maafkan aku tadi sempat bersikap tidak sopan dan telah berpikir buruk tentangmu."
"Tidak apa, jangan khawatir. Aku bukan orang yang pendendam. Hari sudah semakin sore. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Kita harus sampai sebelum gelap."
Mereka masih harus menempuh satu jam perjalanan lagi.
Sesampainya di perkebunan, Retha sangat takjub. Ia pikir gedung tinggi dan mall-mall mewah berlapis marmer dengan interior yang megah adalah pemandangan yang paling menyenangkan. Tetapi saat ini dengan hamparan hijau yang luas tanpa ada satu gedung pun yang menutupinya sungguh pemandangan asri yang sangat indah. Udaranya terasa sejuk dan menenangkan hati.
Rey asik memperhatikan Retha yang sedang terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada di depan mereka. Tanpa sadar ia lalu tersenyum senang.
Mereka masih diam disitu sampai matahari mulai tenggelam dan menyaksikannya bersama. Retha terlihat sangat bahagia, hingga melupakan kesedihannya. Setelah hari mulai gelap, Rey membawa Retha untuk menginap di villa miliknya.
Sesampainya di villa, mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang langsung dipanggil ibu oleh Retha dan memeluknya. "Ibu..? Ibu..aku merindukanmu.."
"Retha..anakku sayang.." Ibu mengusap kepalanya lembut.
"Ternyata ibu tinggal di villa ini. Aku senang sekali bisa langsung menemukan ibu. Ibu..." Retha memeluknya lagi dan menangis lirih. Seolah meluapkan semua kepedihan dan kesedihan yang dia rasakan selama ini.
Rey diam terpaku menyaksikan pertemuan haru yang tak diduganya ini. Rey tidak tahu bahwa wanita ini adalah anak dari ibu tiri Shiena yang bekerja menjaga villanya. Ia pergi meninggalkan mereka berdua setelah mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam villa.
Retha dan ibunya berpelukan lagi di dalam villa. Melepas rasa rindu mereka yang begitu besar. Retha merahasiakan dirinya yang kabur dari hukuman ayahnya karena apa yang telah diperbuatnya pada kakaknya. Ia juga tidak menceritakan apa yang telah terjadi saat ini.
***
Shiena hari ini sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Selama ini ia selalu menanyakan dimana keberadaan Retha dan bagaimana keadaannya. Ia tidak pernah melihat Retha datang menjenguknya selama dia dirawat di rumah sakit. Ia khawatir pada adiknya dan curiga ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Ayahnya dan Axell tidak pernah menjawab pertanyaannya dan selalu mengalihkannya. Sehingga setelah pulang ke rumah, ia mencari-cari Retha di sekeliling rumahnya.
Tetapi badannya masih lemah dan tubuhnya tidak kuat berjalan jauh karena lukanya masih belum begitu sembuh. Ia pun meringis kesakitan. Dan Axell segera memapahnya ke kamar tidurnya.
"Sayang, beristirahatlah dengan baik. Jangan banyak bergerak dulu dan memikirkan banyak hal. Kumohon jangan membuatku sedih dengan melihatmu yang seperti ini. Kamu tidak tahu betapa perihnya hatiku saat melihatmu meringis kesakitan. Seandainya tubuhku bisa menggantikan luka dan rasa sakit yang dideritamu.." Suara Axell tercekat karena air matanya yang sudah hampir keluar.
"Axell sayang, maafkan aku.. Aku tidak bermaksud menyakitimu dan membuatmu sedih. Baiklah, aku akan tidur sekarang. Kamu temani aku ya disini."
Lalu hp Shiena berbunyi. Ia melihat ada sebuah pesan baru masuk. Selain itu ada 5 panggilan yang tidak terjawab olehnya. Pesan dan semua panggilan itu dari Rey.
Ia bertanya-tanya ada apa hingga Rey meneleponnya berkali-kali. Ia membaca pesan dari Rey yang memberitahukan bahwa Retha ada di perkebunan teh dan tinggal di villa bersama ibunya.
Axell melihat ke layar hpnya dan bertanya ada apa. Tetapi Shiena cepat-cepat mematikan hpnya dan mengatakan tidak apa-apa. Lalu ia memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
Selama 3 hari sejak menerima pesan itu, Shiena terus memikirkannya hingga ia tidak bisa tidur.
"Aku sudah membeli 2 tiket pesawat ke Jogja untukmu dan diriku. Dengan jadwal penerbangan besok pagi." Shiena akhirnya memutuskan untuk menjemput adiknya pulang ke Jakarta.
"Apa..? Besok pagi? Mengapa mendadak sekali dan untuk apa kita ke sana?" Sebenarnya Axell sudah tahu untuk apa. Karena ia sempat membaca pesan yang Rey kirim padanya. Tapi ia tetap bertanya agar Shiena tidak curiga.
"Ibuku sedang sakit. Aku ingin menjenguknya." Jawab Shiena berbohong.
"Ibumu? Tante Myra? Bukannya ayahmu melarangmu untuk menemuinya?"
"Bukan.. bukan dia tetapi ibuku yang telah membesarkanku selama ini."
"Ohh begitu, tapi lukamu bagaimana? Kurasa tubuhmu masih belum begitu sehat untuk melakukan perjalanan ke sana. Apalagi perjalanan ke sana menanjak dan berliku-liku. Pasti itu akan mengganggu lukamu."
"Lukaku sudah mulai mengering. Aku juga akan berhati-hati menjaga lukaku selama di perjalanan."
"Tetapi luka itu masih bisa terbuka lagi kalau kamu banyak bergerak dan terkena guncangan."
__ADS_1
"Terserah kamu mau ikut aku atau tidak. Yang pasti aku sudah memutuskannya untuk pergi besok. Dan kuharap kamu bisa membantuku untuk tidak memberitahu pada ayahku dulu. Aku akan memberitahunya setelah kita sudah sampai di sana."
Axell menatapnya dingin. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk mencegahnya. Wanita ini memang sangat keras kepala. Apa yang dia mau tidak bisa untuk tidak dituruti. Dia tidak mau ribut dengannya karena hal ini. Karena itu hanya akan menguras tenaga Shiena. Pada akhirnya dia pasti akan tetap pergi juga.
Shiena melihat Axell hanya diam saja dan sikapnya mendingin padanya. Tetapi Shiena tidak menghiraukannya.
*****
Axell dan Shiena sudah tiba di Jogja dan sekarang mereka melanjutkan perjalanan ke perkebunan dengan menggunakan mobil jeep.
Ternyata Axell benar. Dirinya saat ini merasa tidak nyaman. Tubuhnya yang berguncang saat perjalanan berkelok dan berliku membuatnya merasakan nyeri pada luka diperutnya.
Ia sudah merasa tidak tahan lagi, ia butuh untuk membaringkan tubuhnya.
"Axell, bolehkah aku menumpang kepalaku di pangkuanmu, aku perlu membaringkan badanku.." Wajah Shiena yang pucat berbicara dengan suara yang lemah.
"Iya sayang, astaga wajahmu pucat sekali.. Apakah kamu merasa tidak nyaman dengan lukamu?" Axell terlihat panik. Ia baru menyadari wajah Shiena yang pucat karena rasa nyeri dan tidak nyaman pada lukanya. Axell sebenarnya masih marah dan mendiamkannya tadi. Tetapi, sekarang ia merasa bersalah dan menyesalinya saat melihat kondisinya yang seperti ini.
Shiena hanya mengangguk pelan dengan mata yang terpejam. Sepertinya sekarang ia sudah tertidur karena pengaruh obat penghilang rasa nyeri yang diminumnya tadi.
Mereka akhirnya sampai. Shiena sudah terlihat membaik sekarang. Di sana mereka disambut oleh Rey.
"Rey.. dimana Reth.."
"Ara..bagaimana kabarmu? Mengapa wajahmu sedikit terlihat pucat?" Rey sangat senang menyambut kedatangan Shiena yang sudah dirindukannya.
"Ehmm..aku baik, tidak apa-apa, hanya sedikit lelah saja karena perjalanan tadi. Rey dimana .."
"Benar, kamu terlihat lelah. Ayo kita ke rumahku dulu."
"Rey..!" Shiena sudah mulai tidak sabar ingin segera bertemu dengan adiknya.
"Ya..??" Rey bingung dengan nada panggilan Shiena kepadanya yang seperti agak meninggi.
"Sayang, bukankah kita ke sini karena ingin menjenguk ibumu yang sakit?" Axell yang daritadi diam akhirnya menyela dengan sebuah pertanyaan melihat situasi agak memanas.
"Axell, maafkan aku membohongimu. Sebenarnya, aku ke sini bukan karena ingin menjenguk ibuku.. tapi.."
"Retha." Jawab Axell dingin.
"Kamu.." Tubuh Shiena limbung, ia sudah tidak kuat lagi bertahan dari rasa sakitnya. Itulah mengapa ia ingin segera bertemu dengan adiknya.
Axell dengan sigap merangkul tubuh Shiena untuk memberinya sandaran.
"Shiena.."
"Ara.."
Kedua pria itu berteriak dengan panik secara hampir berbarengan.
"Rey, lebih baik kita menuju rumahmu sekarang agar Shiena bisa beristirahat."
"Tidak.." Shiena menggelengkan kepalanya.
"Aku mau segera bertemu Retha. Kumohon, Rey..Axell.."
"Baiklah. Ayo kita segera menuju villa." Sebenarnya Rey daritadi hanya bermaksud untuk iseng dan menggodanya saja sehingga ia sengaja berlama-lama untuk memberitahunya dimana keberadaan adiknya. Ia tidak tahu dengan kondisi Shiena yang sedang sakit dan ingin segera menemui adiknya.
Setibanya di villa, Rey menyarankan pada Axell untuk pergi meninggalkan Shiena sendirian saat bertemu mereka.
"Lebih baik kita pergi, biarkan mereka bertiga dan jangan mengganggu. Aku yakin kamu tidak mau berada di antara para wanita yang saling menangis melepas rindu." Rey berbicara seperti itu karena mengingat pengalamannya kemarin. Sungguh terasa canggung dan tidak mengenakkan.
"Kupikir kau benar. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Shiena sendiri menghadapi mereka. Apalagi dengan kondisi Shiena yang seperti itu."
"Axell, Rey benar. Aku tidak akan apa-apa, mereka adalah keluargaku sendiri. Tidak ada hal yang perlu ditakuti. Jangan khawatir. "
"Benar. Ayo kita pergi offroad saja. Aku belum pernah menyambut kedatanganmu sebagai turis disini. Aku harus membawamu berkeliling dan menunjukkan keindahan yang ada di sini." Rey tidak tahu kalau hubungan Shiena dengan ibu dan adiknya itu tidak pernah baik.
"Baiklah." Axell mengikuti Rey dan meninggalkan Shiena. Dia berpikir seharusnya Retha sudah berubah sekarang, ia tidak akan berbuat hal yang buruk lagi kepada kakaknya. Apalagi dia tahu kalau kakaknya terluka karena mengorbankan diri untuk melindungi dirinya.
Shiena memencet bell yang ada di depan pintu villa. Bu Myra keluar dan membukakan pintu. Dia tidak tahu tamunya yang datang itu adalah Shiena. Saat melihatnya, ia masuk kembali ke dalam, meninggalkannya diluar. Karena ia tidak mau menerima kehadirannya itu. Tetapi Shiena menahannya dengan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Ibu.. "
Nyonya Myra masih merasakan kemarahannya pada Shiena. Dia masih belum tahu dengan peristiwa penusukan pada Shiena karena melindungi anaknya.
"Lepaskan aku. Bukankah ayahmu melarang untuk menemuiku. Aku tidak mau kamu menyesali perbuatanmu yang menemuiku dan membuatmu dihukum oleh ayahmu."
"Tidak ibu..aku tidak takut akan hukuman ayah dan tidak akan menyesalinya. Aku hanya takut kalau..agghh.." Shiena merasa sedikit kesakitan karena ada sesuatu yang menusuk di lukanya.
Nyonya Myra tidak sabar dan mendorong tubuh Shiena dengan siku tangannya agar Shiena segera melepaskan pelukannya dari belakang tubuhnya. Dan siku tangannya mengenai luka Shiena yang masih belum sembuh sepenuhnya.
"Kak Shiena..Mengapa kakak begitu pucat. Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam." Retha keluar melihat siapa tamu ibunya yang datang itu. Setelah tahu itu kakaknya yang datang dengan wajahnya yang terlihat pucat, dia lalu segera menuntunnya dan membawanya masuk ke dalam.
"Mengapa kakak datang ke sini? Apakah tidak membahayakan luka kakak dengan melakukan perjalanan kesini? Wajahmu saja masih terlihat pucat. Apakah kakak datang sendirian ke sini diam-diam?" Retha melihat ke arah luar seperti sedang mencari seseorang lainnya.
"Retha, lukaku sudah mulai mengering. Tidak berbahaya. Mukaku pucat karena aku sedikit merasa lelah saja di perjalanan tadi. Aku tidak sendirian, ada Axell yang menemaniku kesini tapi sekarang dia sedang pergi offroad bersama Rey.
"Retha, mengapa kamu tidak pernah menemuiku saat aku di rumah sakit? Aku juga tidak melihatmu saat di rumah. Dan mereka seperti menutupi sesuatu tentangmu dariku."
"Maafkan aku kak, aku tidak bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatmu padahal kamu terluka karena diriku. Aku.." Retha terdiam, ia tidak bisa mengatakan alasannya bahwa ayah melarangnya dan mengurungnya di dalam kamar sebagai hukuman sehingga tidak bisa keluar.
"Rere, bukan itu maksudku. Aku hanya merasa khawatir padamu. Aku tidak mau kamu merasa takut dan terus menyalahkan dirimu."
"Aku memang bersalah padamu kak, aku telah berbuat jahat karena aku menjebakmu dengan membuatmu terlihat seperti telah tidur dengan pria itu. Aku ingin kak Axell membencimu dan meninggalkanmu. Tetapi aku tak menyangka akhirnya menjadi seperti ini. Maafkan aku kak, aku sungguh menyesal. Aku sangat takut kalau kakak tidak bangun lagi saat itu.. Aku..Maafkan aku kak.." Retha membayangkan kengerian akan kakaknya yang tidak pernah terbangun lagi karena tusukan itu. Apalagi tusukan itu seharusnya ditujukan padanya.
"Retha.. Apa yang sedang kalian bicarakan ini. Jelaskan padaku. Mengapa kamu menyesal dan meminta maaf?" Ibu meminta penjelasan tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
Retha diam saja.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Semua masalah ini telah berlalu dan sudah selesai. Rere, aku sudah memaafkanmu. Aku juga tidak pernah menyalahkan dirimu. Saat aku terjatuh dipangkuanmu, aku bisa melihat dan merasakan ketakutan dan rasa bersalahmu. Sekarang, jangan menyalahkan dirimu lagi. Ayo kita pulang kembali ke Jakarta."
"Tidak kak, aku tidak mau pulang. Ayah sangat marah padaku. Dia pasti akan mengusirku dan tidak mau menerimaku lagi sebagai anaknya. Biarkan aku tetap disini bersama ibuku."
Seseorang datang membuka pintu dan terdengar suara helikopter yang sangat kencang dan berisik. Helikopter itu berhenti di tanah lapang dekat villa.
"Shiena! Mengapa kamu pergi kesini diam-diam!" Ternyata Tuan Arman yang datang dengan helikopter. Saat dia tahu Retha kabur dari hukuman kurungannya, dia tidak mencari dan mempedulikannya. Tetapi saat dia mendengar Shiena yang masih terluka diam-diam menyusul Retha untuk menjemputnya, ia langsung marah dan segera berangkat kemari menggunakan helikopter.
__ADS_1
"Ayah.. maafkan aku.." Shiena meminta maaf pada ayahnya, sedangkan Retha hanya diam saja, dia ketakutan dan segera bersembunyi di belakang kakaknya.
"Sekarang juga, ayo ikut ayah pulang. Dan tinggalkan mereka berdua. Ayah sudah memutuskan hubungan keluarga dengan mereka dan tidak mau peduli lagi."
"Tidak ayah, aku tidak akan pulang jika mereka tidak ikut pulang bersamaku."
Di luar, Axell dan Rey telah kembali. Mereka sekarang sudah sangat akrab. Mereka berjalan menuju villa sambil mengobrol dengan asiknya.
"Helikopter siapa itu?" Rey menunjuk sebuah helikopter yang terparkir di tanah lapang dekat villa miliknya.
"Hmm kurasa itu paman Arman. Dia punya kenalan yang memiliki helikopter. Sepertinya akan ada masalah di dalam." Axell mempercepat langkahnya.
"Jangan melawanku lagi. Lihat wajahmu yang sangat pucat. Lukamu masih belum sembuh. Kamu harus melakukan perawatan hingga sembuh total dulu. Janganlah menjadi anak yang keras kepala."
"Seperti yang ayah katakan, aku memang keras kepala. Aku tidak mau pulang dan akan menunggu sampai ayah memaafkan dan menerima mereka kembali menjadi anggota keluarga kita. Kalau tidak, aku tidak akan beranjak sedikitpun dari tempatku berdiri ini." Tatapan Shiena sangat dingin walau kepada ayahnya. Dia tidak takut pada ayahnya. Dia merasa hanya saat ini kesempatan baginya untuk bisa membuat keluarganya bersatu kembali. Agar ayah mau memaafkan dan menerima mereka kembali.
Axell dan Rey sudah di dalam villa. Tapi mereka yang didalam tidak menyadarinya karena suasana di sana sangat mencekam. Ayah dan anak itu sedang bertengkar hebat untuk pertama kalinya dan saling keras kepala, tidak ada yang mau mengalah.
"Baiklah. Kamu tidak menyadari kalau dirimu yang keras kepala itu menurun dari diriku. Kalau kamu mau melawanku, aku akan melihatnya. Sampai kapan kamu kuat bertahan berdiri disitu dengan tubuhmu yang sedang lemah itu."
Axell dan Rey saling bertatapan. Bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka semua hanya diam membisu, tidak ada yang berani ikut campur untuk berbicara karena mereka semua takut. Bahkan tidak terkecuali Axell sekalipun. Apalagi Rey, yang tidak mengenal mereka.
Setelah 10 menit berlalu, Axell semakin merasa cemas dan khawatir. Ia berjaga di dekat Shiena. Wajah Shiena yang pucat sudah basah karena keringat dingin yang keluar dari tubuhnya. Bahkan matanya terlihat seperti berat untuk membuka, ia berusaha memejamkan matanya sesekali. Ia juga mencengkram tangannya kuat-kuat agar bisa terus bertahan.
"Kakak..! Bajumu berdarah.." Retha refleks berteriak saat melihat ada darah dibaju Shiena.
Tubuh Shiena pun roboh ke lantai yang dengan sigap ditahan oleh Axell. Saat Axell akan berdiri untuk membawanya pergi, Shiena menggenggam erat lengan Axell, menahannya dan menggelengkan kepalanya.
"Shiena.."
"Tidak Axell.. Aku tidak..akan beranjak..sampai..Ayah mau.." Suara Shiena terdengar sangat lemah dan terputus-putus.
"Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi, tapi kusarankan sebaiknya paman segera menyetujui apa yang dia mau. Aku telah mengenalnya dan tinggal didekatnya lebih lama daripada kalian jadi aku tahu seberapa keras kepalanya Ara. Dia akan tetap bertahan dengan keadaan seperti itu sampai mendapatkan apa yang dia inginkan." Rey akhirnya berani berbicara.
"Paman, aku takut keadaan Shiena semakin memburuk. Tolong turuti kemauannya, aku tidak tega melihatnya yang terus memaksa dirinya untuk tetap bertahan seperti ini." Axell ikut berbicara memohon pada ayah Shiena.
Tetapi Retha masih tidak berani berbicara apapun, dia hanya menangis.
"Baiklah.. Aku akan menuruti keinginanmu. Mereka boleh pulang dan aku juga akan menerima mereka kembali. Aku kalah denganmu, nak.." Ayah menghela nafas berat, melihat anaknya yang sangat keras kepala itu. Ia lalu membantu Axell berdiri dan memegangi anaknya.
"..." Shiena membuka mulut ingin mengucapkan sesuatu pada ayahnya tetapi ia sudah terlalu lemah hingga tidak ada tenaga yang tersisa. Pegangannya pada lengan Axell pun makin melemah hingga terlepas dan ia jatuh pingsan.
Shiena dibawa ke rumah sakit terdekat yang ada di perkebunan. Rumah sakit itu kecil dengan peralatan seadanya. Sehingga hanya Retha dan Axell yang masuk menemani ke ruang periksa. Dokter mengatakan bahwa luka di perut Shiena terbuka dan mengeluarkan banyak darah.
"Sepertinya luka ini sudah terbuka sejak setengah jam yang lalu. Apakah pasien tidak menyadari lukanya yang terbuka ini?" Mereka hanya diam saja, mereka tidak mengetahuinya. Dokter menggelengkan kepalanya.
"Pasien mungkin menahannya hingga kondisinya menjadi seperti ini. Sekarang dia membutuhkan donor darah golongan B. Tetapi rumah sakit ini tidak memiliki cadangan darah dengan golongan itu."
"Ambil darahku saja dok. Aku adiknya, golongan darah kami pasti sama." Retha langsung mengajukan dirinya.
"Baiklah, mari kita lakukan pengecekan dulu."
Setelah selesai diambil darahnya, Retha keluar ruangan. Dan membiarkan Axell menemani kakaknya di ruang pasien.
Rey menyambut Retha yang keluar dari kamar pasien dan menanyakan bagaimana keadaan kakaknya.
"Dia kekurangan darah karena lukanya terbuka lagi dan sedikit kelelahan karena rasa sakit ditubuhnya. Dia butuh istirahat dengan baik dan tidak boleh banyak bergerak dulu."
Rey tahu Retha habis mendonorkan darahnya karena dia melihat pada lipatan lengannya yang bagian dalam ada perban kecil.
"Wajahmu pucat. Apakah kamu perlu sesuatu.."
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu duduk dan memejamkan mataku sebentar saja."
Rey mengamati wajah Retha yang sedang berada di sampingnya dengan mata terpejam. Tubuhnya terlihat lemas dengan wajah sedikit pucat. Rey serasa ingin memberi bahunya sebagai sandaran pada Retha agar dia merasa nyaman dan hangat.
Ia mengingat kembali apa yang Axell ceritakan padanya tadi. Bahwa Retha adalah adik yang sangat jahat dan tidak memiliki hati. Dia selalu memperlakukan Shiena dengan buruk dan mengganggunya. Belum lagi ibunya yang selalu membelanya walau dia berbuat salah dan akan menyalahkan hingga menghukum Shiena setelahnya.
Rey tidak menyangka ternyata hidup Shiena sangat menderita saat bersama keluarga kandungnya yang adalah orang kaya. Dibanding kehidupannya dengan keluarga yang bukan sesungguhnya di perkebunan ini yang bahkan hanya orang sederhana.
Ia juga tidak menyangka adik Shiena yang sekarang sedang tertidur disampingnya dengan tubuh yang terlihat lemah dan wajah pucatnya karena habis mendonorkan darah untuk Shiena ternyata dulunya sangat jahat dan tidak berhati padanya.
Saat melihatnya pertama kali, ia merasa Retha sangat rapuh. Tatapan matanya penuh kebingungan juga ketakutan. Sehingga membuat hatinya iba dan ingin bisa menjaga serta melindunginya.
Rey berpikir sepertinya sekarang Retha sudah berubah dan sudah menyesali perbuatannya. Hingga dia pun mau mendonorkan darahnya untuk kakaknya. Dia pasti sudah sangat menyayangi kakaknya sekarang.
"Rey..?"
"Ahh iya.." Rey terlonjak kaget. Ia tidak menyadari kalau Retha sudah beberapa kali memanggilnya.
"Tadi kamu ada mengatakan bahwa kakakku orang yang sangat keras kepala. Hal apakah itu yang pernah di perbuatnya padamu?"
"Begini, dulu kecil aku sangat dimanja oleh keluargaku karena aku anak bungsu. Semua yang aku mau akan dituruti dan tidak ada orang yang berani menentangku. Karena keluargaku orang yang terpandang sehingga mereka takut dan segan pada kami. Aku suka berbuat ulah dan bertingkah seperti seorang penguasa cilik di perkebunan ini. Sehingga banyak orang yang tidak suka dan benci denganku. "
"Suatu hari, ada sekelompok anak yang usianya lebih besar dariku kira-kira seumuran dengan Ara. Mereka mengajakku bermain. Ternyata mereka mau membalas perbuatan burukku kepada adik dan saudara mereka. Aku dibawa ke tempat yang sepi dan mereka mengeroyokku di sana. Aku hanyalah seorang anak manja yang mengandalkan kekuasaan orangtuaku. Tetapi sebenarnya aku anak yang lemah dan penakut. Jadi aku hanya bisa menangis saat dipukuli tanpa bisa melawan mereka."
"Ternyata ada Ara di sana, dia memang suka pergi ke tempat yang sepi untuk menggambar. Dia segera bersembunyi saat melihatku dipukuli. Tetapi dia akhirnya keluar dari persembunyiannya dan membantuku. Dia memeluk tubuhku untuk melindungiku. Mereka marah dan mengancam akan memukulinya juga. Tetapi dia tetap tidak beranjak pergi dan akhirnya dia dipukuli. Dia cukup lama bertahan dipukuli hingga ada orang datang menolong kami."
"Kamu pasti kaget dan tidak menyangka kalau dulu aku hanyalah seorang anak manja yang lemah dan penakut tapi suka bergaya dan berbuat ulah."
"Tidak. Aku lebih parah darimu. Aku seorang anak yang sangat manja dan egois. Aku selalu mengajak ribut kakakku dan senang mengganggunya. Bahkan aku sering berbuat jahat dan menyakitinya."
"Tapi kulihat sekarang kamu sudah berubah. Kamu telah peduli dan sangat menyayanginya. Bahkan kamu mau mendonorkan darahmu untuknya. Kita sama. Kakakmu lah yang telah membuat kita sadar dari sifat buruk kita sehingga kita bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dia memang seorang wanita yang luar biasa. Walaupun dia lemah, tetapi dia selalu memikirkan dan membantu orang lain.
"Kamu benar. Bagiku dia bukan hanya seorang kakak, tetapi juga seperti seorang heroin. Mmm..Rey, apakah kamu menyukai kakakku?"
Rey kaget langsung ditembak pertanyaan seperti itu oleh Retha. Kalau dulu, ia pasti akan langsung menjawab 'Tentu saja. Aku sangat menyukainya dan berharap dia bisa segera menjadi milikku'. Tetapi, entah kenapa ia jadi merasa sulit untuk menjawab seperti itu. Ia tidak yakin dengan apa yang dirasakannya terhadap Shiena saat ini. Apalagi ia tahu Shiena dan Axell sudah akan menikah. Ia juga ingin menjaga perasaan Retha dan tidak mau membuatnya kecewa dengan jawaban tersebut. Padahal mereka baru kenal dan belum begitu dekat tapi ia bisa berpikir seperti itu.
"Mmm..sepertinya aku hanya.. mengagumi dan merasa nyaman saja saat berada didekatnya."
Tadinya Retha berpikir pria itu akan menjawab bahwa dia menyukai kakakknya, tapi mendengar jawaban yang diberikan tadi, ada perasaan lega dihatinya. Ia tidak tahu mengapa, hanya ia senang saja jika bisa berada didekat pria ini dan ingin bisa mengenalnya lebih jauh lagi.
Axell di dalam mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia sedih karena tidak bisa tumbuh besar bersama Shiena dan melindunginya saat kecil.
"Shiena, semoga setelah ini hidupmu akan selalu berbahagia. Aku berjanji untuk selalu membuat hidupmu bahagia." Ucapnya sambil mengecup dan menggenggam jemari Shiena.
Akhirnya, mereka semua kembali ke Jakarta termasuk Ibu dan Retha. Ayah sudah menerima mereka kembali. Ayah juga membatalkan perceraiannya dengan ibu. Ibu dan Retha meminta maaf pada Shiena dan sekarang mereka berubah menjadi bersikap baik dan sayang padanya.
__ADS_1