
Pekat malam menyambut ,mengganti senja yang menghilang di telan malam. Febrian berdiri di balik jendela kamarnya. Menatap langit yang gelap berhias kerlip bintang. Rasa sesak menggerogoti hatinya. Rasa rindu kian menggunung, bayang tentang gadis itu seakan berputar jelas di benaknya.
Hidupnya benar-benar berantakan setelah Alira meninggalkannya. Terlalu sepi sisi hatinya hingga tak ada hasrat untuk menata hidup. Kosong,hampa rasa itu menyergap dirinya tanpa sisa. Harus pada siapa ia bisa mengadu tentang hatinya yang kian pilu.
" Ra kamu dimana ? " rintihannya seraya memegang kaca jendela. Seakan menyentuh bayang itu, bayang kekasih hatinya yang tak ia tahu keberadaannya.
Hampir seminggu,Alira meninggalkan seorang Febrian. Ia sudah mengantongi alamat rumah wanitanya. Namun, entah mengapa seakan firasatnya berkata wanita itu tak ada di sana. Meski akhir minggu ini ia tetap memutuskan untuk mendatangi kediaman kedua orang tua Alira.
" Apa gak ada lagi secuil rindu itu untukku Ra ?" lagi-lagi lelaki itu bermonolog. Berbicara pada bayang yang ia ciptakan. Bayang yang selalu hadir di setiap waktunya. Menimbulkan rasa yang kian membuatnya tersiksa.
Febrian beranjak dari tempatnya berdiri, mengambil bungkus rokok yang berada dalam laci meja. Barang yang selama ini, telah ia tinggalkan karena Alira yang tak kuat dengan asap. Kini tanpa wanita itu,ia butuh benda ber nikotin itu untuk menemani malam panjangnya.
Sudah bermalam-malam tidurnya tak lagi bisa nyenyak. Setiap mata terpejam, bayang Alira datang dengan wajah terluka menghantui pikirannya.
Febrian menghembuskan asap dari mulutnya. Membumbung mengudara,dan menguap bersama angin malam yang mulai terasa menyapa. Di balkon rumahnya, Febrian menatap nyalang kearah jalanan yang tampak masih ramai orang lalu lalang. Beberapa pedagang keliling lewat dengan berbagai jenis makanan yang mereka jual.
Namun tetap saja, sepi itu mengungkung batinnya. Dingin angin yang membelai kulitnya seakan terabaikan oleh rasa hampa yang menggelayut dalam dada.
Baru kini ia menyadari,Alira bukan hanya sekedar cintanya, namun separuh jiwanya. Kini hidupnya seakan tidak lagi memiliki sebuah arah . Tak ada lagi bayang indah tentang keluarga kecil yang dulu ia idamkan bersama pemilik hatinya. Semua sirna bersama luka yang ia torehkan pada hati wanita yang ia cintai.
__ADS_1
Sesal tinggallah rasa yang tak lagi bisa ia ubah. Semua telah terjadi,ia hanya bisa merutuki diri. Betapa bodohnya ia yang telah menukar berlian dengan batu tak berharga. Kini ia hanya bisa menatap diri, akan kekosongan yang hinggap dalam hati.
Sebatang rokok telah habis termakan bara kecil di ujungnya. Febrian meletakkan putung rokok di asbak yang terletak di meja yang terdapat di balkon rumahnya. Menghela nafas berat, Febrian menjatuhkan tubuh di atas kursi. Memijit pelipisnya yang terasa pening.
Febrian mengambil ponsel yang ia taruh di saku celananya. Membuka wallpaper di layar hpnya. Wajah cantik dengan senyum terkembang terpampang di sana. Jari Febrian mengusap pelan foto wajah itu. Wajah yang ingin sekali di lihatnya. Wajah yang selalu ia rindukan bahkan dalam lelap tidurnya.
"Ra, kamu sudah berhasil menghukum ku Ra." lirihnya dengan tatapan rindu pada sosok yang ia jadikan wallpaper ponselnya. Ia benar-benar tak paham tentang hatinya, kenapa rasa itu begitu menyiksa ?. Mengapa waktu tak bisa menghapus tentang dirinya ?. Rasa sepi itu semakin menjerat hatinya. Seakan tiada penawar lagi untuk sepi yang menghinggapi.
Mungkin hanya dengan melihat wajah itu. Rasa yang menggunung dalam dada akan runtuh. Dengan memeluk tubuh itu segala rindu akan terkikis dari dalam hati.
Kini apa yang bisa ia lakukan selain meratapi sesal yang membeku dalam hati. Merutuki kebodohan diri yang terjerat hasrat sesaat. Hingga ia kehilangan cinta yang semestinya. Cinta yang mengisi seluruh rongga dadanya. Kini cinta itu menyisakan lara yang menyiksa.
" Mbak sudah malam,ayo pulang. Nanti mbak masuk angin " suara Tino membuat Alira memalingkan wajah dari tatapannya pada air yang tampak hitam karena pekatnya malam. Di tatapnya pemuda yang memiliki wajah bersahaja. Pemuda dengan sorot mata meneduhkan ,yang selalu berbicara lembut pada siapa pun dengan senyum ramah yang ia persembahkan pada siapa saja.
" Makasih No " ucap Alira karena Tino menggantungkan jaketnya pada pundak Alira. Pemuda itu hanya mengangguk dsn tersenyum tipis.
" Yuk pulang !" ajak Alira sambil melangkah, mendahului Tino yang masih berdiam di tempat.
Beberapa langkah Alira meninggalkan Tino, pemuda itu menyusul di belakang Alira. Beberapa hari sepulangnya Vivian,Tino adalah teman satu-satunya yang bisa Alira percaya. Bahkan kemarin saat ia memeriksakan kandungan untuk pertama kalinya, Tino lah yang mengantar.
__ADS_1
Tak ada yang di rahasiakan wanita itu pada Tino tentang kehamilan dirinya. Namun Tino tetap setia menjaganya seperti janji yang di ucapkan pada Vivian.
" Sebelum pulang, makan dulu yuk . Aku lapar ". ajak Alira, hari itu ia ikut bekerja di tambak. Tapi sampai sore saat senja menyapa. Ia memilih diam di tepi pesisir. Bahkan sampai saat malam menjemput, ia masih berada di sana. Mengadu tentang sakit yang berbalut rindu di hatinya.
Setiap kali mengingat Febrian rasa luka itu masih terasa basah. Sakit itu masih terbayang nyata di benaknya. Namun ia tak bisa menipu hati yang masih menggantung rasa rindu.
Ia tersiksa dengan rasa yang tersisa di hatinya. Saat ia ingin melupakan lelaki itu seutuhnya namun ia tak mampu, apalagi saat menyadari ada sisa cinta yang tak akan pernah musnah di rahimnya. Adanya janin yang kini tumbuh kembang dalam dirinya.
" Mau makan di mana Mbak ?" tanya Tino saat mereka telah berada di atas jok motor bebek milik Tino.
" Pengen makan yang pedes-pedes deh No " sahut Alira yang sedang mengenakan helm di kepalanya.
" Seblak mau mbak ?" tawar Tino yang telah menghidupkan mesin motornya.
" Boleh, makasih ya No. Udah mau aku repotin tiap hari. " sambung Alira. Sudah beberapa hari ini ia sering tiba-tiba menginginkan sesuatu dan Tino dengan cekatan akan mencarinya. Atau mengantar Alira mencari apa yang di inginkan.
" Gak usah sungkan Mbak,Tino seneng kok . " sahut lelaki itu dengan senyum tipis seraya melaju pelan meninggalkan tempat parkir.
Di belakang seorang lelaki yang siap dengan segala keinginannya, namun tetap saja ada rasa hilang di hatinya. Rasa cinta yang masih tertinggal pada seorang lelaki yang tega mengkhianati dirinya. Membuat luka yang mengangah lebar dalam hatinya. Hingga rasa sakitnya tak mudah untuk ia sembuhkan.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda. Dua orang yang sesungguhnya masih memiliki cinta yang sama namun terpisah karena kesalahan yang di sengaja. Menyisakan luka yang sama di hati mereka. Rindu yang sama menggelayut dalam dada.