
Febrian menatap wajah lelap di hadapannya dengan tatapan penuh damba. Menyibak rambut yang menutupi wajah cantik yang masih terpejam dengan lelap. Febrian tersenyum sendiri, memperhatikan wajah ayu yang tak pernah bosan untuk di pandang.
Dibelai pipi Alira dengan lembut, Febrian mendekatkan wajah dan mengecup bibir yang menarik perhatiannya. Sungguh ia merindukan wanitanya. Namun ia tak mau memaksa. Meski harus menahan rasa yang seakan meledakkan dirinya.
Sentuhan kecil saja telah memancing gairah dalam tubuh lelaki itu. Sungguh ia tak tahu sampai kapan mampu bertahan untuk tak menyentuh sang istri . Namun ia tak mau menambah kebencian pada wanitanya. Ia tak mau di anggap hanya sekedar ingin melampiaskan gairah pada sang istri.
Ia ingin Alira melihat kesungguhan dan ketulusan dari dirinya. Bahwa ia bukan lagi pemain wanita yang mengutamakan nafsu di atas segalanya. Dia ingin Alira tahu bahwa cinta yang ia miliki bukan sekedar bualan belaka.
" Sssssstt .'' Febrian mendesis sendiri, merasakan ada yang sesak di bawah sana. Lelaki itu menghentikan sentuhan di wajah sang istri. Menelentangkan tubuh menghadap langit-langit kamar. Ada yang berdenyut hingga membuat kepalanya terasa pening.
Febrian menarik nafas dalam, dan menghembuskan perlahan. Berharap mampu mereda gejolak rasa. Tapi rasa berdenyut itu makin terasa menyiksa. Akhirnya Febrian beranjak dari tempat tidur. Masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus menidurkan hasratnya seorang diri.
Saat pintu kamar mandi tertutup, Alira membuka mata. Menata pintu yang rapat tertutup. Pandangannya tampak kosong. Ada bisik hatinya yang seakan menyalahkan dirinya atas sikap yang ia berikan pada sang suami. Namun salahkan ia jika rasa sakit itu masih juga terasa ?.
Suara geraman tertahan dengan namanya terucap dari bibir lelaki di balik pintu kamar mandi. Membuat Alira mengerti apa yang sedang terjadi. Rasa bersalah itu hinggap, tanpa sadar air matanya terjatuh. Ia belum juga memberikan hak pada sang suami. Padahal ia tahu betapa lelaki itu sangatlah mudah terpancing gairahnya.
Namun lagi,bayang menyakitkan itu hadir di sela rasa bersalahnya. Benar ternyata,saat hati yang sudah terlanjur patah tak mudah untuk mengembalikannya. Mungkin bisa tersambung lagi, namun gurat luka itu tetap saja masih membekas.
Ceklek...
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi terbuka. Setelah suara guyuran air berhenti. Rupanya lelaki itu telah selesai membersihkan diri. Aroma sampo dan sabun mandi menguar di seluruh kamar.
Sesaat keduanya saling bertatapan . Febrian tersenyum mendapati sang istri yang ternyata sudah bangun. Sedang Alira seakan terhipnotis dada bidang dengan perut sixpack yang sejujurnya ia rindukan.
'' Pagi sayang,udah bangun ?.'' sapa manis Febrian yang kemudian mendekati Alira yang masih terbaring di atas ranjang.
'' Pagi Mas . Udah seger aja .'' sahut Alira yang melihat sang suami sudah segar dengan rambut basah yang masih meneteskan sedikit air. Membuat penampilan lelaki itu membuat Alira menelan ludah. Terlalu mempesona, menggoyahkan hatinya yang seakan melupakan sejenak rasa sakitnya.
Febrian menunduk, memberikan ciuman lembut di kening sang istri. Kemudian lelaki itu duduk di tepi ranjang. Mengusap perut Alira yang kini tidur terlentang.
'' Pagi jagoan Papa,Mau Papa masakin apa nih ?." lembut suara itu mengalun sari bibir Febrian. Membuat Alira tersenyum tipis merasakan hatinya menghangat melihat suaminya yang tampak menyayangi buah hati mereka.
'' Biar nanti aku yang masak Mas .'' ucap Alira seraya berusaha menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
'' Biar Mas aja, nanti kamu capek. Biar Mas menebus waktu yang sudah mas sia-siakan karena menelantarkan calon anak dan ibunya. '' ujar Febrian bersungguh-sungguh.
Alira menatap wajah tampan di hadapannya. Tak ia temukan dusta di tatap mata yang menatap dirinya penuh puja . Febrian tersihir wajah cantik yang selalu bersemayam di kepalanya.
Di sentuhnya wajah Alira dengan perlahan, berakhir di bibir merona yang bahkan tak terpoles lipstik. Melihat sang istri yang hanya terpaku diam. Febrian memberanikan diri mencium bibir yabg selalu terasa manis baginya.
__ADS_1
Awalnya hanya sebuah kecupan , namun saat Febrian menyadari tak ada penolakan dari wanitanya, lelaki itu memberanikan diri melumaat lembut bibir yang begitu ia rindu. Alira yang tadinya hanya diam, lama-lama terhanyut dalam decapan lembut bibir Febrian.
Wanita itu tampak memejamkan mata, menikmati rasa yang telah lama tak ia dapatkan. Rasa yang membuat sekujur tubuhnya memanas. Lenguhaan tak bisa tertahan keluar dari mulut Febrian yang kembali terbakar hasrat yang menyulut tubuh.
Fan detik itu juga tubuh Alira terasa menegang. Suara yang keluar dari mulut Febrian seakan-akan melemparnya pada malam kelam yang menyakitkan. Bayang itu datang tanpa di undang. Febrian menyadari ada yang tidak beres dengan sang istri saat merasakan ciumannya tak lagi terbalas. Dan rasa asin yang tiba-tiba mengenai bibirnya.
Febrian menjauhkan tubuh, menatap Alira yang telah berurai air mata.
'' Sayang ,maaf .'' ucap Febrian yang langsung mendekap tubuh istrinya.
'' Kenapa selalu seperti ini Mas ?.'' ucap Alira dalam isak tangisnya. Ia merasa dirinya tak lagi baik-baik saja. Ia merasa trauma saat mencoba intim dengan suaminya.
'' Maaf,mas gak bisa kontrol diri.'' sahut Febrian yang berpikir wanitanya menangis karena ia mencumbu dengan hasrat yang berkobar. Alira menggeleng dalam pelukan Febrian.
'' Bukan kamu Mas,tapi aku. Kenapa aku tidak bisa melupakan semuanya. Aku ingin melupakan semua masa lalu dalam hidup kita Mas. Alu ingin memulai semuanya tanpa lagi luka. Tapi kenapa sakit sekali Mas.'' ratap Alira dalam isak tangis.
Febrian mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Alira dengan mata berkaca-kaca. Ia telah menyisakan trauma di hati sang kekasih.
'' Bantu aku keluar dari rasa sakit ini Mas. Aku ingin melupakan semuanya.'' tambah Alira yang masih menyandarkan diri di dada sang suami.
__ADS_1
''Aku tahu, aku lah yang menabur luka itu. Tapi ijinkan aku juga sebagai obat luka yang terlanjur aku torehkan di hatimu.'' Ujar Febrian sambil mendekap erat tubuh yang tersengal karena tangisnya. Yah, biarkan waktu yang akan menyembuhkan hati yang sudah terlanjur lara. Akan datang saatnya hati menyembuhkan lukanya sendiri.