
Sepulang kedua orang tua Alira, Febrian menjadi sosok super posesif. Lelaki itu memilih untuk bekerja dari rumah. Mengawasi sang istri selama dua puluh empat jam. Dan itu tidak terjadi di awal saja. Sampai kandungan Alira sembilan bulan, lelaki itu masih saja bekerja dari rumah.
Tidak perduli dengan Rasya yang datang dengan wajah di tekuk hanya demi satu tanda tangan pada selembar kertas.
'' Rasya, bonus kamu nanti saya transfer '' mantra sakti yang selalu bisa merubah mood lelaki muda yang sangat bisa Febrian andalkan kemampuannya.
'' Mas,aku tuh udah baik-baik saja,aku sehat lho. Aku bisa mas buat ngelakuin sendiri kegiatan sehari-hari aku. Aku cuma hamil dan gak sakit '' ucap Alira suatu hari saat Febrian lagi dan lagi menyediakan semua keperluan hariannya.
'' Iya,mas tahu. Tapi kamu mengandung sembilan bulan dengan beban yang gak bisa kamu bagi. Biarkan mas melakukan sesuatu yang bisa mas lakukan untuk kamu dan calon anak kita '' jawab Febrian diakhiri dengan senyum dan usapan lembut di perut sang istri.
Apalagi yang bisa Alira katakan ?, ia cukup menerima semua perhatian sang suami yang terasa berlebih pada dirinya.
__ADS_1
'' Kalau sekali-kalia berangkat kerja gak apa-apa mas. Kasihan lihat Rasya tiap hari mondar-mandir kayak gitu '' ujar Alira lagi. Rasanya ia tak enak hati melihat lelaki itu mengemban tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab suaminya. Seakan sang suami melalaikan kewajibannya sebagai seorang atasan.
'' Tenang sayang, pekerjaan mas bisa terselesaikan dengan baik. Kamu gak usah khawatir. '' Jawab Febrian,Alira hanya bisa menghela nafas.
Kini sepasang suami istri itu sedang duduk di ruang tengah. Febrian telah menyiapkan potongan buah untuk cemilan istrinya. Susu hamil rasa coklat tersedia di atas meja. Buku yang berhubungan dengan kehamilan serta tentang ibu dan anak menumpuk di sana.
Sang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruangan tampak tersenyum melihat betapa perhatiannya calon ayah itu. Febrian sedang menata bantal di balik punggung sang istri. Agar istrinya duduk dengan nyaman.
'' Mbak ,mbak pernah hamil kan ?'' tanya Alira yang melihat asisten rumah tangganya tersenyum sendiri.
'' Tapi gak harus gini kan mbak ?'' ucap Alira dengan wajah sendu. Febrian hanya tersenyum saja sembari mengangkat kaki sang istri untuk di letakkan di atas pangkuannya.
__ADS_1
Mbak Tia tersenyum lebar,ia sudah sering mendengar keluhan majikannya yang merasa terlalu di manja oleh sang suami.
'' Nikmati saja bu,ya gak pak ?'' sahut Mbak Tia yang di acungi jempol oleh Febrian. Alira melengos tak dapat pembelaan dari siapa pun.
'' Di makan dulu buahnya sayang '' Febrian mengangkat piring berisi potongan berbagai buah dan menyuapnya kepada sang istri. Hidup Alira benar-benar diratukan oleh suaminya. Semua hak di siapkan jika Alira mengijinkan, mandi pun akan dengan senang hati Febrian temani.
'' Aku udah kayak tawanan kamu mas '' celetuk Alira seraya mengunyah buah yang baru saja Febrian suap kan padanya . Febrian tersenyum tipis, kemudian tangannya terulur membelai lembut pipi sang istri.
'' Seperti yang sudah aku bilang ke kamu. Aku akan mengabdikan seluruh sisa hidupku untuk kamu dan anak kita '' ujar Febrian, dengan tatapan penuh cinta . Alira menangkup wajah sang suami dan menyematkan sebuah kecupan di pipi lelaki itu .
'' Semua yang sudah terjadi di masa lalu, adalah jalan takdir yang memang harus kita lalui. Aku sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Jangan lagi merasa terbebani. Semua orang pernah salah karena kita manusia. Lupakan cerita yang lalu. Titip semua kisah itu,dan kita mulai cerita indah bersama dengan keluarga kecil kita.'' pungkas Alira dengan senyum tulus. Febrian meraih tangan sang istri dan mengecupnya berulang-ulang.
__ADS_1
'' Terima kasih sudah mau menerima aku dengan segala salah yang pernah aku lakukan. Maaf jika aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untuk kamu.''
'' Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dan adanya kita untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.'' Keduanya mengembangkan senyum, tatapan mata mereka saling bertemu. Mengisyaratkan cinta yang dalam. Febrian merengkuh tubuh sang istri dalam pelukan.