Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Pengganti Malam yang Tertunda


__ADS_3

Pulang dari klinik waktu sudah menjelang malam. Kini sepasang suami istri itu duduk di meja makan menikmati makan malam berdua. Menu rumahan seperti biasa tersaji di atas meja. Dengan lahap keduanya menyantap makan malam mereka.


Usai makan malam keduanya duduk bersantai di ruang tengah. Alira duduk bersandar di sofa seraya menonton tayangan di televisi. Sedang Febrian mengamati hasil USG yang kini berada di tangannya.


'' Sayang berapa lama lagi kita bakal ketemu jagoan kita ?." tanya Febrian dengan wajah antusiasnya. Lelaki itu sepertinya sudah tak sabar bertemu bayi laki-laki di dalam perut sang istri.


" Empat bulan lagi kurang lebih .'' sahut Alira. Febrian yang duduk di samping sang istri merebahkan diri di pangkuan wanita itu.


'' Hallo jagoan Papa,Papa udah gak sabar pingin ketemu kamu.'' ucap Febrian yang kemudian mendaratkan kecupan diperut Alira. Wanita itu tersenyum hangat melihat tingkah sang suami. Wanita itu mengusap lembut kepala Febrian, membuat Febrian tersenyum menikmati. Diraihnya tangan sang istri dan di kecupnya telapak tangan itu.


'' I love you,sayang ." ujar Febrian sambil menatap bola mata istrinya. Alira tersenyum ,lalu menundukkan wajah.


Meraup bibir Febrian,tak mau kehilangan kesempatan lelaki itu meraih tengkuk wanitanya. Dan melumaat dengan lembut bibir sang istri, ciuman itu semakin dalam dan penuh hasrat. Membuat sepasang suami istri itu tersengal.


Merasa lelah dengan posisinya yang membungkuk,Alira melepas ciuman panas itu. Keduanya memejamkan mata, menarik nafas untuk menenangkan debaran jantung yang memompa cepat aliran darah. Hingga suhu tubuh meningkat. Membuat hawa panas menguasai seluruh tubuh mereka berdua.


" Mas,awas dulu kepalanya. Pengen pipis .'' ucap Alira sembari mengangkat kepala Febrian yang masih berada di atas pangkuannya. Febrian cepat-cepat duduk tegak. Alira buru-buru berdiri dan berjalan cepat menuju kamar.

__ADS_1


Sebelum masuk kamar mandi,ia teringat pada pakaian yang tadi siang di belinya. Tampak wanita itu menghirup nafas dalam. Dan dengan penuh keyakinan,ia mengambil salah satu pakaian yang tadi di belinya.


Febrian yang menyusul istrinya ke dalam kamar,kini duduk di tepi ranjang. Menatap prihatin pada sesuatu yang tegak di bawah sana. Lelaki itu menghela nafas, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Berharap hasratnya segera turun. Namun nyatanya semakin memusingkan kepala.


Suara pintu kamar mandi terbuka, Febrian memilih tidur tengkurap . Menyembunyikan sesuatu yang menonjol di balik celana pendeknya. Alira tersenyum melihat sang suami yang tengkurap di atas tempat tidur. Wanita itu mendekat,aroma wangi menguar di kamar itu. Sepertinya Alira menyempatkan diri memakai parfum.


'' Mas, gak gosok gigi dulu ?.'' tanya Alira seraya mengusap punggung Febrian. Febrian membalikkan tubuh,dan nafasnya seperti tercekat melihat penampilan menggoda sang istri. Baju tipis transparan yang memperlihatkan kaki jenjangnya, karena begitu pendek.


'' Yang .'' ucap Febrian dengan tatapan mendamba. Alira tersenyum menyambut, Febrian mendekat dan menyentuh wajah sang istri dengan begitu lembut. Diraihnya tengkuk sang wanita,dan dilabuhkan sebuah ciuman basah,Alira melingkarkan tangannya di leher sang suami. Ciuman itu saling berbalas, membuat ciuman itu semakin dalam dan panas. Nafas Alira sedikit tersengal, Febrian menyadari dari genggaman tangan Alira yang terasa erat di rambutnya.


'' Boleh ?.'' tanya Febrian seraya menatap dalam mata sang istri, sebuah anggukan kecil menjadi lampu hijau bagi Febrian. Lelaki itu tak lagi menunggu,di serangnya sang istri, meski dengan lembut namun penuh gelora dan kerinduan.


Penyatuan cinta yang telah lama di nantikan lelaki itu. Ia begitu merindukan seluruh lekuk tubuh wanitanya. Malam itu, Febrian mereguk manisnya cinta yang tercurah pada pendakian penuh kenikmatan. Membawa terbang sang istri berkali-kali, mengobati segala rindu yang ia tahan begitu lamanya. Dan saat ia kembali merasakan itu, sungguh ia enggan mengakhiri. Namun ia mengingat ada bayi kecilnya yang harus ia jaga.


Lelaki itu kini terkapar, setelah pendakian yang kedua. Mendekap tubuh polis Istrinya dari belakang. Melabuhkan kecupan-kecupan kecil di tengkuk sang istri.


'' I love you my wife, thanks for tonight .'' bisik Febrian di telinga Alira. Alira membalikkan tubuh, menatap wajah tampan suaminya yang sedikit berkeringat. Membelai wajah itu dengan jari-jari lentiknya. Febrian memejamkan mata menikmati sentuhan sang istri. Tangannya semakin erat mendekap pinggang Alira.

__ADS_1


Alira mengecup bibir Febrian sekilas, Febrian membuka mata. Menatap wajah ayu sang istri. Lelaki itu mengecup kening Alira. Tatapan mata keduanya saling bertemu.


'' Terima kasih karena Mas sudah mau bersabar, membuktikan diri jika Mas sudah layak aku percaya lagi. Maaf aku belum bisa jadi istri yang baik buat Mas Brian.'' ucap Alira. Febrian mengecup bibir yang baru saja selesai berucap.


'' Buat Mas,kamu adalah wanita terbaik,dan terhebat dalam hidup Mas. Hidup bersama kamu adalah hal terindah yang Mas rasakan di sepanjang hidup yang telah kita lalui. Terima kasih karena sudah memberikan Mas kesempatan ke dua. I love you more,more and more.'' ungkap Febrian dengan tatapan teduh. Alira tersenyum kecil kemudian menyahut.


" I love you too. Suamiku.''


Sepasang suami istri itu tersenyum lebar, Febrian mengeratkan pelukannya. Hingga tubuh mereka saling bersentuhan. Dan perut yang sudah membuncit itu terasa menyentuh perut Febrian. Sebuah tendangan dari baby boy dalam perut itu terasa di perut Febrian.


'' Apa anakku masih merindukan ayahnya ?.'' tanya Febrian sembari menatap penuh harap pada sang istri.


'' Gak ada ya Mas. Udah cukup,nanti kalau aku kontraksi terus nanti....'' belum selesai ucapan Alira sudah di bungkam oleh bibir Febrian.


'' Oke,kita tidur .'' pungkas Febrian yang memeluk tubuh istrinya. Melupakan kalau ia belum menggosok gigi sebelum tidur.


Sekian purnama yang telah terlewati terbayar lunas di malam itu. Malam yang tertunda karena rasa yang tak lagi sama,kini telah musnah. Bersama cinta yang kembali nampak di permukaan. Terlihat dengan jelas cinta yang masih begitu besar dan berbunga dengan indah. Menghempaskan segala lara yang sempat terperangkap dalam dada.

__ADS_1


__ADS_2