
Malam ini Ara tidak bisa tidur. Mungkin karena kamar tidurnya berukuran terlalu besar sehingga ia merasa sangat kesepian. Ia juga belum terbiasa dengan kamar barunya.
Kemudian Ara terlihat sedang berjalan di sebuah taman. Di sana ia melihat seorang anak kecil perempuan sedang bermain dengan senang bersama temannya yang seorang anak laki-laki. Tiba-tiba temannya pergi meninggalkannya. Lalu datang seorang anak yang lebih kecil dan langsung mendorong tubuh anak perempuan itu dengan kasar.
"Aaghh..mengapa kamu mendorongku." tanya anak kecil yang didorong itu.
"Kamu tidak senang? Apakah kamu mau ibu hukum lagi?" Terdengar suara seorang ibu memarahinya.
"Tidak, Bu jangan.." anak itu menangis ketakutan.
Lalu anak itu duduk bersembunyi di belakang sebuah batu besar yang ada di taman itu dan menangis sendirian.
Sebuah tangan terlihat menggapai ingin menyentuh dan membelai anak itu. Tapi anak itu makin menjauh..menjauhhh..
"jangan pergi..jangan tinggalkan aku.."
"Tidaaakkkkk.."
Ara berteriak kaget dan terbangun dari tidurnya. Ia baru saja bermimpi buruk. Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Ia pun duduk termenung. Gelisah dan ketakutan.
Mimpi itu lagi. Dulu saat kecil ia sering bermimpi seperti itu. Namun seiring waktu bertambah usianya, ia sudah hampir tidak pernah memimpikannya lagi. Bahkan ia sudah lama melupakan mimpi buruknya itu.
Namun sekarang ia kembali bermimpi seperti itu lagi. Dan mimpi itu terlihat sangat jelas, ia merasa seperti nyata.
Ia seperti merasa anak kecil dalam mimpi itu adalah dirinya sendiri. Ia bahkan masih merasakan kesedihan yang begitu mendalam dalam hatinya.
Tetapi ia tidak ingat pernah mengalami hal-hal seperti itu. Taman di dalam mimpi itu juga terasa asing.
Setelah terbangun dari mimpi buruknya, Ara tetap dalam keadaan terjaga. Ia tidak bisa tidur lagi walaupun sudah mencoba beberapa cara agar bisa tertidur.
Saat pagi tiba, ia pun bersiap-siap mandi karena mau pergi ke kantor. Ayah mengijinkannya untuk tetap bekerja seperti biasa. Dan ia juga mau tetap menggunakan identitas lamanya serta merahasiakan identitas barunya sampai ia merasa siap.
__ADS_1
Sebenarnya ayah menyuruhnya untuk berhenti dari kerjaannya. Jika ia memang merasa bosan di rumah dan ingin bekerja, ayah akan memberikan pekerjaan yang lebih santai di perusahaan mereka.
Tapi Ara tidak mau. Ia mengatakan ia menyukai pekerjaannya yang sekarang. Dan ia juga mau menggunakan kemampuannya sendiri. Ayah tidak bisa melarangnya, tetapi memaksa untuk tetap memberikan seorang supir pribadi untuknya. Juga memberikan beberapa kartu kredit yang bisa ia gunakan untuk membeli apapun yang ia mau.
Setibanya di kantor, Bos sudah menunggunya di ruang penyimpanan dokumen. Ia bertanya-tanya. Ada keperluan apa lagi di sana.
Ia masih takut dengan bosnya itu karena kejadian kemarin. Ia pun dengan takut-takut menemui bosnya itu.
"Lihat ini. Dokumen liontin yang kucari sekarang ada di sini. Pasti kamu yang telah mencurinya." Tanpa basa basi, Bos langsung menuduhnya begitu ia masuk ke dalam ruangan.
"Saat itu kamu menggambar sketsa liontin ini dengan sangat mirip. Itu karena kamu sudah pernah melihatnya dari dokumen yang kamu curi ini."
"Kamu mencurinya karena ingin memalsukan liontin ini dan menjadikannya sebagai barang bukti kemarin."
"Ahh ada satu lagi. Ketika pergi makan bersama Ryon, kamu pasti berpura-pura tidur saat itu. Karena kamu mau menguping semua pembicaraan kami. Dan bodohnya aku membicarakan tentang ciri special liontin itu."
"Kamu pasti telah merencanakan ini sejak lama. Katakan. Apa tujuanmu menipu kami dengan menyamar menjadi Shiena."
"Aku tidak tahu apa yang kami bicarakan. Mencuri dokumen. Membuat liontin palsu. Menguping pembicaraan. Aku tidak pernah melakukan semua itu."
"Kamu pikir kamu adalah seorang pangeran yang jadi rebutan semua wanita? Memang sih kamu tampan, masih muda dan sudah mapan. Tapi kamu hanyalah seorang yang angkuh, berwajah dingin tanpa ekspresi dan tidak berperasaan. Memiliki dirimu hanya akan membuatku menderita."
"Mengenai identitasku, ayahku telah memastikannya. Jadi kalau kamu merasa keberatan, sebaiknya katakan saja padanya untuk tidak mempercayaiku dan mengusirku."
Axell terlihat sangat marah. Ia lalu mendorong tubuh Ara hingga tubuhnya membentur rak dan memegangi kedua tangannya dengan kasar dan sangat kencang.
"Ternyata nyalimu besar juga. Kamu pikir aku tidak berani berbuat kasar padamu?"
"Awww..sakittt..lepaskan aku.." Ara meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"Brakk.."
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar bunyi pintu dibuka. Ryon yang ternyata membuka pintu itu.
"Ada apa ini? Axell, lepaskan Ara." Ryon menghampiri mereka dan segera menepis tangan Axell agar Ara bisa terlepas dari genggamannya.
Ara mengusap-usap tangannya yang memerah akibat genggaman Axell yang sangat kencang itu.
"Ryon..! Mengapa kamu bisa ada disini?" Tanya Axell kaget.
"Iya, aku ingin memberimu dan Ara surprise. Tapi kata Kevin kalian sedang berada di ruang dokumen dari sejam yang lalu. Jadi aku ke sini mencari kalian."
"Katakan padaku, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa kamu memperlakukan Ara sekasar itu?"
"Masalah ini terlalu kompleks. Aku belum bisa menjelaskannya padamu. Sekarang, tinggalkan kami untuk menyelesaikan masalah ini dulu.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kalian dan hanya diam saja melihat perbuatan kasarmu pada Ara seperti ini."
"Kumohon pergilah. Aku tidak mau melibatkanmu dalam persoalan ini." Axell berusaha menahan emosinya kepada temannya ini.
"Tidak. Kulihat dirimu sedang dikuasai amarah dan emosi yang begitu besar. Lebih baik aku membawa Ara pergi menjauh darimu.."
"Ayo Ara, kita pergi." Ryon menarik tangan Ara untuk ikut pergi bersamanya.
Ryon membawa Ara pergi ke sebuah restoran. Mereka makan sambil membicarakan peristiwa tadi.
Setelah Ara menjelaskan apa yang terjadi, Ryon terlihat surprise.
"Aku tak menyangka ternyata kamu adalah Arshiena Ferician? Wow, menarik sekali cerita ini."
"Aku tak habis pikir dengan sikapnya. Bagaimanapun juga, dia tidak boleh menuduhmu tanpa bukti yang jelas. Ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri kan bahwa kamu mencuri dokumen dan memalsukan liontin itu."
"Iya aku merasa marah sekali padanya."
__ADS_1
"Jangan takut, aku akan membantu dan melindungimu."
Seorang pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan. Mereka pun mulai makan.