Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Luka dan Air Mata


__ADS_3

Meninggalkan drama Anya dengan tangis mengharu birunya. Febrian keluar ruang rawat VIP itu. Matanya terpejam dengan tubuh bersandar pada dinding di luar ruang rawat. Ternyata ia tetap tak bisa meninggalkan wanita itu dengan baik-baik. Nyatanya wanita itu terlalu terobsesi dengan dirinya.


Suara pintu terbuka, Febrian membuka mata dan menangkap tatapan menghunus dari wanita yang berjalan mendekat padanya. Keduanya diam tanpa ada yang mengeluarkan sepatah kata. Hanya mata yang saling mengunci.


Cecilia menatap Febrian dengan angkuh. Ia menengadah , seakan menantang Febrian yang bergeming di tempat.


Plak...


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Febrian. Meninggalkan jejak merah di sana. Lelaki itu tampak terperanjat, seraya memegangi pipi yang terasa pedih.


'' Puas lo nyakitin adik gue ?, cowok macam apa lo ?.'' tanya Cecilia dengan nada sengit. Tatapannya begitu tajam menghunus dengan sorot matanya. Febrian masih mencoba tenang. Ia menghela nafas berat. Menatap wajah angkuh di hadapannya.


'' Sorry tapi lebih baik begini dari awal . Daripada gue memaksakan hubungan yang gak bisa lagi gue jalani. Gue emang brengseek,jujur adik lo itu bukan satu-satunya cewek gue. Gue jalan sama Anya di belakang cewek gue,dan sekarang gue kehilangan cewek gue. Gue udah gak mau main-main sama perasaan lagi. Semakin gue bertahan sama Anya,gue juga nyakitin dia. Karena gue gak pernah cinta sama adik lo '' ucap Febrian dengan tatapan terarah pada wanita yang menatap sengit dirinya.


Terlihat dada Cecilia kembang kempis, karena amarah yang menggelegak dalam dadanya.


'' Lo emang beneran brengseek ya,hati lo dimana?, gampang banget lo ngomong gak cinta sama adik gue ?. Lo lihat adik gue sampai sakit kayak gitu. Dan itu gara-gara lo. Dan gak ada rasa iba sedikitpun di hati lo buat dia. Otak Lo jalan gak sih ?'' murka Cecilia mengetahui adiknya hanyalah persinggahan sementara untuk lelaki yang berdiri di hadapannya.


'' Sekali lagi gue cuma bisa minta maaf. Gue gak bisa nerusin hubungan gue sama Anya.'' pungkas Febrian, Cecilia mengacungkan jari telunjuk di hadapan Febrian dengan rasa yang masih diliputi amarah.

__ADS_1


'' Gue pastiin Lo bakal nyesel udah nyia-nyiain adik gue '' ancam Cecilia dengan kemarahan yang terlihat dengan jelas.


Wanita itu tampak melenggang meninggalkan Febrian yang masih terpaku di tempat. Cicilia tidak masuk ke dalam ruang rawat lagi, namun berlalu dari sana.


Febrian menghirup nafas dalam, mengantarkan oksigen pada paru-paru yang terasa sesak untuk bernafas. Tampak Febrian memejamkan mata dengan dengan wajah di penuhi rasa sesal. Lelaki itu menghadap ke tembok, membenturkan perlahan kepalanya. Inikah karma atas perbuatannya ?. Ia di hadapkan dengan masalah yang terus bergulir.


Alira yang belum diketahui keberadaannya. Kini Anya masuk rumah sakit karena dirinya. Cepat atau lambat , usahanya dalam masalah. Belum lagi , jika Cecilia tahu latar belakang hubungan mereka. Sekali menjentikkan jari Febrian dalam masalah besar. Ia tahu siapa keluarga Anya. Keluarga pengusaha sukses yang terkenal di kota itu. Apa yang tidak bisa mereka lakukan dengan tumpukan uang yang mereka miliki.


Alasan Febrian mau menjadikan Anya sebagai selingkuhan pun tak lepas dari masalah harta dan tahta. Karena menjadi kekasih Anya mempermudah usahanya. Namun dia lupa ada dua hati yang sedang ia permainkan.


Anya wanita yang hanya ia manfaatkan keberadaannya. Tapi ternyata memberikan dirinya cinta yang nyata. Dan Alira,sang pemilik hatinya yang kini berhasil memporak porandakan akal sehatnya. Meninggalkan dirinya tanpa jejak. Membuat hidupnya seakan hilang arah.


Ia ingin melihat wajah itu, meluapkan segala rindu yang mengungkung kalbu. Ia rindu senyumnya,peluk hangatnya yang mampu meluruhkan segala penat yang melanda. Ia rindu wanita itu berada di sampingnya.


Febrian menghentikan laju mobilnya saat melintasi sebuah cafe dimana ia dan Alira sering menghabiskan waktu bersama. Tampak lelaki itu turun dengan wajah sayu nya. Wajah yang telah kehilangan cahaya dan pesonanya. Yang terlihat kini adalah wajah putus asa.


Langkah kakinya membawa lelaki itu memasuki area cafe yang cukup ramai. Namun beruntung, tempat yang ia tuju masih kosong. Di pojok ruangan, dekat dinding kaca yang menampilkan taman kecil cafe tersebut. Di sana terlihat air terjun kecil yang mengalirkan gemericik air menuju sebuah kolam ikan berukuran mini.


" Selamat siang mas,mau pesan apa mas?" tanya seorang pelayan laki-laki yang sudah cukup mengenal dirinya.

__ADS_1


" Seperti biasa saja "sahut Febrian tak bersemangat.


" Oke di tunggu sebentar ya Mas, tumben hari datang sendiri ya Mas ?" lanjut Sang pelayan. Febrian hanya tersenyum menanggapi. Ia sedang tak ingin basa-basi.


Melihat tampang pelanggan nya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Pelayan itu memilih pergi dan mengambil pesanan Febrian. Febrian tampak melamun menatap keluar ruangan.


Dan wajah ayu itu semakin menggelayut dalam pelupuk mata. Senyum yang selalu bisa membius dirinya tak bisa ia lihat akhir- akhir ini. Rasa rindu itu semakin mengusik batinnya.


Pelayan datang dengan secangkir kopi favoritnya di temani sepiring makanan kecil. Tampak Febrian menyesap kopi miliknya yang masih terasa panas di lidah. Setelah pelayan pergi meninggalkan dirinya.


Kini di meja biasa ia dan Alira duduk di sana. Ia hanya mampu menyesali segala kecurangan yang telah ia lakukan pada wanita itu. Febrian kini tersungkur sendiri pada penyesalan yang begitu dalam.


Tak ada sesal yang menyapa di awal,dan kini setelah semua terjadi. Alira memutuskan pergi membawa luka yang telah ia berikan padanya. Menepi dari hidupnya meninggalkan rasa bersalah yang tak berkesudahan. Semua sesal seakan tak ada arti. Kini ia harus menelan pahitnya rasa kehilangan.


Dengan gontai, Febrian keluar dari cafe setelah menghabiskan pesanannya. Lagi-lagi lelaki itu mengemudi tanpa arah. Dan membawa dirinya terdampar di depan kost Alira. Berhenti di seberang jalan, menatap penuh harap pada setiap penghuni yang lewat. Berharap diantara mereka ada satu wanita yang di carinya.


" Ra, jangan hukum aku terlalu lama Ra. Aku gak sanggup " rintih Febrian , tanpa sadar air mata itu mengalir dari pelupuk matanya. Rasa rindu yang menggunung,rasa bersalah yang menghimpit dada. Membuatnya menumpahkan air mata.


Ia yang membuat luka itu mengangah. Tapi kini ia ikut menikmatinya. Menikmati rasa sakit,rasa rindu,rasa kehilangan, dan rasa bersalah. Penghianatan yang di lakukan pada hati yang tulus memberi cinta. Akan menjadi sesal terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


" Beri aku kesempatan sekali lagi Ra. Seandainya kamu inginkan nyawaku,aku rela Ra. " rintihannya dalam kubangan luka dan air mata.


__ADS_2