Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Keluarga


__ADS_3

Hari ketiga di rumah sakit ,Ibu dan Bapak datang menjenguk setelah Febrian memberi kabar pada ke dua mertuanya. Awalnya lelaki itu takut mengabari sang mertua karena takut akan kelalaian dirinya dalam menjaga sang istri dan calon bayi mereka.


Namun akhirnya setelah sang istri merengek dan mengatakan rindu pada kedua orang tuanya. Membuat Febrian menyerah dan mengabari mereka. Terima nasib saja jika nanti sang istri mengadu pada kedua orangtuanya.


Senyum terkembang lebar,saat pintu ruang rawat terbuka dan memperlihatkan dua orang yang begitu Alira rindukan.


'' Ibu, Bapak '' ucap Alira dengan mata berkaca-kaca. Rasa rindu yang menggunung di hatinya, membuat pertemuan itu terlihat begitu mengharukan.


Ibu dengan mata yang juga berkaca-kaca, berjalan cepat menghampiri sang anak yang masih berada di atas ranjang meski sudah bisa duduk dengan bersandar.


'' Bu '' ujar Alira seraya mengulurkan tangannya,ibu menyambut uluran tangan sang putri dan membawanya dalam pelukan.


'' Bagaimana keadaan kamu sekarang nak ?, tidak ada masalah kan dengan kandungan kamu ?'' tanya ibu yang masih mendekap Alira.


'' Alira sudah lebih baik bu '' jawab sang anak, keduanya saling berpelukan dengan tangis yang tak bisa di tahan.


Sedang Febrian menghampiri Bapak yang berdiri di belakang istrinya. Febrian menyalami Bapak dengan takzim .


'' Maaf Pak, Brian tidak bisa menjemput. Soalnya tidak ada yang menjaga Alira di sini. Orang tua saya sedang ada acara yang tidak bisa di tinggal '' jelas Febrian yang mendapat anggukan dari sang ayah mertua.

__ADS_1


'' Kenapa baru memberi kabar sejak awal Alira masuk rumah sakit ?'' tanya Bapak dengan tatapan dingin , cukup membuat menantunya kelabakan.


'' Alira minta maaf Pak ,Alira yang melarang , takut Bapak sama Ibu jadi panik. Kalau sekarang kan Alira sudah jauh lebih baik. Di sini kan Alira juga di jaga sama Mama. '' Alira menengahi percakapan yang seakan menyudutkan sang suami. Diam-diam Febrian melirik ke arah sang istri dengan seulas senyum samar.


Meski kebohongan yang terucap dari bibir Alira. Setidaknya ia bisa lepas dari interogasi Bapak. Tampak Bapak menggelengkan kepala, menatap wajah anak perempuannya.


'' Kamu ini,apa segitu gak pentingnya Bapak sama Ibu nak ?. Sampai kamu masuk rumah sakit tak langsung memberikan kabar. ''cercah Bapak seraya mendekati sang anak dan menatap lembut putrinya.


'' Bukan begitu Pak, Alira minta maaf '' ucap Alira dengan wajah tertunduk. Bapak mengusap lembut kepala sang anak.


''Sudah tak apa, jangan kamu pikirkan. Fokus sama kehamilan dan kesehatan kamu. '' tutur Bapak yang langsung di angguki oleh Alira.


'' Semoga aku bisa menjadi sebab untukmu tertawa sebahagia itu Ra'' batin Febrian saat matanya bertemu tatap dengan sang istri. Sungguh ia ingin selalu menjadi sebab dalam setiap kebahagiaan sang istri. Bukan sebab untuk tumpahnya air mata Alira.


Dua hari Bapak dan Ibu tinggal, hingga akhirnya di hari kelima. Alira sudah diijinkan untuk pulang. Dan saat itulah moment yang mempertemukan dua besan yang belum pernah saling berjumpa sebelumnya. Mereka mengadakan makan malam bersama.


Suasana hangat dan keakraban yang tercipta diantara dua keluarga itu. Membuat Alira tersenyum bahagia. Ia merasa di kelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya.


'' Kenapa ?'' suara Febrian di telinga Alira membangunkan wanita itu dari lamunan. Sepasang suami istri itu masih berada di ruang makan. Tapi para orang tua tampak sedang berbincang hangat di ruang keluarga.

__ADS_1


Alira yang menyadari sang suami berdiri di belakangnya dengan tubuh menunduk, menoleh kearah lelakinya. Alira menyandarkan kepalanya di lengan Febrian yang memegang dua sisi kursi.


'' Seneng lihat mereka akrab satu sama lain '' sahut Alira. Febrian semakin menundukkan kepala untuk mengecup dahi sang istri.


'' Iya aku juga seneng lihatnya. Aku sempat takut mempertemukan mereka. Aku takut Bapak akan sulit menerima keluarga ku setelah apa yang sudah aku lakukan ke kamu. Tapi Bapak orang yang bijak. Dan beliau juga sudah berhasil mendidik putrinya dengan sangat baik '' ujar Febrian,Alira menengadahkan kepala mendengar ucapan sang suami.


Febrian tersenyum sembari mengusap bibir istrinya yang seakan mengundang untuk di kecupnya. Dan lelaki itu mencondongkan tubuh, mendaratkan satu kecupan di bibir Alira. Satu pukulan terasa di lengannya.


'' Ada orang juga '' sungut Alira, Febrian terkekeh mendapati wajah kesal Alira.


'' Kangen '' sahut singkat Febrian yang hanya mendapatkan cebikkan bibir sebagai respon sang istri. Febrian memutar kursi yang di duduki Alira, kemudian lelaki itu berjongkok. Merapikan anak rambut yang tampak berantakan di wajah sang istri.


'' Terima kasih ya sayang, kemarin sudah menutupi kesalahanku di hadapan orang tua kamu '' tutur Febrian dengan tatapan mata saling mengunci dengan tatapan sang istri. Alira mengangkat tangannya dan membelai pipi suaminya.


'' Kata orang,istri adalah pakaian dari suaminya. Selama aku masih menjadi istri kamu. Aku tak akan membiarkan kamu telanjang. Aku akan menjadi pakaian yang menjaga harkat dan martabat serta kehormatan kamu. Istri adalah cerminan suami, selama mas masih memperlakukan aku dengan baik. Aku juga akan melakukan hal yang sama.'' pungkas Alira , Febrian menarik tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukan.


'' Terima kasih,tetap di sisiku. Meski mungkin nanti kamu bosan dengan ku. Tapi jangan pernah tinggalkan aku. I love you, istriku'' bisik Febrian di telinga istrinya yang berada dalam dekapan hangatnya.


''I love you too my husband ''

__ADS_1


__ADS_2