
Suara sepatu beradu dengan lantai terdengar nyaring di sepanjang lorong rumah sakit. Siang menjelang sore itu tampak seorang lelaki berjalan setengah berlari menuju salah satu ruang rawat. Dialah Febrian yang telah mendengar kabar sang istri yang jatuh dari tangga dan mengalami pendarahan.
Wajah panik dan khawatir tergambar jelas di raut lelaki itu. Sampai di depan ruang rawat yang telah di beritahukan oleh petugas bagian informasi, langkahnya sedikit melambat. Di depan ruang rawat tampak Vivian duduk di sebelah sang suami.
Mendengar langkah mendekat,Vivian mengangkat wajahnya. Wajah wanita itu tampak mengeras melihat siapa yang datang. Dengan nafas tersengal dan raut wajah penuh amarah. Vivian berdiri dari duduknya dan tanpa aba-aba, menghantam lengan Febrian dengan tas yang berada di tangannya.
" Apa-apaan kamu ?.'' tanya Febrian mendapati sikap kasar dari sahabat sang istri.
" Kamu yang apa-apaan, belum puas nyakitin Alira ? . Emang ya,kalau orang sekalinya berengseek tetap aja berengseek."ucap Vivian ketus dengan tatapan tajam .
'' Maksud kamu apa ?, Alira gimana keadaannya ?, dia dimana ?''. panik Febrian.
'' Kalau bukan karena lo,Alira gak akan kayak gini, berengseek lo brengseek !!!.'' teriak Vivian tertahan, wajahnya memerah dan butir bening air matanya mulai mengalir.
Febrian menatap bingung dengan wajah menegang. Nicho yang melihat emosi sang istri mendekat dan mendekap tubuh istrinya.
'' Ssstttt, tenang dulu, jangan bikin keributan. Kasihan Alira.'' tutur lembut Nicho seraya memeluk dan mengusap punggung sang istri, yang tampak sesenggukan.
Saat Febrian melangkah hendak mendekati pintu ruang rawat. Daun pintu terbuka memperlihatkan wajah masam sang ibu.
__ADS_1
'' Ma..'' panggil Febrian yang mendapat tatapan tajam dari mamanya.
'' Alira gimana Ma ?.'' tanya Febrian,Mama mendekati sang putra dan menatap anak lelakinya dengan tatapan kekecewaan.
" Ikut Mama Bri ." titah Mama tegas.
" Brian mau ketemu Alira Ma, gimana keadaan dia ?." ucap Febrian dengan raut wajah khawatir.
" Ikut Mama, atau kamu ingin Alira lebih parah dari pada ini ?." tanya Mama dengan tatapan menghakimi.
" Maksud Mama apa ?.'' Febrian benar-benar di buat bingung oleh orang-orang yang menyambutnya dengan kemarahan. Mama menghela nafas perlahan.
Akhirnya Febria pasrah mengikuti langkah sang Mama yang meninggalkan ruang rawat setelah meminta Vivian dan Nicho untuk menggantikan dirinya menjaga sang menantu.
" Ini maksudnya apa Bri ?,mama kecewa sama kamu ." ucap Mama sembari memberikan ponsel milik Alira . Febrian menerima dengan dahi berkerut. Ia masih tak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Saat Febrian membuka ponsel sang istri dengan sandi yang sudah sangat dihafalnya,ia belum juga paha apa maksudnya.
" Ada apa Ma ?."tanya Febrian bingung.
__ADS_1
" Pesan yang tadi pagi di kirimkan seseorang pada Alira, itulah penyebab Alira sampai masuk rumah sakit. Dan itu kamu Bri ." geram Mama dia akhir ucapnya. Febrian yang melihat sorot mata kemarahan dari Mama segera membuka pesan masuk dari nomer tanpa nama.
Betapa terkejutnya Febrian dengan foto dirinya bersama Marsha dalam satu kamar.
Lelaki itu menoleh pada sang Mama yang berdiri di sampingnya. Tatapan tajam seakan menghunus jantungnya.
'' Sumpah Brian gak ngapa-ngapain sama Marsha Ma.'' ucap Brian. Sang ibu tampak menghela nafas. Menatap taman rumah sakit di mana mereka kini sedang berada.
'' Dua orang dewasa dalam satu kamar ?. Menurut mu apa Mama harus percaya dengan ucapan kamu ?.'' dingin suara itu keluar dari mulut Mama.
'' Demi Tuhan Ma, Brian gak mengkhianati Alira.'' Febrian meraih tangan sang Mama, menatap dengan raut wajah sendu. Berharap Mama percaya pada dirinya.
" Apa Mama bisa mempercayai kamu ?." tanya Mama dengan lirih. Rasa kecewa di hatinya masih menguasai. Tak bisa terbayangkan betapa sakitnya hati sang menantu melihat foto suaminya berada dalam satu kamar dengan wanita lain dengan pakaian seperti itu.
" Brian berani bersumpah Ma, Brian tidak melakukan hal itu." ucap Febrian meyakinkan sang Mama. Mama tampak menghela nafas. Menatap sang anak dengan tatapan bimbang.
" Semoga apa yang kamu katakan Bri, kamu harus meyakinkan Alira kalau kamu tidak mengulang kebodohan yang sama. Dia pernah terluka karena kamu. Dan kini dia harus terluka lagi. Mama tidak bisa membayangkan gimana sakitnya dia ." ucap Mama dengan tatapan menerawang. Febrian hanya bisa mematung. Saat Mama pergi meninggalkan dirinya,ia masih terpaku . Tak bergeming dari tempatnya berdiri.
Tangannya menggenggam erat ponsel Alira yang berada dalam genggaman tangannya. Sorot matanya tampak menajam. Raut wajah lelaki itu tampak mengeras. Kenapa lagi-lagi ia harus terjebak dengan wanita ?. Ia tak akan membiarkan wanita lain masuk lagi dalam kehidupannya. Alira adalah nafasnya,dia adalah separuh nyawa, yang tak mungkin bisa ia lepaskan.
__ADS_1