
Rasa was-was menghantui pikiran Febrian saat menginjakkan kaki di bandara kota dimana Ayah dari Alira memintanya untuk datang. Entah apa yang akan ia hadapi di sana. Bahkan saat ia bertanya ada apa kepada Ayah Alira,ia tak mendapatkan jawaban apapun.
Tiga lelaki itu berjalan tegap dengan membawa tas yang berada di punggung masing-masing. Kacamata hitam bertengger di hidung ketiga pemuda itu. Berjalan saling bersisian keluar dari bandara.
Mereka bertiga masuk ke dalam satu taksi yang sama. Febrian memberikan secarik kertas kepada sang sopir. Tampak si sopir mengernyitkan dahi saat membaca alamat yang tertera di kertas tersebut.
'' Gimana Mas, Tahukan alamatnya ?'' tanya Erza yang duduk di sebelah sopir.
'' Tau kok mas, tau. Hanya sedikit memakan waktu. Karena jaraknya cukup jauh.'' Tutur sang sopir yang kini mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Dengan segala rasa yang menyapa , mereka segera meminta sang sopir untuk menghidupkan mesin mobil . Dengan kecepatan sedang mereka menyusuri jalanan yang tampak ramai. Namun masih lancar tidak sampai ada di sana.
'' Ini masih berapa lama mas kira-kira sampai di alamat itu.'' tanya Erza memecah keheningan dalam perjalanan. Terlihat Sang sopir melihat jam di tangannya.
'' Lumayan mas , sekitar satu setengah jam '' sahut sang sopir. Erza tampak mangut-mangut,sedang dua sahabatnya di belakang pura-pura tidur dengan memejamkan mata. Erza berdecak kesal lalu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata.
Perjalanan panjang menuju alamat yang Febrian berikan pada sang sopir. Mengantarkan mereka memasuki daerah perkampungan. Hawa daerah perkampungan yang berada di pesisir pantai itu mulai terasa.
Ketiga pemuda itu kini tak lagi tidur. Mata ketiganya berkeliling menatap daerah tersebut. Rasanya mereka benar-benar asing di tempat itu.
__ADS_1
Debar dada Febrian makin terasa di dalam dada. Ia belum tahu apa sebab ayah dari sang kekasih memintanya jauh-jauh datang ke sana. Sampai mereka di depan sebuah rumah yang tampak bagus dengan ornamen kuno.
'' Sudah sampai mas '' ucap Sang sopir, dengan berat hati mereka turun dari dalam mobil.
'' Makasih ya Mas '' ucap Febrian setelah membayar biaya taksinya.
'' Sama-sama mas '' sahut sang sopir yang baru saja menutup pintu bagasi setelah ketiganya mengambil tas di dalam sana.
Taksi meninggalkan tiga pemuda yang berdiri bersisian menatap rumah yang terlihat besar dan masih terawat dengan baik meskipun telah berusia cukup tua.
'' Ini yakin rumahnya ?'' tanya Hardi yang tak yakin bahwa itu rumah keluarga Alira. Febrian yang di penuhi rasa gugup hanya menggedikkan bahu.
Tampak Febrian telah menanggalkan kacamatanya. Menatap sekeliling yang cukup padat lingkungannya. Dengan menghirup nafas dalam. Febrian memberanikan diri memencet bel rumah tersebut. Tak berselang lama muncul seseorang yang membukakan pintu. Dan itu cukup membuat dada Febrian seakan hendak meledak.
'' Alira '' lirih Febrian seakan tanpa suara. Tanpa kata lagi,lelaki itu tiba-tiba menjatuhkan diri bersimpuh di hadapan sang kekasih. Menundukkan wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Diraihnya tangan Alira, meski terasa ada pemberontakan namun Febrian mempererat genggaman pada telapak tangan Alira.
'' Maafin aku Lir,kamu boleh menghukum aku apa saja, tapi jangan pernah tinggalkan aku. Aku gak bisa Lir''. Tak ada jawaban dari wanita yang berdiri dengan tatapan mata sengitnya.
'' Lepas !" satu kata yang terucap dari bibir wanita itu. Febrian menengadah menatap wajah dingin yang tertuju padanya.
__ADS_1
'' Ra, maafin aku. Kasih satu kesempatan lagi dan aku akan memperbaiki semuanya '' ucap Febrian, Alira tak bergeming. Tapi matanya nampak berkaca-kaca. Terbayang jelas di matanya bagaimana pergumulan Febrian dengan wanita lain malam itu.
Rasa sakit di dadanya masih sama,sakit yang ternyata tak mampu ia hilangkan dengan mudah. Dan kini di hadapannya Febrian bersimpuh dengan penyesalan yang di bawanya. Alira bagai patung dengan air mata yang telah merembes dari matanya.
'' Mau apa kamu kesini ?'' pertanyaan itu meluncur dari bibir Alira dengan nada bergetar.
'' Ra please maafin aku Ra '' iba Febrian,Alira membuang pandangan kemudian menghempaskan tangan Febrian.
'' Apa salahku Mas, sampai kamu begitu tega menduakan aku ?'' tanya Alira seraya berusaha untuk tidak menangis dengan mengerjapkan mata.
'' Kamu gak salah sayang,mas,mas yang salah. Tolong maafin mas ''. ucap Febrian dengan nada penuh penyesalan.
Alira mengalihkan pandangan, berusaha untuk tidak melihat lelaki yang masih berlutut di hadapannya. Lelaki yang sejujurnya ingin sekali ia peluk. Mencurahkan rasa rindu yang menggebu di dadanya. Namun ia harus menahan segala hasrat jiwanya ketika mengingat luka yang telah di torehkan oleh lelaki itu.
Febrian berdiri mendekati Alira , wanita itu tampak mundur selangkah.
'' Please Ra, kasih aku satu kali lagi kesempatan ,aku janji gak akan pernah ngecewain kamu lagi Ra '' tatapan keduanya bertemu. Tatapan mata yang sama-sama memancarkan rasa rindu.
Namun terkurung pada kekecewaan yang telah Febrian berikan. Rasa rindu itu seakan membeku,dingin di dalam diri seorang Alira. Membuat wanita itu tak bisa menyambut hangat kedatangan ayah dari calon bayi yang di kandungnya.
__ADS_1
'' Hukum aku semau mu Ra,tapi jangan pernah tinggalkan aku. Aku gak bisa tanpa kamu Ra. '' ucap Febrian mengiba. Alira terisak ,luka itu masih basah dan menganga. Namun cinta itu pun belum mengering dari hatinya. Melihat wanita itu menangis, membuat hati Febrian teriris.
Lelaki itu memberanikan diri memeluk sang wanita. Awalnya wanita itu memberontak dalam pelukan. Namun Febrian tetap bergeming dan tetap memeluknya dengan erat. Alira memukul-mukul dada Febrian dengan tangannya. Meluapkan segala rasa yang bercampur di hatinya. Hardi dan Erza menyaksikan drama di hadapannya tanpa bersuara.