
Pagi menjelang siang seperti biasa, Alira bersantai di temani sepiring buah dan jus segar. Duduk di balkon rumahnya seraya menatap jalanan yang tampak lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang tampak lalu lalang.
" Mbak Tia." panggil Alira yang melihat asisten rumah tangganya sedang menyapu di dekat pintu penghubung antara kamar dan balkon.
" Kenapa bu ?." tanya Mbak Tia yang menghentikan pekerjaannya dan mendekati sang majikan.
" Mbak tolong bungkusin masakan yang baru mbak masak buat makan siang." ujar Alira , seraya menatap Mbak Tia dengan senyum di bibirnya.
" Mau di bawa ke kantor bapak ya bu ?." tanya Mbak Tia dengan tatapan menggoda. Wanita itu tau,bahwa sepasang suami istri itu akhir-akhir ini terlihat lebih hangat dan romantis.
" Iya mbak, pengen main aja nanti." sahut Alira.
" Siap bu, nanti saya bungkus ." jawab Mbak Tia yang segera beranjak dari hadapan sang nyonya. Alira tersenyum melihat kepergian Mbak Tia, wanita yang selalu ceria. Dan cukup menghibur dirinya yang menghabiskan sepanjang waktu di dalam rumah.
Setelah Mbak Tia pergi,Alira masuk ke dalam kamar. Membuka pintu lemari dan mengambil sebuah dress berlengan pendek dengan panjang selutut. Dress dengan warna dasar biru muda dengan motif bunga-bunga kecil. Tampak manis di kenakan ibu hamil tersebut.
Alira merias diri di depan cermin. Wajah cantiknya tampak semakin cantik dengan polesan make up tipis dan terkesan natural. Rambut bergelombang nya di biarkan tergerai. Hanya di jepit di bagian sisi kiri dan kanan bagian depan. Sungguh calon ibu muda yang tampak mempesona.
Dengan menggunakan flatshoes dan tas selempang . Alira telah siap pergi menemui sang suami.
" Udah siap Mbak ?." tanya Alira pada Mbak Tia yang masih berada di ruang makan.
" Siap bu,ini." ucap Mbak Tia sembari mengulurkan makanan yang telah di bungkus rapi dalam sebuah wadah.
"Mbak Tia, makan sendiri ya,aku pergi dulu." pamit Alira .
" Siap bu hati-hati." sahut Mbak Tia melepas kepergian sang nyonya. Alira yang telah memesan taksi online,kini berjalan keluar rumah. Beberapa saat menunggu datang taksi yang telah di pesannya.
__ADS_1
" Dengan bu Alira ?." sang sopir memastikan. Alira mengiyakan sembari tersenyum ramah. Setelah Alira duduk di kursi penumpang. Sopir taksi itu melaju meninggalkan kediaman Alira. Menuju alamat yang telah Alira berikan pada sang sopir.
Laju kendaraan tampak berjalan dengan lancar. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke kantor Febrian. Waktu makan siang masih kurang setengah jam lagi. Alira berjalan menuju pegawai yang bertugas di front office.
" Selamat siang bu,ada yang bisa saya bantu ?.''sapa ramah salah satu pegawai di sana.
" Siang mbak. Pak Febrian nya ada ?." tanya Alira, tampak pegawai itu sedikit memperhatikan wajah Alira.
" Ada Bu,Maaf ibu istri pak Febrian kan ?." tanya sang pegawai memastikan. Alira tersenyum kemudian mengangguk.
" Iya saya istri pak Brian."
" Sebentar ya Bu saya hubungi sekertaris nya dulu. Sepertinya tadi sedang ada rapat. Memang ibu tidak mengabari bapak ?." tanya sang petugas sambil mengangkat gagang telepon.
" Gak mbak ." singkat Alira.
" Wah kejutan ya Bu, sweet sekali. Sebentar bu." ucap Wanita yang sepertinya lebih tua dari Alira itu tampak berbicara lewat saluran telepon. Alira berdiri menunggu beberapa saat.
" Terima kasih mbak." ucap Alira sebelum beranjak dari sana.
" Sama-sama bu."
Alira menaiki lift untuk menuju ruangan sang suami. Tak membutuhkan waktu lama kini ia telah berada di lorong lantai ruangan Febrian. Langkah anggunnya,membawa wanita itu sampai di sebuah pintu yang tertutup. Di ketuk dengan perlahan daun pintu yang tertutup tersebut.
" Silahkan masuk bu, bapak di dalam." seorang wanita berpakaian rapi dengan senyum ramah. Pakaian yang di kenakan pun cukup sopan. Blazer lengan panjang serta celana panjang membalut tubuh wanita tinggi semampai yang menyambut kedatangan Alira .
" Terima kasih." jawab Alira dengan senyum lembut.
__ADS_1
Saat memasuki ruangan sang suami. Tampak Febrian duduk bersama tiga rekannya. Seorang wanita dan dua orang laki-laki. Menyadari kedatangan sang istri Febrian melambaikan tangan, meminta sang istri datang mendekat.
Alira membungkukkan badan, seraya mengangguk untuk menghormati keberadaan rekan kerja sang suami.
" Duduk dulu sayang,Mas selesaikan ini dulu." ujar Febrian sembari menepuk sofa di sisinya. Alira menurut, sekedar basa-basi Alira dan rekan kerja sang suami saking sapa sejenak sebelum Febrian melanjutkan pembahasan kerja sama mereka.
Sepanjang duduk di sebelah sang suami,ia cukup merasakan pemandangan tak mengenakan dari tatapan mata wanita yang duduk di hadapannya. Beberapa kali ia melihat wanita itu melirik tak suka padanya.
" Jadi kamu sudah menikah Bri ?." pertanyaannya itu meluncur dari bibir wanita yang sedari tadi menatap tak suka pada Akira, setelah pembahasan kerja sama mereka telah selesai.
" Yup,dan ini istriku tercinta." sahut Febrian seraya memeluk pinggang sang istri. Tampak wanita itu tersenyum miring.
" Ya udah aku balik. Oh ya, jangan lupa datang ke ultah ku." ucap wanita itu tanpa menoleh pada Alira.
" Aku usahakan." Keduanya berdiri dan saling berjabat tangan, diikuti dua lelaki yang sepertinya pegawai wanita tersebut. Alira diam tetap duduk kursinya, ia menyadari tatapan tak suka wanita itu pada dirinya. Ia pun tak perduli saat wanita itu pergi tanpa pamit padanya. Namun dua lelaki yang berjalan di belakang sang wanita, menyempatkan diri membungkuk kan badan sejenak ,yang di balas senyum ramah Alira.
Febrian kembali duduk di samping sang istri dan mencium pipi istrinya tak perduli masih ada sang sekertaris yang masih membereskan berkas di sana.
" Tumben istriku datang ke kantor." ucap Febrian yang justru mendapat tatapan tajam sang istri.
" Kenapa gak suka aku datang,biar bisa tuh makan siang sama wanita tadi." ucap ketus Alira, sepertinya ibu hamil itu sedang dalam mood yang tidak baik.
" Uluh-uluh,sini peluk." ucap Febrian yang langsung menarik tubuh sang istri dalam pelukan. Sang sekretaris tampak tersenyum tipis,saat matanya bertemu dengan tatapan Febrian, wanita itu mengangguk tanda berpamitan untuk keluar ruangan. Febrian menanggapi juga dengan anggukan.
" Aku gak ada acara mau makan sama dia sayang,dia itu temen kuliah aku dulu. " jelas Febrian masih dengan memeluk istrinya.
" Pantes, dia pasti suka sama kamu atau dia mantan kamu ?." Alira melepaskan pelukannya,dan menatap suaminya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
" Cantik banget sih istriku kalau lagi ngambek." ucap Febrian sambil menjawil hidung Alira yang langsung di tepis okeh sang istri.
" Bukan mantan sayang, kalau di suka atau gak sama aku,aku gak tahu. Tapi yang aku tahu,aku tuh cintanya sama kamu." tambah Febrian yang kemudian menempelkan hidung keduanya. Dalam jarak dekat ia bisa melihat senyum tersipu sang istri. Selalu ada cara untuk kembali mendapatkan hati wanitanya.